[Drabble-Mix] Happy New Year! (Vol.3)

elfxotic12152  present

20 short films with Monsta X & Seventeen X readers

Romance, slight!Fluff, slight!Comedy, slight!Sad, Friendship |  Drabbles (100 Ws) | General

.

Ini sudah  tahun 2017!

.

Joshua menggenggam tanganmu pelan-pelan—kentara sekali dia gugup. Padahal ini bukan pertama kalinya duduk bersama di bawah satu selimut tebal seperti sekarang. Tapi pada akhirnya kamu bersyukur dia menggenggam tanganmu erat.

“Kamu mau menghitung mundur sampai jam dua belas seperti yang di film-film apa tidak?” dia menawarkan.

“Kamu mau?”

“Yah,” dia mengedikkan bahunya pelan, “Tidak buruk, ‘kan?”

Kamu tertawa kecil, tapi tatapannya yang fokus ke matamu membuatmu terdiam. Kalian sangat dekat satu sama lain, tapi begitu Joshua mengambil inisiatif, sebuah kembang api meledak, menandakan datangnya tahun baru.

“Tuh, ‘kan, terlewat,” katamu.

“Masa bodoh dengan kembang apinya.”

Kemudian Joshua menciummu lembut.

***

Kamu berdiri gugup, orang yang dari tadi kautunggu belum datang. Kemudian, tepat saat orang-orang di tengah lapangan mulai menghitung mundur pergantian tahun, ada yang berteriak.

“Oy!”

Kamu menoleh, menemukan dirinya terengah-engah setelah terburu-buru mendaki bukit. Harusnya dia pelan-pelan saja.

“Maaf aku datang terlambat.”

Dia meminta maaf, tapi itu belum cukup untukmu—belum cukup untuknya. Dia kemudian memelukmu erat, dan wangi tubuhnya yang kaurindu menguar.

“Aku minta maaf, ya?” dia berkata lagi.

Kamu mengangguk pelan dalam pelukannya. Dan, masih memelukmu, dia berkata, “Aku, Jeon Wonwoo, janji tidak akan telat lagi seumur hidupku. Kalau aku telat, aku janji bakal langsung menikahimu saja.”

***

Seonbae! Di sini!”

Kau melambai, dan Hyunwoo langsung menghampirimu. Senyumnya masih ada waktu dirinya berhenti dan dia dengan canggung berdiri di depanmu.

“Di sini saja?”

Kau mengangguk.

Kemudian, kembang api berkejar-kejaran di langit. Warnanya sangat indah, sangat bahagia—sama seperti yang kaulihat waktu pertama kali menggenggam tangan Hyunwoo.

“Wah…” bisikmu.

Dia menoleh, tapi kauyakin hanya sampai situ saja. Sejauh ini, itu yang dia lakukan—menoleh, dan tersenyum.

Tapi tidak kali ini.

Dengan kecanggungan khasnya, dia meraih tanganmu pelan-pelan, kemudian menggenggamnya. Kau tahu dia malu, karena dari sudut matanya, seniormu itu sedang menunduk dalam-dalam, dan tersenyum untuk dirinya sendiri.

***

Sudah kubilang aku tidak bisa datang.”

“Kukira kamu bercanda, tahu, Hansol. Soalnya waktu itu kamu menjawabnya sambil bercanda.”

Aku serius. Aku sibuk sekarang, kututup, ya?

Belum sampai kamu membuka bibir untuk menjawab, sambungan telponnya sudah diputuskan oleh pacarmu. Kemudian, sebagai pelampiasan, kaubuka satu kaleng bir dengan kasar.

Orang di lapangan tidak membantu, mereka membuatmu iri karena sebagian besarnya adalah pasangan. Hatimu sedang merutuk kesal waktu ada tangan yang menutupi pandanganmu.

“Tebak siapa?”

Kau tidak menjawab, melainkan langsung memutar tubuhmu dan memeluk orang itu. Orang itu juga tidak keberatan; dia tertawa lepas dan berkata, “Bodoh. Sudah pasti aku mendatangimu, tahu.”

***

“Mingyu, cepat sedikit, dong,” ujarmu. Meskipun tanganmu di pinggang, dan nadamu terdengar kesal, masih saja anak itu tidak bisa diburu-buru.

Waktu sedang sibuk-sibuknya mengomel ke anak super malas itu, tahu-tahu kembang api meledak. Kau memutar diri. Langitnya gelap, tapi kembang apinya berwarna-warni.

“Wah, cantik kembang apinya.”

Mingyu, yang akhirnya ada di sampingmu, memprotes.

“Cih,” katanya.

“Apa? Kamu mau bilang, ‘tapi lebih cantik kamu’, begitu?” kamu menyela.

“Tadinya, sih,” dia memeluk pundakmu, “Tapi, kamu sudah tahu, ‘kan?”

“Iya. ‘Kan, sudah dari dulu.”

“Cih, anak ini percaya diri sekali,” katanya kesal. Dia lalu menciummu cepat. “Tapi, tidak apa-apa,” katanya, “Soalnya kamu cantik”

***

“Masa’ kita di sini? Kembang apinya tidak terlihat, dong,” protesmu.

Ide gila apa yang menghampiri  Hyungwon waktu kamu bilang, “Aku mau ke kampus. Bakal ada kembang api,” yang membuatnya menahan kalian di mobil.

“Terlihat, kok. Janji, deh.”

“Kamu, ‘kan, kalau janji dilanggar terus.”

“Kok, tahu?” katanya tanpa malu.

Kamu lalu memandang keluar jendela. Benar katanya, memang kelihatan—tapi  jauh. Kemudian, pantulan di kaca memperlihatkan sesuatu yang bersinar. Kau menoleh.

“Ini cupcake ‘minta maaf’ soal ulang tahunmu, sekaligus ‘selamat tahun baru’ dariku,” katanya mempersembahkan cupcake dengan lilin kembang api. “Aku buat sendiri, jadi mungkin rasanya unik. Tapi, terima saja, ya?”

***

Malam ini, Seungcheol sudah memenangkan semua hadiah yang ada di bazar kampusnya. Yang belum dimenangkannya cuma hatimu—tapi dia sudah siap.

Dia menatapmu mantap, meskipun kamu pura-pura tidak melihat. Kemudian ayunan tanganmu saat berjalan terhenti begitu saja.

Ada yang menggenggam tanganmu.

Tangannya terlepas, meninggalkan sepotong kertas kecil di tanganmu. Matamu mampir untuk melihat wajahnya, tapi sekarang dia yang pura-pura tidak melihat.

Kamu mau melihat wajahku tiap hari, ‘kan?

Ya—kita pacaran.

Ya💖💖—kita pacaran.

Kau tersenyum lebar membaca tulisan tanganya yang khas. Kemudian ia menggandengmu lagi. Waktu kau melirik wajahnya, di sana juga sedang ada cengiran tolol seperti milikmu.

***

“Yang itu?” tanyamu.

“Itu domba sedang dicukur,” Kihyun berkata asal.

Di tempat kalian sekarang, orang tidak meledakkan kembang api. Entah alasannya apa—tapi kausyukuri karena malam ini cuacanya cerah. Kihun dan dirimu berbaring beralaskan kemejanya, dan sudah bermain tebak rasi bintang sejak—entah, dua jam, sejam yang lalu?

“Kalau yang itu?” tanyamu lagi.

“Itu…”

Dia berpikir lebih lama dari sebelum-sebelumnya.

“Itu hatiku sedang dipanah Cupid,” katanya. “Makanya aku mabuk cinta seperti ini sekarang.” Dia menatapmu sambil tersenyum sangat manis waktu mengatakannya.

“Kihyun,” katamu.

Dia mengeluarkan ‘hm’ pelan, menantikan reaksimu.

“Itu menjijikan, tahu,” katamu akhirnya.

***

Di sampingmu, Seokmin diam. Tapi kamu tidak marah, karena itu bukan salahnya sama sekali—siapa yang bisa disalahkan kalau suaranya habis karena menyanyi semalaman di malam sehari sebelum tahun baru?

“Kamu tahu tidak, sih, ini konyol sekali. Masa’ yang lain menonton kembang api di luar, kamu malah menyusup masuk ke asramaku begini?”

Dia tidak bisa menjawab. Bukannya bangkit setelah kausindir, dia malah semakin mendekatkan dirinya denganmu. Napasnya terasa hangat di bahumu. Kamu tidak tahu dia sudah tidur betulan atau hanya pura-pura saja, tapi matanya terpejam.

“Ya, sudahlah,” katamu pelan, tanganmu mengelus kepalanya. “Istirahat yang banyak, biar bisa menyanyi untukku lagi.”

***

“BOO SEUNGKWANG, KAMU SEDANG APA?!”

Si pelaku langsung diam. Pipinya menggembung karena usahanya meniup balon terganggu oleh kehadiranmu. Dia tahu dia salah—terlihat dari caranya mengeluarkan ujung balon dari mulutnya.

“Aku bisa jelaskan—“

“Iya, sebaiknya kamu jelaskan sejelas-jelasnya.” Kamu serius barusan, karena apapun tujuannya, sebaiknya bagus, karena sudah mengacak-acak ruang latihanmu.

“Aku…” dia bicara, tapi terhenti—sepertinya berpikir. “Kukira kamu kesepian karena malam tahun baru malah berduaan dengan French horn-mu di sini, jadi aku mau mengadakan kejutan kecil?”

Bagian terakhirnya terdengar tidak yakin. Tapi alasan itu sudah bagus untukmu.

“Aku juga bawa makan, kok. Jangan marah, ya?”

***

OPPA! RAMBUTMU KENAPA?!”

Jelas kamu kaget. Jeonghan tahu-tahu datang membawa motor, bunga, dan rambutnya pendek. Jelas kamu kaget. Apalagi sekarang dia terlihat sangat… jantan?

“Kenapa? Ini tahun baru, ‘kan?”

“Jadi kenapa kalau tahun baru?” kamu bertanya, belum lepas dari keterkejutan. Kamu mendekati motornya. Waktu tanganmu bergerak hendak memakai helm, dia menahannya.

“Soalnya, kalau rambutku panjang, tidak ada yang percaya kalau aku pacarmu. Nanti, kalau ada cowok yang mendekatimu lagi, biar mudah kuusirnya.”

Kemudian, dia mengecup keningmu.

“Nah, pakai helmmu sekarang. Nanti kita ketinggalan kembang api.”

Kamu merasa beruntung harus memakai helm, karena kamu bingung harus bilang apa soal merah-merah yang ada di mukamu sekarang.

***

“Kalau aku membelikanmu anak anjing, mau tidak?”

Kamu menggeleng.

“Kalau hamster?”

Geleng lagi.

“Kalau landak?”

Kali ini kamu menatapnya kesal.

“Aku serius tidak tahu harus memberimu kado apa.” Dia menghempaskan diri ke sandaran sofa. Di sampingnya, kamu menghela napas.

“Aku tidak perlu kado, tahu.”

“Iya, tapi aku ingin memberi.” Dia bergumam kecil sendiri, kesal tanpa alasan jelas. “Ah, kenapa, sih, kamu ulang tahunnya bersamaan dengan tahun baru?”

Kamu tidak menjawab. Untuk apa menjawab hal begituan?

“Kalau gitu, karena aku belum tahu harus membeir kado apa—“ dia mencium pipimu cepat empat kali berturut-turut, “—ini dulu, ya? Kado betulannya menyusul.”

***

“Semoga tahun ini kamu jadi tambah cantik.”

Kalian berdua mengamini doanya.

“Semoga tahun ini oppa tambah tinggi.”

Meskipun dirinya melemparimu dengan tatapan kesal, kalian berdua mengamini doamu.

“Semoga tahun ini aku tidak usah sibuk-sibuk mengurusi klub biar aku bisa mengurusi dirimu sendiri.”

Kalian berdua mengamini doanya.

“Semoga,” dia melanjutkan, “Aku cepat lulus, punya team sendiri, lalu punya banyak uang. Biar bisa cepat-cepat membelikanmu cincin yang waktu itu kamu tunjuk-tunjuk di majalah pernikahan.”

“Cuma dibelikan cincin saja?” kamu memancingnya. Sebetulnya kamu sendiri tidak bisa membayangkan seberapa senangnya dirimu dibelikan cincin.

“Iya. Habis itu nanti kita langsung menikah.” Dia menatapmu. “Masih kurang?”

 

(p.s: untuk orang yang gangerti clue-nya, ini Woozi)

***

Bocah Cina di depanmu masih menangis sejak sejam yang lalu. Dirimu tidak bisa hanya diam saja melihatnya menumpahkan banyak  air mata—bisa-bisa matanya bengkak.

“Sudah, sudah.” Kamu mengelus kepalanya pelan.

“Y-ya, kamu yang sudah,” katanya kesal sambil berusaha terlihat seram—yang jelas gagal karena mukanya terlihat lucu. “Untuk apa kamu bilang ‘Minghao, kita putus’ seperti itu?”

“’Kan, sudah kubilang, aku sedang main dengan temanku.”

“Mainanmu tidak seru,” katanya kesal. Napasnya masih sesenggukan, tapi tangisnya sudah selesai.

“Iya, maaf.”

Kamu menunduk menyesal. Dirinya kemudian berdiri dan memelukmu.

“Iya, kumaafkan. Jangan ulangi lagi, ya—kalau tidak, bisa-bisa aku menangis lebih parah dari ini.”

***

Sudah kamu buka belum?

“Sudah,” katamu sambil melihat isi paket dengan nama pengirim ‘Lee Minhyuk’.

Ada satu kembang api yang berubah jadi kupu-kupu kalau meledak, camilan aku lupa apa namanya yang kamu suka sekali, terus juga ada kembang api kecil-kecil—mungkin kamu mau main dengan Changkyun atau siapa—terus juga ada—,”

Oppa,” selamu.

Apa?

“Aku tahu oppa berusaha, tapi tetap saja kalau oppa tidak di sini, tidak seru.”

Iya, aku tahu.” Dia kedengaran menyesal. “Maaf, ya.

“Iya, tidak apa-apa.” Kamu kemudian bertanya, “Oppa, di sana sudah tahun baru belum?”

Sudah dari tadi,” katanya.

“Kalau begitu, selamat tahun baru, oppa.”

***

“Lee Chan dimana?” tanyamu.

“Tidak tahu,” kata tiap orang yang kautanya.

Mengurus acara akhir tahun kampusmu sudah berat, anak itu pakai hilang. Waktu acara selesai, kamu mendatangi stan makanan. Tempat itu pelayannya tidak terlihat, tapi kamu tahu pasti ada, makanya kamu berteriak, “Ramyeon pedas satu, ya!”

“Ya,” pelan terdengar.

Kemudian kamu kesal-senang-marah-terkejut setengah mati waktu Lee Chan keluar mengantar pesananmu.

“Dasar. Anak. Ini,” katamu sambil memukulnya di tiap akhir katamu. “Untuk apa kamu di sini?” tanyamu.

“Aku memang jaga di sini—aku belum bilang?”

“Belum.”

“Ya, sudah. Makan. Aku tahu itu pesananmu makanya aku tambahkan sedikit ‘cinta’.”

“Apa, sih, menjijikan.”

***

“Hai.”

“Hai, juga,” balasmu canggung.

Jun memang membuatmu meleleh tiap senyumnya kaulihat dari jauh, tapi jelas membuatmu membeku kalau dekat-dekat begini.

“Kamu, uh…”

Dia tidak melanjutkan kata-katanya, tapi langsung melepas jaketnya dan diberikannya padamu. Dia kemudian tersenyum canggung sebelum menggosok lengannya—kedinginan.

“Jun, kalau kamu kedinginan—“

“Tidak, tidak apa-apa. Buatmu saja.”

Kalian kemudian saling diam. Dia menoleh ke kanan-kiri sebelum bicara.

“Aku baru tahu dari Seokmin, katanya kamu… aku…”

Dia tidak melanjutkan, hanya menunjuk dirinya dan dirimu bergantian.

Tuh, ‘kan, pikirmu, Harusnya aku jangan percaya Seokmin.

“Kenapa kamu tidak bilang dari dulu? Padahal aku juga.”

***

Soonyoung dan mata sipitnya sudah menunggumu waktu kamu memasuki ruang kelas yang kosong. Jelas kosong, semua orang sedang di lapangan.

“Untuk apa kamu memanggilku ke sini? Kembang apinya di luar, tahu.”

Dia tersenyum. Kemudian, dengan terburu-buru, dia memberimu sleeping bag. “Sini, sini,” katanya. “Kalau kita tidur dekat jendela, nanti setelah lihat kembang api kita bisa langsung tidur.”

Omong kosong.

Waktu dirimu sibuk mengagumi kembang api, dirinya sudah mendengkur pelan di sampingmu.

“Dasar.” Buku tanganmu memukul pelan sisi dahinya. Tapi kemudian, kaucium bagian yang tadi kaupukul.

“Tidur yang nyenyak, ya.”

***

“Tunggu sebentar, jangan buka mata dulu.”

Di belakangmu ada suara pintu tertutup. Kemudian lampu dinyalakan tiba-tiba. Lalu tangannya membuka penutup matamu.

Ta-da,” katanya senang.

Dan dia benar—benar-benar ‘tada’ yang ada di depanmu. Teddy bear setinggi dua meter memang sudah sejak lama ada dalam wish-list-mu. Dia dengan bangga berdiri di samping teddy bear-nya.

“Nih, buatmu.”

Kamu segera saja berlari, masuk ke pelukan teddy bear itu, kemudian berbaring di atasnya. Lalu, Jooheon bergabung di sampingmu.

“Karena dia yang bakal memelukmu di malam-malam biasa, sekarang biar aku dulu, ya?”

Dia tidak menunggu jawaban, dia langsung memelukmu dan berbisik, “Selamat tahun baru.”

***

Changkyun gila.

Dia menggeret kasurnya keluar rumah, dan ditaruh begitu saja di atas lahan kosong agak jauh dari kampus kalian. Itu semua cuma untuk berbaring bersamamu di penghujung tahun.

“Kenapa tidak sekalian bawa rumah ke sini?” sindirmu.

“Sudah, tidak usah protes.”

“Padahal kalau kamu cuma bawa tikar saja aku sudah bersyukur.”

“Tapi, dimana enaknya?”

Kamu bergumam. Kemudian, waktu satu kembang api sudah dilepas, dia menggenggam tanganmu. Biasanya, kembang api akan menyita perhatianmu—tapi kali ini Changkyun mengalahkan kembang api. Kautatap wajahnya saat dia sudah terlelap, dan tersenyum.

Dan begitulah 2016 berakhir untuk kalian.

FIN.

YAY SELAMAT TAHUN BARU (3)

Oke, aku tau aku super males taun ini, makanya ayo berdoa kita semua lebih produktif. Aku bukan orang yang pilih kasih makanya semua aku kasih hidup bahagia mereka sendiri-sendiri:”D

Pergi dulu—ppyong!

Zyan

Iklan

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s