Fanfiction/Movie, Ficlet, G

[Ficlet] Movement

img_20160804_125300

by slmnabil

Aku akan mengatakan sesuatu, tapi kau harus berjanji tidak akan tertawa atau menatapku seolah aku  baru menyelesaikan hitunganku soal jumlah bintang yang bersinar malam ini.

*

“Aku Jimin,” katanya.

“Aku tahu,” kujawab.

Ah, sialan. Kalau tahu dia sedang menatapku, aku tidak akan mengangkat wajahku untuk melihatnya. Apalagi sampai membayangkan kalau ia punya nyali untuk langsung menghampiriku begini. Yah, kalau itu aku, tentu aku akan angkat kaki cepat-cepat. Namun rupanya tidak semua orang seperti aku. Toh tidak ada gunanya juga. Bergeming dan mengerjap ketika menghadapi situasi genting tidak begitu berpengaruh untuk dimasukkan dalam riwayat pengalaman kerja.

“Bukankah kau seharusnya memperkenalkan dirimu juga?” tanya Jimin.

“Yah, mungkin aku tidak terlalu umum.” Aku berbeda, namun jenis beda yang sangat biasa, mungkin itu yang seharusnya kukatakan.

“Baiklah, berapa nomor ponselmu?” dia bertanya.

Praktis aku mengerutkan dahi. “Bukankah kau harusnya menanyakan namaku dulu?”

“Yah, aku juga tidak terlalu umum. Lagipula, aku bisa menanyakan namamu lewat satu panggilan telepon.”

Aku hampir mengatakan, “Kau pasti tidak menginginkannya.” Namun, menimbang-nimbang bahwa kali ini aku tidak harus jadi yang mengambil langkah pertama kali, kuberikan saja kombinasi nomor—yang rupanya akan mengubah hidupku selamanya.

*

Aku akan mengatakan sesuatu, tapi kau harus berjanji tidak akan tertawa atau menatapku seolah aku  baru menyelesaikan hitunganku soal jumlah bintang yang bersinar malam ini.

Aku berpacaran dengan Park Jimin dan ini sudah berlangsung selama enam bulan. Kau boleh menganggapnya luar biasa—bagi gadis sejenis aku—karena di waktu-waktu tertentu aku pun berpikir demikian.

“Apa yang kau lakukan sepanjang hari?” tanya Jimin, seraya menyodorkan kap minuman soda.

“Bertahan hidup,” sahutku. “Lebih sulit daripada kedengarannya.”

“Belum ada panggilan wawancara kerja lagi?” Dia menggigit pizanya.

Aku menggeleng. “Sudah kubilang, aku ini ‘orang rata-rata’, Jimin. Pasti selalu ada yang lebih baik dariku sekeras apa pun aku berusaha.”

Kulihat Jimin tersenyum miring. Aku nyaris menghajarnya kalau ia tidak bilang, “Setidaknya kau unggul dalam satu hal.”

“Apa?”

“Kau tidak tahu seberapa banyak perempuan yang mendekatiku di tempat kerja, tapi tetap saja aku menghiraukan mereka untuk seorang pengangguran.”

Aku tidak bisa tidak merona—meski secara tak langsung ia mengejekku juga. Tapi, ia tidak memaksudkan poin utamanya ke arah sana, ’kan?

“Kau baru saja menghancurkan masa depanmu, kau tahu itu?”

Jimin mengangkat bahu. “Kurasa tak ada ruginya.”

—end

Iklan

6 thoughts on “[Ficlet] Movement”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s