[Vignette] Equidistant

equidistant

Pencarian satu sama lain di malam hari, berbekal perhitungan dan intuisi

“Jangan khawatir. Aku pasti berhasil menemukanmu.”

.

Set in fictional time and place

.

***

Aspal berdebu terasa kasar di bawah telapak kakiku. Aku merapatkan jaket, mencegah angin malam lebih banyak menusukkan dingin pada kulitku. Meski berat menggelayuti punggung, tungkaiku terus berayun ke depan.

Bukit-bukit batu di kejauhan mengingatkanku pada Grand Canyon bertebaran. Pasir dan semak-semak mengapit jalan yang tengah kulalui ini. Benar-benar tempat yang sempurna untuk memandangi langit tanpa terhalang gedung pencakar langit.

Duk! Duk!

“Oh, ayolah! Sudah terlambat untuk kembali.”

Wajah Taehyung memenuhi layar ponselku, pula dengan kekehan renyahnya. Rambut yang dicat agak pirang menari-nari disapu angin.

Aku berusaha keras agar tidak memutar kedua bola mataku. “Aku tahu. Menurut hitunganku, aku akan sampai di titik pertemuan tak lama lagi. Jangan ke mana-mana!”

Duk! Duk!

Menggeleng, lelaki-di-hadapanku-tapi-sebenarnya-tidak itu malah memperlihatkan susu kotak vanilanya. Sedotannya sudah tertancap sempurna. Taehyung menyengir sebelum akhirnya mentransfer isinya ke perut.

“Jadi sejak tadi kau istirahat?”

Ia mempersembahkan senyum lebarnya lagi, bersimbah penuh cahaya bulan purnama. Lalu layar menggelap, menandai video call yang diputus secara sepihak.

Sompret!

Aku rela membanting ponselku sekon itu juga kalau Taehyung sudi membelikan gantinya.

Omong-omong tentang Taehyung, kami saling kenal sejak dua bulan lalu. Saat itu aku mengirimkan review-ku tentang salah satu novel yang mengangkat tema astronomi, dan Kim Taehyung salah satu yang meninggalkan argumen di kotak komentar. Ia meminta e-mail-ku dan langsung menge-chat aku menit itu juga.

Sama sekali tak pernah terlintas olehku sebelumnya. Aku mendapat teman baru yang sepemikiran denganku, yang juga sama gilanya denganku. Kemudian pemuda itu mengusulkan sebuah perjalanan gila—Kim Taehyung ingin bertemu denganku. Kota tempat tinggalnya ada di sebelah utara Marfark, sementara aku di selatannya.

Kesamaan menetap di dekat perbatasan, akhirnya kami memilih untuk bertemu di Kota Marfark. Bayangkan! Hanya dengan berbekal peta bintang, sekstan, dan intuisi—yang terakhir diusulkan oleh Taehyung sendiri. Malam-malam begini coba!

Kendati demikian, jarak yang kami tempuh sama; kurang lebih 21 detik busur jika melihat peta yang memuat seluruh negeri. Oh, lupakan saja, sudutnya terlalu kecil. Bila dikonversikan, itu sama saja sekitar 10 kilometer. Ha, Taehyung tidak tahu saja kalau aku atlet lari dan jalan cepat.

Sekali lagi aku membetulkan posisi ranselku. Bunyi duk-duk yang sedari tadi berputar-putar di udara berasal dari sepasang sneakers kelabu yang kuikat talinya ke ritsleting ransel ketika membentur botol minum super besar. Ponselku kujejalkan ke saku dan berganti memegang sekstan.

Sekstan adalah adalah sebuah instrumen untuk mengukur sudut dua benda yang terlihat, yang memiliki skala 60o. Aku baru akan mulai mengukur tinggi bintang Polaris saat tiba-tiba menyadari jika 21 detik busur sulit diukur oleh orang yang kurang ahli; dan aku belum mumpuni dalam menggunakannya.

Ah, bodohnya aku. Harusnya aku menyadari ukuran itu sebelumnya. Bayangkan saja ukuran satu derajat dibagi 3600 dikalikan 21. Sembari menelan serapah yang akan menyemarakkan warna telinga Taehyung nantinya, aku ganti mengambil kompas. Sekstannya sama sekali tak berguna saat ini—Kim Taehyung sialan!

Kalau dipikir-pikir, sesungguhnya aku tak butuh sekstan selama perjalanan. Rute yang kulalui ini mengarah lurus ke Marfark dan aku hanya perlu mengikuti jalan beraspal ini sampai bertemu Taehyung di suatu titik. Bahkan segalanya akan menjadi simpel jika saja aku membuka GPS sejak awal. Tinggal mengamati dua noktah di layar dan voila! Sampai tujuan dengan selamat sentosa.

Menggunakan kompas juga kurang berguna karena benda itu tak mampu menunjukkan koordinatku dan Taehyung. Doakan Polaris benar-benar menjadi penuntun jalanku.

Satu dentingan halus menandakan pesan masuk terdengar. Dari Cowok Astronomi. Sungguh suatu kelegaan besar karena Taehyung masih punya secuil kepedulian terhadapku yang nyaris tersesat.

Sudah istirahat?

Jemariku mengetikkan teks dengan cepat.

Sudah tadi. Jangan khawatir. Aku pasti berhasil menemukanmu. Kau kan, magnet.

Balasan dari pemuda itu muncul tak sampai setengah menit.

Hei, aku kan, cowok. Masa aku yang digombalin :p

Aku mendelik membacanya, terlebih dengan kata terakhir. Hell, mimpi apa aku yang gombal duluan. Pesan berikutnya datang beruntun, membuat ponselku berdenting berulang kali dan aku batal membalas.

Sori, bercanda.

Bisa hancur harga diriku kalau digombalin.

Aku saja deh, yang bakal menemukanmu.

Omong-omong, batal pakai sekstan?

Dengusan pelan lolos dariku. Baru sadar ia. Aku sudah bilang untuk pakai GPS saja, tapi Taehyung malah berdalih lebih asyik pakai kompas dan peta bintang. Setelah di perjalanan, barulah ia menyadari susahnya tanpa bantuan satelit.

Ataukah… sejak awal memang ini tujuannya, menawarkan opsi yang sebenarnya malah berakhir pada penggunaan intuisi?

Entahlah, tapi soal peta bintang ia benar. Summer Triangle—Vega, Altair, dan Deneb—menyapaku dari selatan zenit. Awan tipis baru saja menyingkir dari hadapan Capella, sang alpha Auriga. Dan—oh, aku baru menyadari Aldebaran, si Taurus kesayanganku ada di langit timur. Ugh, sayang aku tak bawa teleskop miniku.

Oh, aku baru ingat. Taehyung pernah bilang di ­e-mail kalau zodiaknya Capricornus, memecahkan tangis pertamanya pada 30 Desember. Ujung telunjukku menelusuri kertas di tanganku yang agak lusuh itu. Taurus… Pisces… nah, itu dia! Rasi tersebut ada di selatan, belum lama terbit. Deneb Algedi; salah satu bintang terang milik Capricornus.

Butuh beberapa sekon hingga aku menyadari bahwa senyumku mengembang kala berhasil menemukan rasi zodiak Kim Taehyung. Tunggu, kenapa aku berlaku demikian? Ulang tahunnya juga tak ada hubungannya denganku. Lantas apa?

Aliran pemikiranku terhenti tatkala menangkap papan penanda tak jauh dariku. Pherkad, 100 m. Akhirnya! Kurasa aku bisa istirahat sejenak (lagi) di toko sekaligus menambah amunisi camilan. Lalu Taehyung? Itu urusan nanti. Lelaki itu menjamin kami pasti berpapasan di tengah jalan.

Tidak ada toko yang buka selarut ini, hanya ada pub. Dan sekiranya aku agak salah kostum di tengah lautan pengunjung rata-rata berpakaian di atas kata sederhana. Namun, aku tetap masuk ke sana demi kakiku yang pegal.

Si bartender mengerutkan kening saat aku meminta air putih—minumku sudah habis soalnnya. Jenis minuman yang ada di luar menu, tetapi ia akhirnya memenuhinya. Di sela kegiatannya mengelap gelas-gelas, lelaki berambut cepak itu mengamat-amati ranselku.

Selamat, Sepatuku! Kau ternyata punya cukup pesona untuk menarik atensi orang.

Kukira si bartender bakal menanyakan sesuatu, tapi ternyata tidak.

Aku beralih mengecek ponselku kalau-kalau ada pesan lagi dari Taehyung. Ternyata tak ada. Kuputuskan untuk meneleponnya saja dan memberitahu kalau aku ada di daerah Pherkad. Ada kemungkinan dia kelewatan dan malah berjalan terus sampai ke kotaku. Kan, gawat!

“Kau sedang istirahat lagi?”

Aku nyaris tersedak mendengarnya. “Dari mana kau tahu?”

Suara-suara ramai melatarbelakangi tawa Taehyung. “Dan, Non, kurasa intuisi kita berdua kuat sekali. Sampai-sampai nasib sepatu kita sama.”

Nah, tunggu dulu. Apa maksudnya? Ia sedang bercanda, asal menebak, ataukah….

Kepalaku berputar cepat begitu mendengar Taehyung menyuruhku untuk berbalik. Dan—astaga, sudah berapa lama lelaki itu ada di sini? Sebelah tanganya menenteng converse merah dengan santainya selagi ia menyimpan ponsel ke saku.

Kim Taehyung kemudian melangkah ke arahku. Ia terlihat seperti berandalan dengan rambutnya yang berantakan dan piercing di kedua telinga. Lalu pemuda itu berkata, “Kurasa kau boleh menurunkan ponselmu.”

Tersentak, aku baru menyadari jika ponselku masih menempel di telinga. Lekas-lekas aku menyimpannya dan terbatuk kecil. “Kau sudah sampai.” Kalimat yang sangat terlambat sebenarnya, tapi lebih baik daripada seperti orang linglung.

Alih-alih merespons perkataanku, ia mengambil mengambil tempat di kursi tinggi sebelahku, menaruh converse­-nya ke lantai, dan mengulurkan sebelah tangan padaku.

“Kita belum berkenalan secara resmi. Aku Kim Taehyung, senang bertemu denganmu.”

Kulit tangan Taehyung terasa dingin di tengah udara kering ruangan. Sudut bibirku tertarik ke belakang. Tiba-tiba aku merasa jika hidupku takkan sama lagi dengan saat-saat sebelum aku bertemu dengannya.

Fin.


a/n:
1. Pherkad itu γ Ursae Minoris
2. Marfark itu θ Cassiopeiae
3. Happy Birthday our Kim Taehyung!

Iklan

4 pemikiran pada “[Vignette] Equidistant

  1. Whaaa hebat taehyung jadi anak astronomi uhuhu dan aku yang payah gituan cuma bisa melongo dan chemistry mereka bikin gemas :3 dan pictnyaa jadi throwback jaman sla pas anak-anak masih muda(?) anw happy birthday our taehyung!
    Semangat terus menulisnya ^^

    Suka

  2. Astronomi yampun astrooooooo aku gelagapan bacanya geleng-geleng kakakkkk mahir sekali itu masukin instrumen instrumen astronomi dalam fanfic ouhhhh keinget samwan jadinyaaa ((ngomong gapake titik))

    Well happpy besdehh kth kimtae taehyung lopeh lopee astagaa dah tambah tua aja kamu mas. Kapan nih sungkem ke mak bapak?? ((delusi fangirl))

    It is so aku nggumun ((basa jawanya heran)) sama penggambaran backpacker astronom kek begini. Romantis gila kalo ada gitu di real life cowo ngajak ketemuan pake peta bintang dsb ga langsung dikasitau tempatnya. Eunggggg…….

    Oiyaa salam kenal kak. Aku Salwa. 🙂

    daebak deh inii luv luvv 💕💕

    Suka

    1. Ahe, akunya terlalu cinta sama astro jadinya gini sampe dibawa-bawa ke fenfik XD
      Nggumun :p aku wong jawa juga ((ketularan))
      Kalo aja orang seromantis macem tae bertebaran, mungkin bisa dicomot satu tuh, apalagi yg ngajakin ketemu pake cara ginian.
      Aku Novi, salam kenal jugaa 😀 😀

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s