final-tobreathinthemess

to breathe in the mess

two broken souls under beautiful skin. their eyes are calm ‘cause the real war is too deep to be seen.

 

by

LITE.

EXO’s Baekhyun x OC || Angst, Life, Psychology, Romance, AU || PG 17 || Oneshot

warning: this story is basically talking about suicide

Sakit.

Baekhyun selalu terbangun dengan kepala pening dan sakit. Entah itu di tempat tidur, di kelas, atau di ruang tamu pukul dua dini hari, pening tidak kunjung bosan mengusik hidupnya.

Lantai yang dingin membekukan kulit pucat Baekhyun. Ia ingat tengah membaca sesuatu tentang bagaimana ginjal manusia bekerja sebelum kantuk memblokade otaknya untuk berpikir, dan menumbangkan Baekhyun ke atas keramik putih di ruang tamu.

Hal lain yang memaksanya bangun adalah cahaya dari televisi, menyala terlalu terang di ruang tamu yang nyaris gelap, menembus kesadaran Baekhyun dengan menyakitkan. Suara pria dari layar berpendar itu seperti bisikan yang terlalu dekat, membuatnya risih. Baekhyun hampir saja melempar buku atau apapun ke benda persegi dua meter di depannya.

Namun lagi-lagi, kesadarannya ditarik paksa.

Tick tock. Let’s see who just wake up.”

Baekhyun menghela napas berat, menegakkan kepala sambil menggerutu karena dunia seolah tidak memperbolehkannya tidur.

Aroma gula menusuk hidung ketika tulang-tulang lelaki itu bergerak dan bergemeletuk. Sisa-sisa mimpi yang kabur lenyap perlahan. Baekhyun hanya perlu memiringkan kepala sekilas untuk menangkap figur ramping sepupunya. Lana dengan sweater putih dan celana selutut, duduk di sofa di belakangnya sambil mendekap sekantung marshmallow.

“Kau menghalangi pandanganku, Dude. Minggir.”

Baekhyun bahkan terlalu lelah untuk memutar kedua bola matanya, terlebih membalas. Ambisinya menjadi nomor satu di semua ujian seperti senjata makan tuan, menyedot energinya setiap dua puluh empat jam. Entah berapa jam tidur yang ia ambil, atau berapa butir suplemen yang ditelan, semuanya tidak cukup. Tubuhnya selalu lelah.

Lelaki itu menyeret tungkai ke kamar, punggung melengkung meninggalkan buku-buku yang berserakan di ruang tamu, mengabaikan Lana dan membiarkan badannya ambruk ke tempat tidur, terlelap secepat kilat hanya untuk terbangun lagi satu setengah jam kemudian.

.

.

.

Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal muncul di layar ponselnya pada suatu hari sekitar pukul sepuluh malam. Adalah tiga kalimat singkat yang menyertai Location yang dikirim lewat fitur chat tersebut.

Please, Baekhyun. Lana di sana sejak tadi.

Gedung itu tinggi.

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang akan mengirim pesan semacam itu selain kakak Lana, Jo. Dan Baekhyun tidak punya pilihan lain kecuali meraih mantel, dompet dan ponsel sebelum meninggalkan catatan Biologi untuk ujian besok.

Tanpa Jo, rumah ini terlalu besar untuk dihuni dua orang—Baekhyun dan Lana.

.

.

.

Pintu besi itu berdecit ketika dibuka. Angin malam berembus kencang, mengacak-acak rambut cokelat Baekhyun yang mematung sesaat di depan pintu. Ia menghela napas mendapati sosok Lana berdiri beberapa meter membelakanginya, punggung melengkung dengan kedua siku bersandar pada pagar atap gedung setinggi dada.

Baekhyun memegang kantung plastik di tangan kiri kuat-kuat, berjalan ke samping Lana.

“Ini hari yang buruk untuk bunuh diri,” ucapnya, mengeluarkan soda kaleng yang dingin dan berembun dari kantung plastik putih, menyodorkannya pada Lana.

Gadis itu terkekeh. “Justru aku sedang berusaha untuk tidak bunuh diri, Byun.”

“Yah, siapa tahu.” Baekhyun mengeluarkan kaleng terakhir untuk dirinya sendiri dan membuang kantung plastik tadi ke sampingnya yang segera diempaskan udara. “Aku dan Jo membawamu ke rumah sakit beberapa bulan yang lalu, setelah kau tidak sadarkan diri karena menelan terlalu banyak obat tidur.”

Seoul pukul sepuluh malam itu ramai. Bulan yang menggantung di langit musim panas tidak menampakkan diri. Hari-hari seperti ini berjalan lambat, karena itulah Baekhyun membeli dua kaleng soda sebelum menuju ke mari. Ia tahu ini akan menjadi malam yang panjang.

Menunduk ke bawah, ruas jalan Seoul terlihat padat dengan kendaraan yang bergerak seperti mobil mainan. Lampu-lampu dan reklame menyala, mereplika malam menjadi siang.

You are an expert at talking shit about suicide.” Nada bicara itu dingin. Lebih dingin dari kaleng soda di tangan mereka.

Desahan Baekhyun tertelan bunyi gas soda yang meluber ke mulut kaleng.

And you are an expert at attempting suicide.” Baekhyun menegak minumannya. Angin menghantamkan kenangan-kenangan pahit ke kepala mereka.

Well, Mr. Byun,” lelaki yang namanya disebut menyipitkan mata ke gerakan tangan Lana yang menaruh kaleng sodanya ke pagar. Seperti tidak berselera. “Glukosa akan membunuh sel-sel otakmu.”

Who the fuck is care.

Lana tertawa. Namun selalu ada yang berbeda saat gadis itu tertawa atau tersenyum. Tidak familier. Aneh. Caranya menarik kedua sudut bibir dan mengeluarkan tawa renyah seperti menyakitinya dari dalam.

I know I’m not the only one who ever try to kill myself. Dua belas November tahun lalu, tengah malam, ada ceceran darah di dapur. And guess what, juga ada figur tinggi Byun Baekhyun berdiri di depan wastafel. Bunyi gemericik air dari keran mengganggu.”

Baekhyun membuang muka.

“Itu bukan—“

Tiba-tiba Lana meraih tangan kirinya, mengejutkannya seperti sengatan listrik dan membuat kaleng soda setengah penuh yang ia pegang nyaris jatuh. Jemari gadis itu lentik, mencengkeram pergelangan tangan Baekhyun dengan pas. Dingin, merambat terlalu cepat di syarafnya. Belum pernah lelaki itu merasa jantungnya berdetak begitu cepat seperti hampir meledak.

“Bekas sayatan itu masih ada di tanganmu, boy. Membekas atau tidak, kau tetap tidak bisa memanipulasi apa yang sudah terjadi.”

Baekhyun membuang muka lagi, membanting tangannya ke udara hingga cengkeraman Lana lepas.

“Itu cara yang lambat untuk mati, anyway. Mungkin saat kau melihat malaikat maut di depanmu, kau akan berubah pikiran dan menelopon 911.”

Baekhyun meneguk minumannya sampai habis.

“Jadi kau berencana bunuh diri dengan cara yang cepat?”

Senyum Lana mengembang. Ia menjatuhkan kaleng sodanya berpuluh-puluh meter dari atas tanah dan mereka melihat benda itu jatuh sampai tidak terlihat mata.

“Sembilan koma delapan meter per sekon kuadrat.”

“Percepatan gravitasi bumi?”

“Ya. Aku punya obsesi terbang. Dulu, saat kami tinggal di rumah tiga lantai, aku merentangkan tangan lebar-lebar di balkon, terbang beberapa saat sebelum jatuh, mematahkan lenganku dan hidung Jo. Dia bodoh. Seharusnya dia menuruti perkataanku untuk minggir saat aku berkata akan terbang.”

Jeda. Angin. Aroma shampo.

Baekhyun ingin merengkuh Lana.

.

.

.

Sejak Jo mengundang mereka ke konsernya tiga hari yang lalu, Baekhyun tahu itu ide buruk. Tidak bisa dibilang konser, sebenarnya. Grup band Jo hanya tampil membawakan dua lagu di klub malam tempat temannya merayakan ulang tahun. Sialnya Lana mengiyakan untuk datang sedangkan sebelum pindah ke sini, Baekhyun telah berjanji kepada pamannya—orang tua Lana—untuk menjaga gadis itu karena Jo tidak bisa diandalkan.

Baekhyun ingin memaki dengan seribu bahasa.

“Kau harus mencoba hal-hal baru sebelum mati, Byun!” ucap Lana sambil menariknya masuk ke klub.

Tempat itu ramai, terlalu sesak, hidup oleh sinar berwarna-warni yang terlalu menyilaukan. Dentum musik menabuh gendang telinganya dengan kencang, memacu detak jantungnya dengan cepat pula.

Mereka bersandar di dinding klub, pandangan tertuju pada panggung setinggi satu meter di mana Jo dan teman-temannya memainkan musik rock. Dari kepala-kepala yang mengerumuni panggung itu, Baekhyun menemukan Jo memainkan gitar sebelum membuang muka.

Sementara itu, Lana justru meneguk alkohol berulang kali, tidak peduli meski Baekhyun berteriak di depan telinganya, mengancam akan meninggalkan Lana sendiri jika ia mabuk.

“Kau berani berlomba sesuatu, Byun?”

“Apa?” Baekhyun menjawab sambil berteriak.

“Menurutmu siapa di antara kita yang akan bunuh diri terlebih dulu?”

Who the fuck is care?

Lana menghentakkan kaki. “Seriously, Byun. Mari kita buat ini sedikit menyenangkan. Terhitung sejak detik ini, kita harus bertahan untuk tidak mencoba bunuh diri, oke? Yang kalah akan mendapat apa yang dia mau; kematian. Tapi yang menang, dia harus bertahan hidup.”

Sorot lampu berwarna kuning jatuh di wajah Lana sedetik, menampilkan pandangannya yang tersesat dan rupa berantakan.

Baekhyun membeku sesaat, memikirkan betapa ia ingin menarik Lana pulang.

“Kau mabuk, Lana. Aku punya ujian Biologi besok and I’m so done with all of this.

Gadis itu mencengkeram lengannya tepat saat Baekhyun mulai melangkah.

“Katakan kalau kau setuju dulu, Byun.”

Baekhyun mengembuskan napas kesal. Diayunkan tungkainya menjauh tetapi tiba-tiba Lana berdiri tepat di hadapannya.

Napas gadis itu berbau alkohol. Baekhyun merasa tubuhnya ditarik dan tahu-tahu, bibir Lana menempel di miliknya. Kulit bertemu kulit. Daging memagut daging.

Itu bukan ciuman pertama Baekhyun, sejujurnya. Ujung jari Lana yang selalu dingin menelusuri urat di tangan Baekhyun, membekukan tubuhnya.

Don’t mind me. I’m drunk.

Charles Darwin meneriakkan teori evolusinya di kepala Baekhyun, mengingatkannya tentang ujian Biologi besok. Kembali teriakan kakaknya di telepon berkelebat, berjejalan dengan gambar-gambar proses mutasi genetik. Musik beat berdentum lagi. Jantung Lana bergemuruh. Jantungnya bergemuruh.

Byun Baekhyun menutup mata, mengusir segala kekacauan di pikirannya.

Hanya sesaat setelah Lana melepas kecupan mereka, Baekhyun menangkup wajah gadis itu dengan tangannya dan memagut bibir bawah Lana.

“Setuju.”

.

.

.

Televisi di ruang tamu otomatis menyala pukul satu lebih empat puluh lima menit dini hari, tepat seperempat jam sebelum acara astronomi kesukaan Lana dimulai. Suara iklan yang keras menembus dinding kamar Baekhyun, memecah heningnya malam.

Di tempat tidurnya, lelaki itu terbangun dengan pening yang familier. Malam begitu dingin, memaksa Baekhyun menutup matanya kembali setelah membuka sesaat. Ia memiringkan badan, membuka mata lagi, pupil membesar mendapati wajah tirus Lana terlelap di sampingnya.

Pikirannya terlalu berkabut untuk mengingat bagaimana mereka berakhir di sini. Ingatan tentang tangannya yang membalik halaman buku Biologi tergantikan oleh wajah Lana yang terlalu dekat, lalu kantuk mencuri kesadarannya.

Dengan jarak sedekat ini, segalanya tentang Lana begitu detail di matanya. Helaian rambut segelap tinta jatuh di pipinya yang putih. Bibirnya pink pucat, kering. Napasnya tenang dan sehangat pagi.

Hal ke sekian yang tertangkap fokusnya adalah cekungan gelap di bawah mata Lana. Ketimbang kurang tidur seperti Baekhyun, Lana menghabiskan berjam-jam tenggelam di mimpi, tetapi bahkan tidur selamanya pun seolah tidak akan mampu menghapus cekungan hitam tersebut. Warna itu jelas di sana, dengan lengkungan biru tua yang terbuat dari sisi gelap dunia.

Karena mungkin Baekhyun terlalu acuh dan Lana terlalu brengsek, but they don’t deserve this pain.

No one deserves this pain.

Baekhyun memejamkan mata, mencoba merasa ketimbang berpikir. Menarik napas, mengembuskan napas.

Ketika jemari Lana yang menempel di lengannya bergerak, Baekhyun membuka mata lagi, mendapati gadis itu masih setengah tertidur.

“Acara kesukaanmu sudah dimulai.”

Lana hanya menggumam.

Alih-alih bangkit, gadis itu justru menarik selimut hingga ke leher, menutupi hampir seluruh badannya. Ia tampak mengantuk dengan kelopak matanya setengah membuka, menunduk menatap jemarinya sendiri di tangan kiri Baekhyun.

“Kau selalu terburu-buru.” Suara Lana jauh seperti rintik hujan di luar. Sebuah hela napas menyapu tengkuk Baekhyun. “A broken person can read another broken person, you know.

Obsesimu adalah membangun kehidupan baru yang lebih baik. Karena itulah kau belajar mati-matian untuk mendapat beasiswa ke luar negeri, keluar dari sini, dari segala masalahmu di sini. Setelah itu, kau akan belajar mati-matian lagi untuk menjadi nomor satu, lulus, segera bekerja, dan lagi-lagi bekerja mati-matian untuk mencapai posisi tinggi. Kau tahu, obsesimu tidak ada akhirnya, Baekhyun. Pada akhirnya kau tidak akan pernah puas, kau akan terus merasa kurang karena kau tidak pernah sekadar berhenti dan menikmati apa yang ada di depanmu.”

Baekhyun mendesah, menatap Lana lamat-lamat.

I’m not.

Ia mengeluarkan tangan kanan dari balik selimut, menyingkap rambut segelap tinta gadis itu ke balik telinga dan menangkup pipinya. Baekhyun mendengar jantungnya sendiri berdetak tak karuan, namun nyaman. Ia berimaji jika setiap pagi selalu seperti ini, tanpa kepala pening, tanpa cekung hitam di bawah mata, hanya suhu tubuh mereka berdua di bawah selimut tebal yang hangat.

“Saat ini aku sedang berhenti, Lan. I’m wasting my time and I don’t mind.

Seperti salju melebur di antara jari-jari lentik yang pucat, ciuman itu begitu pelan dan natural. Menekan bibir kering Lana dengan miliknya agak menyakitkan.

Setelah Lana menutup mata lelahnya, tangan kiri Baekhyun menangkup pipi pucat tersebut. Titik-titik air menghantam bumi makin keras dan Baekhyun mengembuskan napas lagi, memagut bibir bawah Lana. Pahit. Mengingatkannya pada Lexapro, anti depressant yang pernah menelusuri kerongkongan mereka.

Kontradiksi. Di situlah Baekhyun dan Lana hidup.

Kadang, mereka sama seperti remaja pada umumnya, terjaga sampai larut malam bersama tumpukan buku dan catatan berceceran. Kadang, mereka tidak sama seperti remaja pada umumnya, terjaga sampai larut malam dan berusaha menahan diri untuk tidak mencabut nyawa mereka.

Dunia merobek-robek mereka dan seragam menyamarkannya.

.

.

.

Ketika Baekhyun bertanya apakah Lana ingin menjadi pelukis, gadis itu tertawa.

Bukan tertawa senang atau sarkastik, melainkan hambar bak udara hampa. Dan seperti biasa, ia tertawa seperti tertawa itu sakit.

“Yah, kau bisa menganggapnya begitu.”

Orang-orang berbicara tentang mimpi mereka dengan mata cerah, nada bicara penuh desperasi untuk menggapai apa yang mereka mau. Tetapi nada bicara Lana datar, seperti grafik lurus. Tidak ada arti dalam kalimatnya.

Baekhyun bisa mendengar pembawa acara ramalan cuaca menyarankan warga Seoul untuk tetap tinggal di rumah karena cuaca buruk, salju turun deras beberapa hari terakhir.

Ia menghela napas. Kepulan asap putih melayang dari mulutnya sebelum hilang sesaat kemudian.

Baginya, 18 tahun adalah penentuan hidupnya ke depan. Hanya ada satu kesempatan. It’s now or never. Tetapi bagi Lana, 18 tahun adalah saat untuk bertahan hidup sementara mimpinya terbang terlalu tinggi, terbang ditelan angkasa.

.

.

.

Bis hijau itu baru saja berhenti saat salah satu hukum Fisika melintas di kepala Baekhyun.

Benda yang mengalami gerak jatuh bebas atau gerak vertikal ke bawah, seperti apapun bentuknya, secepat apapun mereka terjatuh, akan mengalami percepatan gravitasi bumi yang sama.

Dia adalah orang pertama yang turun. Sol sepatu menghantam genangan air begitu menapak bumi dari bis. Lelaki itu menyusupkan kedua tangan ke saku jas sekolah, bergegas menuju kanopi toko seperti beberapa orang lain yang lekas berlarian berteduh dari gerimis.

Kecuali kerumunan manusia di seberang jalan, Seoul terlalu sepi hari ini, sampai sebuah sirine ambulance meraung-raung dari kejauhan.

Baekhyun yang tadinya terburu-buru untuk lekas pulang pun berhenti. Tatapannya terpaku pada kerumunan tepat di seberangnya, di depan gedung tinggi tiga belas lantai.

Ia sedang tidak dalam kondisi baik untuk berpikir keras. Jam tidur yang sangat kurang plus ujian yang menghantam otaknya hari ini membuat kepalanya pusing. Baekhyun hanya ingin pulang, kembali ke kamarnya yang hangat di rumah Lana, mengganti baju, makan ramen lalu tidur.

Seseorang berlari dari arah berlawanan dan tidak sengaja menghantam bahu Baekhyun. Lalu seperti ada bunyi klik di kepalanya. Sirine ambulance meraung lebih keras dari sebelumnya.

Baekhyun menengadah. Ia ingat gedung di seberang jalan itu, ingat alamat tepatnya karena Jo pernah mengirim Location gedung itu kepadanya. Baekhyun ingat Lana, rambutnya berkibar menguarkan aroma shampo, jari-jari pucat yang lebih dingin dari kaleng soda.

Tanpa Baekhyun sadari, ia telah berlari menembus gerimis, menggunakan kedua lengannya untuk membelah kerumunan itu sampai ia berdiri di barisan paling depan.

Mimpi buruknya menjelma realita.

Darah segar menghantam sepatu putih. Aroma anyir bercampur tanah menusuk hidung, lalu ambulance berhenti di pinggir jalan. Orang-orang berbaju putih mendorongnya menjauh untuk mengangkat tubuh seorang gadis berambut panjang ke tandu, memasukkannya ke mobil dan hilang di persimpangan.

Bahkan ketika bahu orang-orang menghantam tubuhnya saat mereka bubar, Baekhyun masih berdiri di sana. Masih merasa setengah tidak nyata seperti saat terbangun dengan sisa-sisa mimpi dan pening di kepala. Bedanya, kali ini pening itu seperti akan membunuhnya, meremukkan tulang kakinya dan membuatnya nyaris ambruk.

Lelaki itu menengadah lagi. Setitik air hujan yang jatuh di matanya terasa seperti langit runtuh. Tepat sebelum memori tentang Lana mengabur, ia menunduk.

Seperti tangis, air hujan tadi jatuh menelusuri pipinya.

.

.

.

Saat Baekhyun sadar hari itu adalah hari ulang tahunnya, tanggal 6 Mei sudah hampir berakhir.

Ia tidak ingat kapan terakhir kali seseorang mengucapkan selamat ulang tahun untuknya, jadi saat ia mendapat ucapan itu dari seorang kasir toko serba guna, yang adalah orang asing, hal itu terasa tidak lazim.

“Wah, Anda bertambah umur hari ini. Selamat!” kata perempuan yang terlihat beberapa tahun lebih tua darinya, menutup dan menyodorkan dompet kulit Baekhyun yang terjatuh ke lantai.

Baekhyun membeku sesaat, memaksa diri tersenyum dan ia juga baru sadar sudah lama sekali sejak ia menarik sudut-sudut bibirnya membentuk lengkungan sabit.

Sepuluh tahun lalu, Baekhyun berharap mendapat mainan baru di hari ulang tahunnya. Enam tahun lalu, ia berharap menjadi kapten sepak bola di sekolah. Sekarang, ia hanya berharap orang-orang berhenti. Berhenti bertanya, berhenti ingin tahu, berhenti menatapnya dengan mata penasaran, dan berhenti membicarakan soal Lana. Karena setiap kali hal itu terlintas di kepala Baekhyun, pikirannya akan terlempar ke hari di mana Lana mati.

Ingatan itu begitu segar seperti kemarin karena otak Baekhyun mereka ulang lagi dan lagi. Dan setiap kali mengingatnya, hatinya akan patah sekeping demi sekeping.

.

.

.

Seperti pengaturan Saturasi dalam Photoshop, warna-warna memudar di mata Baekhyun. Dunia di pandangannya hampir hitam putih seperti film lama. Monokrom, dingin, dan sepi.

Orang-orang sepakat, Lana menyalahi takdir karena tekanan sekolah. Konyol. Bahkan Jo tidak percaya itu.

Lana terlalu keras, solid. Sekadar huruf dan angka tidak akan mampu mendorongnya dari atap gedung tiga belas lantai.

.

.

.

Kelopak mata Baekhyun membuka setelah bunyi alarm di ruang tamu mencapai gendang telinga. Ia mengembuskan napas, menatap langit-langit kamar dengan kosong sampai bunyi memekakkan itu berhenti. Di kepalanya, Baekhyun menghitung sudah berapa lama ia terjaga.

52 jam.

Baekhyun mengacak-acak rambutnya. Ia sudah berbaring di tempat tidur selama empat jam dan seharusnya itu lebih dari cukup untuk memaksanya tidur. Baekhyun sungguh tidak peduli jika yang akan ia hadapi adalah mimpi buruk; ia berdiri sendirian di tengah kota Seoul yang tidak seharusnya sepi. Lana memanggilnya dari atap gedung, lalu melompat, terbang dan jatuh di depan matanya.

Baekhyun sudah cukup terbiasa dengan mimpi buruk itu. Yang ia butuhkan sekarang adalah tidur karena ia tidak boleh mengantuk saat ujian besok.

Di ruang tamu, televisi menyala. Tapi bukan suara peneliti luar angkasa yang terdengar, melainkan musik hardcore yang terlalu berisik.

Baekhyun menyumpah lebih keras, menendang selimut lalu memaksa tungkainya berjalan ke luar.

Rumah selalu sepi. Tidak ada Jo. Tidak ada Lana. Tidak ada pertengkaran, teriakan, dan barang-barang dibanting.

Jauh di dalam diri Baekhyun, ia tahu Lana pergi meninggalkan terlalu banyak jejak, tetapi jejak gadis itu bukanlah cokelat dan marshmallow di freezer yang sudah ia buang ke tempat sampah, bukan tumpukan buku astronomi di ruang tamu, bukan juga helai rambut yang pernah Baekhyun temukan di sofa, melainkan ruang.

Ruang, spasi, atau entah bagaimana harus dideskripsikan. Sesuatu yang luas, besar, kosong, dan membuatnya merasa sendirian, yang tiba-tiba membangunkannya entah itu di tengah hari atau tengah malam.

Ketika ia kembali ke kamar dengan segelas air putih dan setelah mematikan televisi, untuk pertama kalinya Baekhyun merasa amat sangat lelah dan ia hanya ingin tidur untuk beberapa jam ke depan.

Dari laci mejanya, ia mengeluarkan beberapa botol kaca. Lexapro, obat tidur, omega 3, dan suplemen makanan. Sesaat, terlintas di benaknya untuk meneguk semuanya bersamaan, tetapi setelah menimbang-nimbang, Baekhyun mengambil botol obat tidur di antara botol lainnya. Dan betapa terkejutnya Byun Baekhyun melihat isi botol itu. Melainkan kapsul-kapsul putih, di dalamnya justru kapsul berwarna-warni berbentuk binatang.

Ia menuang semua isi botol-botolnya ke meja hanya untuk mendapati isi yang serupa. Dari dalam botol Lexapro, terdapat secarik kertas di antara kapsul-kapsul binatang yang berceceran. Tulisan tangan itu kecil dan tidak asing.

‘Congrats, Dude. Kau harus hidup.’

Baekhyun meremas kertas tersebut dan menyumpah sepanjang malam. Ia membenci Lana.

.

.

.

Bandara itu lebih ramai ketimbang satu tahun yang lalu, saat Baekhyun mengantarkan orang tua Lana untuk terbang kembali ke Amsterdam.

Ia keluar dari mobil Jo, menarik ransel besar lantas memaksa sebelah bahunya mengangkat beban tersebut. Jo yang rambutnya dicat merah kecokelatan mengeluarkan koper Baekhyun dari bagasi, meminta maaf tidak bisa menemani Baekhyun menunggu di bandara karena band-nya harus tampil di luar kota beberapa jam lagi.

“Tidak apa-apa. Terimakasih sudah mengantarkanku,” ucap Baekhyun canggung.

Jo berdiri di depannya, menatap Baekhyun dan barang-barang bawaannya seperti tengah memastikan tidak ada yang tertinggal. Di sisi lain, pandangan Baekhyun kosong pada satu titik yang jauh. Ia harap Jo lekas pergi karena tiba-tiba telinganya sakit, suara kakaknya di telepon dua hari yang lalu, berteriak bahwa Ibu sekarat dan bahwa Baekhyun adalah anak tidak tahu diri karena lebih mementingkan studi, berdengung mengganggu. Keras dan jelas.

Jo menepuk pundaknya.

“Tidur.” Lelaki itu meringis. “Pastikan kau tidur di pesawat. Kau seperti mayat hidup, Baekhyun!” Ia tertawa. Setelah lelaki itu melambaikan tangan dan masuk ke mobil, Baekhyun baru sadar ada yang aneh dengan cara Jo tertawa.

.

.

.

O milik Coldplay sedang mengalun di menit ke dua sebelum berhenti total sesaat kemudian. Headphone besar masih menempel di telinga Baekhyun tetapi suara Chris Martin hilang, digantikan suara pramugari yang berbicara tentang keamanan pesawat dengan fasih dan pelan.

Baekhyun tidak tertarik untuk mendengarkan lebih jauh, hanya mendesah pelan lantaran ia baru ingat belum mengisi ulang daya i-Pod nya selama beberapa hari. Ia duduk sendirian di samping jendela, membeku saat menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca.

Pesawat lepas landas.

Ingatan Baekhyun terlempar pada suatu siang yang panas.

“Why the hell are you looking at me with sad eyes?”

Lana meringis, masih menatapnya lurus-lurus. “It’s you who have sad eyes, Baekhyun. It’s you.”

Baekhyun membuang muka, takut dengan pantulan wajahnya sendiri karena matanya mengingatkannya pada mata Lana, sepasang bola mata cokelat yang riil dan misterius. Seperti komet baru saja melewati otak Baekhyun dengan kecepatan tinggi, lelaki itu tertampar oleh memorinya sendiri.

Sepasang bola mata cokelat itu miliknya, dan tidak seharusnya mirip milik seorang gadis yang pernah terlelap di sampingnya satu tahun yang lalu, yang pernah membangunkannya di antara buku-buku tebal dan kertas berceceran, yang terlihat menyedihkan kendati tertawa dengan suara renyah, dan yang pernah menatapnya begitu dalam sebelum memagut bibirnya dan meleleh di antara jari-jarinya.

Baekhyun memijit pangkal hidungnya dengan telunjuk dan ibu jari, membiarkan air matanya jatuh setelah lebih dari tiga ratus enam puluh hari tertahan. Ia baru sadar betapa ia merindukan Lana sampai tidak berani memikirkannya.

Lalu pesawat berguncang. Lampu padam. Orang-orang berteriak, menangis, menelan suara pramugari yang berusaha menenangkan suasana. Jari-jari meremas kursi. Masker oksigen jatuh di depan wajah.

Kacau.

dan BUM!

Ledakan memotong doa-doa dari mulut penumpang.

Ledakan yang terlalu keras dan terlalu dekat dan detik berikutnya Baekhyun ada di udara bebas.

Tidak ada jendela, kursi, atau badan pesawat yang melindunginya. Ia menyatu dengan langit terbuka. Jatuh. Berpasrah pada tekanan udara yang menghimpit paru-paru, pada gravitasi, Sembilan koma delapan meter per sekon kuadrat yang menariknya kembali ke bumi.

Seumur hidupnya, Baekhyun belum pernah merasa begitu tenang dan pasrah.

Sepuluh jemari lentik Lana menangkup wajahnya. Kelopak mata Baekhyun menutup tetapi ia bisa merasakan suhu tubuh gadis itu yang dingin, merengkuhnya.

“Don’t mind me. I’m drunk.Lana berbisik di bibirnya.

.

.

.

Fly on. Ride through. Maybe one day, I’ll fly next to you.

Iklan

6 pemikiran pada “

  1. Nggak tau kenapa gaya nulisnya cocok banget buat genre se-dark ini. Ngalir. Meski aku masih ga habis pikir kenapa mereka ingin bunuh diri, apa motivasi mereka? Hhh hidup masih panjang, please.
    But overall, its nice and i like it!

    Suka

    1. halo. talking about suicide, gampang kok ngomong kalau hidup masih panjang bla bla bla, you won’t understand them and you don’t have to understand, hehe.
      di fanfic ini ceritanya konflik keluarga gitu sih, enggak begitu aku jabarin karena takut ceritanya ke mana-mana.
      thankyou for your appreciation :))

      Suka

    2. halo. talking about suicide, gampang kok ngomong kalau hidup masih panjang bla bla bla, you won’t understand them and you don’t have to understand, hehe.
      di fanfic ini ceritanya konflik keluarga gitu sih, enggak begitu aku jabarin karena takut ceritanya ke mana-mana.
      thankyou for your appreciation :))

      Suka

  2. Ah.. Akhirnya setelah lumayan lama, nemu ff dark yg well written lagi. Aku bahkan cuma perlu baca bbrp paragraf smpe akhirnya mutusin buat ngelike ff ini 😄😄
    Dunia merobek-robek mereka dan seragam menyamarkannya –> aku suka bgt kalimat ini. Somehow bikin kesan gelapnya jadi berasa artistik(?). Dan endingnya… Suka suka suka! Kalo org emg udah pengen mati mah gitu ya, kecelakaan pesawat malah bahagia2 aja dia 😂😂😂
    Cuma aku agak terganggu sm satu kalimat dimana baek digambarkan sbg sosok yg tinggi (entah aku yg salah memahami kalimatnya apa gmn. baekhyun dan tinggi bukan padanan yg cocok, imo). trus ada juga pengulangan kata menghantam yg terlalu byk di paragraf2 pas lana akhirnya mati (di empat paragraf berturut2, kalau gak salah hitung, kata menghantam itu selalu hadir, padahal menurutku msh bs diganti sm kata lain yg semakna).
    Aku juga agak bingung sm alasan mereka smpe pengen bunuh diri, terutama lana. Awalnya aku mikir baek stress sama pelajaran. Tp ada satu paragraf dimana secara tersirat ada penjelasan ttg keluarga broken home. Pertengkaran org tua dan barang2 dilempar… dan akhirnya aku jd mikir dia stres krn masalah keluarganya. Tapi lana? Sampai akhir aku msh ga bs menebak apa yg begitu sulit di hidupnya sampai dia kehilangan tujuan hidup dan lbh memilih mati. Semua penjelasan mengarah ke baek.
    Nice writing, btw. Keep up the good work yaaa 🙂

    Suka

    1. finally someone notices that baekhyun’s problem is broken home family x’) punya Lana adalah soal mimpi-nya, mungkin bisa dicermati lagi hehehehe. anyway thankyou so much for you appreciation :))

      Suka

      1. Ah, aku ingat ada bagian dia ditanya soal mimpi dan jawabnya acuh tak acuh gitu, tp kirain itu krn dia udah pengen mati, jd ga terlalu mikirin soal cita2 lagi. Ternyata itu sebab, bukan akibat.
        Dan yah, sama2. Cerita bagus mmg layak diapresiasi, kan? 😊😊

        Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s