Fanfiction/Movie, Ficlet

[SONG-FIC] Awake

lala-2

Awake

A story by Elisomnia

|| Cast: [BTS] Kim Seokjin, [OC] Kim Seokbin | Genre: AU, Brothership, Drama | Rating: G | Duration: Ficlet ||

.

.

“Aku sering mendapatinya terjaga hingga pagi buta.”

.

.

Cerita lainnya dengan tema serupa: Recordatio

.

.

.

Coba tebak, seberapa girangnya aku saat kakakku mengatakan lewat telepon bahwa ia akan pulang pada liburan natal kali ini. Bahkan aku sampai melompat-lompat di atas sofa ruang tamu ketika mengetahui dirinya akan membawa banyak oleh-oleh dan bahan makanan dari Seoul. Bayangkan saja apa yang akan terjadi jika ibu dan kakakku yang hobi memasak itu bertemu. Ah, natal tahun ini pasti akan sangat istimewa.

Aku tahu karirnya sebagai seorang penyanyi papan atas sedang meroket. Wajahnya menghiasi semua channel televisi dan majalah gosip. Gadis-gadis remaja selalu membicarakannya. Aku juga tahu jadwalnya kian hari kian padat, dan kemungkinan kami untuk bertemu kian menipis. Itulah mengapa aku sangat merindukannya dan menanti kepulangannya.

Sosoknya yang periang menghantarkan kehangatan kepada kami semua. Jiwa sosialnya yang tinggi menjadikannya kesayangan banyak orang. Kak Seokjin-ku benar-benar hebat. Dia bisa membuat semua orang mencintainya dengan caranya sendiri.

***

Hari ini adalah hari Sabtu, itu berarti sudah seminggu sejak kepulangan Kak Seokjin, dan entah mengapa aku merasa ada yang aneh dengan dirinya sekarang. Memang sih, dia akan tertawa lebar saat seluruh keluarga kami sedang berkumpul bersama pada jam makan siang. Namun saat malam menjelang, tak jarang kulihat sinar di wajahnya meredup, tingkahnya akan terbatasi, dan senyum simpul menjadi balasan bagi orang-orang yang mengajaknya bicara. Yang lebih aneh lagi, aku sering mendapatinya terjaga hingga pagi buta.

Kali pertama aku mengetahui hal ini adalah pada malam setelah perayaan hari ulang tahunnya. Aku yang terbangun karena haus melihat kakakku berdiri di samping jendela besar dekat perapian. Di antara balon warna-warni dan kertas hias yang belum sempat dirapikan, ia menatap melalui kacanya yang berembun sambil memakan kue cokelat sisa pestanya. Aku sempat berpikir, ada apa dengan dia? Apa yang sedang ia perhatikan?

Hujan salju turun dengan lebatnya di luar sana. Beberapa bahkan sampai menumpuk di pinggir jalan dan menutupi hampir separuh dari kaki bangku taman di depan rumah. Lihat, apa yang sedang dipikirkan Kak Seokjin sampai-sampai tidak menyadari aku yang sudah berdiri di sampingnya––memperhatikan gurat wajahnya. Air mukanya tampak serius. Senyum manis yang biasanya ia tunjukkan kepada semua orang seolah sirna. Dari mata sendunya aku tahu kakakku sedang banyak pikiran. Aku khawatir.

Baru ketika aku menepuk bahunya, Kak Seokjin tersentak kaget. Ia membalas tatapan cemasku dengan begitu lembut. Saat kutanya kenapa ia hanya tersenyum simpul. Lagi-lagi senyum itu.

Selepas malam itu, aku jadi sering menangkap basah dirinya yang selalu berlaku aneh. Tempo hari, musik hip hop dan dentuman-dentuman kecil samar-samar kudengar dari kamarnya yang berada tepat di sebelah kamarku, dia menari, pikirku. Berulang kali ia berusaha membuat musik melalui mulutnya yang hanya terdiri dari suara bum, tak, bess. Kadang, aku lihat tubuh gagahnya teronggok di sofa ruang keluarga, merenung di tengah keremangan lampu meja kecil sebelah gagang telepon. Atau, dia juga akan melatih kemampuan vokalnya seperti sekarang ini.

Nada-nada rendah yang bertempo pelan dan halus lambat laun berubah menjadi rintihan memilukan. Di atas ranjang empuk, ragaku berguling kesana-kemari mencari posisi yang nikmat. Namun semua usaha itu agaknya sia-sia saat aku kembali pada posisiku semula––terlentang. Mata lelah yang sialnya menolak untuk terpejam ini beralih menuyusuri langit-langit kamar yang berdebu. Menerawang jauh pada sesuatu yang tak pasti.

Dalam kesunyian malam, suara Kak Seokjin terdengar seirama dengan lantunan orkestra kawanan jangkrik juga katak. Oh astaga, Kak Seokjin sudah keterlaluan sekarang. Jam digital berbentuk bebek di atas nakas menunjukkan angka 03.17, dan teganya kakak kesayanganku itu membuatku tak bisa tidur semalaman ditemani nyanyian menyedihkan miliknya.

Setelah menepuk keras ruang kosong di sampingku, aku lantas beranjak dari kasur. Aku sudah tidak tahan lagi. Tak ada yang bisa menandingi amarahku saat ini. Kalaupun ada, itu pasti peristiwa beberapa tahun lalu dimana Kak Seokjin dengan tak berdosanya merusakkan keyboard komputerku hingga semua datanya hilang tak bersisa.

Brakk!

Kim Seokjin menatapku kaget dengan kedua mata kelerengnya. Seakan menimang-nimang alasan apa yang membuatku datang kemari. Kudatangi tempatnya berpijak lalu ikut duduk di tepian ranjang tepat di sampingnya. Tak ingin menggunakan kekerasan, aku pun berbisik,

“Tolong kecilkan suaramu, Kak!”

Entah apa yang ada di pikirannya sekarang yang malah membuatnya tersenyum aneh. Bukan sekali dua kali aku melihatnya tersenyum seperti itu, namun menurutku yang satu ini benar-benar membuatku takut. Apa aku salah bicara? Apa perkataanku barusan menyinggung perasaannya? Biar bagaimana pun, dia adalah kakak kandungku.

“Kak, kau tak apa?”

“Aku baik-baik saja.”

Oh syukurlah, ku pikir dia menjadi bisu setelah beberapa hari selalu mengumbar senyum manis. senang rasanya mendengarnya bersuara kembali––walaupun hanya sedikit.

“Aku hanya sedang berpikir, Seokbin-ah.”

Detik demi detik berlalu, suara ketukan jarum jam menggema ke seluruh penjuru kamar. Selagi menunggu Kak Seokjin melanjutkan kalimatnya, aku memilin-milin ujung kaos putih kedodoranku. Di bawah sana, jemari-jemari kakiku bergerak tak tenang. Aku baru saja mendengar nada serius dari setiap kata yang terlontar dari mulut Kak Seokjin, dan itu membuatku gugup.

“Berpikir tentang bagaimana caranya untuk terbang.”

Tunggu, Kak Seokjin bilang apa? Terbang? Hah, memangnya dia burung? Mana mungkin manusia bisa terbang.

“Aku ingin bisa menyentuh langit, tapi mereka mengatakan kepadaku untuk tidak usah melakukan hal yang mustahil aku lakukan.”

Di bawah sinar biru rembulan yang membias melalui jendela kaca, aku dapat melihat butiran bening menggenang di pelupuk mata Kak Seokjin. Beberapa sudah mengalir menuruni pipi tembamnya.

“Kau tahu Seokbin-ah? Aku selalu ingin bermimpi lebih, namun nampaknya mereka tak percaya padaku––lebih tepatnya tidak percaya pada kemampuanku. Meskipun begitu, aku akan tetap bejuang. Mengusahakan yang terbaik sebanyak yang aku bisa.”

Aku menggigit bibir bawahku saat mengetahui arah pembicaraan kami. Tak dapat kutahan lagi air mata yang melesak keluar. Orang-orang jahat mana yang tega mematahkan sayap kakakku, mematahkan semangat bermimpinya.

“Daripada menjadi yang nomor satu, aku hanya ingin sebuah pengakuan. Aku ingin mereka tahu bahwa aku bisa.”

“Itu kah sebabnya kau berlatih sepanjang malam?”

Kutatap dalam matanya yang mulai membengkak. Terlihat jelas bagaimana orang-orang itu meninggalkan luka untuk kakakku. Mengukir goresan demi goresan yang semakin lama semakin dalam. Tak dapat kubayangkan seperti apa sakitnya saat menyadari bahwa selama ini Kak Seokjin memendam semua itu sendirian.

“Kak Seokjin, tidak usah memikirkan mereka yang membencimu, mereka yang mencelamu setiap saat hanya untuk mencari kekuranganmu tanpa melirik kelebihanmu. Jika kau terlalu fokus dengan mereka semua, kapan kau akan melihat kami? Kami yang selalu ada di sisimu untuk mendukungmu. Jangan lupakan juga para penggemarmu yang selalu memberikan cinta. Banyak orang yang menyayangimu dan percaya padamu, Kak. Jadi, janganlah ragu dan tetaplah mencoba.”

Malam itu kami habiskan untuk berbicara tentang banyak hal dan menangis bersama. Nenek yang menemukan kami tidur satu ruang tersenyum sambil mengguncangkan tubuh kami bergantian, berusaha membangunkan adik dan kakak yang masih terlelap saat matahari mulai tinggi. Beliau berkata, ibu mengomel karena keterlambatan kami di meja makan. Seharusnya anak muda tidak bangun terlambat, katanya. Aku tidak menyesal bangun terlambat jika itu menyangkut kebersamaan dengan kakakku. Entah sejak kapan mengobrol dengan Kak Seokjin menjadi sangat menyenangkan seperti ini. Aku harus sering-sering melakukannya.

 

 

 

fin.

 

Halo, adakah yang rindu dengan Elis?
Hehe, maaf ya jarang nongol, sibuk sih /halah alasan/

Sebenarnya ff ini pengen ku post pas ultahnya Seokjin tapi karena banyak halangan jadinya nggak bisa deh. Intinya ff ini kupersembahkan untuk Kim Seokjin yang sering mendapat kritikan pedas bin kejam dari netizen (?) huhu T.T
Maaf sekali untuk segala kekurangannya karena aku bikin ff ini dengan segala keterburu-buruan. Tolong reviewnya ya J

Oh iya, selamat tahun baru semua! Harapannya semoga kita––aku, kamu,IFK–– selalu menjadi lebih baik kedepannya.

Love, Elis

Iklan

1 thought on “[SONG-FIC] Awake”

  1. Halo Elisomnia….Walaupun Saya enggak tahu lagunya, namun saya bisa menangkap inti ceritamu hehehe…Menjadi seorang idola memang berat dan harus siap dengan berbagai macam pespektif dari banyak pihak.

    Bahasa ceritamu ringan, cocok untuk bacaan di siang hari yang sejuk ini. Terus berkarya di IFK yaaa heheheheeh

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s