Happiness To Find

 

happiness-to-find

[EXO] Park Chanyeol, [Red Velvet] Joy

 Surreal, Family | General | Oneshot

Joy mengidap penurunan kadar kebahagiaan sehingga ia kehilangan arti kesenangan dan canda tawa. Organ tubuhnya rusak, nyawanya nyaris terbabat habis. Kakaknya, Chanyeol, mencoba memulihkan kondisi Joy dengan mencari tiap tetes kebahagiaan berdasarkan kenangan sang adik. Meski pun ia sendiri ragu dengan kemampuannya, namun tekadnya sudah bulat.

 

Aku menjanjikannya kebahagian. Dan ia mempercayainya tanpa ragu. Ia berkata bahwa hanya aku yang sanggup mengembalikan kehidupan dalam sayu matanya. Ia tidak tahu jika aku tak lebih dari pembual yang miskin tindakan nyata. Namun begitu, permohonannya terlanjur digantungkan pada pundakku.

Aku harus segera pergi. Mencari kebahagian untuk adikku.

Park Sooyoung.

.

.

Mataku memindai bumi tempatku bertapak. Udara kuhirup kuat-kuat. Seolah ini terakhir kali aku menukar oksigen dalam pernapasanku. Kumantapkan hati kesekian kali. Dadaku dipenuhi sosok Sooyoung dengan rupa pucatnya. Bibir tipisnya sudah sewarna salju, membeku. Tubuhnya ringkih, terlalu banyak menyesap kepahitan dunia.

Darahnya dialiri kegelisahan teramat kental. Membuat corak kulitnya tak lagi segar namun gelap penuh kerisauan. Perasaannya dipenuhi kebencian. Terkadang ia lepas kendali dan meloloskan jutaan emosi tak berujung.  Menyeruak ke sela-sela rumah kami hingga membuatnya suram. Petang yang menyesakkan akibat amarah Sooyoung yang tak memiliki penangkal.

Kata dokter, Sooyoung mengidap penurunan kadar kebahagian. Ia kehilangan arti kesenangan dan canda tawa. Parahnya, ia tak mampu merasakan keindahan baik secara fisik mau pun batin. Sarafnya tak lagi peka dengan kegembiraan dan teronggok tak berguna.

Singkatnya, batin Sooyoung sudah buta. Bahkan dokter telah angkat tangan. Menyerahkan keadaannya pada takdir yang berdiri diambang pintu, siap menjemput. Kesengsaraan telah menggerogoti pembuluh darahnya sampai ke akar-akar. Kesedihan mengambil-alih separuh kerja otaknya. Dan penderitaan menyita segala kebahagiaan yang dikumpulkan dengan susah payah oleh adikku.

“Kak Chanyeol tolong carikan kebahagiaan untukku ya? Aku masih belum ingin mati.” Netranya menunjukkan permohonan kuat. Aku yang terkenal sebagai kakak tak bertanggung jawab, luluh dalam satu kalimat itu.

“Katakan. Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu kembali bahagia?” tuturku terdengar penuh percaya diri. Walau pun keraguan terselip disana.

Sooyoung berusaha bangkit. Lengan kurusnya yang terbabat habis oleh kepedihan, bergetar menyangga tubuhnya. Segera kuulurkan tanganku menopang dirinya. Sedikit perjuangan agar adikku itu sanggup duduk, meski pun terlihat tak nyaman. Jemarinya meraih sebuah buku berlapis tebal diatas nakas. Hampir saja tumpukan kertas dalam sampul itu menubruk marmer, jika saja aku tak membantu meraihnya. Menempatkannya diantara genggamanku

Kudapat anggukan serta senyum tipis Sooyung. Tanda bahwa buku itulah jawaban pertanyaanku.

Awalnya aku sedikit tak yakin. Namun jari-jariku terlanjur menelusuri sampul tebal tersebut. Ada gambar timbul yang menghiasi halaman depannya. Selanjutnya, kudapati tulisan tangan Sooyoung yang terpatri cukup mencolok. Tinta hitam yang ia gunakan begitu menarik perhatian. Pula coretan latin berbunyi ‘Tentang keindahan yang pernah kualami’ menjadi judul buku tersebut.

Aku tersenyum. Bangga sekaligus miris. Bangga karena adikku begitu bahagia dulu. Dan miris sebab aku tak pernah menjadi sumber kebahagiaannya itu.

Hatiku terenyuh menatap tiap lembar yang menyajikan kisah berbeda. Semua hal yang pernah membuat Sooyoung tersenyum tanpa beban terpapar jelas disana. Dari yang sederhana sampai yang begitu menyesakkan dada.

Tentang kebahagian dari gerombolan kupu-kupu ditengah taman. Tentang kebahagian dari permainan musisi jalanan kesukaan Sooyoung. Tentang kebahagian dari peringkat atas yang ia peroleh dari sekolah. Tentang kebahagian dari ibu –yang telah lama meninggalkan aku dan Sooyoung– dalam bentuk kehadirannya. Dan banyak hal lagi yang dilabeli Sooyoung sebagai keindahan abadi miliknya seorang.

“Aku akan mendapatkan semuanya kembali. Segala kebahagiaan itu.” Itulah janjiku. Dan Sooyoung menaruh harapan besar atas ikrarku.

Namun begitu diriku menatap keadaan dunia luar, hatiku goyah. Seharusnya aku sadar, bahwa dari ribuan janji yang kubuat untuk Sooyoung, tak ada yang pernah terpenuhi. Semuanya kuingkari karena aku terlalu pengecut untuk mengabulkannya.

Katakanlah aku kakak paling kejam. Bahkan ditengah adiknya yang sekarat, berperang melawan kepahitan, aku masih sempat berdebat tentang menepati janjiku atau tidak. Aku memejam mata sejenak, memohon Tuhan untuk mengembalikan akal sehatku yang entah kubuang kemana.

Terang merambat masuk dalam celah lipatan netraku. Dadaku membuncah tiba-tiba. Kuberanikan membuka mata ini kembali. Kulepas napas yang berusaha kutahan sedari tadi. Ada hal lain yang bernama ‘kasih sayang’ yang menyeruak serempak dalam bilik hatiku. Alasan mengapa jantung ini berdentum kuat. Sebuah segel mantap untuk mencarikan kebahagian bagi Sooyoung.

.

.

Dua kakiku menginjak hijaunya rumput basah. Padang luas ditengah hirup-pikuk kota menjadi destinasi pertamaku mencari ‘obat’ bagi penyakit Sooyoung. Dengan tak sabaran, mata ini menelusuri setiap detil dalam taman. Mencari bagian mana yang menyebabkan kebahagiaan serta keindahan dalam kenangan adikku.

Makhluk terbang bersayap meriah menarik perhatianku. Keberadaan mereka yang berkelompok mengundangku untuk berjalan mendekat. Kugerakkan tungkaiku di jalan setapak yang terbentuk disana. Menghampiri kumpulan kupu-kupu berwarna cerah yang berputar riang disekitar semak-semak. Mengepakkan sayap mereka dengan eloknya. Hinggap kemana pun sesuka hati mereka. Tanpa beban. Penuh kebebasan.

Entahlah, ini sederhana namun berhasil menarik sudut-sudut bibirku.

Aku tak pernah menyangka, kebahagiaan menular dengan gesitnya. Adikku yang merindu rasa bahagia namun tak sanggup mencicipinya. Sedangkan aku sendiri yang tak pernah berniat menyesap barang secuil, diberi secara cuma-cuma .

Aku berlutut sejenak, memangku benda yang kutenteng sedari rumah. Kuraih botol bening dari dalam ranselku. Tutup kayunya kutarik, menyisakan lekuk benda berbahan kaca tersebut.  Dan tanpa ragu kutuangkan seluruh kebahagiaan yang kudapat dari hasil pengamatan pada makhluk bersayap itu. Mengisi celah pada setiap senti botol tersebut. Sedikit, setengah, hingga penuh.

Terlihat warna hijau terang yang berkilauan dari luarnya. Memikat, seolah mendeskripsikan bagaimana kebahagiaan alami tersebut didapat. Batinku hendak merasa puas, namun gagal kala teringat penyakit Sooyoung sudah berada dalam level berbahaya. Seluruh organnya telah terjangkit, kesengsaraan akut dan berpotensi membunuhnya. Yang berarti, aku harus mencari berkali-kali lipat dari yang kumiliki kini.

Kulekatkan kembali penutup kayunya. Meletakkan benda itu dengan hati-hati dalam tasku, takut jika terbentur botol lain dan berakibat fatal. Kakiku berbalik, menjauhi rombongan kupu-kupu itu bersarang. Tak lupa kuucapkan terima kasih, atas kebahagiaan yang bersedia mereka bagi.

.

.

Kaki ini terus mencari. Berlari bak orang gila ditepian jalan kota. Ransel di punggungku bergerak naik-turun seiring langkahku yang  terburu-buru. Kesadaranku mengingatkan agar tak terlalu santai dalam menemukan kebahagiaan untuk Sooyoung. Karena kesengsaraan juga tak pernah santai merongrong tubuhnya.

Aku merapat kesetiap sudut-sudut ramai yang terbentuk. Mencari musisi yang tertulis dalam buku harian Sooyoung, tak semudah yang terbayang. Penjuru kota disesaki oleh macam-macam manusia bertalenta yang memukau. Tapi yang paling memikat untuk Sooyoung, kurasa belum kutemui. Ya, aku menjadikan diriku sebagai tolak ukur kebahagiaan untuk Sooyoung.  Kalau tak cukup membuat tulang pipiku bereaksi, berarti belum memenuhi kriteria adikku juga.

Kendala itu tak lantas membuatku patah semangat. Aku masih berusaha berlari meski pun tumitku meminta rehat sejenak. Tak ada waktu istirahat kala menyangkut nyawa seseorang. Aku harus tetap memacu tungkaiku.

Hingga kerumunan lain kutemukan, memenuhi salah satu sudut kota. Ditengah mereka kujumpai pria cukup tua terduduk beralaskan koran lama. Surainya sudah memutih sampai ke akar-akarnya. Begitu pula alis mata dan kumisnya. Pula jenggot panjangnya yang mirip santa.

Aku mengernyit heran. Memangnya apa yang menarik dari seorang kakek lanjut usia yang memejamkan matanya sejak tadi? Apalagi sanggup menarik perhatian ekspektator yang mengerumuni sekelilingnya, termasuk diriku.

Namun saat ia membuka mulutnya, kutarik segala ucapanku tadi. Suaranya yang mengalun diudara membuatku merinding sekaligus terpesona. Nada-nada yang ia lantunkan menghipnotis setiap telinga yang mendengarkan. Mirip Orpheus, seorang pemusik handal pada mitologi Yunani. Yang sanggup meluluhkan hati keras Dewa Hades dengan vokal merdunya.

Batinku terus menaikkan pujian bagi kakek tua ini. Tak hanya aku mungkin, banyak penonton spontan juga menggelengkan kepala tak percaya, berdecak kagum, tersenyum penuh kepuasan, akan pertunjukan sederhana disana. Bahkan tanpa alat musik pun, kemampuan menyanyi kakek itu sungguh menakjubkan.

Lenganku telah menulusuri bagian dalam ransel, merogoh salah satu botol kosong. Aku tak ragu untuk yang ini. Keindahan telaknya telah mengikat hatiku, menaikkan sudut bibirku kembali. Kutuangkan kebahagiaan itu memadati ruang hampa di botol. Biru terang menyala-nyala menjejali kaca transparan tersebut.

Kutarik diriku dari keramaian. Aku berterima-kasih pada kakek tua itu dalam hati. Ungkapan terima kasih karena menjadi salah satu sumber kebahagiaan Sooyoung selama ini.

Banyak hal yang kugali dari buku harian adikku. Aku mendatangi rumah roti terkenal yang menghabiskan dua halaman penuh bagi Sooyoung, untuk menceritakannya. Tentang aroma dan kenikmatan yang menjadi kesukaanya. Tanpa basa-basi, aku meraup segala kebahagian dan menuangkannya dalam satu botol bening.

Ada juga ruang bawah tanah yang berfungsi sebagai tempat parkir apartemen elit. Aku bertandang kesana dengan penasaran. Kebahagian seperti apa yang Sooyoung peroleh di tempat ini, menaikkan kuriositasku. Mungkin kesenangan menatap mobil mewah yang tak akan pernah dia miliki seumur hidupnya.  Mengingat kakak berandalannya yang bahkan tak sanggup menghadiahkan kebahagiaan, apalagi sebuah barang glamor.

Sejemang aku berpikiran demikian. Bahkan jari-jariku telah merambat ke atas bodi mulus salah satu mobil disini. Mencoba merasakan jenis kegembiraan semacam apa sebelum kurangkum dalam tumpukan botolku. Tapi saat runguku menangkap cicitan riuh di kolong roda empat ini, pikiranku sedikit terusik. Kuedarkan pandanganku kesana.

Kucing?

Kardus kumuh dengan lima ekor makhluk berbulu itu meruntuhkan opiniku barusan. Seolah Sooyoung mengirimkan sinyal telepati yang mampu menembus diriku. Batin kami mungkin benar-benar terikat. Buktinya, Sooyoung dan aku memiliki hobi dan selera yang sama. Termasuk untuk hewan peliharaan. Dan yah, ternyata kehadiran mamalia ini lebih menyenangkan ketimbang mobil-mobil mewah itu bagi Sooyoung.

Kami memiliki beberapa kucing piaraan di rumah. Sooyoung memintanya, jadi aku membawanya. Ketelatenan Sooyoung merawat mereka, berhasil menarikku untuk menekuni hal yang sama. Tak disangka aku telah terjerat kelembutan serta ketulusan adikku.

Tangan ini spotan menuangkan karton berisi susu kedalam mangkuk milik para kucing. Balas budi karena telah mengambil bagian dalam kebahagiaan adikku. Tak lupa kurenggut satu botol kosong dari dalam ranselku. Kali ini warnanya, krem pastel. Mempesona, mirip senja. Kusisihkan waktu sejenak untuk mengelus puncak kepala makhluk-makhluk itu, sebelum meneruskan perjalanan.

Puluhan tempat asing kudatangi dalam menit-menit selanjutnya. Ini mirip tour singkat berdasarkan panduan buku adikku. Wisata istimewa demi mendapatkan kebahagiaan. Terkadang kujumpai hal-hal sederhana yang dulu pernah kuremehkan. Kini menjadi hulu kegembiraan Sooyoung. Yang meski pun sepele, namun begitu berharga disaat genting.

Tas punggungku terasa kian berat, mengingat sudah selusin lebih botol yang telah terisi. Langkahku juga semakin melambat. Kuusap peluh yang merayap. Perhentian sejenak kulakukan berkali-kali demi menarik nafas. Bohong memang jika aku tak merasa lelah. Tapi hanya ini yang mampu kulakukan untuk Sooyoung setelah sekian tahun memberinya kesusahan.

Setidaknya, kali ini aku ingin menjadi sosok kakak yang benar-benar berguna.

.

.

Lima belas tahun.

Ya, lima belas tahun, aku dan Sooyoung berusaha menghidupi diri kami sendiri. Tinggal dalam rumah peninggalan paman kami. Mengais panganan dengan jemari kami. Mencari jati diri kami dengan mengandalkan satu sama lain. Karena Sooyoung hanya memilikiku dan begitu juga sebaliknya.

Kami tak pernah mengenal sosok seorang ayah. Kepala keluarga yang sering dielu-elukan oleh setiap manusia, telah sirna sejak aku belum ada. Hanya ibu yang aku miliki saat itu. Hingga usiaku menyentuh angka empat dan Sooyoung lahir. Tak butuh waktu lama, kala ibu juga meninggalkan posisinya dalam silsilah keluarga kami.

Ibuku melarikan diri. Membuang anak-anaknya. Meninggalkan bayi Sooyoung dengan batang umurku yang sangat belia.

Aku membencinya. Sifat pengecutnya adalah yang paling membuatku jengkel. Namun karakter itu juga yang menurun padaku. Pengecut dan tak bertanggung-jawab. Apalagi saat wanita paruh baya itu dengan pakaian kasualnya, menghampiri kediamanku dan Sooyoung. Berkaca-kaca saat melihat keadaan kami. Menangisi kebodohannya selama ini dan meminta maaf sambil tersedu-sedu. Mirip sinetron yang memuakkan.

Sedangkan adikku yang semula termenung hampa, memindai rupa asing di pelupuk matanya. Ia tersenyum. Tapi juga meneteskan air mata. Dua ekspresi berlawanan yang bagiku begitu emosional. Lengannya meraih sosok yang sempat hilang dari dunianya. Merengkuh seolah tak ada hari esok. Kegirangannya memuncak kala ibu memberikan kecupan hangat, tepat di keningnya.

Dan untuk itulah aku berdiri disini.

Di depan kediaman berdinding bata. Gerbangnya dicat hijau tua. Ada taman-taman terawat yang memenuhi pelataran halaman. Dengan puluhan bonsai yang sengaja diletakkan disana.  Pepohonan menjulang lumayan tinggi kala aku melihatnya dari jalanan. Ini rumah ibuku dengan keluarga barunya yang begitu harmonis. Hidup dalam damai setelah menelantarkan kedua darah dagingnya.

Sejujurnya, aku tak sudi untuk sekedar mengamati bagian depan bangunan ini. Apalagi harus menekan bel, meminta seseorang keluar dari sana untuk menemuiku. Batinku menolak. Ia berontak dengan alasan segala kesusahan yang kualami selama ini. Kakiku hendak berbalik, menyerah. Namun presensi wanita paruh baya dengan sweater rajutannya, menghentikan motorikku. Kemunculannya dari balik gerbang ditemani kantung sampah yang ia jinjing, menghambat laju otakku.

Dilihat dari air mukanya, ia nampak terkejut akan kehadiranku. Bibirnya bergetar melafalkan namaku. Penglihatannya mulai tergenang bulir-bulir bening. Seiring dengan jarak antara kami yang ia pangkas perlahan-lahan.

“C-chanyeol, ibu senang kau kemari.” tuturnya. Ia menggunakan jari-jarinya untuk membelai sisi rupaku. Gelagatnya meragu saat hendak merangkul tubuhku. Tapi segera kupatahkan dengan lengan-lenganku yang telah mendahului mendekap dirinya. Ini bukan untukku, atau ibuku. Ini untuk Sooyoung semata.

“Aku tak pernah paham kebahagiaan yang diberikan seorang ibu. Tapi Sooyoung mengerti, dan ia membutuhkannya sekarang.” bisikku mengingatkan. Aku tak ingin wanita kepala empat ini salah paham.

Kudengar isakan memantul dalam runguku. Milik ibu. “Terima kasih telah tumbuh besar dengan baik. Terima kasih telah menjaga adikmu dengan baik.”

Semua bualan yang seharusnya terpental mentah-mentah itu, memaksa masuk. Aku tak pernah tumbuh dengan baik, aku tak pernah bisa menjaga adikku dengan baik. Itu hanya kebohongan picisan yang entah kenapa begitu mendamaikan. Aku sendiri tak percaya kala merasakannya.

Terlebih kala ibu berusaha melepaskan pelukannya. Menciptakan celah dimana kekosongan mataku bertubrukan dengan sayang dalam netranya. Ada rasa tak rela disana, di batinku. Entahlah, aku tak pernah menyangka perasaan ini akan tiba.

Dan kala aku berpaling menjauh, kurasakan celah kosong dalam bilik hatiku terisi. Aneh namun begitu nyata. Ucapan terima kasih yang tertahan menemani kesunyian langkahku. Eksistensi ibu semakin mengecil hingga perlahan melebur. Begitu pula botol bening terakhir –yang tak kusadari– kini dipadati cairan kebahagiaan. Warnanya putih terang, menenangkan.

.

.

Aku melesak, bergegas masuk. Melewati lawang senada tanah dengan sekali dorongan. Kuarahkan tumitku menuju salah satu ruangan disana. Berbekal ransel lumayan penuh yang memberatkan tulang punggungku, aku mendapati Sooyoung. Terbatuk parah yang memilukan. Napasnya tersengal-sengal, hampir putus.

Segera aku beringsut di sisi ranjangnya. Menatap adikku dengan sejuta perasaan yang bergemuruh. Kuraih tangannya, dimana urat-uratnya menyembul mengerikan. Kegetiran kental mengalir deras disana. Anehnya, ia berusaha menampilkan senyum menenangkan.

Aku yakin hanya meninggalkannya tak lebih dari dua puluh empat jam, namun Sooyoung terlihat seribu kali lebih suram. Kulit-kulit wajahnya berkerut kusam. Mendung dalam pelupuk matanya kian dalam. Kepahitan itu telah merenggut separuh lebih dirinya.

Keyakinanku goyah, kesembuhan Sooyoung mulai menjauh dari bayanganku. Sial!

Lekas kulonggarkan tali ransel yang mengapit bahuku. Aku menariknya ke depan, disamping kaki Sooyoung yang tertutup selimut. Menyeret resletingnya hingga beraneka warna yang berasal dari isi setiap botol, mencuat bebas. Mata Sooyoung berbinar mengamatinya.

“Kak, ini semua?” Sooyoung bertanya takjub. Namun aku memberi isyarat agar ia tak menggunakan tenaganya dengan hal tak terlalu penting. “Sebentar dan kebahagiaan itu akan menjadi milikmu kembali.”

Ranjang merah marun itu jadi saksinya. Tempat adikku berbaring menahan pedih. Tempat jemari kurusnya menyalurkan perih. Tempat kegetiran lolos dari sela bibirnya. Tempat kebencian menanam luka ditiap ruas kulitnya. Tempat tangis dalam kesunyian sebagai pelipur lara.

Sooyoung telah menderita sebanyak yang ia bisa. Dan aku tak ingin memperpanjang sejarah mengerikan itu. Setiap detik yang dihabiskan dalam sembiluan harus diakhiri disini.

Satu botol telah siap dalam telapakku. Aku menawarkannya pada Sooyoung. Ia menilik netraku sedetik dan menjumputnya dalam genggaman. Tegukan demi tegukan diperlihatkan tenggorokannya. Aku tak menyangka Sooyoung menghabiskannya dalam sekali tenggak.

“Kupu-kupu yang sangat menawan.” ujarnya. Rupanya bayangan Sooyoung kembali memanggil kebahagiaan dibalik memoarnya.

“Sekarang tebak yang ini.” tantangku. Kaca bening lainnya, bersinar dalam balutan krem pastel. Indra pengecapnya mulai mencicipi. “Kucing! Kakak mendatangi mereka?” tanya Sooyoung antusias.

Aku mengangguk sebagai jawaban. Cukup puas saat reaksinya yang begitu berapi-api. “Aku tak bisa datang sejak sebulan lalu. Apa mereka baik-baik saja?”

“Lima-limanya sehat. Hanya saja sedikit bau.” Kudengar tawa Sooyoung yang lama hilang. Mungkin efek kebahagiaannya mulai nampak. “Ini, minum lagi. Kau harus menghabiskan semuanya.”

Lama sekali aku tak menemui air muka bersemangat Sooyoung. Kalau ditilik hari-hari kebelakang, terlalu banyak kemasaman yang ia perlihatkan. Tentu saja itu bukan kemauannya. Adikku adalah energi positif, paling tidak untukku.

Semua itu tuntutan penyakit yang ia derita.

Kondisi Sooyoung kian memburuk. Tiap hari, ada saja yang melemahkan tubuhnya. Keganasan itu tak memberi ampun. Terkadang aku harus menjumpai luka menganga yang ditimbulkan kebencian. Atau batuk darah oleh kepedihan. Demam tinggi akibat kecemasan. Tubuhnya remuk. Kalian tak akan sanggup membayangkannya.

Alih-alih mengeluh, Sooyoung lebih suka tertawa. Mungkin hal itulah yang tertancap kuat dalam batinnya. Sehingga kala kesengsaraan menderu, senyumnya masih berdiam.

Satu per satu botol bening mulai hampa. Sebagian isinya telah berpindah alur ke tubuh Sooyoung. Menelusuri dirinya hingga tiba di batinnya. Membenahi saraf-saraf yang rusak. Mengijinkannya kembali beroperasi sebagaimana mestinya. Hingga lengannya terayun menyambar botol cerah, berwarna putih.

Cairan itu memang sengaja kuletakkan pada urutan terakhir. Dan Sooyoung menyeruputnya tanpa ragu. Ya, hanya sedetik dan bibirnya terhenti mendadak. Mungkin hanya sekian tetes yang meluncur kesana dan Sooyoung telah mengetahui asal kebahagiaan itu secara pasti. Matanya menuntut kepastianku.

Aku mengangguk menanggapi keheranannya. Meski tanpa pertanyaan, aku memahami reaksi adikku itu. Sedikit pongah, kuselundupkan dua tanganku ke saku mantel. “Sebegitukah kau merindukan ibu?” tanyaku.

Air mukanya masih terlihat sama, heran. “Kau kesana? Maksudku, kau menemui ibu?” Sooyoung sadar jika aku pernah mengucapkan sumpah bahwa tak akan pernah menemui ibu kami, apa pun yang terjadi. Dan melihat tingkah tak terdugaku ini, membuat gadis itu meragukan kredibilitas ucapanku.

Aku ingin mengatakan kalau ini semua demi dirinya. Aku rela tak menepati nazar bodohku itu demi dirinya. Tapi harga diriku menolak kalimat terang-terangan semacam itu. Terlalu norak. “Tentu saja aku kesana.” Kumajukan bibirku, mengalihkan perhatian.

Sooyoung menatapku sedikit jijik. Ia kembali terfokus pada wadah bening dalam telapaknya. Tutup kayunya telah melayang entah kemana. Menyisakan adegan Sooyoung menikmati larutan tersebut dalam diam. Begitu menghayati. Seolah ia sanggup memanggil kenangan indah itu sekali lagi.

Perubahan itu bekerja ekspres. Dari ujung ke ujung bagian tubuh Sooyoung, semuanya mengganti dengan sendirinya. Pucat di rupanya sirna. Kerutan yang menjamur juga hangus. Luka-luka tak diinginkan menutup tak diperintah. Aliran darahnya dipenuhi kegembiraan alami. Batinnya dibersihkan seksama dalam sekali sapuan kebahagiaan.

Mengembalikan diri lama Sooyoung yang harus bersembunyi dibalik kesengsaraan.

Kutunjukkan senyum terbaik yang kumiliki. “Kebahagiaan memang sangat pas untuk parasmu. Dunia tak akan tega untuk memisahkan kalian lagi.”

Bahkan lengan-lengan ringkih yang perlu bantuan telah raib. Tinggal gadis perkasa yang mampu meninju bahu kakaknya lumayan keras. Rintihan mengalun spontan. “Kuanggap sebagai ucapan terima kasih.” ujarku mencebik.

“Kak kau tahu, aku memang bahagia dengan seluruh memori dalam buku ini. Mereka memiliki makna masing-masing bagiku. Namun hal terindah yang sebenarnya, tak pernah kutulis.” Sooyoung memberi jeda, memintaku menebak liar. Ia menarik beberapa senti ujung bibirnya.

“Sebab keindahaan itu bukan untuk diingat, tapi untuk dirasakan. Dan aku merasakannya setiap hari. Keberadaan kakakku yang menjaga, keindahan abadi milikku seorang.”

Bayangkan saat kau disiram larutan paling menyejukkan di tengah gilanya musim kemarau. Membasahi bagian terkering dirimu hingga rasanya seperti diperbarui. Ya, kira-kira itulah yang kurasakan sekarang. Sedikit aneh memang, namun pantas dinikmati.

Fin.

Iklan

2 pemikiran pada “Happiness To Find

  1. Ada orang yang bilang bahagia itu sederhana hehehe…Setidaknya itu yang saya tangkap ketika sampai di penghujung cerita. Sooyoung patut bersyukur punya kakak yang benar-benar mencurahkan kasihnya untuk sang adik.

    Saya suka dan sangat mengapresiais penggunaan bahasa dan diksi-diksi yang kamu gunakan dalam menjabarkan cerita. Kalau saya boleh saran yaa, mungkin kamu bisa buat cerita kamu lebih simpel lagi agar apa yang ingin kamu sampaikan kepada pembaca tersampaikan secara jelas.

    Overall, great story!! Terus berkarya di IFK yaa!!

    Suka

    1. Halo Kak Andri! Aduh maaf banget aku telat balesnya, habis ini tugas banyak sekali XD
      Makasih banget udah di review huhu meski masih abal-abal, aku jadi bisa belajar banyak. Mungkin karena surreal jadi inti ceritanya kurang tersampaikan dengan baik kali ya kak.
      Once again, thankyou sudah meluangkan waktu buat baca 🙂

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s