[1st Mission] On Board

on-board-snqlxoals818

ON BOARD

.

BTS’s Kim Seokjin as Killian Beckett (25 y.o)

OC’s Icy Lytton (25 y.o)

(actor) Yoo Yeon Seok as Jillian (32 y.o)

BTS’ Kim Namjoon as Razel Levesque (23 y.o)

.

slight!romance, action, kingdom!AU | chaptered | PG-15

.

inspired by (movie): Flightplan and Executive Decision

.

Kali pertama bepergian menggunakan pesawat terbang, Icy Lytton memilih perjalanan menuju Icemoor yang tak akan ia lupakan selamanya. Pembajakan pesawat yang terjadi karena kehadirannya, sampai ia bertemu dengan seorang anggota CIA, Killian Beckett, yang akan menyelamatkan nyawanya—nyawa seorang Putri Icemoor.

.

.

August 21, 2025. CIA Hidden Headquarters, Atrani, Italy. 4.19 PM.

Killian mendorong naik kacamata di batang hidungnya yang merosost. Ia masih memfokuskan tatap pada empat layar berukuran sedang di hadapannya sementara kesepuluh jemarinya sibuk menari-nari di atas papan ketik dan tombol-tombol yang lain. Empat layar itu menampilkan gambar berbeda. Layar pertama menunjukkan dua puluh tempat yang diambil dari kamera CCTV lantai kelima dari sebuah gedung bertingkat, Killian berhasil mematikan kamera CCTV yang lainnya; layar kedua berisi diagram data serta penjelasan rumitnya; layar ketiga menampilkan kombinasi antara bilangan biner dan huruf-huruf berpadu angka sebagai kode yang digunakan Killian untuk meretas; dan layar keempat adalah sarana hiburan Killian untuk bermain di sela tugasnya.

“Zebra ke J7,” kata sebuah suara manis, “Anda kalah lagi, Tuan Beckett.”

Seriously, Bella?” Dari sudut matanya, Killian melirik layar keempat. Menggeram kesal, ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, frustrasi. Ini adalah kali keenam Killian bermain dengan Bella—sebuah program buatannya, teman serba tahu dan lebih pandai bermain apa pun daripada penciptanya. Enam kali pula Killian kalah.

“Maafkan saya. Saya rasa Anda—”

“Tidak becus?”

“Ya, Tuan.”

Killian memutar bola matanya jengah. “Kau jujur sekali.”

“Saya tersanjung atas pujian Anda, Tuan.”

Dua lampu kecil di kotak hitam yang menempel di dinding berkedip merah muda. “Kau benar-benar bisa tersipu.”

Killian beralih memantau kamera CCTV nomor tujuh yang menyorot sebuah koridor. Jari telunjuknya menyentuh layar, menggeser kotak yang menampilkan keadaan di kamera tersebut seakan melemparnya keluar layar. Kemudian, rekaman kamera CCTV itu muncul di layar utama, yang ukurannya empat kali lebih besar dari layar sedang. Killian mengetikkan sederet kode baru lagi. Dua orang berpakaian serba hitam yang menggenggam pistol memasuki pintu yang berhasil Killian buka menggunakan kode tadi. Satu laki-laki yang lebih pendek mengacungkan ibu jarinya ke arah kamera, secara tidak langsung memberikannya untuk Killian.

.

MISSION STATUS: IT-9 RECOVERED

 .

“Tugas Anda telah selesai, Tuan,” kata Bella. Layar besar menampilkan gambar anggota tim A-23 yang berhasil menyergap sebuah kelompok yang menjual barang-barang bersejarah secara ilegal.

Melihatnya, Killian bersedekap sembari manggut-manggut. Senyum keangkuhan tersungging di wajahnya. “Bukankah aku hebat, Bella?”

“Sangat, sangat hebat, Tuan,” jawab Bella, diiringi suara tepuk tangan hasil rekaman dan gambar di layar utama yang dipenuhi acungan jempol.

“Kau meracuni kepolosan Bella.”

Tawa kemenangan Killian terpangkas oleh kehadiran seseorang di ruang pribadinya. Seorang laki-laki yang mengenakan jas lab penuh kerutan, yang mendekap sebuah boneka. Killian mendengus, tak acuh.

“Selamat sore, Signore Razel Levesque.”

Razel mengangkat satu tangannya sebagai balas sapaan itu. Detektor gerak Bella menangkapnya dan ia membalas lambaian Razel melalui layar utama.

Killian memutar kursi berodanya. Menjungkitkan sebelah alis ketika Razel meletakkan boneka tadi di pangkuannya. Menilik dari bentuknya yang kecil, kurang lebih sepanjang tiga puluh senti, boneka berbulu ini tidak seringan yang ia kira. Bulu berwarna abu-abu muda bercampur putihnya membalut tubuh aslinya yang keras.

“Robot anjing?” tanya Killian.

“Bukan sekadar robot biasa.” Razel menancapkan USB dan mengetik kata sandi sebelum layar utama menampilkan struktur lengkap dari tubuh boneka tadi. “SR74RL01. Robot anjing jenis Siberian Husky, percobaanku yang ke-74.”

Mendengar ujung kalimat yang diucapkan Razel, seolah memiliki detektor seperti Bella, Killian memindai penampilan sahabatnya—seorang mekanik, pembuat alat-alat canggih yang terhebat—dari atas sampai bawah. Rambut dicat pirangnya sangat berantakan, kusut, dan mungkin juga berminyak. Ia belum bercukur, terlihat dari rambut halus yang mulai tumbuh di dagunya. Sekejap, Killian mengendus bau tidak sedap. Hidungnya mengerut. Dan Bella-lah yang mengutarakan isi pikirannya.

“Terdeteksi bau menyengat,” katanya. “Meminta izin untuk membuka jendela, Tuan Killian.”

“Silakan.”

Selagi Killian tertawa puas, di sampingnya, Razel mengumpat, menyumpah serapah. Mengancam Bella yang tidak pernah berpihak kepadanya dengan menghentikan proyek pembuatan humanoid—android yang sangat mirip manusia—yang sudah memasuki tahap perancangan.

“Maafkan saya, Tuan Razel.” Meski Bella hanya sebuah program tanpa wujud, Killian memberikannya berbagai emosi yang dimiliki manusia. Kotak hitam di dinding itulah ‘kehidupan’ Bella berasal. Dan dua lampu kecil yang memancarkan cahaya bermacam-macam warna itu adalah bentuk luapan perasaannya. Kali ini cahayanya berwarna oranye—rasa bersalah. “Tuan Killian telah memprogram saya untuk tidak berbohong.”

Killian mengangkat kedua tangannya sebatas bahu. “‘Jangan menodai kepolosan Bella’, ingat?”

Razel mendengkus keras. Ia menyambar kembali robot hewan ciptaannya dari pangkuan Killian. Lalu mentransfer berbagai data dan cetak biru robot itu ke tubuh Bella sebelum mencabut USB-nya. “Pelajari itu semua dan cepat selesaikan chip-nya.”

Setelah berpesan demikian, tanpa pamit atau menggoda Bella seperti biasanya, Razel pergi dari sana, membawa serta robot hewan bersamanya.

“Apakan Tuan Razel benar-benar marah padaku, Tuan?” tanya Bella. Lampunya berkedip hijau tua—rasa takut.

“Tentu saja tidak.” Jika Bella memiliki tubuh layaknya manusia seperti yang direncanakan Razel, Killian pasti sudah menepuk-nepuk kepalanya untuk menenangkan gadis itu. “Razel menyukaimu, Bella. Kautahu itu.”

Lampu Bella berkedip merah muda. “Aku hanya sebuah program, Tuan.”

“Program yang cantik. Seperti namamu.”

“Terima—”

.

BLACKHOLE DETECTED!!!

.

Suara bising dari alarm yang sengaja dipasang Killian tiba-tiba memenuhi ruang itu. Dia kembali. Tulisan merah besar muncul di layar utama. Killian mengetikkan sebaris kode. Layar utama lekas menampilkan peta dunia. Radarnya berputar-putar di tengah, melacak sebuah lokasi.

.

PROSES PENCARIAN DIMULAI

.

5%… 10%… 15%… 20%… 25%… 30%…

.

Killian menangkupkan kedua tangannya. Berharap kali ini ia berhasil menangkap keberadaan ‘Blackhole’. Namun, harapannya pupus ketika semua lampu dan keempat layar sedang padam.

.

PENGHANCURAN DATA DIAKTIFKAN DALAM SEPULUH DETIK.

.

10.

.

Shit!”

.

9. 8. 7.

.

Dengan jarinya yang gemetar, menahan amarah, Killian sibuk berkutat dengan papan ketiknya, sebelum menekan tombol merah dan berteriak, “BATALKAN PERINTAH!”

.

6. 5.

.

“BELLA! KAU DENGAR AKU!”

.

4. 3. 2.

.

PENGHANCURAN DATA DIBATALKAN.

.

Lampu dan layar menyala. Alarm telah berhenti berdengung.

“Maaf, Tuan. Sistemku telah—”

“Aku tahu.” Rahang Killian mengatup rapat. Ia merasakan adrenalinnya memencar ke seluruh tubuh. Tanpa bisa dicegah, kepalan tangannya dihantamkan ke atas meja.

“Tuan Killian?” Lampu Bella kembali berkedip hijau tua.

“Aku baik-baik saja. Maaf.”

Menjatuhkan diri ke kursi, menggunakan lengan kanannya, Killian menutup mata. Meredam deru napas yang memburu, juga degup jantung yang tak terkendali. Kali ini, ia kembali menemukan adanya tautan komunikasi yang tak biasa, di suatu tempat, tak begitu jauh dari tempatnya berada. Ia telah menemukannya sejak lama, sejak ia dipindahtugaskan di Atrani, kota terkecil di Italia, lima bulan lalu. Namun, sebesar apa pun usahanya meretas tautan itu agar mendapat lokasi yang pasti di mana asalnya, Killian selalu gagal. Selalu ada peluru lain yang mengalihkan sinyalnya. Ada perisai berlapis-lapis baja yang menghalangi upaya Killian memasukinya. Meski ia adalah seorang peretas terhebat yang dimiliki CIA (Central Intelligence Agency), Killian telah dikalahkan.

Blackhole.

Begitu sebutan yang diberikan Bella untuk orang misterius yang selalu bisa mengacaukan sistemnya. Salah satunya seperti tadi. Si Lubang Hitam ini berusaha menghancurkan seluruh data yang tersimpan, sekaligus merusak sistem yang membangun Bella. Jika orang itu bisa memorak-porandakan sistem Bella, tak diragukan, seluruh data CIA dapat ia curi. Namun, selama Killian berurusan dengan Blackhole, tak ada laporan apa pun mengenai kebocoran data.

Killian pasrah. Ia tidak tahu lagi bagaimana cara menyembunyikan Bella dari penglihatan orang itu. Ia selalu merobohkan benteng pertahanan yang susah payah disusun Killian. Tentang siapa Balckhole sebenarnya, kecurigaan Killian hanya tertuju kepada satu orang. Yang jauh lebih hebat daripada dirinya. Orang pertama yang memperkenalkannya kepada perangkat-perangkat lunak sebuah komputer. Orang yang juga tidak ia ketahui lagi keberadaannya.

“Jillian.”

Namun, hipotesanya harus terbantah oleh sebuah fakta. Bahwa Jillian, kakak kandungnya, telah meninggal dalam kecelakaan pesawat tujuh tahun silam.

.

—OoO—

.

August 21, 2025. The Hidden Hotel of Lytton, Amalfi, Italy. 3.57 PM.

Tak ada kata jenuh bagi kota indah Amalfi. Meski tak seluas Milan atau Venesia, yang juga berada di Italia, meski kecil, Amalfi menyimpan banyak keindahan. Pasirnya yang putih berkilauan, laut Mediterania yang biru jernih serupa kristal, bangunan-bangunan yang dicat beraneka warna berdiri cantik di pegunungan; terlalu sayang untuk sekadar diberi sebuah lirikan. Mata-mata mereka yang terjebak dalam pemandangan itu akan terpaku, menatap lama tanpa rasa bosan dan menyimpan setiap detail yang ada di dalam benak. Di sisi lain, terdapat pantai kecil. Diapit oleh dua bukit berbatu. Kapal-kapal kecil berwarna-warni berjajar di dekat tebing, lengkap dengan dayung kayunya, untuk disewakan kepada para pengunjung. Pantai ini tak seramai pantai utama, namun keindahannya setara.

Banyaknya pendatang atau turis-turis asing, tersedia pula penginapan-penginapan yang tersebar di kota Amalfi, khususnya di dekat pesisir. Salah satunya adalah hotel sederhana yang dicat oranye. Terletak di sisi pegunungan, berdiri sepuluh meter dari permukaan laut. Di sekelilingnya dihiasi pepohonan yang cukup lebat. Memberi kesan seolah terisolasi dari keramaian pusat kota. The Hidden, ‘Yang Tersembunyi’, begitu mereka menyebut hotel milik keluarga Lytton.

Matahari tidak lagi menggantung tepat di atas kepala. Icy Lytton duduk menekuk lutut di dermaga beton mungil di belakang hotel, menunggu seseorang sembari menikmati biru kehijauan air laut Mediterania. Icy selalu suka suasana yang tenang dan nyaman seperti sekarang. Tanpa ada tamu hotel yang berenang di sini seperti biasanya, lantaran mereka memilih pergi mengunjungi festival kembang api di kota. Icy tidak suka berada di tengah keramaian. Lagi pula, dari balkon kamarnya, percikan kembang api itu masih bisa terlihat.

Semilir angin akhir musim panas menerbangkan helai-helai rambut cokelat gelap Icy yang tidak terikat ketika indra pendengarannya menangkap jejak pelan yang menuruni anak tangga. Refleks, sudut-sudut bibirnya menjungkit, memulas senyum. Icy tahu siapa yang akan muncul dari pintu di dekatnya. Bukan ibunya, Nyonya Lytton, yang memilih berteriak dari atas balkon, tidak mau repot-repot menyusul anaknya ke bawah. Bukan pula Erden, adik laki-lakinya, yang akan mengentak-entakkan kaki seraya menggerutu turun kemari. Hanya orang ini yang memiliki langkah tenang, bersedia menyusul Icy di mana pun gadis itu berada, dan menyapa dengan suara beratnya namun menenangkan.

“Yang Mulia.”

Yah, sapaan itu telah Icy dengar selama lima tahun ini. Bukan tanpa alasan orang itu memanggil Icy dengan sebutan yang membuatnya merinding, karena Icy memang seorang putri kerajaan yang identitasnya tidak diketahui publik—untuk saat ini, belum diketahui.

“Hai, Jillian.” Icy mendongak. Matanya menyipit melihat seorang laki-laki yang memakai baju selam, seperti yang juga dikenakan Icy, dan membawa beberapa peralatannya—masker, regulator, tangki oksigen—masing-masing berjumlah dua. Memalingkan wajah, kembali menatap laut lepas, Icy mendengus. “Aku benci menyelam.”

Jillian duduk tepat di tepi dermaga. Meletakkan semua peralatan yang ia bawa, lalu mengisyaratkan Icy untuk duduk mendekat. Dua pasang tungkai menjuntai, memasuki air yang bening. Hening beberapa jenak, sebelum Jillian menoleh, menorehkan senyum. Jemarinya terulur, merapikan anak-anak rambut Icy yang menutupi wajahnya. “Tidak boleh cemberut,” katanya.

Icy menggembungkan pipinya, tapi tersenyum juga. “Di dalam sana gelap,” kata Icy, nadanya merajuk. Ia bergidik ngeri membayangkan bagaimana penampakan di dalam laut yang pernah tak sengaja ia lihat di Internet. Tiba-tiba dadanya sesak, seolah-olah ada banyak ganggang laut menjulur naik dan menjerat tubuhnya hingga ia tak bisa bernapas. Icy memejamkan matanya erat-erat. “Aku tidak bisa, Jill.”

Tanpa sepatah kata pun, Jillian memakaikan satu masker ke Icy. Masker yang tampak serupa dengan yang lain itu memiliki keunikan yang dirancang khusus oleh Jillian untuk mengatasi ketakutan Icy. Abaikan keterkejutan di wajah gadis itu, Jillian menekan sebuah tombol kecil di bagian kiri masker. Jillian memang tak melihat perubahan apa pun dari kaca masker tersebut, selain manik Icy yang mengerjap-ngerjap takjub. Karena di mata gadis itu, ia disuguhkan pemandangan sebuah kota di malam hari, yang dipenuhi kerlap-kerlip lampu jingga dan butir-butir salju yang meluruh dari langit.

“Ini… astaga! Bagus sekali, Jillian.”

Jillian kembali menekan tombol kecil itu dan manik Icy kembali menjumpai sosok Jillian yang masih menatapnya. Tersenyum. “Apakah Anda suka, Yang Mulia?”

“Tentu!” Icy memekik riang. Ia menggeleng-geleng cepat ketika Jillian berusaha melepaskan maskernya. “Aku masih mau pakai,” katanya.

“Berarti Anda sudah siap menyelam?” tanya Jillian yang kini tengah mengalungkan maskernya yang biasa. Tangannya sibuk memasang selang regulator ke tangki oksigen hingga melupakan Icy yang tiba-tiba terdiam. Jillian melirik dari sudut matanya. “Yang Mulia?”

“Aku masih—”

“Saya sudah bersumpah akan selalu menjaga Anda, Yang Mulia.” Jillian menggenggam tangan Icy yang gemetar. Membuat putaran-putaran kecil dengan ibu jarinya di punggung tangan gadis itu, berusaha mengalirkan rasa aman.

Icy tidak meragukan hal itu. Jillian, yang berkulit kecokelatan, rambut hitam legam yang sedikit berantakan terkena angin, dan memiliki gurat ketegasan sekaligus kelembutan di wajahnya itu memang telah bersumpah untuk melindunginya di mana pun, kapan pun, dan ke mana pun, termasuk ke dalam air. Lagi pula, Jillian sudah membuatkan alat canggih ini untuknya. Icy akan menikmati pemandangan musim dingin yang sangat disukainya, ketimbang air laut kehijauan yang dipenuhi ikan-ikan juga batu karang. Meski tampak cantik bagi penyelam lain, bagi Icy, pemandangan itu sangat mengerikan.

“Jangan lepaskan tanganku. Ini perintah!”

“Tidak akan, Yang Mulia,” jawab Jillian seraya mengulum senyum.

“Baiklah.” Diiringi satu helaan napas berat, Icy mengangguk dan berkata, “Kita menyelam.”

.

.

“Itu adalah penyelaman paling menyenangkan, Jillian!”

“Saya senang Anda menikmatinya, Yang Mulia.”

“Tidak, tidak,” kata Icy. “Aku sangat menikmatinya, tahu!”

Jillian mengangguk. Setelah membantu Icy melepas tangki oksigen di punggungnya, ia menyerahkan handuk putih pada gadis itu untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Kemudian, ia melakukan hal yang sama dengan rambutnya. Tidak perlu mengganti pakaian karena nanti mereka harus kembali ke permukaan sebelum matahari tenggelam.

Ini adalah kali pertama Icy kemari, ke markas rahasia yang dibangun ayahnya sesuai dengan permintaan Jillian. Markas ini berada di celah sempit di antara dua tebing di kedalaman sepuluh meter dari permukaan laut. Pintu markas ini berupa baja antikarat yang disamarkan oleh hologram yang menyerupai bebatuan berlumut seperti di sekitarnya dan hanya bisa dibuka dengan memindai sidik jari Jillian. Di dalam sini, kau tidak akan menyangka jika sedang berada di dalam laut Mediterania. Suasananya sama seperti di permukaan. Mungkin bedanya, di sini lebih sunyi. Tidak ada suara ombak, peluit kapal, orang-orang yang berbicara, lantaran markas ini dirancang untuk kedap suara. Hanya dengung mesin yang sayup-sayup terdengar dari balik pintu kaca di hadapan Icy.

Jillian mendekat ke arah pintu. Seketika, muncul lingkaran kecil sejajar dengan wajah laki-laki itu. Pemindai retina. Sekon berikutnya, pintu kaca mendesis dan terangkat. Jillian merentangkan lengan kanannya, mempersilakan Icy masuk terlebih dahulu sebelum ia mengikutinya dan pintu kaca otomatis kembali turun menutup.

“Aku masih belum terbiasa dengan berbagai alat canggih buatanmu.” Icy bergidik ketika maniknya menangkap sebuah hologram tiga dimensi yang melayang-layang di dalam ruangan berjendela kaca besar. Hologram berbentuk android namun mewujud sesosok manusia.

Humanoid, android pendamping yang sangat mirip manusia,” kata Jillian, seakan bisa menebak kuriositas yang terpancar dari iris gadis itu. “Saya sedang membuat tubuh untuk sahabat saya.”

“Sahabat?” tanya Icy. Alisnya menjungkit. Pasalnya, Jillian tidak pernah berinteraksi dengan siapa pun kecuali keluarga Lytton. Keluar penginapan pun sangat jarang. Jillian menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam markas ini. Pun karena suatu alasan ‘keamanan’, Jillian tidak diizinkan pergi terlalu jauh dari penginapan. “Kau punya sahabat? Siapa?”

Sebagai jawabannya, Jillian menuntun Icy untuk terus berjalan menyusuri koridor dengan langit-langit melengkung yang mengarah ke ruang utama berbentuk heksagonal di mana terdapat layar besar yang dikelilingi layar-layar kecil yang menampilkan rekaman CCTV di seluruh hotel. Di sisi kanan terdapat pantri kecil, ada mesin pembuat kopi dan kulkas pendek. Di sisi kiri hanya ada lemari tinggi multifungsi yang bisa dibuka-buka menjadi kasur, meja, tempat menyimpan kursi kecil, bantal, dan pakaian. Di tengah ruang ada meja baja antikarat setengah lingkaran yang berisi panel berbagai macam tombol dan satu kursi beroda.

Jillian berdeham, menarik atensi Icy yang tengah mengedarkan pandang agar kembali padanya. “Yang Mulia. Perkenalkan, sahabat saya,” kata Jillian sembari menekan sebuah tombol di salah satu panel logam dan semua layar menyala.

Icy menelengkan kepalanya. Hendak bertanya namun terhenti kala sebuah suara keras dan bersemangat terdengar.

“Selamat datang di markas bawah laut, Yang Mulia Putri Icy Rutherford Lytton Atkins.”

Icy terlonjak, hampir saja mengumpat, dan lekas bersembunyi di balik tubuh Jillian ketika suara besar itu menggema memenuhi ruang. Ia mengintip, tapi tidak ada siapa pun di ruang ini. Dan itu jelas bukan suara Jillian.

“Kau menakutinya, Loop,” kata Jillian.

“Loop?” tanya Icy yang menyembulkan kepalanya ke samping.

“Maaf atas kelancangan saya, Yang Mulia,” kata suara itu lagi, kali ini lebih pelan dan lembut.

Di layar yang paling besar menampilkan gambar seorang pria yang mendekap topi berpinggiran lebar selagi ia membungkuk—layaknya memberi hormat kepada Icy. Gadis itu masih tak paham. Sampai Jillian mendudukkan Icy di kursi yang ada dan bersiap menjelaskan.

“Loop merupakan program pintar. Dia yang menyimpan semua data, membantuku melakukan pencarian di Intenet, mengawasi CCTV, meretas sebuah sistem lain, dan masih banyak lagi. Intinya, Loop bisa melakukan apa pun yang saya dan Anda perintahkan.”

“Eh? Aku?” tanya Icy sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Ya, Yang Mulia,” jawab Jillian. “Saya telah memprogram suara Anda ke dalam sistemnya.”

Icy mengangguk. Tangan terlipat di pangkuan, takut jika tiba-tiba ia menyentuh salah satu tombol yang ada dan mengacaukan sistem Loop yang terdengar begitu luar biasa. Icy penasaran, sebenarnya, apa isi kepala Jillian sampai-sampai laki-laki itu bisa membuat segala macam alat yang aneh tapi menakjubkan.

Jika mereka tak berada dalam situasi yang cukup mendesak, Jillian bersedia menjelaskan setiap tombol di panel tersebut dan menunjukkan kemampuan Loop kepada Icy. Lantaran setelah informasi yang akan Icy dapatkan, ia tidak bisa menjamin gadis itu akan kembali ke markas ini atau tidak.

“Jillian,” kata Icy. “Apa yang ingin kau perlihatkan?”

“Loop. Sambungkan dengan istana.” Meski enggan, Jillian tetap harus melakukannya. “Berhati-hatilah.”

“Kau tidak perlu khawatir, Kapten,” kata Loop. Suaranya terdengar ceria. “Ini masalah mudah.”

Tak mengerti, Icy hanya duduk diam. Mengamati Jillian yang berkutat dengan papan ketik hologram di atas panel dengan manik yang terpaku pada layar. Layar utama menampilkan dua garis horizontal berbeda warna yang meliuk-liuk tak keruan. Bagai dua ular yang berkelahi, guna mendapat kekuasaan penuh terhadap isi layar.

“Dia berhasil mengendalikan sistemnya lagi,” kata Loop.

Kau cerdik juga.

Alih-alih kecewa, Jillian tersenyum. Nyatanya, bukan ia yang telah dikalahkan. Justru ialah yang memenangkan kembali pertarungan ini. “Mulai memasang tautan dengan Ald.”

“Laksanakan!”

Sekon berlalu, layar utama memunculkan sebuah portal berbentuk oval dengan ukiran minimalis, seperti sebuah cermin besar. Jillian menoleh ke arah Icy. “Raja Atlan ingin berbicara dengan Anda.”

Manik Icy membola. “Ayah?”

Berpisah sejak ia dilahirkan, ini adalah kali pertama Icy akan berbicara dan bersitatap langsung dengan ayahnya. Sejak kedatangan Jillian yang ditugaskan untuk menjaga keluarga Lytton—terutama Icy, sang Putri—lima tahun lalu dan markas rahasia di bawah laut ini selesai dibangun, Icy bisa berkomunikasi dengan ayahnya, meski hanya melalui pesan suara atau surat elektronik yang harus diterjemahkan manual, lantaran pesan-pesan itu dikirimkan dan diterima dalam bentuk kombinasi kode khusus dan bilangan biner, untuk menjaga kerahasiaan isi tersebut. Proses yang rumit dilalui demi menjaga alamat pengirim maupun si penerima pesan agar tidak bisa dilacak oleh siapa pun.

Awalnya, Icy sempat protes dengan ‘pengasingan’ ini. Namun, ibunya menjelaskan semuanya. Raja Atlan ingin Icy dan Erden dibesarkan jauh dari lingkup istana yang dipenuhi kemewahan dan ketersediaan segala macam. Ia ingin putri dan putranya berbaur dengan rakyat biasa, mempelajari arti kesederhanaan, ramah tamah, dan bersosialisasi. Sampai waktunya tiba dan mereka telah siap kembali ke kerajaan mereka untuk diperkenalkan kepada publik sebagai Putri dan Pangeran dari kerajaan Icemoor. Sayangnya, sang raja tidak tahu, baik Icy maupun Erden, keduanya sama-sama payah dalam menjalin interaksi. Dengan pelanggan hotel saja sulit, bagaimana kepada rakyat Icemoor yang sama sekali tidak pernah mereka temui?

“Tautan ini hanya dapat berlangsung menggunakan suara Anda, Yang Mulia. Untuk itulah saya harus membawa Anda kemari.”

Tak ada respons. Icy masih menatap lekat portal itu. Membayangkan sesaat lagi ia akan berbicara dengan ayahnya dan entah apa yang akan ia atau ayahnya katakan nanti.

“Kita tidak memiliki banyak waktu, Yang Mulia.”

Diiringi satu helaan napas panjang, Icy mengangguk. “Apa yang harus kuucapkan?”

“Nama Anda.”

Dengung samar dari segala mesin yang ada mengisi kesunyian di antara Icy dan Jillian yang saling pandang. Icy menunggu Jillian kembali berbicara. Menjelaskan bahwa itu hanya lelucon semata, karena Icy sangat, sangat benci mengucapkan nama panjangnya, seperti yang tadi diucapkan Loop untuk menyapanya.

“Yang Mulia,” seru Jillian.

“Oke, oke.” Icy bersedekap. Manik terpusat pada layar besar dan berdecak, sebelum berujar, “Icy Rutherford Lytton Atkins.” Melihat tak ada perubahan apa pun dari portal tersebut, Icy melirik Jillian. “Kenapa tidak bereaksi?”

Jillian berdeham, menggaruk tengkuknya. “Anda melupakan… uh….”

Seakan tahu apa yang hendak diucapkan laki-laki itu, manik Icy sontak membola. “Astaga! Siapa yang membuat kata sandi itu, sih?!”

Terdengar tawa besar Loop sebagai balasan, membuat Icy memelotot sebal. “Maaf, Yang Mulia. Tapi sungguh, bukan Jillian atau aku yang mengatur kata sandinya.”

Pasrah, tak ingin berdebat, akhirnya Icy menyerah. “Kau! Jangan tertawa. Ini perintah!” Telunjuk Icy menuding ke Jillian yang langsung menutup mulutnya rapat-rapat. “Namaku… Putri Icy Rutherford Lytton Atkins.”

Menyebutkan nama lengkapnya saja enggan, ditambah kata ‘Putri’ di depannya membuat Icy merinding seketika. Jangan sampai Erden tahu hal ini.

Bagai permukaan air yang terkena embusan angin, bagian tengah portal itu berderak perlahan. Tampilkan sebuah gambar buram yang berangsur menjadi jelas hingga Icy dapat melihat wajah ayahnya yang berjanggut. Mahkota besar tersemat di kepalanya dan tubuh yang dibalut jubah kerajaan Icemoor. Selain bersitatap dengan ayahnya, pemandangan yang mengintip dari balik tubuh pria itu, menambah luapan kegembiraan Icy.

Salju.

“Baginda Raja,” sapa Jillian dan Loop bersamaan. Jillian tetap membungkuk sampai Raja Atlan menyuruhnya untuk kembali berdiri. “Saya akan meninggalkan—”

[Tidak perlu, Jillian,] sela Atlan. [Kau juga harus tahu apa yang akan aku sampaikan pada putriku.] Saat pandangan mereka berserobok, Atlan memulas senyum samar. [Kau tampak baik, Sayang.]

“Ayah juga,” sahut Icy.

Senyap melingkupi. Atlan dan Icy hanya saling pandang. Icy menunggu. Atlan memilih dan memilah kalimat penjelasan yang tepat untuk diutarakan kepada putrinya. Tahu bahwa tautan komunikasi ini tidak bisa berlangsung lebih dari sepuluh menit, Atlan terpaksa memberitahukan segalanya secara gamblang.

[Sebelumnya, Ayah ingin meminta maaf padamu, Sayang.]

Icy mengerutkan dahinya, tapi tetap tidak menyuarakan tanyanya.

[Ayah ingin kau kemari. Ke Icemoor.] Jeda sejenak, raja dari kerajaan Icemoor itu menghela napas. [Erden telah menyelesaikan kuliahnya, begitu pun denganmu. Ayah ingin kalian berada di sini secepatnya. Tetapi, untuk sekarang, kau harus datang lebih dulu. Sendiri.]

Respons pertama Icy, tentu saja terkejut. Ia lekas melirik Jillian yang diam terpaku. Laki-laki itu berdiri tegak dan sekaku tiang listrik di pinggir jalan. Raut wajahnya tampak luar biasa tenang, meski kedua tangan yang tersembunyi di balik punggungnya terkempal begitu kuat. Icy tahu, Jillian sedang berkelut dengan pikirannya. Ia juga tahu, Jillian sama sekali tidak suka jika Icy pergi terlampau jauh, apalagi seorang diri. Yah, Jillian memang terlalu protektif. Tapi, Icy tidak mempermasalahkan hal itu. Alih-alih, ia menyukainya. Seperti dilindungi seorang kakak laki-laki, pikirnya.

[Satu hal lagi yang perlu kau ketahui, Sayang.] Iris Raja Atlan yang sebiru laut Mediterania itu bergerak-gerak gelisah sebelum berhenti memandang lekat ke Icy. Ada sebentuk rasa bersalah sebesar gunung bersalju abadi yang melatarbelakangi istananya yang kentara. Kesalahan yang terlambat ia perbaiki sampai harus mengorbankan keselamatan putrinya. [Kabar kepulanganmu telah diketahui seluruh rakyat Icemoor.]

Jemari Icy berhasil menggenggam pergelangan tangan Jillian sebelum laki-laki itu kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Beberapa hari lalu, Jillian lebih dulu mendengar kabar bahwa Icy akan pergi ke Icemoor tanpa ditemani siapa pun, Jillian tidak bisa mengenyahkan pikiran tentang kejadian-kejadian buruk yang mungkin akan terjadi. Itu saja sudah membuatnya cemas dan ia menghabiskan sepanjang malam untuk menciptakan beberapa alat yang mungkin diperlukan Icy nantinya. Sekarang, mendengar apa yang baru saja dikatakan sang raja Icemoor, amarah Jillian membubung  ke puncak kepalanya dan menyebar ke seluruh tubuh, mengedarkan rasa panas yang membakar. Bagaimana bisa, hal yang seharusnya menjadi rahasia terbesar seperti kepulangan sang putri, terbongkar begitu saja? Apakah Ald, seseorang yang menjadi ketua keamanan kerajaan, sekaligus sahabat yang sangat dipercayainya, melakukan pengkhianatan? Tidak! Jillian sangat mengenal Ald. Laki-laki itu tidak mungkin berbuat demikian. Pasti ada orang lain yang berhasil membobol sistem keamanan ruang pribadi Ald. Jillian harus meyakini hipotesanya sendiri.

Aku dan Icy memercayaimu, Ald.

Diam-diam, Atlan memerhatikan gerak-gerik putrinya kepada Jillian. Hanya sebuah sentuhan kecil dan seulas senyum tipis dari Icy, Jillian, laki-laki yang lebih tua tujuh tahun dari gadis itu, mampu meredamkan emosinya. [Maafkan aku,] lirih sang raja sembari menundukkan kepalanya.

“Itu bukan salah Ayah,” ujar Icy, menggelengkan kepalanya. “Aku akan ba—”

Ucapan Icy terpangkas oleh suara alarm peringatan dan munculnya angka merah di pojok layar yang menunjukkan penghitungan mundur batas waktu tautan komunikasi yang sedang berlangsung.

“Waktu kita dua puluh detik lagi, Ayah,” kata Icy.

Satu helaan napas berat, Atlan mengangguk pasrah. [Kau pasti baik-baik saja, Sayang.]

Icy tersenyum. “Aku tahu.”

Kali ini, pandangan Atlan dan Jillian berserobok. Seolah mereka sedang berkomunikasi lewat tatapan mata, sampai Atlan bersuara, [Aku mengandalkanmu, Jillian.]

Lima detik sebelum waktu habis, layar besar itu menghitam. Tak ada lagi portal oval yang menampilkan wajah Raja Atlan. Yang ada hanya kekosongan dan hening yang merambat.

Icy melepas genggaman tangannya sebelum berdiri dan menyenggol lengan Jillian. “Ayo, bantu aku bersiap-siap.”

Benar. Jillian harus membantu Icy. Raja Atlan telah menitipkan keselamatan sang putri padanya. Ia memang tidak bisa menjaga Icy secara langsung. Namun, bukan berarti Jillian lekas pasrah dan tidak berbuat apa pun. Ada yang bisa ia lakukan untuk Icy. Dan, ada seseorang yang mampu menggantikan posisi Jillian di sisi Icy nantinya.

“Loop.”

“Siap menerima perintah, Sobat.”

Jillian mengambil alih kursi yang tadi diduduki oleh Icy. Tak menghiraukan gurat kuriositas di wajah sang gadis, jemarinya bersiap di atas papan ketik hologram. Seulas senyum jenaka terlukis di wajah sebelum ia menguarkan sebaris kalimat penuh makna.

“Ayo, kita bermain sejenak dengan CIA.”

.

—OoO—

.

August 21, 2025. CIA Hidden Headquarters, Atrani, Italy. 7.05 PM.

Ruangannya terletak di lantai delapan, di ujung sebuah lorong panjang yang diterangi neon putih yang berjajar di dinding kacanya. Gema suara sepatu yang beradu dengan lantai logam, memantul-mantul mengisi sunyi. Pintu dari baja tebal mulai terlihat. Ada sistem keamanan berupa pemindai sidik jari dan retina di tengahnya. Pintu itu berderit membuka selang dua detik setelah Killian memindai retina matanya.

Hawa dingin menerpa wajah. Ketegangan yang tiba-tiba merambat, seketika meremangkan rambut halus di tengkuk. Killian mengepalkan kedua tangannya yang gemetar dan merapatkannya di sisi tubuh.

Saat memasuki ruangan ini, kau hanya akan menjumpai empat benda. Meja kosong tanpa benda apa pun di atasnya, kursi besar dengan sandaran tinggi, kursi kecil di seberangnya, dan lampu bohlam putih kecil yang menempel di langit-langit tinggi. Ruangan itu serba hitam. Jika satu-satunya lampu di sana dimatikan, maka kau akan terjebak di dalam kegelapan yang sangat pekat. Rasanya seperti di penjara bawah tanah. Tapi, masih lebih buruk. Setidaknya, di penjara kau bisa iseng bercengkerama dengan penghuni sel sebelah. Bertukar lelucon tentang bagaimana memasang ekspresi keren saat dihukum mati atau saling menyombong siapa yang paling banyak mengencani wanita. Terdengar cukup menyenangkan, bukan? Kalau di ruang ini, mau mengembuskan napas saja rasanya menakutkan.

Berada di ruang itu selama tujuh detik (Killian benar-benar menghitung di dalam hati), rasanya sudah tujuh abad terbuang sia-sia. Masih berdiri membelakangi pintu baja yang menutup, di hadapan Killian, di kursi sandaran tinggi, duduk seorang pria yang mengenakan mantel hitam panjang. Rambut hitamnya dihiasi helai-helai yang mulai memutih karena usianya yang sudah melebihi setengah abad. Namun, sorot matanya tetap setajam pisau daging dan wajahnya sekaku papan selancar. Kata Razel, jangan menatap mata sang petinggi CIA tersebut kalau masih mau hidup dengan tenang dan nyaman, karena nanti kau bisa dihantui mimpi buruk sampai tujuh turunan. Well, lima bulan berada di markas ini, inilah kali pertama Killian berjumpa langsung dengan Fred Winchester.

Fred menopang kedua sikunya di atas meja dan menyembunyikan mulutnya di balik tangannya yang bertaut. Ia berdeham. “Duduklah.”

Empat langkah kaku membawa Killian mendekat ke arah pria itu. Mengikuti perintah, Killian duduk tegap dengan telapak tangannya yang basah menempel di atas paha. Killian tidak menatap mata Fred secara langsung. Ia memandangi permukaan meja dari kaca mengilap yang sebenarnya adalah sebuah layar sentuh. Ini adalah ruang kerja Fred. Semua perintah diberikan dari layar ini dan data CIA disimpan di dalamnya. Tak perlu berkas-berkas dalam bentuk fisik. Fred Winchester lebih menyukai hal yang praktis.

Dan Fred Winchester sangat tidak banyak bicara.

Jadi, saat Fred membuka mulutnya, yang keluar hanya berupa perintah yang terdiri dari beberapa kata saja.

“Kau dibebastugaskan sementara.”

Kalau kau memiliki pemimpin yang sangat ramah, mudah bergaul, dan bersahabat dengan anggotanya, kalimat itu pasti terdengar menyenangkan. Dibebastugaskan artinya bisa berlibur, pergi jauh-jauh dari markas, menghirup udara bebas, dan yah, kau bisa berkencan kalau punya pacar. Tapi, Killian Beckett adalah laki-laki yang seumur hidupnya hanya berkencan dengan komputer. Fred Winchester juga bukan pemimpin yang masuk dalam kategori ‘pemimpin idaman’. Kalimat tadi terdengar seperti perintah pemecatan sepihak.

Sibuk berkutat dengan pikirannya, Killian tidak menyadari ada sebuah amplop putih di hadapannya. Sampai Fred berdeham keras dan Killian terlonjak kaget.

“Maaf, Sir.”

“Bawa amplop itu bersamamu.”

Tak ada tulisan di amplop itu kecuali lambang CIA yang tersemat di pojoknya. Mungkin Killian benar-benar dipecat karena Fred tahu Killian sering bermain di sela pekerjaannya. Tetapi, selama bertugas di Atrani, membantu para anggota lapangan menyelesaikan misi mereka, Killian tidak pernah gagal sedikit pun. Hasil kerjanya sangat rapi dan kawan-kawannya tidak mengalami kesulitan dalam bertugas.

Alasan logis apa yang bisa dipakai untuk memecat Killian?

Rasa-rasanya tidak ada.

Penasaran, Killian lekas membuka amplop itu. Merobek satu sisinya pelan-pelan dan mengeluarkan isinya. Sebuah tiket pesawat dan selembar kertas. Killian mendongak, ingin meminta penjelasan, tapi diurungkan karena Fred pasti tidak mau menjelaskan apa-apa.

Di tiket pesawat itu tertulis namanya, jadwal penerbangan dari Naples International Airport pukul 10 A.M di kelas bisnis (Wow, ini menakjubkan!), dan tujuannya ke… Icemoor? Negara yang masih diselimuti hawa dingin meski di musim panas sekali pun? Yang benar saja! Kenapa ia harus liburan di sana? Dan, kenapa juga liburannya harus diatur seperti karya wisata anak sekolahan?

Keterkejutan Killian tidak berhenti sampai di sana. Mengabaikan tiket pesawat itu, Killian mulai membaca isi dari selembar kertas tadi. Maniknya membola dan kali ini, Killian harus mendengar alasan mengapa Fred memberikannya surat izin membawa senjata api kalau ia dibebastugaskan dan berlibur di Icemoor.

Sir, apa maksudnya—”

Fred mengangkat satu tangannya, menghentikan laju protes dari Killian dan suara denting nyaring menyusul kemudian. “Aku sudah mengirimkan datanya.”

Killian melongo. Bukan itu yang ia perlukan. Ia harus mendengar penjelasan Fred. Ia harus tahu apa yang direncanakan pria ini sekarang juga. Ia harus—

“Bersiaplah, Beckett.”

.

.

Dammit! Apanya yang harus dipersiapkan, huh?!

.

.

tbc.

Iklan

2 pemikiran pada “[1st Mission] On Board

  1. Wuuaahh, keren kaakk .. 😀
    Suka banget liat mas jin jadi anggota CIA, cieeh keren gitu gayanya.. XD
    Eciee mba Icy nmanya pjg banget 😀
    Weeehh jadi penasaran sebenernya siapa si Blackhole itu? Jillian kah? :-\
    Dan suka banget sama penggambaran tempatnya kak..
    Di Italy lagi.. Wuiih.. Kereennn
    Next chapternya tak tunggu ya kaak~
    Semangat buat nulisnya~! ^^

    Suka

  2. Lanjutannya mana thor. . Udah 5 bulan sejak publish nih 😳😦
    Aku suka alurnya. . Aku suka kim seokjin nya. . Sukka ceritanya gak pasaran pengaturan kata2 dan penggambarannya bagus
    Lanjutin lah thor 😣😭

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s