[Oneshot] Coming Home

coming-home-2

a movie presented by thelittlerin

.

Choi Sungmin, OC Choi Rin

BAP Moon Jongup, BTS V (Kim Taehyung), Park Jimin

BTOB Yook Sungjae, VIXX Han Sanghyuk, Teen Top Changjo (Choi Jonghyun)

APINK Kim Namjoo, AOA Kim Seolhyun

OC Yook Nana, Park Minha

.

Family, Friendship

PG-15 | Oneshot (3500+ words)

.

finally, he’s back

Tengah hari dan Incheon International Airport berada dalam puncak kesibukannya.

Ratusan orang hilir mudik memenuhi terminal keberangkatan maupun kedatangan. Mengantarkan dan menyambut orang-orang tercinta. Keluarga, teman, kekasih, kerabat, rekan kerja—siapa saja. Senyum kesedihan, tangis bahagia, dapat dilihat dari seluruh penjuru bandara.

Sepasang kaki berbalut sneakers berwarna hitam melangkah pelan menuju pintu keluar. Pemiliknya sengaja berlama-lama, mengambil waktunya untuk menikmati suasana yang sudah lama tidak ia rasakan. Sinar matahari dan angin khas tanah kelahiran yang sudah enam bulan dia tinggalkan.

Choi Sungmin menarik napas dalam-dalam. Tidak ada gunanya memang, mengingat udara di sekitar bandar udara tidak terlalu segar, sedikit berpolusi malah. Tetapi Sungmin tidak peduli, toh dia tidak merasakan udara tanah kelahirannya sejak dirinya pergi ke negeri orang.

Setelah mempercayakan dua koper dan satu boks berukuran sedang miliknya pada jasa kurir, Sungmin melangkahkan kakinya menuju stasiun subway. Tak ingin segera pulang dan melepas penat di kasur favoritnya, melainkan ingin melepas rindu pada kota kelahirannya. Mengunjungi tempat-tempat yang ia rindukan sejenak, sebelum mengakhiri hari dengan tidur panjang yang nyenyak.

Sekali lagi, Choi Sungmin menarik napas sebelum melanjutkan langkah.

Aku pulang.

.

.

Kafetaria universitas itu masih dipenuhi oleh banyak orang. Padahal waktu makan siang sendiri sudah lewat dua jam dari waktu biasanya. Beberapa memang baru makan siang sekarang, tak sempat melakukannya di awal waktu. Namun, beberapa—dan ini mencakup sebagian besar—orang tampak sedang mengobrol. Sepertinya masih melanjutkan obrolan makan siang mereka.

Di antara keramaian itu, Choi Sungmin duduk sendiri. Di tempat ia makan bersama teman-temannya seperti biasa—entah bagaimana ia masih bisa mendapatkan tempat itu di waktu seperti ini. Mungkin takdir sedang berbaik hati padanya.

Samgyetang miliknya tersisa separuh, padahal Sungmin sudah memulai santap siangnya sejak dua puluh menit yang lalu. Suatu rekor yang mengherankan, mengingatkan Sungmin selalu makan dengan kecepatan yang tidak biasa. Lelaki itu memilih untuk mengunyah ayamnya perlahan kali ini, menaruh perhatian lebih pada rasa kaldu yang sudah lama tidak ia rasakan.

Rasa rindunya hampir terobati, kalau saja ia tidak sendiri. Kalau saja ada teman-teman yang mengelilinginya, sudah pasti Sungmin akan merasakan bahwa kepulangannya ini benar-benar terjadi, bukan hanya sekedar ucapan yang sejak tadi ia katakan dalam pikiran untuk menghipnotis dirinya sendiri.

Karena yang sebenarnya Sungmin rindukan bukanlah makanan khas negara kelahirannya. Bukan pula suasana kota yang sudah menemani hidupnya selama dua puluh tahun belakangan. Melainkan keberadaan teman-temannya yang terkadang terlalu memalukan untuk dapat dianggap sebagai teman.

Kim Taehyung, Yook Sungjae, dan Park Jimin, trio tukang gosip yang selalu melancarkan aksi mencari informasi kapan saja mereka bisa. Moon Jongup dan Han Sanghyuk, yang mengimbangi keberisikan tiga lelaki sebelumnya dengan diamnya mereka—walaupun sebenarnya Sanghyuk jauh lebih berisik dibandingkan Moon Jongup.

Kim Namjoo, Kim Seolhyun, dan Park Minha, tiga gadis yang tidak kalah anehnya dibandingkan dengan para lelaki yang berada dalam lingkaran pertemanan mereka. Yook Nana, yang Sungmin tinggalkan dalam keadaan terpuruk setelah ditinggalkan oleh kekasihnya—dan Sungmin masih merasa bersalah hingga sekarang.

Dan tentu saja, Choi Rin.

Sang adik kembar yang sudah bersamanya sejak mereka dilahirkan. Menemani Sungmin dalam setiap tahap kehidupannya, dan sebaliknya. Yang menentang kepergiannya dengan keras dan masih menangis hingga saat terakhir. Yang pada akhirnya menerima kepergian Sungmin setelah lelaki itu terus memberinya kabar gembira mengenai kehidupannya di negeri orang.

Memikirkan teman-temannya, tanpa sadar membuat Sungmin menghabiskan makan siangnya dalam diam.

Drrt…

Layar telepon genggamnya menyala, menampilkan satu notifikasi pesan masuk. Perhatian Sungmin teralihkan dan keningnya sontak berkerut, sedang tidak mengharapkan pesan dari siapa pun di waktu seperti ini.

Kim Taetae: KENAPA TIDAK BILANG KALAU KAMU PULANG HARI INI

Kim Taetae: Studio 4

Cukup dua pesan dari Taehyung sudah mampu membuat Sungmin terbahak. Dua pesan dan tidak lebih, namun Sungmin tahu teman-temannya sedang berada di studio 4 Fakultas Seni dan menunggu kedatangannya—kurang ajar memang, mengingat seharusnya Sungmin beristirahat, bukannya berlari untuk memenuhi permintaan Taehyung.

Walaupun begitu, Sungmin tetap meraih ranselnya dan segera bergegas menuju kampusnya.

.

.

“Jadi, siapa yang memberitahu kalian kalau aku sudah pulang?”

Empat pasang mata kini serentak tertuju ke arah Choi Sungmin. Keempatnya membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang mereka lihat walaupun mereka sudah mengetahui kebenarannya sejak satu jam yang lalu.

“Choi Sungmin!!”

Seketika saja, beban berat menimpa punggung Sungmin. Kalau saja tari tidak menguatkan kaki bagian bawahnya dan sepakbola tidak melatih refleksnya, niscaya kedua lelaki itu sudah jatuh menimpa bumi. Tetapi, untungnya, hal itu tidak terjadi dan Sungmin dengan sigap menguatkan kuda-kudanya.

“Turun, Yook Sungjae!” desis Sungmin sebal. Walaupun tinggi mereka hampir sama, massa tubuh mereka jauh berbeda, di mana Sungmin lebih kurus dibandingkan Sungjae dan tentu saja Sungmin tak akan nyaman jika harus menahan massa tubuh Sungjae terlalu lama.

“Begini caramu menyambut teman yang sudah lama tidak bertemu?” Tanya Sungjae sembari turun dari punggung Sungmin. Lantas membimbing lelaki itu masuk, menuju keempat orang lainnya yang sedari tadi diam seribu kata—tidak menemukan satu kata pun untuk dilontarkan.

“Yang seharusnya disambut itu aku.”

Gerutuan Sungmin tentu saja  diacuhkan oleh teman-temannya. Sembari tersenyum lebar, Yook Sungjae merangkul pundak temannya itu dan menyeretnya ke tengah ruangan, tempat empat orang lainnya berada. Siap untuk melancarkan pertanyaan apa saja untuknya.

“Kenapa tidak bilang-bilang?”

Emm…kejutan?”

“Kami kan bisa menjemputmu!”

“Dan memberikan kesempatan untuk mempermalukanku di tempat umum?” Sungmin bisa memprediksi hal-hal apa saja yang bisa dilakukan oleh teman-temannya saat menjemputnya.”Tidak, terima kasih.”

“Jadi, siapa saja yang tahu kalau kamu sudah pulang?” tanya Jonghyun tiba-tiba.

“Ayah dan Ibuku.”

Ketika tidak ada nama lain yang disebutkan oleh Sungmin, kelima orang yang mendengarnya sontak membelalakkan mata. Tidak menyangka Sungmin bisa menyimpan ‘rahasia’ seperti ini dari orang lain.

“Bahkan Rin?”

Sungmin menggeleng,”dia tahu aku akan pulang bulan ini. Tapi aku tidak pernah memberikan tanggal pastinya.”

“Jahat sekali.”

Gumaman Jimin serta merta mendapat pukulan keras di lengan atasnya dari Sungmin.

“Jadi, bagaimana kalian bisa tahu bahkan ketika adikku sendiri tidak?”

“Ada adik tingkat yang melihatmu makan sendirian dan memberitahuku,” jawab Taehyung.”Dia juga mengambil fotomu, berjaga-jaga seandainya aku tidak percaya dan mengomelinya habis-habisan.”

“Kukira kalian punya mata-mata di bandara atau bagaimana,” gumam Sungmin. Kalimatnya mengundang kekehan dari yang lainnya.”Lalu, apa saja yang kulewatkan selama ini?”

Untuk beberapa saat, keheningan menyelimuti enam lelaki itu. Sangat kontras dengan keadaan sebelumnya yang dipenuhi oleh suara dan canda tawa. Tidak mengherankan memang, mengingat teman-temannya secara teratur memberikan kabar terbaru melalui aplikasi messenger.

Ah! Ada anak baru—“

“Dari London? Kalian sudah memberitahuku tentang dia, Kim Taehyung.”

Kim Taehyung menatapnya tajam, tak senang usahanya memberikan kabar mengejutkan dipotong begitu saja.”Bisakah kamu diam dan mendengarkan? Aku belum selesai,” katanya kemudian, membuat Sungmin dengan segera melakukan gerakan menutup mulutnya.”Ada anak baru dari London dan Jonghyun berpacaran dengannya!”

Choi Jonghyun hampir tersedak sedangkan yang lain dengan cepat menoleh ke arahnya.

“Aku bukan pacarnya!” elak Jonghyun cepat.

Ah iya, bukannya dia pacar Youngjae?” gumam Jimin, membuat Sungmin dengan cepat menolehkan kepalanya lagi.

“Apa itu artinya kamu sedang dalam usaha merebutnya, Choi Jonghyun?”

“Ada yang bisa jelaskan padaku apa yang sedang terjadi?” tanya Sungmin cepat sebelum percakapn bergulir dengan topik yang tidak ia ketahui.”Aku tahu ada mahasiswi baru di sini dan dia dari London. Tapi, kenapa ada nama Youngjae? Apa Youngjae ini Youngjae yang kukenal?”

“Kim Taehyung dan yang lainnya,” jawab Jongup, sebelum yang lain sempat membuka mulutnya,”menyimpulkan bahwa Yeonhee adalah pacar Yoo Youngjae.”

“Dan satu hal yang perlu kalian ketahui lagi, Youngjae hyung itu kakak tiri Yeonhee, bukan pacarnya.”

“Jadi, kalian pacaran?” tanya Sungmin setelah mencerna dua buah informasi yang baru saja ia dapat.

“Tidak!” sambar Jonghyun cepat.”Aku hanya mengajaknya jalan-jalan, oke? Lagipula, dari mana kalian bisa mengambil kesimpulan seperti itu?” lanjutnya lagi, sembari menunjuk teman-temannya—kecuali Sungmin yang tidak tahu apa-apa.

“Kami melihat kalian di Yeouido,” jawab Jimin.”Romantis sekali jalan-jalan di tepi sungai Han sambil melihat matahari terbenam.”

Sungmin tertawa pelan.

“Jonghyun-ah, dari semua orang di negara ini, kencanmu harus ketahuan oleh para tukang gosip Fakultas Seni?”

“Tolong keluarkan aku dari kategori itu,” gumam Jongup.

“Mungkin lain kali aku harus mengajaknya keluar Seoul,” kata Jonghyun—setengah bercanda.”Kamu mau ke mana setelah ini, Choi Sungmin?”

Sungmin mengendikkan bahunya, dia sendiri juga belum tahu tujuan selanjutnya.”Mungkin mampir untuk makan malam sebelum pulang dan tidur sampai besok siang.”

“Kita harus makan bersama!” seru Sungjae.”Kita ada janji dengan yang lainnya kan?” Pertanyaan konfirmasi dari Sungjae mengingatkan Kim Taehyung dan Park Jimin akan janji yang mereka buat tadi siang.

“Boleh juga, sekalian saja aku meladeni pertanyaan kalian,” jawab Sungmin mengiyakan.”Jonghyun, kamu ikut?”

Choi Jonghyun dengan cepat menggeleng,”aku tidak ingin menjadi bahan gosip mereka lagi.” Sedikit bergidik ketika mengingat pengalamannya beberapa minggu yang lalu.

“Jongup?” tanya Sungjae.

“Aku kan sudah bilang tadi siang,” jawab Jongup.”Aku sudah janji dengan Rin.”

Kalimat Jongup membuat Sungmin terpaku. Sama sekali tidak menyangka akan melewatkan sosok sang adik di tengah teman-temannya yang lain. Mengira ia akan mengejutkan adiknya bersama dengan yang lain.

Ah iya, ini hari ulang tahunmu juga kan, Sungmin-ah?”

Fokus Sungmin teralihkan saat itu juga. Lantas melayangkan cibiran pada sosok yang menanyakan hal yang sudah pasti itu.

“Terima kasih atas ucapannya, Kim Taehyung.”

.

.

Suara jeritan dan pekikan penuh keterkejutan menyambut kedatangan Sungmin senja itu. Kalau saja teman-temannya tidak segera menenangkan para gadis yang ada, hampir dapat dipastikan mereka semua sudah ditendang keluar oleh pemilik restoran, lantaran mengganggu ketenangan tempat usahanya.

“Oke, oke, aku tahu kalian senang, tapi biarkan Sungmin menarik napas,” kata Taehyung, sebelum yang lain menghujani Sungmin dengan berbagai pertanyaan yang menghinggapi kepala.”Dan tolong, satu-satu.”

“Siapa kamu? Manajernya?” gumam Namjoo sebal.

Taehyung memicingkan mata, tidak terima dilecehkan seperti itu.”Aku teman sekelasnya selama tiga tahun dan karena tidak ada Rin di sini, jadi aku yang paling mengenal Sungmin dibandingkan kalian semua.”

Tidak ada yang membantah, namun gumaman penuh kekesalan terdengar dari setiap orang, bahkan Sungmin.

Nah, sekarang siapa yang mau bertanya?” tanya Taehyung tiba-tiba, yang disambut dengan keheningan sejenak sebelum ia kembali melanjutkan,”tidak ada? Kalau begitu, aku!!”

“Apa-apaan?!!”

“Biarkan kami berpikir dulu, Kim Taehyung!”

Seruan-seruan penuh protes terdengar, menyerukan ketidaksetujuan mereka pada cara Taehyung menyetir arah pembicaraan. Dan yang lebih penting, bagaimana pemuda itu telah memanipulasi mereka secara terang-terangan.

Taehyung tentu saja tidak peduli.

“Pertanyaan paling penting: Apakah gadis Jerman cantik-cantik? Apakah kamu berkenalan dengan salah satu di antaranya?” tanya Taehyung dengan mata berbinar.

Sungmin tersedak. Lelaki itu telah berniat untuk membasahi kerongkongannya sebelum menjawab pertanyaan Taehyung, namun ia tidak menyangka pertanyaan seperti itu akan muncul, terlebih dalam giliran pertama. Tetapi, mengingat kepribadian Taehyung, seharusnya Sungmin sudah bisa mengantisipasi.

“Ada banyak hal yang membuat kita penasaran dan kamu memilih itu sebagai pertanyaan pertama?” tanya Sanghyuk takjub, sembari menunggu Sungmin mengatur napasnya sepertinya akan lebih menarik jika ia mencari tahu motivasi di balik pertanyaan Taehyung.

“Seperti ‘bagaimana Jerman?’ atau hal-hal semacamnya?” balas Taehyung.”Well, menurutku itu terlalu kentara dan membosankan. Dan dia sudah terlalu sering menceritakannya lewat chat, jadi lebih baik aku menanyakan sesuatu yang benar-benar ingin kita ketahui.”

“Tolong jangan ikutkan aku dalam kategori ‘kita’ itu,” kata Sanghyuk defensif, ingat benar kekasihnya ada bersama mereka—tidak ingin memancing keributan yang tidak perlu.

“Oke, lebih baik aku menjawabnya sekarang,” kata Sungmin menyela.”Aku jarang pergi ke tempat ramai, aku payah dalam hal generalisasi, dan aku tidak tahu standar cantik kalian semua, tapi teman-teman perempuanku di Jerman jelas masuk dalam standarku.”

Ooohhh….

“Selanjutnya?” tanya Sungmin, mengabaikan siulan menggoda dari teman-temannya.

“Kamu tidak berkenalan dengan mereka?” Pertanyaan ini tanpa disangka keluar dari bibir Yook Nana, dengan  cepat menarik perhatian dari orang-orang di sekelilingnya.”Gadis-gadis itu, maksudku—dan selain yang kamu anggap sebagai temanmu ya.”

Semua orang terdiam, menanti jawaban Sungmin dengan penuh antisipasi—mengingat hubungan antara Nana dan Sungmin yang sedikit ambigu, bahkan hingga sebelum Sungmin meninggalkan negeri. Terlebih bagi segelintir orang yang menyaksikan kejadian mengejutkan—dan sekaligus tidak mengenakkan—di bandar udara beberapa bulan silam.

Well, saat pergi ke London, rekan setimku mengajakku ke salah satu dance team yang ada di sana, aku bertemu dengan seorang gadis Korea di sana.”

Ckckck, jauh-jauh pergi berlayar, yang kamu tangkap juga ikan yang sama,” decak Sungjae sebal. Tak mempedulikan tatapan sebal yang dilayangkan Sungmin untuknya—lantaran telah berani-beraninya memotong ceritanya.

“Dia secantik itu?” tanya Jimin, jelas-jelas tertarik.

“Tidak.”

“Lalu?” celetuk Seolhyun cepat, mewakili rasa penasaran teman-temannya yang lain.

“Kalau untuk masalah cantik, aku yakin kamu lebih cantik daripada dia, Kim Seolhyun,” jawab Sungmin kemudian.”Tapi yang membuatku masih mengingatnya adalah tariannya.”

“Kamu jatuh cinta padanya karena tariannya?” celetuk Seolhyun lagi, namun kali ini gadis itu dengan cepat menutup mulut dengan salah satu tangannya dengan cepat dan melirik takut-takut ke arah Sungmin. Merasa telah mengucapkan sesuatu yang salah.

“Enak sekali mengatakannya, Kim Seolhyun,” ucap Sungmin gusar.”Aku hanya bilang aku mengingatnya, itu saja.”

“Memangnya bagaimana tariannya?” tanya Sanghyuk.

Sungmin terdiam sejenak, berusaha mengingat-ingat dan memilah kata yang pantas untuk menggambarkan tarian gadia berambut cokelat itu. Setelah beberapa saat, hanya helaan napas yang terdengar dari lelaki berusia dua puluh dua itu.

“Mungkin ini karena dia perempuan, tetapi gerakannya lembut dan bertenaga. Tidak seperti gerakanku, Jongup, atau Jonghyun,” jelas Sungmin, memberikan perbandingan yang diketahui oleh teman-temannya.”Dia selalu menyesuaikan gerakan dan ekspresinya dengan lagunya, seolah-olah dia sedang bercerita. Aku punya video-nya, tapi handphone-ku mati, jadi kalian harus bersabar.”

Gumaman kecewa terdengar dari seluruh penjuru. Setiap orang merasa seperti sudah diangkat hingga lantai 50 hanya untuk dihempaskan kembali menuju lantai bawah tanah—antiklimaks.

“Siapa namanya?”

“Helena, dia tidak memberitahuku nama aslinya.”

“Rin tahu?”

Pertanyaan kedua Yook Nana ini lagi-lagi membuat Sungmin terdiam. Nama adiknya hampir tidak disebut selama makan malam mereka berlangsung, seakan-akan keberadaannya dalam memori mereka sudah terhapuskan.

“Tidak.”

“Dia tidak tahu kamu sudah pulang kan?”

Sungmin terdiam lagi. Menelan mentah-mentah nada pertanyaan Nana yang seperti menyalahkannya.

“Serius, Choi Sungmin?!”

“Aku memberitahunya aku akan pulang bulan ini, itu saja.”

“Perlu aku beritahu Rin?” tanya Namjoo menawarkan, tangannya sudah bergerak meraih handphone di saku kemeja. Namun tawaran itu hanya disambut oleh gelengan kepala Sungmin.

“Tidak usah, tolong. Biarkan dia menikmati hari  tahunnya.”

.

.

Hari sudah beranjak malam ketika Sungmin menyadari ke mana langkah kakinya membawa ia pergi. Langit sudah berubah gelap dan lampu-lampu jalan sudah menyala entah sejak kapan—Sungmin terlalu sibuk dengan pikirannya untuk dapat memperhatikan sekeliling. Namun jalanan masih ramai, tak peduli dengan fakta bahwa esok masih merupakan hari kerja.

Tak terkecuali toko roti di hadapannya ini.

Toko roti yang menjadi favoritnya—dan saudari kembarnya—selama ia hidup. Menjajakan berbagai macam roti dan cake, mereka tidak pernah bisa menahan godaan tiap kali berjalan di daerah sini. Toko roti yang berhasil membuat dua bersaudara itu merogoh kocek bahkan ketika mereka tak punya cukup banyak dana di sana.

Maka dari itu, kali ini pun Sungmin tak luput mendorong pintu masuknya.

Kedua tungkainya melangkah dan kedua matanya sibuk menjelajah, memeriksa satu per satu jenis roti yang masih tersisa—hanya tersisa dua jam sebelum toko ini tutup dan mereka sudah berhenti berproduksi. Sesekali mendesah kecewa ketika mendapati jenis favoritnya telah kandas tak bersisa.

Yah, garlic cheese-ku habis!”

Sungmin mengenal satu orang yang selalu menyebut salah satu jenis roti sebagai miliknya. Tangannya baru saja hendak meraih penjepit roti saat ia dengan cepat menoleh ke sumber suara, hendak memastikan apakah pendengaran—dan tebakannya—tepat.

Benar saja.

Tidak mungkin seorang Choi Sungmin akan melewatkan rambut pendek dan kacamata milik Choi Rin. Walaupun surai kelam milik Rin itu sudah lebih panjang dibandingkan saat terakhir kali Sungmin melihatnya, tidak mungkin Sungmin akan melewatkannya. Tidak mungkin juga ia akan melupakan tas berwarna hitam-biru milik adiknya itu—hadiah dari ibu mereka dua tahun lalu, saat mereka lulus sekolah menengah atas.

Gadis itu tidak merasakan kehadirannya, walaupun Sungmin secara terang-terangan memperhatikannya. Sosok Moon Jongup di dekatnya secara strategis menutupi arah pandang Rin ke Sungmin—entah Jongup menyadari kehadiran Sungmin atau tidak.

Pandangan Sungmin kini beralih pada nampan yang dibawa oleh Rin. Baru ada sepotong roti di sana, menunggu dengan sabar teman senasibnya, sementara gadis itu kembali memutari bagian yang sama untuk mencari roti yang lain. Rin tidak pernah membeli kurang dari dua potong roti, Sungmin tahu itu.

Tak mau menghabiskan waktunya lebih lama lagi dan berisiko ketahuan—entah kenapa Sungmin belum mau menunjukkan kedatangannya pada Rin—Sungmin kembali memusatkan perhatian pada roti-roti di hadapannya. Kemudian kembali menyesali persediaan roti kesukaannya yang tidak bersisa, ia akan membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat keluar dari tempat ini.

“Tolong black forest-nya satu.”

Suara familiar itu kembali membuat Sungmin menoleh. Akan tetapi, kali ini pandangannya tidak menemukan sosok Rin, melainkan sosok Moon Jongup yang tengah berdiri di depan lemari pendingin tempat penyimpanan berbagai macam cake. Dan tak butuh waktu lama bagi pelayan toko untuk memenuhi permintaan lelaki itu dan mengeluarkan sebuah black forest berukuran mini. Rin sendiri tidak memperhatikan, masih sibuk memilih antara dua jenis roti di hadapannya—sebuah dilema yang wajar diperlihatkan oleh gadis itu.

Sungmin tidak tahu hingga berapa lama lagi ia memperhatikan gerak-gerik sang adik. Hal berikutnya yang ia tahu adalah saat Rin dan Jongup melangkah keluar dari toko. Menyadarkan kembali Sungmin dengan bel yang berbunyi berbarengan dengan dibukanya pintu toko.

Cring!

.

.

Malam itu, salju turun.

Baik Moon Jongup maupun Choi Rin tidak menonton perkiraan cuaca tadi pagi, membuat mereka berdua sedikit terkejut ketika partikel salju jatuh tepat di atas kepala. Hanya bisa tertawa pelan sebelum kembali melanjutkan langkah, kali ini lebih dekat dibandingkan sebelumnya—mengusir hawa dingin yang tiba-tiba muncul begitu saja.

Seperti biasa, langkah mereka diisi dengan kesunyian yang nyaman. Jongup bukanlah lelaki dengan seribu kata dan Rin juga tidak dikenal banyak bicara. Keduanya mengetahui hal ini sama baiknya dan tidak terlalu mengambil pusing, toh mereka sama-sama menyukainya.

Dan, seperti hari-hari lainnya, ketika langkah mereka terhenti di depan rumah keluarga Choi, Rin berputar dan menatap Jongup dengan senyum terpasang.

“Terima kasih.”

Jongup hanya balas tersenyum, tetapi tangan kanannya yang bebas bergerak maju, mengelus puncak kepala gadisnya lembut. Lelaki itu tahu, ada beragam makna yang tersirat dari dua kata yang diucapkan Rin untuknya.

Terima kasih sudah mengantarku pulang. Arti pertama, sama seperti arti yang dimaksud oleh Rin di hari-hari sebelumnya.

Terima kasih untuk hadiahnya. Arti ini tentu saja karena hari ini ulang tahun gadis itu.

Terima kasih telah menemaniku seharian ini. Tidak, bukan itu arti yang tepat.

Terima kasih telah menemaniku di  ulang tahun pertamaku tanpa Sungmin. Jongup yakin inilah arti yang sangat ingin disampaikan oleh Rin lewat ucapan terima kasihnya.

Perlahan, Jongup melangkah mendekat, kedua tangannya yang kini bebas—entah sejak kapan Rin melepaskan tangan kirinya—menemukan jalan mereka menuju bagian belakang leher Rin. Menahan gadis itu agar tidak terlalu banyak bergerak.

Ketika Jongup mencium kening Rin, ia bisa merasakan suhu tubuh sang gadis menjalar melalui indera peraba di jari dan bibirnya.

Dan kemudian ia bergerak ke selatan, mendaratkan sebuah kecupan manis di ujung hidung  sebelum akhirnya sampai di bibir sang gadis.

Itu hanya sebuah kecupan biasa pada awalnya, memang. Namun, pada suatu titik, Jongup tidak hanya tinggal diam saja. Menarik gadisnya mendekat, seakan tidak mau mengakhiri momen mereka berdua malam ini.

Ketika jarak di antara keduanya kembali tercipta, tidak ada kata yang terucap. Rin hanya tersenyum dan menggenggam tangannya sekali lagi sebelum membuka pintu pagar dan menghilang di balik pintu rumah. Jongup pun mengamati semuanya dalam diam, hanya tersenyum sekali lagi sebelum Rin benar-benar menghilang dari pandangannya.

“Dia akan marah-marah begitu melihat bentuk black forest-nya yang tidak bagus lagi.”

Kalimat itu menjadi kalimat pertama yang didengar Jongup setelah Rin pergi. Menoleh dan mendapati Sungmin berdiri di sampingnya, ia hanya bisa mendengus pelan. Seakan-akan dirinya sudah tahu apa yang dimaksud Sungmin tanpa perlu diberitahu oleh lelaki itu.

“Dan dia tetap memasukkannya ke dalam ransel,” balas Jongup, setelah merasa dirinya disalahkan oleh Sungmin.

Tidak ada pertukaran kata lagi di antara mereka. Jongup heran, mengapa lelaki di sampingnya ini tidak langsung saja masuk ke dalam rumah. Mengapa Sungmin lebih memilih berdiri di luar dan bertukar kata dengannya, dibandingkan dengan masuk ke dalam kehangatan rumah—yang sudah pasti sangat dirindukannya? Apa dia belum siap kembali atau ada alasan lain?

“Kamu sudah sering melakukannya ya.”

Tidak perlu dikonfirmasi pun Jongup tahu. Ia bahkan terkejut Sungmin tidak menghentikannya ketika ia yakin lelaki itu pasti melihat semuanya. Jongup sudah merasakan kehadiran Sungmin sejak mereka berjalan dari halte bis—ia curiga mereka naik bis yang sama.

“Dan kamu tidak melakukan apa-apa.”

Hening lagi.

Pada titik ini Jongup benar-benar tidak habis pikir kenapa Sungmin lebih memilih untuk berada di luar, tepat di depan rumahnya sendiri.

“Kena—”

“Terima kasih.”

Eh?”

Jarang-jarang seorang Choi Sungmin mengucapkan terima kasih pada Moon Jongup yang notabene adalah kekasih dari adik satu-satunya. Lelaki yang sepertinya masih tidak direstui hingga ia pergi ke Jerman pada awal tahun ini. Terlebih setelah menyaksikan cara Jongup mencium adiknya malam ini, Jongup tak yakin kalau lelaki yang berdiri di sampingnya adalah Choi Sungmin.

“Kamu menepati janjimu.”

Butuh waktu beberapa detik bagi Jongup untuk dapat mengerti. Namun, setelahnya memori perpisahan di awal tahun kembali muncul dan memberi penjelasan di balik kalimat Sungmin.

“Aku benci mengatakannya, tapi tolong jaga dia untukku.”

“I always am.”

Jongup tersenyum kecil.

“Dia baik-baik saja, kok. Tidak usah khawatir.”

“Dan aku masih belum merestuimu.”

Perselisihan kecil ini akan kembali terjadi.

“Aku tahu.”

.

.

Sebagian besar lampu sudah dimatikan ketika Sungmin membuka pintu rumah, kecuali lampu dapur yang masih terang menyala. Tetapi tetap saja Sungmin kesulitan mengenali layout rumahnya, walaupun ia sudah tinggal di sini selama lebih dari dua puluh tahun dan ia yakin tidak banyak perubahan yang terjadi selama ia pergi.

Rumah berukuran sedang itu sepi. Tidak ada satu orang pun yang menyambut kedatangan anak lelaki satu-satunya di keluarga Choi. Sungmin sendiri tidak terlalu terkejut, toh dia sendiri yang meminta ibunya agar tidak menunggu dirinya jika ia pulang terlalu larut—lantaran tadi pagi Sungmin tidak bisa memberikan waktu pasti mengenai kepulangannya.

Melepas sepatunya perlahan, Sungmin merasakan kembali atmosfir rumah yang sudah dirindukannya selama berbulan-bulan. Enam bulan lebih ia jauh dari rumah, dan bukan hanya sekali dua kali lelaki itu terkena homesick akut.

“Sungmin-ah?”

Berdiri di hadapannya, berada di tiga anak tangga paling bawah, adalah Choi Rin. Sosok yang dihindari Sungmin selama seharian ini. Mengenakan sweater abu-abu dan celana pendek, gadis itu menatap Sungmin seakan-akan ia sedang bermimpi—atau seolah-olah Sungmin adalah alien yang tersesat di rumahnya.

Sungmin menahan napasnya. Menatap manik mata sang adik untuk beberapa detik sebelum tersenyum kecil dan menyapanya.

“Aku pulang.”

Hal selanjutnya yang Sungmin tahu adalah tubuh kecil Rin yang menabrak dirinya. Lagi-lagi, jika Sungmin tidak memiliki refleks yang bagus, niscaya keduanya sudah akan terjerembab ke lantai dan menimbulkan luka yang tidak perlu.

Rin memeluknya erat. Sepertinya masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Beruntung, pelukannya tidak seerat itu sehingga Sungmin masih bisa leluasa bernapas.

“Tarik napas sebelum bertanya macam-macam.”

Sang adik menurut. Menarik napas dalam-dalam, masih terus memeluk erat sang kakak kembar.

“Kapan?”

“Tadi pagi. Dan ya, aku sengaja tidak memberitahumu.”

“Kenapa tidak?”

“Karena kamu akan melupakan kalau ini hari ulang tahunmu juga dan fokus kepadaku. Selain itu, anggap saja ini kejutan untuk ulang tahunmu.”

“Kamu benar-benar membuatku terkejut, tahu.”

Sungmin tersenyum. Walaupun Rin tidak bisa melihatnya—dan ia juga tidak bisa melihat wajah Rin dengan jelas—Sungmin bisa merasakan kalau gadis itu balas tersenyum.

Choi Sungmin balas memeluk erat saudari kembarnya.

“Aku pulang.”

fin.

A/N:

Ya, ini birthday fic yang telat seminggu lebih .__. karena laptop baru balik hari Kamis minggu kemarin di tengah-tengah UAS dan pas weekend aku ada acara di luar kota, jadi baru bisa di-post sekarang :”

maybe some of you will questioned why Sungmin is back when I’m clearly telling you I’m not writing about him again. Ini karena dia udah balik ke dunia entertainment lagi, not as a singer though, but as an actor. Agak kecewa memang, apalagi kalau kamu tahu talent-nya Sungmin kayak gimana :”

but, now he’s back and I’m going to write about him again. until when, nobody knows 🙂

so, mind to review then?

NB: HAPPY BELATED BIRTHDAY (EVEN THOUGH IT’S LATE) TO Choi Sungmin and GFRIEND Sowon!! (yes, now I have 2 twins XD)

Iklan

5 thoughts on “[Oneshot] Coming Home”

  1. Aahh, akhirnya ada juga cerita yg castnya Sungmin. Beneran deh, aku kangen banget pingin liat kayak gimana dia sekarang..
    Beneran seneng banget tau kalo Sungmin udah balik 😀 *yeay*
    Berarti habis ini bakal banyak cerita Sungmin ya Kak .. 🙂 😉
    Oiya Kak, kalo boleh tau, Sungmin main drama kah? film kah? Hehe banyak tanya yaa *maapkan 😀 efek kangen Sungmin*
    Pokoknya ditunggu~lah ceritanya..
    Semangat nulisnya ya kaak ~ 😀 😉 🙂

    Suka

    1. kalo pengen liat sungmin sekarang, coba cek instagram-nya dek :”) walaupun jarang update juga sih ya….ig-nya sungmin @from_mean :)) dia lagi syuting drama kayaknya, tapi ak juga kurang tau judulnya apa ‘-‘

      insya Allah~~ kalo ada ide cerita yaaa hehehehehe

      makasiihhh ^^

      Suka

  2. Demi apa 😱 kak Sungmin balik?! Huuwwaaaa!!! Finally, he’s back. I had thought if he wouldn’t back, but thankfully him back. 😄
    Iya sih sempet kecewa, tau dia ga jd -singer- lg, tp ga apa deh yg penting dia balik 😊. Dia jd aktor? Kak, dia main dimana? Drama? Film? Kasih tau dong kak…

    Ph ya sebelumnya, Salam kenal ya kak, aku gita line 00. Aku udh baca beberapa FF kakak, tp maaf baru bisa coment disini, hehehe… Hbs biasanya aku klo baca disimpen dulu, bacanya entaran klo ada waktu hehehe…

    Aku tuh, suka bngt sma FF kakak. Tau kakak nulis lg, apa lg ceritanya kak sungmin, aku langsung buka dan baca FFnya. Wwuuaahhh… Aku langsung senyum-senyum sendiri. 😊 pokoknya keep writing ya kak, fighting!!! 👍 /maapkan jika comentku nyampah gini hehehe… ✌/ 😁

    Suka

    1. ak sendiri sih dulu mikirnya dia pasti bakal balik ke dunia entertainment, gimana pun caranya…tapi ya tetep aja rada kecewa pas tau dia jadi aktor :” dia main drama, tapi ak juga kurang tau judulnya apa .__. mungkin kamu bisa googling sendiri dek..

      salam kenal juga gitaa ^^ ak Tiwi, 95line. feel free buat comment di ff-ku yg lain~ ak gak gigit dan menerima segala macam komen(?)

      makasih yaaa ^^

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s