Graduation

image

Graduation by Tob

Lee Seokmin/DK [17] ft. Choi Yuju [Gfriend] – Eunha [Gfriend] ft. Mingyu [17]

College Life, AU – Ficlet – PG-15

“Yuju, jangan kaget, ya.”

.

.

.

Seharusnya Yuju tidak perlu repot-repot untuk membeli bunga atau bingkisan di hari wisudanya Seokmin. Seharusnya sih memang begitu, tapi masa di hari bahagia si Lelaki ia tidak menyambut dengan memberikan hadiah sebagai pelengkap kebahagiaan? Tega sekali Yuju kalau memang begitu.

Laki-laki itu akhirnya setelah berjuang dengan sekuat tenaga (dan dibantu Yuju untuk mengerjakan tugas akhirnya) kini dapat menyabet gelar sarjana. Gelar yang sudah keduanya (Yuju dan Seokmin) idam-idamkan sejak pertama kali menginjak kampus tercinta.

Kalau saja Yuju tidak mengikuti pertukaran pelajar ke Jepang, mungkin keduanya bisa memakai toga bersamaan. Tapi, apa daya, Yuju harus rela menunggu empat bulan lagi sebelum dirinya bisa mengenakan toga dan berteriak pada dunia bahwa ia sudah bisa menyabet gelar sarjana dan membanggakan kedua orang tuanya.

Dengan mengenakan dres merah muda selutut yang dipadukan dengan kardigan putih tulang, Yuju menunggu kedatangan Seokmin ditemani Eunha yang sedang menunggu kedatangan tetangganya, Mingyu.

“Yuju, jangan kaget, ya.”

Eunha tiba-tiba berucap kala keduanya baru selesai mengambil gambar melalui ponsel Yuju. Dengan dahi yang terlipat, Yuju meminta Eunha untuk melanjutkan kalimatnya.

“Kudengar Senior Soonyoung juga wisuda hari ini.”

Yuju mengembuskan napas. Ia sudah mengira yang aneh-aneh, tapi ternyata Eunha hanya memberitahukan bahwa senior keduanya di jurusan Sastra Jepang yang bernama Kwon Soonyoung wisuda hari ini.

“Ya terus kenapa kalau wisuda hari ini?”

“Ya…,” Eunha menekan-nekan dagunya menggunakan telunjuk sembari berucap, “kalian ‘kan pernah dekat, jadi, mungkin berniat memberikan bingkisan?”

“Untuk apa?”

“Sebagai kenang-kenangan. Lagian, kamu gak akan tahu kapan lagi bisa bertemu dia. Haha.” Eunha tertawa begitu kalimatnya selesai.

Alih-alih, Yuju justru mengerucutkan bibirnya. “Itu bukan urusanku. Lagian, aku kesini karena Seokmin tahu, bukan lelaki sipit itu.”

“Siapa yang kalian panggil lelaki sipit?”

Tiba-tiba sebuah suara menginterupsi keduanya. Seorang laki-laki berdiri di hadapan keduanya yang sedang duduk. Berdeham, lalu kembali mengulang kalimat sebelumnya.

“Jadi, siapa yang kalian panggil lelaki sipit?”

Di hadapan keduanya berdirilah seorang Kwon Soonyoung dengan toga di atas kepala dan sertifikat di tangan kanan. Yuju masih tenggelam dalam keterkejutan. Untung saja Eunha lebih dulu sadar dan langsung memamerkan senyumannya pada Soonyoung.

“Eh, Senior. Selamat ya untuk kelulusannya.”

“Terima kasih, Eunha,” balas Soonyoung. Tak lupa dengan senyuman penuh bahagianya (Lebih mirip tertawa sebenarnya).

Soonyoung tak langsung beranjak dari tempatnya, ia sepertinya menunggu ucapan selamat lagi dari gadis yang satunya. Eunha yang sadar lantas menyikut Yuju, membuat gadis itu mengerjap lalu cepat-cepat membungkuk sembari memberikan bunga dan bingkisan yang sebelumnya sudah ia siapkan untuk Seokmin.

“Selamat hari kelulusan, Senior Soonyoung.”

“Terima kasih banyak, Yuju.” Soonyoung menerima bingkisan dan bunga yang diberikan Yuju. “Wah, terima kasih untuk bunga dan bingkisannya. Kamu benar-benar masih menyukaiku ya ternyata. Aku terharu. Eunha, coba ambil gambar kami berdua.”

Eunha tak bisa menolak, ia lantas menerima ponsel yang diulurkan Soonyoung lalu mengambil gambar keduanya. Yuju tersenyum kikuk sedangkan Soonyoung jelas-jelas menampilkan raut muka bahagia dan memamerkan bingkisan dan bunga yang diberikan Yuju.

Beberapa gambar di ambil. Tanpa disadari oleh ketiga orang tersebut, ada dua orang manusia melihat gerak-gerik mereka. Salah satu diantaranya tersenyum pahit, sedangkan yang satunya memilih untuk menepuk pundak yang lain, memberikan semangat.

Begitu acara pengambilan gambar selesai, Soonyoung mengucapkan terima kasih lalu pergi. Sebelumnya ia mengajak Yuju untuk pergi makan malam bersama, yang langsung di tolak secara halus oleh Yuju yang berdalih sudah punya janji dengan Eunha. Gadis mungil itu melotot karena merasa tidak pernah membuat janji dengan Yuju, tapi melalui matanya, Yuju memberikan isyarat bahwa nanti ia akan menjelaskan semuanya.

Setelah Soonyoung pergi, Eunha buru-buru melayangkan protes.

“Apa sih, aku kan tidak pernah buat janji.”

Yuju memutar bola matanya, “Aku ‘kan gak mau jalan bareng makhluk sipit itu!”

Eunha mengerucutkan bibirnya dengan tangan bersedekap. “Ya sudah, aku minta kompensasi saja ya karena sudah menjual namaku. Itu gak gratis, loh.”

Yuju berdecak kesal. “Baiklah, baiklah.”

Kini Yuju menatap kedua tangannya yang sudah kehilangan barang bawaan. Tak lama kemudian, dua lelaki yang berada di kejauhan mulai memangkas jarak. Mendekati tempat Yuju dan Eunha berada.

“Wah, bagaimana rasanya bertemu dengan Senior Soonyoung? Pasti menyenangkan, ya?”

Yuju mengangkatkan kepalanya. Mendapatkan presensi Seokmin sedang tersenyum padanya. Bukan senyuman yang biasa ia terima ketika lelaki itu menjemput untuk berangkat ke kampus. Itu bukan senyuman yang memancarkan kehangatan. Itu senyuman kepahitan.

“Kamu lihat?”

Mingyu memberikan isyarat pada Eunha untuk pindah. Laki-laki jangkung itu lantas menarik lengan Eunha dan mengajaknya pergi ke tempat lain selagi dua insan yang lain menyelesaikan perbincangan mereka.

“Tidak sengaja. Jadi, bagaimana rasanya?”

Yuju duduk dengan gelisah. Seokmin kemudian duduk di sebelahnya, menambah kegelisahan yang dirasakan Yuju. Gadis itu tak henti-hentinya merutuki kedatangan Soonyoung yang datang secara tiba-tiba.

“Tadi itu, um, dia, um, datang tiba-tiba. Dan, ya, ya…”

Seokmin tertawa. “Tidak usah grogi begitu. Tidak apa-apa, kok.”

“Ya, tapi, bingkisan dan bunganya … um, aku belikan lagi sepulang dari sini! Aku janji!”

Seokmin menyimpan telunjuknya pada bibir Yuju, menggeleng, lalu tersenyum. Senyuman itu. Senyuman yang selalu Yuju terima. Senyuman itu telah kembali.

“Tidak apa-apa.”

Yuju menyingkirkan telunjuk Seokmin. Gadis itu lantas berucap, “Maaf.”

Seokmin kini menampilkan mata bulan sabitnya. “Tidak apa-apa, Yuju. Aku sungguh-sungguh. Kedatanganmu ke sini sudah menjadi hadiah terindah untukku. Benda-benda yang telah kamu bawa itu memang penting, tapi tidak lebih penting dari kedatanganmu. Aku serius.” Seokmin menekankan kalimat terakhirnya, membuat kedua pipi Yuju bersemu merah.

“Jadi, kau benar-benar tidak perlu bunga dariku, nih?”

“Tidak.”

“Bingkisan?”

“Tidak.”

“Coklat?”

“Tidak.”

“Makan malam bersama?”

“Ti—hei! Itu tentu perlu!”

Di samping itu Eunha dan Mingyu tertawa melihat kelakuan Yuju dan Seokmin. Eunha yang masih sibuk tertawa tidak sadar bahwa lelaki yang di sampingnya menunggu gadis itu berhenti dengan aktifitas tertawanya, yang nyatanya Eunha tak berhenti tertawa dan terus-terusan melihat interaksi antara Yuju dan Seokmin.

“Eunha, bagaimana kalau kita juga makan malam bersama?” sontak Eunha menghentikan tawanya.

“Kamu ini tidak kreatif, ya?”

Mingyu berdecak. “Maaf, deh. Aku memang tidak kreatif. Jadi kamu maunya pergi ke mana?”

“Kita buat kue!”

“Ya ampun, aku tidak suka belanja.” Mingyu menggelengkan kepalanya. “Kamu bisa berhenti selama dua jam hanya untuk melihat bagian parfum!”

“Itu masih lebih baik daripada berdiri selama dua jam untuk menentukan mau bayar pakai kartu kredit atau uang cash.”

FIN.

Iklan

2 pemikiran pada “Graduation

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s