[EX’ACT] Monster (pt.2/END)

images-36

EXO 3rd Album EX’ACT tracklist series by Liana D. S.

#2. Monster

EXO Lay, Baekhyun, and NCT Renjun

Dystopia, Friendship, Monster!AU, Twoshots, Teen and Up, related: Lucky One

.

“Aku adalah antinomimu.” (EXO – Monster)

***

Kota Tinggi terluka, membara, dan menjerit ngilu ketika satu persatu penduduknya dihabisi pasukan Bawah Tanah. Sempurna. Lay tidak menyangka serangan kejutan mereka benar-benar berhasil menyentak Kota Tinggi agar bangun dari mimpi indah tentang kejayaan. D.O memang luar biasa: kerjanya melumpuhkan sistem keamanan Kota Tinggi dari jauh dan menyembunyikan benih pemberontakan Kaum Pekerja sudah jauh lebih baik dibanding sebelum ia ditahan dalam Penjara Mimpi. Kalau D.O tidak mampu menemukan kelemahan dari teknologi perang Kaum Atasan, jelas rencana mereka akan mudah terbongkar.

Delapan pasukan menyerang dari delapan penjuru. Dengan kondisi terkepung begitu, Kaum Atasan tidak dapat menghindari pembantaian oleh Kaum Pekerja. Tak peduli mereka penduduk sipil atau militer, semua harus kena dan semua harus mati. Lay, yang pada rencana A sebetulnya hanya bertugas memenggal Bos Besar, kini terjun pula di medan perang utama, pasukannya mengisi posisi pasukan Baekhyun. Sedikit menyebalkan untuknya, bertarung melawan makhluk-makhluk lemah yang sebelumnya merendahkan golongannya, jadi ia memberikan komando-komando keras untuk mengakhiri ‘pertempuran kecil’ ini secepatnya. Teriakan-teriakan sekarat bagaikan lagu sumbang yang mengiringi Lay menuju Istana, kediaman sang tiran, selagi ia berpesta di atas wajah-wajah ketakutan para korbannya, menikmati bagaimana ia akhirnya berhasil memutar roda kehidupan Kaum Pekerja.

“Aku, Kai, dan Sehun sudah mencapai gerbang Bos Besar. Perimeter Istana telah kami bersihkan, kapan kau datang?”

Suara Chanyeol terdengar dari alat komunikasi Lay, mengembangkan senyum puas sang pemimpin. “Aku menyusul. Kalian boleh masuk duluan dan membereskan bagian dalam, tetapi sisakan Bos Besar untukku.”

“Baik. Omong-omong, Chen sepertinya melakukan hal bodoh di area sembilan. Berhati-hatilah.”

Hal bodoh? Lay memeriksa monitor kecil di sisi panel kendali aircraftnya. Tampak titik merah besar di layar dengan kode ‘21’ di atasnya—aircraft Chen—tidak berubah jalur, lurus juga menuju Istana. Namun, tidak seperti yang lain, laju aircraft Chen beserta pasukannya lebih lambat, padahal mestinya di sana jumlah tentara tidak banyak, pun Chen memiliki segala yang dibutuhkan untuk menang. Kendala teknis? D.O tidak akan lalai mempersiapkan pertempuran ini; kemungkinan selip memang ada, tetapi sangat kecil dan tidak mungkin menghambat Chen sebegitu lamanya.

“Lay.”

Ah, ini dia orang yang dibicarakan, panggilannya baru masuk ke alat komunikasi sang pemimpin besar.

“Apa yang menghambatmu, Chen?”

“Tidak, tetapi … apakah kita harus membumihanguskan kota sekalian isinya? Tidakkah kau merasa ini terlalu kejam?”

Ck, keraguan tentang misi di tengah-tengah misi. Lay kira Baekhyun sudah cukup bodoh dengan meragukan keputusannya menghancurkan Kota Tinggi, ternyata ada yang lebih bodoh lagi.

“Jangan bicara macam-macam dan hancurkan setiap Kaum Atasan yang kau temui. Perintahku amat jelas, bukan? Tidak ada tempat untuk ragu-ragu.”

“Ada anak-anak di antara mereka—“

Pet! Lay menonaktifkan sambungan komunikasinya dengan Chen seketika. Buat apa menyampaikan hal yang tidak penting begitu di saat adu senjata sedang panas-panasnya? Bukan hanya anak-anak, Lay juga tahu kalau ada wanita dan orang tua di antara sekian banyak manusia yang mereka renggut nyawanya, lantas apa? Lupakah Chen pada kisah Lay dahulu, mengenai betapa tanpa ampunnya petinggi-petinggi Kaum Atasan hingga tega menghabisi sesamanya? Orang tua Lay, Baekhyun, dan D.O juga bagian dari lingkaran pejabat Kota Tinggi, tetapi toh hidup mereka tetap tamat secara mengenaskan. Bahkan Lay dan kawan-kawan kecilnya yang baru sedikit bersentuhan dengan Bawah Tanah ikut kena imbas dari tindakan orang tua mereka, jadi untuk apa sekarang memedulikan nasib anak-anak yang berada dalam jangkauan ledakan senjata mereka?

Kepala Baekhyun kecil yang berlumur darah dan tangannya yang terulur untuk menolong D.O pada suatu hari di penjara melintasi pikiran Lay kembali. Anak-anak yang sekarang mati itu, pernahkah sebelumnya membayangkan nestapa teman-teman sebaya mereka jauh di bawah? Apa mereka pernah tahu ada anak-anak seumur mereka yang dulu pernah ditahan dan ditewaskan perlahan-lahan? Tidak, tentunya, karena Kaum Atasan mencekoki putra-putri mereka dengan manisan berbalut limbah pabrik dan kebohongan.

Lay, dengan penjagaan beberapa anggota pasukannya, telah tiba di Istana. Bangunan itu lebih kuat dari bangunan-bangunan lain di Kota Tinggi, sehingga tidak mudah dirobohkan dengan bom, tetapi itu tidak masalah bagi pasukan Bawah Tanah. D.O membuka jalan dengan merusak sistem keamanan Istana dari jauh, sehingga pasukan Bawah Tanah dapat mengobrak-abrik lapis demi lapis penjagaan tentaranya. Tinggal Lay yang harus masuk ke sana dan merenggut nyawa Bos Besar dengan tangan sendiri; baginya, itu bukan kerjaan susah, namun sangat mendebarkan sebab memang ke sanalah jalannya yang panjang nan terjal berujung.

Kau melewatkan saat-saat besar, Byun Baekhyun.

Chanyeol benar saat mengatakan bahwa ia, Kai, dan Sehun ‘membersihkan perimeter’ karena saat Lay datang, ia disambut ratusan raga berdarah yang telah kaku di halaman Istana. Di dalam tak jauh berbeda; mayat-mayat anyir tergeletak di sana-sini seakan tidak berharga. Ironis. Dulu, bahkan kaki mereka lebih tinggi dari kepala Kaum Pekerja. Lay menyeringai, menginjak salah satu kepala pengawal Bos Besar yang sudah mati, lalu tertawa. Sekali lagi ia pastikan senjatanya terisi penuh sebelum naik ke lantai tertinggi tempat Bos Besar berada. Dapat ia bayangkan bentangan warna darah Kaum Atasan dengan cita-cita Kaum Pekerja di akhir bentangan itu.

Cita-cita Kaum Pekerja—atau dendamnya yang terbalaskan?

***

“Selamat datang, Lay Zhang. Senang melihatmu kembali setelah sekian lama.”

***

Tidak.

Bukan ini yang Lay harapkan. Mengadakan serangan besar-besaran begini … buat apa kalau bukan untuk menyudutkan Bos Besar? Sayangnya, apa yang kini Lay hadapi tak sesuai ekspektasi. Di atas ‘singgasana’ logamnya yang juga mengandung darah dan air mata Kaum Pekerja, Bos Besar duduk bersantai, salah satu kakinya menginjak kepala Chanyeol yang sudah hilang kesadaran. Yang lebih buruk, tidak hanya Chanyeol yang tumbang; Kai dan Sehun pun terlihat sudah mati di depan tiga orang pengawal Bos Besar.

“KAU APAKAN TEMAN-TEMANKU?!”

Tanpa terkendali, senjata laser Lay menghujani Bos Besar dan para pengawal dengan serangan, anehnya tidak ada yang terjadi. Ada perisai yang membatasi efektivitas serangan Lay … tunggu. Alat yang digenggam Bos Besar itu adalah perangkat buatan D.O yang harusnya hanya melekati pakaian pasukan Pekerja! Bisa dipastikan dari sanalah perisai yang melingkupi Bos Besar berasal. Sangat mungkin Bos Besar menarik perangkat itu dari Chanyeol, Kai, atau Sehun begitu berhasil menjatuhkan mereka, lalu menggunakannya untuk melindungi diri sendiri.

“Jadi, ini teknologi ‘jubah antipeluru’ yang dinaikkan satu tingkat? Kejeniusan Kaum Pekerja memang tak tertandingi.” Bos Besar memainkan perangkat berbentuk empat persegi panjang itu sambil tersenyum sinis. “Pantas saja serangan dari kami seakan-akan tidak pernah mengenai kalian. Yah, tapi biarpun canggih, benda ini sangat mudah dimodifikasi, Lay Zhang.”

Bos Besar mengarahkan perangkat di tangannya pada Lay dan menekan satu tombol.

“AAAH!!!”

Dalam sekejap, Bos Besar melumpuhkan musuh besarnya dari Kaum Pekerja. Lay mengerang, jatuh ke tanah, sekujur tubuhnya dialiri arus listrik yang cukup untuk membekukannya; Bos Besar rupanya mengutak-atik fungsi perangkat itu agar dapat merusak perangkat lain. Salah satu pengawal Bos Besar kemudian menghampiri Lay dan menempelkan moncong senjata lasernya di belakang kepala sang pemimpin Bawah Tanah. Tinggal menunggu komando saja hingga tengkorak itu pecah berserakan.

Angkuh sebagaimana harusnya dia, Bos Besar masih ingin bermain-main dulu. Didorongnya dagu Lay menggunakan ujung pistol laser hingga dwimanik Lay yang memancarkan amarah bertemu dengan tatapan merendahkan sang tiran. Kekehan Bos Besar menyusul tatap merendahkan itu, menyakiti rungu Lay, apalagi selanjutnya, Bos Besar menyinggung-nyinggung soal sesuatu yang sangat Lay benci.

“Aku ingat mata kanak-kanakmu yang dipenuhi ketakutan ketika aku membunuh orang tuamu, Zhang. Tak kusangka, mata ini jadi berbeda sekali dengan dahulu. Waktukah yang mengubahnya?”

Aku yang mengubahnya,” tukas Lay. “Bocah yang dulu kautahu itu sudah mati dalam penjara.”

“Oh? Tapi ketakutan yang ada di matamu masih sama.”

“Aku tidak takut padamu, kembalikan teman-temanku!!!”

Mendengar Lay membentak pimpinannya, pengawal Bos Besar kontan membenturkan kepala Lay ke lantai hingga berdarah. Lay menjerit kesakitan, pandangannya mengabur. Bos Besar meremas rambutnya, mendongakkan kepalanya dengan paksa, dan melanjutkan kalimatnya yang beracun.

“Teman-temanmu sudah mati, begitu pula dengan beberapa orang yang menyertai mereka masuk. Apa kau mengira beberapa kecoak kecil dapat menghabisiku? Apa kau merasa kuat hanya karena telah membunuh para penghuni Kota Tinggi? Mereka dan aku lain, kekuatanku jauh berada di atas mereka, di atasmu, maka usahamu menggulingkanku tidak akan pernah berhasil.

“Sebetulnya, mudah saja bagiku untuk menghabisimu detik ini juga, tetapi aku ingin kau mengingat kekuasaanku bahkan setelah kau mati, jadi lihat ini.”

Dinding dan langit-langit ruangan mendadak berubah menjadi layar-layar raksasa. Dari layar-layar itu, Bos Besar menyajikan keadaan pasukan Bawah Tanah yang sekarang porak-poranda. Lay menemukan kendaraan-kendaraan perang yang tidak pernah ada di Kota Tinggi—dan barulah ia sadar bahwa Bos Besar dibantu oleh beberapa pihak. Bos Besar boleh terlambat mengetahui serangan membabi-buta Kaum Pekerja, tetapi koneksi luas mempermudahnya mengambil langkah berikut. Bertahun-tahun memerintah, ia banyak mengintimidasi daerah-daerah lemah tapi kaya untuk memperluas kekuasaan. Panggilan darurat pada seluruh daerah di bawah kekuasaannya untuk menggempur Kaum Pekerja bukan sesuatu yang susah ia lakukan, terlebih Lay hanya mengandalkan kekuatan militer Kaum Pekerja tanpa meminta bantuan pada pihak luar. Dengan ketiadaan empat dari tujuh pemimpinnya, pasukan Bawah Tanah mulai kocar-kacir, tidak mengantisipasi jalur komunikasi cadangan lantaran terlalu yakin D.O telah memblokir semua jalur.

Rencana Lay, pada akhirnya, berakhir macam sampah.

“Aku sudah menggagalkan pemberontakanmu berkali-kali, Nak. Menghentikan satu lagi semudah membalik telapak tangan buatku, kalau perlu aku akan menghentikan napasmu sekaligus.”

Tidak. Lay sudah membuat perhitungan yang matang: mendeteksi semua jalur komunikasi, memanfaatkan berbagai kelemahan teknologi keamanan Kota Tinggi, mengoptimalkan kemampuan anggota pasukannya, dan memperoleh persetujuan tindakan dari kedelapan pemimpin pasukan, jadi harusnya …

“Si bocah Byun tidak bersamamu? Mau tahu apa yang dia lakukan selagi menghilang?”

… ah.

“Dia bukan lagi bagian dari Kaum Pekerja. Aku bisa menjalankan rencanaku tanpanya, jadi aku tidak membutuhkannya dan tidak peduli lagi padanya,” geram Lay, berusaha agar emosinya tentang Baekhyun tidak terbaca oleh Bos Besar.

“Pengkhianat kecil,” –Kekehan Bos Besar menggema dalam ruangan—“dia berada di pihakku sekarang. Kau akan menemukan wajahnya di antara sekian banyak anggota pasukan bantuan ini.”

Sejak Baekhyun menghilang, dalam hati Lay sudah tersulut api yang tinggal menunggu waktu untuk menghanguskan segalanya. Dengan mengatakan hal ini, Bos Besar telah menumpahkan minyak ke atas jiwa yang sudah panas. Meski tahu ia tak bisa berbuat apa-apa, Lay tetap memberontak dalam cekalan para pengawal tanpa takut pada moncong senjata di bawah dagunya. Segera setelah satu tangannya lolos, ia menyambar pistol seorang pengawal dan mengarahkannya pada Bos Besar.

“BAJINGAN!”

Namun, sebelum Lay sempat menyerang, pistol laser lain melubangi pergelangannya, membuat Lay menjatuhkan senjatanya sendiri dan menjerit kesakitan. Darah yang mengucur tak henti-henti dari pergelangan menumbangkannya sekali lagi. Para pengawal menelungkupkan kepalanya ke lantai, tetapi Lay memaksa diri menengadah untuk melihat siapa yang barusan menembaknya.

Mata Lay melebar begitu menangkap sosok seorang anak, usianya kira-kira tidak lebih dari sepuluh tahun, keluar dari balik singgasana Bos Besar dengan pistol laser di tangan yang terarah padanya.

“Jangan bunuh Kakek.”

Kakek? Jadi, dia …

Seketika dada Lay disesaki perasaan yang bercampur-aduk. Astaga, apa ini? Bukankah Lay sebelumnya menegaskan pada Chen untuk membunuh tanpa pilih-pilih? Tapi sekarang? Bocah yang baru muncul itu terlalu banyak mengingatkan Lay pada dirinya dahulu. Dirinya yang berusaha menyelamatkan apa yang disayang. Dirinya yang takut membunuh, tetapi terpaksa melakukannya untuk bertahan hidup. Dirinya yang mengubah kasih menjadi amarah dan rasa ingin melindungi yang keterlaluan. Ganjilnya, manik bocah itu begitu jernih seolah tanpa dosa, kontras dengan apa yang baru saja ia lakukan.

Mungkin si anak memang tidak berdosa sebab dia cuma tahu melindungi sang kakek, biarpun caranya sedikit kasar.

“Terkejut? Nostalgik; seorang anak laki-laki kecil menembak musuhnya demi menyelamatkan keluarganya. Omong-omong, dia juga yang melumpuhkan tiga temanmu.” Bos Besar melambaikan sebelah tangan, mengisyaratkan cucunya mendekat, dan merangkul si anak dari samping. Gestur itu, sayangnya, tidak mampu mengangkat ketegangan dari bahu si anak; lihat bagaimana ia masih mengacungkan senjata ke arah Lay.

“Kau memanfaatkan perasaannya untuk melukai orang lain. Iblis.”

“Untuk apa aku susah-susah melakukan itu, toh Renjun ingin melindungiku secara sukarela. Benar, kan?”

Anak di samping Bos Besar—Renjun—tidak menjawab, tetapi di matanya ada genangan yang samar, genangan yang mustahil muncul jika air mata tidak meluap, genangan yang mungkin saja memuat kata maaf untuk Lay dan tiga orang lain yang ia tembak. Lay juga dulu menangis karena merenggut nyawa terasa mengerikan, tak peduli si calon korban yang memang pantas mati. Hati Lay mencelus menyaksikan satu lagi anak terjebak dalam situasi sepertinya, tetapi dendam terlanjur melahapnya. Kata dendam, Bos Besar dan cucunya harus mati bersama-sama. Kenangan menentang. Kata kenangan, bunuh saja Bos Besar tanpa membawa serta Renjun. Perdebatan dalam diri Lay tidak menemukan titik terang, sehingga dia bungkam, tidak lagi berupaya melepaskan diri.

Bos Besar merasa ia menciptakan suatu keadaan yang lucu, jadi ia tergelak dan menjatuhkan senjatanya ke dekat kaki Lay. Ia punya rencana busuk untuk memperbaiki atmosfer dalam ruangan; Lay tahu itu segera setelah Bos Besar buka suara.

“Lepaskan dia,” perintah Bos Besar pada anak buahnya. “Ambil pistolku, Zhang. Kau boleh membunuhku kalau mau, tetapi aku yakin kau paham konsekuensinya.”

Melihat peluang ini, Lay bertindak menuruti refleksnya: meraih pistol, kemudian mengarahkannya pada Bos Besar. Renjun terenyak. Ia segera pasang badan di depan Bos Besar, lengannya yang mulai gemetar masih lurus mengacungkan senjata pada Lay.

“Jangan berani-berani membunuh Kakek atau aku akan membunuhmu!”

Konsekuensi yang tadi Bos Besar maksud adalah ini. Lay bisa saja menamatkan dendamnya, tetapi Renjun akan melanjutkan itu—yang berarti Renjun kelak akan hancur perlahan-lahan. Tumbuh bersama dendam teramat pahit; Lay tidak mau seorang pun selain dirinya mengalami hal tersebut, bahkan Baekhyun dan D.O yang sudah dewasa masih ia jaga dari percikan dendam. Masalahnya, Lay tidak punya banyak waktu untuk mempertimbangkan semuanya. Gemuruh aircraft di luar Istana menghebat, pertanda kedatangan pasukan bantuan dari tepian Kota Tinggi ke Istana. Kendaraan-kendaraan tempur itu memang masih belum memasuki area Istana, tetapi waktu yang mereka butuhkan untuk masuk tidak akan panjang. Sulit membunuh Bos Besar setelah pasukan bantuan tiba, jadi mumpung Bos Besar tidak benar-benar dijaga, Lay bisa menembak jatuh dia detik itu juga dan melenyapkan dendam yang menghantuinya sekian lama.

Bunuh.

Tapi napas Renjun yang berdiri di seberang makin tak teratur dan air matanya jatuh. Kening si bocah berkerut, sedangkan jemarinya kini mantap melingkupi senjata yang harusnya tak ia pegang. Ia marah sekarang, semarah Lay dulu ketika menyaksikan Baekhyun disiksa. Sialan, mengapa Renjun bisa sesayang itu pada seorang penguasa lalim yang merusak masa depan ratusan ribu penduduk Bawah Tanah?

“Renjun-ku yang malang. Jika aku mati, dengan siapa kau akan hidup dan belajar?”

“Terkutuk! Kau tidak pantas membesarkan seorang manusia, Iblis!”

Lay boleh saja berpendapat demikian, kenyataannya Renjun lebih mendengarkan Bos Besar dibanding dirinya. Setengah sadar, Renjun menembak Lay, untungnya ia tidak terlalu fokus hingga serangannya hanya menyerempet sisi tubuh sasaran. Bukan berarti tidak signifikan; luka Lay bertambah satu akibat serangan tersebut.

“Apa ini? Aku memberimu kelonggaran untuk menuntaskan dendammu dan menyelamatkan Bawah Tanah, sekarang kau malah mematung. Ayo, bunuh aku.”

***

“Dengan senang hati.”

***

Seberkas sinar laser menembus dada Bos Besar dari belakang, mengoyak jantung, mengucurkan darah yang terciprat ke rambut Renjun. Ketika Bos Besar tumbang, baik cucunya maupun Lay segera mengalihkan pandang pada seseorang di balik punggung sang tiran. Raut ngeri Renjun kontras dengan tatapan nanar Lay pada orang ini, dia yang katanya berkhianat, dia yang membuktikan bahwa ucapan Bos Besar sebelumnya pada Lay cuma gertakan, tipuan.

Senjata Renjun segera berpindah target, tetapi secepat itu pula sang target bergerak. Pistol di tangan Renjun direbut, tubuhnya dientakkan kasar, dan tahu-tahu kepala Renjun telah tertelungkup di atas lantai. Para pengawal kalah cekatan dengan orang baru ini, napas mereka lantas terhenti dalam tiga tembakan. Ujung pistol laser si orang baru selanjutnya terarah ke belakang kepala Renjun yang masih ditahannya agar tetap tertelungkup.

“Jangan!”

Lay tidak tahu mengapa ia mendadak tak ingin menghabisi Renjun, terlepas dari fakta bahwa anak itu merupakan satu dari Kaum Atasan. Orang baru ini mengetahui betapa besar kebencian Lay pada Kaum Atasan, karenanya ia menatap Lay heran dan bertanya dingin.

“Membunuh seluruh Kaum Atasan adalah keinginanmu, Kak. Anak ini cucu Bos Besar, berarti dia termasuk dalam daftar calon korbanmu, bukan?”

Cairan merah anyir terus memancar keluar dari raga kaku Bos Besar, genangannya meluas hingga mencapai sisi tubuh Renjun. Lay mendengar jerit tangis si anak yang begitu menyayat, memanggil kakeknya tanpa henti, memancing parau perintahnya pada pemuda bertindik pembunuh Bos Besar.

“Lepaskan anak itu, Baekhyun!”

“Tidakkah anak ini layak mati?” Telunjuk si pemuda bertindik—Baekhyun—amat dekat dengan tombol yang dapat melubangi kepala Renjun bila ditekan. “Mengabaikan derita kita kaum rendah, melindungi seorang penjahat besar, dan hampir membunuhmu. Dosanya banyak sekali di usia semuda ini, harus dihukum.”

“Baekhyun!”

Crat!

Giliran sebelah kaki Lay yang Baekhyun lubangi dengan pistol laser, membuat Lay ambruk sambil mengerang kesakitan. Setelah itu, Baekhyun memukul tengkuk Renjun, ‘menidurkan’ si anak, barulah kemudian ia dapat meninggalkan bocah itu untuk bicara dengan Lay.

“Tidak. Kau tidak membunuh anak itu, kan?”

“Jangan khawatir, dia hanya pingsan. Kondisinya tidak stabil, makanya mudah dibuat tak sadar. Anak sekecil dia butuh menenangkan diri setelah didera macam-macam emosi, kau pun sama. Kau harus mengistirahatkan benakmu dari urusan dendam ini dan kurasa aku telah menyelesaikannya untukmu.

“Tapi apa yang kaudapat dari balas dendam sesungguhnya, Kak?”

Apa? Sebelum ini, Lay mengira dirinya akan sangat puas usai merenggut nyawa Bos Besar. Nyatanya? Ia malah terluka lebih dalam sebab ia tahu bocah yang terkapar menyedihkan di seberang akan tenggelam pula dalam dendam. Kini ia sadar bahwa pembantaian besar-besaran ini adalah sesuatu yang brutal, yang malah meneruskan lingkaran dendam alih-alih memutusnya. Ia baru paham mengapa Chen ragu, D.O memintanya memikirkan ulang semua, dan Baekhyun tanpa basa-basi menarik diri dari rencana.

Tidak mendapat jawaban atas tanyanya, Baekhyun memborgol tangan Lay, mengagetkan sang pemimpin Bawah Tanah seketika.

“Baekhyun, apa yang kaulakukan?!”

“Dewan Dunia mendengar kita jika kita benar-benar bersuara,” tukas Baekhyun. “Aku menulis sekian puluh surat, menyertakan berbagai dokumen yang menjadi bukti penindasan Kaum Pekerja di dalamnya, dan Dewan Dunia ternyata tidak menutup mata. Setelah bertahun-tahun usaha diam-diam ini kujalankan, mereka akhirnya bersedia menolong kita, mengirim pasukan perdamaian untuk meredam gejolak di antara kedua pihak, dan mengizinkanku mengeksekusi Bos Besar. Sayangnya, aku tidak sempat mencegahmu dan kawan-kawan untuk membantai Kaum Atasan, maka inilah yang kaudapat. Kau akan beristirahat sangat panjang dalam penjara Dewan Dunia. Dari sana, kau akan melihat Kota Tinggi dalam status quo selagi Dewan Dunia merundingkan bagaimana kelanjutan pemerintahan di sini. Bawah Tanah juga akan berada dalam status yang sama, jadi kedamaian kupastikan akan kembali kemari di bawah pengawasan Dewan Dunia.

“Lihat, aku melindungimu dengan caraku. Kau dan teman-teman tak perlu terlibat lagi dalam peperangan panjang. Sebentar lagi, aircraft khusus tahanan yang akan membawamu, Chanyeol, Kai, dan Sehun tiba. Kau tak perlu melakukan apa-apa, mereka akan merawat kalian dalam perjalanan ke penjara nanti.”

Fakta bahwa Chanyeol, Kai, dan Sehun masih hidup tidak menghilangkan rasa berdosa dalam jiwa Lay. Genosida menyiramkan noda tidak terhapus dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Lay merendam Kota Tinggi dalam darah dan menyeret seorang anak pada keputusasaan tak berujung semata akibat tiadanya kata maaf di kalbu kerasnya.

Deru aircraft penjemput Lay terdengar amat keras di luar Istana.

Terlambat untuk memohon ampun.

“Mereka datang.” Baekhyun menaikkan Lay ke punggungnya seraya tersenyum getir. “Kau tahu, aku ingin melakukan ini padamu sejak melihatmu menggendong D.O di hari kita kabur dari penjara Kaum Atasan, tetapi aku tidak pernah cukup percaya diri sebab kau terlihat begitu kuat. Tidak kusangka, akhirnya kau butuh sandaran juga.”

Benar. Lay tidak ingat kapan ia berhenti bergantung pada orang lain … pastinya sudah lama sekali. Kalau tidak, mustahil rasa lelahnya sebesar saat ini. Punggung Baekhyun terasa nyaman untuknya terlelap—bodoh sekali ia menganggap Baekhyun masih anak-anak ketika Baekhyun menjadi penunjuk jalan yang baik selama ini. Sesal lantaran tidak mengacuhkan ucapan Baekhyun dahulu menghujam Lay; obsidiannya menggelap dan jiwanya yang sebelumnya bergejolak kosong sama sekali.

Renjun. Bocah itu belum bangun saat Baekhyun menaikkan Lay ke aircraft para tahanan.

“Dewan Dunia harus memberi perhatian khusus padanya. Kau harus memastikan anak itu tidak menjadi monster setelahku dan kakeknya.”

Mengikuti anak mata Lay, Baekhyun berpaling pada sosok mungil dekat singgasana.

“Tentu, Kak. Dan hei, kau bukan monster, kau seorang revolusioner yang sedikit salah jalan. Kaum Pekerja menyampaikan terima kasih padamu yang tidak henti memperjuangkan mereka, kendati kau sesungguhnya berasal dari Kota Tinggi. Plus, andai kau tidak salah jalan begini, Dewan Dunia mungkin tidak akan memberi kita perhatian.”

Baekhyun mengulas senyum tulusnya sebelum berbalik untuk membereskan kekacauan dalam Istana bersama beberapa agen Dewan Dunia.

Di dalam aircraft tahanan, Chen, Xiumin, dan Suho sudah duduk dengan tangan terborgol persis pemimpin mereka. Tenaga medis menangani mereka sebagaimana pasien biasa, bukan sutradara sebuah kudeta, dan ini menginspirasi celetukan Chen kemudian.

“Pelayanan kelas tinggi. Ini pertama kalinya kita diperlakukan tanpa diskriminasi, ya kan?”

Suho dan Xiumin terkekeh, seakan telah mengerti dari jauh hari bahwa nasib mereka akan seperti ini. Ah, pada mereka pun, Lay merasa bersalah.

“Maafkan aku.”

Seorang revolusioner, kata Baekhyun.

“Lay, ini bukan salahmu, tak perlu minta maaf.”

Seorang revolusioner memperbaharui keadaan dengan jalan yang mestinya bebas darah. Lay? Tentu saja ia bersalah, Suho. Lay bersalah.

“Hitung-hitung, kita bisa bersantai di penjara Dewan Dunia yang katanya lebih baik dari rumah. Tak usah minta maaf, Lay, kau memberi kita kehidupan yang berkualitas di sana.”

Chen bercanda, tetapi Lay dapat memahami andai Chen menggunakan kalimat itu untuk menyindirnya.

“Dengan Dewan Dunia yang bersiaga di Kota Tinggi dan Bawah Tanah, aku yakin kedamaian yang Baekhyun bilang itu akan terwujud. Bukankah itu yang kauinginkan, Lay?”

Tidak, dari awal sebetulnya itu cuma kedok Lay untuk balas dendam. Keinginannya? Menghabisi Bos Besar dan Kaum Atasan—tanpa mempertimbangkan dampaknya pada nurani-nurani bersih seperti milik Renjun. Xiumin berpikiran kelewat positif.

***

Pendosa. Kesalahan sebesar itu akan kaupikul sendiri sepanjang hayat!

Bagaimana kau akan menebusnya? Seumur hidup dikurung oleh Dewan Dunia tidak akan cukup menggantikan ribuan nyawa yang melayang!

Baekhyun tidak dipenjara, tetapi D.O ikut serta dalam kudeta ini. Dia tidak bersalah, tetapi kau menariknya agar jadi terhukum pula!

Penjahat!

***

Penjara Dewan Dunia berjeruji tinggi, rapat, dan berpenjagaan ketat, tetapi Chen benar soal keadaannya yang mirip rumah. Cahaya matahari yang masuk ke sana sedikit-sedikit, makanan cukup nutrisi,  tempat tidur yang lumayan empuk, dan absennya kesewenang-wenangan memanjakan para pemimpin kudeta Bawah Tanah yang ditahan di sana. Kelemahan penjara khusus mereka adalah penghuninya yang sedikit, sehingga sedikit pula interaksi yang terjadi. Itu tidak menjadi masalah bagi delapan orang tahanan yang mentalnya masih sehat, tetapi Lay tidak. Ada suara-suara yang makin keras di rungu sang (mantan) pemimpin besar … makin lantang, makin tak tahu malu, tidak memberi ruang untuk suara teman-temannya. Bersama air matanya yang tercampuri suara-suara mengutuk itu, Lay tenggelam, tenggelam, hingga suaranya tak terdengar sama sekali pada suatu hari.

Lay lupa cara bicara.

Lupa akan kudeta di Kota Tinggi.

Lupa pada rekan-rekannya.

Lupa pada keluarganya yang dibunuh Bos Besar.

Bos Besar … itu siapa?

Dan, anak tinggi yang Baekhyun bawa suatu hari untuk menengoknya, yang katanya adalah cucu Bos Besar itu, siapa?

Lay bahkan tidak tahu bayangan siapa yang dilihatnya setiap bercermin. Ia hanya tahu orang itu, yang ada di cermin, merenggut ratusan ribu nyawa dan merusak ratusan ribu jiwa. Ya, untuk yang satu itu, Lay tidak akan lupa.

Sampai mati, ia tak akan lupa.

TAMAT


.

.

.

akhirnya!

Ya bukan akhirnya juga sih, org exact masih sisa 4 lagu. Ini lotto dihitung ya. Tapi setidaknya MONSTER KELAR WOI MONSTER i dont know ada yg menanti ini atau tdk tapi yg jelas aku senang! R n r selalu ditunggu!

Iklan

4 pemikiran pada “[EX’ACT] Monster (pt.2/END)

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s