Dark, Fanfiction/Movie, Fantasy, Friendship, G, Horror, Mystery, Oneshot, Supernatural, Suspense, Twoshots

[CREEPYPASTA] Come See My Cat

cats

BTS V X Jungkook (feat.Jin)

Creepypasta, Suspense, kids!Bangtan || G || 5503 words total

neko © 2017

two-shot in row!

Chapter 1 – Rebellion

Tidak ada PSP, keluhnya.

Tidak ada XBOX One, smartphone, tablet, iPod, televisi, bahkan koneksi internet untuk komputer dekstop dalam salah satu kamar tempatnya tinggal. Liburan musim panas masih satu semester jauhnya dan yang bisa Si Mungil Jungkook lakukan kini sebatas mencucutkan bibir, bermuka masam sepanjang dua minggu terakhir.

Mungkin akan bagus seandainya ada orang tuanya di sini, atau paling tidak ada alat komunikasi untuk menghubungi mereka, dengan begitu dia menemukan target yang tepat untuknya merengek minta diantar pulang serta menjadi sasaran ceracaunya yang sampai kini masih berisi ketidaksetujuan untuk dipindah ke Sekolah Dasar berasrama nan jauh dari pusat kota.

Jin, rekan sekamar Jungkook, baru saja tiba dari kelas siang-hingga-petangnya dan segera menutup pintu yang mengarah ke balkon. Selanjutnya dia melesakkan tangan pada celah-celah teralis besi berlekuk klasik, menarik kedua ujung daun jendela agar kemudian bisa dia kunci dari dalam. Anak lelaki lima tahun lebih tua dari Jungkook itu melakukannya seolah-olah mereka hidup pada era apokalips yang selalu dibayangi ancaman zombie jika terlalu lama berada di ruangan terbuka, pada ketinggian lantai lima sekalipun.

“Jeon Jungkook, cuaca belum menghangat, jadi jangan sampai terlambat menutup pintu dan jendela di sore hari. Tolong sekali kerja samanya, nak.”

Yang diomeli tidak menggubris, suasana hatinya sedang kelewat buruk untuk memberi tanggapan bahkan sekadar “Ya” dan meminta maaf. Alih-alih, Jungkook menggeser pelan bola mata menghadap ke arah jendela, pandangannya menembus kaca yang tak lama lagi akan menjadi buram akibat perbedaan suhu udara di kedua permukaannya, terbang di atas ladang gandum beku, lalu berhenti pada bangunan tunggal yang ada di dataran lebih tinggi pada ujung ladang.

DATANGLAH LIHAT KUCINGKU.

Jungkook tidak yakin apa dan atas tujuan apa bangunan—atau, bata-bata yang disusun membentuk balok berongga, Jungkook sungguh-sungguh tidak memiliki ide mengengainya—tersebut didirikan. Namun sejak hari pertama kedatangannya di sini, bangunan itu seolah-olah menatapnya secara misterius, grafiti jelek pada dindingnya seperti undangan lisan yang terucap tanpa intonasi sehingga Jungkook tidak mampu mendeteksi adanya mara bahaya, tetapi juga tidak dia temukan rasa aman. Walau begitu, Jungkook selalu tersugesti untuk menatap ke sana, takut sekaligus ingin tahu. Naga-naganya, keingintahuanlah yang lebih mendominasi.

“Apa kau pernah mendatangi bangunan itu?” tanya Jungkook kepada Jin yang melucuti pakaiannya.

“Bangunan?” Jin belum paham apa yang Jungkook tanyakan sebab mukanya masih tertutup oleh sweter yang hendak ia lepas. Sekolah mereka tidak memiliki seragam musim dingin, atau seragam apa pun, seluruh siswanya bebas mengenakan pakaian yang mereka suka. Lagipula yang paling melatarbelakangi terbentuknya peraturan siswa wajib berseragam adalah demi menghindari kesenjangan sosial, sedangkan di daerah ini, nyaris seluruhnya adalah anak petani dan peternak, semuanya sama. Selain itu, keterbatasan media elektronik menjadikan anak-anak dan remaja begitu lambat mengikuti tren, selera berbusananya begitu-begitu saja tidak peduli apakah dia berasal dari keluarga yang berada ataupun yang hanya bermodal cangkul untuk menjadi buruh di ladang orang.

Seperti anak-anak kebanyakan, Jin di musim dingin yang sangat malas untuk enyah ini memilih untuk mengenakan berlapis-lapis sweter ke sekolah. Jungkook perlu menunggu hingga kepala Jin keluar dari sweter terakhir demi mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.

“Ya, yang di sana. Apa itu? Lumbung? Rumah telantar? Kau ‘kan sudah lama menempati asrama ini, siapa tahu kau memiliki informasi.”

Dengan dahi bekerut, telanjang dada, Jin membuat langkah-langkah kecil mendekati jendela, dan seketika kerutan di dahinya lenyap, ekspresinya menjadi agak serius. “Sebaiknya kau tidak pergi ke sana,” imbaunya. “Aku bilang begitu karena kutebak kau tengah penasaran. Bagaimanapun, aku juga tak tahu banyak tentang bangunan itu, tetapi jangan pergi ke tempat itu pokoknya. Besok akan kujelaskan padamu. Sekarang aku hanya ingin mandi lalu berbaring dalam selimut yang hangat.”

***

Hari yang baru muncul dalam keremangan cahaya tipis horison timur ketika Jungkook terjaga. Lingkaran gelap menghiasi kedua mata bulatnya sebab semalam ia tidak bisa tidur nyenyak. Kesal mengakuinya, tetapi pikiran tentang bangunan di ujung ladang itu menghantuinya sepanjang malam, mengonsumsi kewarasan Jungkook layaknya parasit. Lantas saat ini, saat kesadarannya belum benar-benar kembali, bocah itu kembali menatap jendela berteralis di seberang ruangan. Terobsesi parah. Bahkan seandainya ada tirai yang menutupinya, Jungkook pasti hanya akan membukanya lebar-lebar agar bisa menatap ke luar jendela selagi tidur miring di atas kasurnya.

Jungkook ini anak yang tak sabaran, tetapi juga enggan menggunakan pita suaranya untuk mendesak Jin agar segera menjelaskan mengapa ia tak boleh pergi ke tempat itu. Karenanya, tepat sebelum ia terlelap, Jungkook memutuskan untuk melanggar imbauan sang senior. Pada akhirnya dia masih anak-anak—larangan dianggapnya sebagai anjuran, rektriksi dipandang sebagai rekomendasi. Jungkook sungguh merasa perlu memastikan apa yang ada di sana, kalau tidak, dia akan mati digerogoti kecemasan tak menentu.

Perlahan dia melengokkan kepala ke bawah tempat tidurnya, menengok Jin yang masih terlelap di kasur bawah pada ranjang susun mereka. Jungkook tak mau membuang-buang waktu, dengan hati-hati dan penuh perhitungan dia menuruni tangga kayu sambil menggendong boneka kelinci kesayangannya. Selanjurnya ia berjingkat mendekati pintu, berusaha keras agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan Jin. Pintunya dikunci. Jin menempatkankan kuncinya pada paku gantung yang terlampau tinggi untuk bisa dijangkau oleh Jungkook. Berdebar-debar jantungnya menarik kursi di bawah meja belajar ke bawah kunci digantung, dia bisa dengan mudah mengambilnya jika mendaki kursi ini.

Sebelum memanjat, Jungkook menyempatkan diri menengok Jin. Masih bergeming, aman, pikirnya. Dengan mantap Jungkook naik, untuk sementara ia sandarkan bonekanya pada dinding agar lebih mudah mengatur keseimbangan. Dalam sekali raup, kunci tersebut sampai di genggaman tangan, naasnya, sedetik kemudian kunci dengan gantungan peluit itu tergelincir dan jatuh menyentuh lantai ubin, menciptakan bunyi gemerencing yang menjadikan Jungkook panik seketika. Dia menoleh lagi ke arah Jin—yang terkejut dan bangun.

Jin mengangkat kepala tanpa bangkit, bibirnya melengkung ke atas, mengernyit sebab kesulitan membuka kelopak mata seolah ada perekat pada pangkal-panggal bulu matanya. “Berisik kau pagi-pagi, Jeon Jungkook,” hujatnya berang. Namun Jungkook cukup lega sebab selanjutnya yang Jin lakukan hanya menarik blanket hingga ke dagu dan memeluk gulingnya erat. “Tutup lagi pintunya setelah kau keluar.”

Jin tidak mencurigainya, itu bagus.

Kali ini tak lagi Jungkook perlu bergerak penuh pertimbangan untuk meminimalisir kegaduhan, dia turun dari kursi, mengembalikannya ke tempat semula sebelum berangkat bersama Bunny. Sayangnya, kebebasan bergerak terbatas pada kamar itu saja, begitu sampai di luar, Jungkook menutup pintunya begitu perlahan agar tidak membangunkan penghuni kamar lain. Selasar lantai lima masih diliputi keheningan. Anak laki-laki itu mengendap-endap turun, ancamannya sekarang adalah para penjaga shift malam di lobi lantai dasar.

Pukul enam, bisik Jungkook pada dirinya sendiri kala melirik jam dinding di ujung tangga lantai tiga. Pergantian penjaga dilakukan pukul delapan, sisa dua jam. Jungkook memperkirakan penjaganya tengah kelelahan, luar biasa mengantuk, dan saat ini sedang tidur dalam posisi duduk sebab dua jam masih cukup lama untuknya mempersiapkan diri pura-pura siaga ketika penjaga lain datang. Jungkook memilih untuk tidak mengendap-endap ke luar, dia akan meminta izin pergi memetik morning glory yang sedang mekar atau apalah. Yakin setelah memberi Jungkook buku catatan keluar, dia akan kembali tidur tanpa bertanya macam-macam. Jungkook tidak akan menulis namanya.

Prediksinya benar, Jungkook sedang mujur.

Atau… sedang sial. Sebab tidak seorang pun menahannya pergi ke tempat yang sarat akan misteri.

***

Musim dingin membuat matahari terlambat naik. Para petani tidak berangkat ke ladang, tidak ada yang bisa mereka lakukan di sana. Kecuali petak-petak yang ditanami asparagus, seluruhnya tampak kering, bumi sedang berhibernasi dan tak akan membiarkan akar-akar tanaman mengusik ketenangannya. Telapak kaki Jungkook mati rasa, meski tumpukan salju di atas jalan tidak lagi begitu tebal, dia menyesal pergi tanpa mengenakan alas kaki.

Jungkook memeluk bonekanya erat-erat di dada seraya mempercepat langkah-langkah mungilnya. Di dunia yang pucat ini, dia merasa paling mencolok. Sangat mudah menemukan sosok Jungkook bahkan dari kejauhan, oleh karena itu ia semakin tergesa-gesa, takut kalau-kalau seseorang mengejar dan menggagalkan operasinya.

Jalanan lurus itu merupakan tiga perempat dari perjalanan keseluruhan, sisanya, Jungkook harus menapakkan kaki telanjangnya di atas pematang yang tergelar memanjang bagai karpet merah mini yang ditaburi serbuk putih. Bangunan yang dituju kian besar dalam penglihatannya, Jungkook kini bisa melihat pintu tak berdaun, jalan masuk yang menganga setiap waktu itu tampak gelap dan tak bersahabat, mengingatkan Jungkook pada mulut binatang jahat pemalas yang siap mengunyah siapa saja yang bersedia masuk tanpa perlu dikejar.

Putra bungsu keluarga Jeon tidak gentar, tidak ada intensi untuk berputar balik layaknya pengecut cilik, dia sudah sejauh ini, lagipula. Angin bertiup sepoi namun mematikan seperti bisikan malaikat maut. Jungkook menggigil, bibirnya memucat, buku-buku jemarinya terasa kaku. Dia membayangkan sereal manis, churros, dan cokelat panas… lalu mengingat tekadnya dan segera ia hapus bayangan makanan hangat jauh-jauh dari kepala.

Hanya sekitar tujuh sampai delapan menit kemudian, Jungkook sudah mulai menaiki tanjakan curam menuju dataran tinggi tempat bangunannya angkuh berdiri. Dia selipkan Bunny pada kerutan celana pakaian tidur di punggungnya, memanjat dengan berpeganganpada batu-batu setengah tertanam dalam tanah. Napasnya memburu begitu ia sampai di atas, gerakan berat ini sedikit menghilangan dingin di kulitnya. Bangunan itu kini hanya berjarak lima meter saja di depannya.

Bunny telah kembali ke dalam dekapan Jungkook, bocah itu perlu teman menghadapi DATANGLAH LIHAT KUCINGKU yang ditulis besar-besar pada cat putih yang hanya diaplikasikan pada satu sisi dinding saja—itu pun tak lagi bersih, lumut dan debu mengotorinya. Jungkook tak memahami dirinya sendiri sekarang, bagaimana dia memenuhi undangan mencurigakan macam ini? Jungkook juga tidak bisa mengatakan bahwa dia sedang tersihir seperti anak-anak dalam Pied Piper of Hamelin, sebab ia yakin dirinya saat ini seratus persen sadar, melakukan ini menurut kehendaknya sendiri.

Tanpa mengalihkan pandangan ke titik lain, Jungkook menghampiri dinding tersebut. Tekstur kasarnya begitu jelas, kentara sekali bahwa pengecatan dilakukan asal-asalan tanpa melalui proses amplas terlebih dahulu. Jungkook tidak yakin apa yang dibubuhkan untuk membentuk tulisan itu, yang pasti bukan cat besi, warnanya tidak mengilap. Kusam. Dia menggosok pelan kaki huruf T (hanya itu yang bisa dijangkaunya, kaki-kaki huruf yang lain tak bisa sebab walau sejajar, tanah di bawahnya lebih rendah) menggunakan ujung jari telunjuk dan jari tengah. Hanya debu dan sedikit butiran salju yang menempel, tidak ada bekas hitam yang membuktikan bahwa ini tidak mudah luntur.

Puas mempelajari dinding yang terus-menerus menatapnya dari kejauhan ketika di asrama itu, Jungkook bergerak lagi, memasuki pintu dan menemukan lorong sempit dan gelap, nyaris tidak dapat melihat apa-apa namun netranya menangkap portal menuju ruangan lain sebelum sampai pada ujung lorong. Aroma kayu basah dan jamur merebak, menyeruak ke dalam hidung hingga tenggorokan, lantai becek dan sedikit mengurangi mati rasa di kaki Jungkook yang menurutnya itu malah lebih buruk.

Dengan gamang anak itu merasuki portal tersebut, sedikit terkejut ketika mengetahui ruangan selanjutnya tidak segelap dan sekotor lorong yang pertama kali menyambutnya. Di bawah jendela kecil yang begitu tinggi, eksis sofa merah berdebu, di depannya ambal krem dengan bulu-bulu yang telah banyak tercerabut digelar, cangkir bekas pakai di atas meja berkaki rendah di sebelah sofa, buku-buku berserakan—beberapa terbuka, sebagian besar tertutup. Jungkook yakin dinding ini dulunya berwarna kuning cerah, kendati kini warnanya memudar serta dipenuhi lumut-lumut hitam yang tumbuh karena mendapat nutrisi dari rembesan air hujan. Tidak terdapat peralatan elektronik, tentu saja, mana ada listrik di sini? Tetapi Jungkook mendapati empat suluh bermotif klasik masing-masing dua di kanan dan kiri ruang.

“Apa yang kaulakukan di sini?”

 

 

Chapter 2 – V for Victory

 

“Apa yang kaulakukan di sini?”

Jungkook tengah asyik mengamati langit-langit kala seseorang bersuara mengagetkannya.

Awalnya dia mengira yang berbicara padanya adalah seseorang dari asrama, bocah SD lain yang mengejarnya kemari. Dia tidak memperhitungkan bahwa lebih besar kemungkinan jika penghuni tempat inilah seseorang itu, lebih mudah baginya untuk tidak mengakui keberadaan manusia yang bisa hidup di sini, lebih simpel untuk berdalih segala tanda kehidupan yang baru saja ia temukan bukan milik siapa-siapa sehingga tidak perlu ia merasa berdosa telah menerobos masuk rumah orang tanpa permisi. Kalau ini bisa disebut dengan rumah, tentunya.

“Siapa kau? Apa yang kauinginkan dariku?”

Anak laki-laki, menyembul cemas di balik pintu salah satu ruangan lain. Dia lebih tinggi dari Jungkook, tetapi jauh lebih pendek dari Jin. Rambut brunette berponinya berantakan, kelihatanya baru bangun tidur. Bocah itu tampil dengan kaus T tipis dan celana training. Kumal, hanya seperti anak-anak lain di desa ini, tetapi dia tampan, Jungkook mengakuinya. Tatapannya gamang, daripada tidak suka kepada Jungkook, tatapan itu lebih tampak seperti dia takut kepada Jungkook.

“Aku… aku membaca tulisan di dinding luar. DATANGLAH LIHAT KUCINGKU.”

Kerisauan di wajah anak itu lenyap digantikan senyum riang. “Begitu rupanya! Yah. Tentu saja. Tentu saja karena kaumau lihat kucingku. Kemarilah, um… siapa namamu?” Dia menghampiri dan menyambar pergelangan tangan Jungkook, menariknya masuk ke dalam kamarnya. “Kucingku melingkarkan badannya dan mendengkur keras.”

“Jungkook.”

“Kemari, kemari,” dia menggumam tak sabar, terlalu bersemangat, kebahagiaannya meluap-luap hanya karena Jungkook bilang dia datang untuk melihat kucingnya.

Suasana dalam kamar tidak berbeda jauh dari ruangan yang diisi sofa, masih buku-buku berserakan dengan latar cat kuning pudar berhias bercak-bercak jamur bagai corak buruk rupa. Kucing yang dimaksud memang sedang melingkarkan badan, menghangatkan dirinya sendiri dari temperatur rendah. Bulu-bulu pendeknya yang berwarna seperti jahe mengembang, matanya menutup tetapi, ya, dia mendengkur. Dengkuran kucing menandakan bahwa dia belum sepenuhnya terlelap. Oke, apa istimewanya? Apa yang bisa didapatkan dari melihat kucing macam ini? Dan juga—

“Kau siapa? Mana orang tuamu? Mengapa kau tinggal di rumah kumuh begini?”

“V. Namaku V.”

“Phi? Bwi? Bi?”

“V, ditulis dengan satu huruf roman, abjad nomor dua puluh dua dalam alfabet, V. V untuk Victory!”

Jungkook menatapnya dalam volume nol. Nama macam apa, pikirnya, dan mengapa anak ini bangga sekali memperkenalkan diri dengan nama itu sampai-sampai mengabaikan pertanyaanku yang lain, Jungkook bertanya-tanya. Dia juga memandangi Jungkook, tepat pada kedua irisnya yang sehitam jelaga, berbinar-binar seakan bocah berserta boneka kelincinya ini merupakan santapan lezat. Giliran Jungkook yang takut sekarang.

Jungkook menebak V duduk di kelas tiga atau empat. Yang jelas masih dalam usia SD. “Apa kau tidak bersiap pergi ke sekolah?”

“Sekolah?” V memiringkan kepala seakan-akan tulang lehernya tidak lagi mampu menyangga. “Mengapa harus pergi ke sekolah dan bertemu orang-orang yang tidak menyenangkan? Kau sudah di sini sekarang, Cookie. Membolos saja lebih seru.”

V berlutut, menumpukan dagunya pada pinggiran tempat tidur, dibelai-belai lembut Si Kucing yang dengkurannya mulai jarang-jarang. Jungkook sendiri tidak memberi respon apa pun, sekadar mengeratkan dekapannya pada Bunny. Dia teringat pada Jin… teman sekamarnya itu pasti tengah mencari Jungkook sekarang… juga penjaga lobi… dia akan disalahkan atas menghilangnya Jungkook pagi ini… “Aku tidak meninggalkan kotaku untuk membolos hanya demi melihat kucing.”

“Kau berbicara seolah-olah manusia adalah robot yang tidak bisa berubah pikiran. Mau kubuatkan segelas cokelat hangat marshmallow? Aku lumayan jago meraciknya.” V berargumen lalu secepatnya mengganti topik, tidak memberi kesempatan bagi Jungkook untuk memberikan balasan.

Sejemang, Jungkook tertegun. Berubah pikiran, dia bilang. Yah, memangnya sejak awal Jungkook sendiri yang berminat sekolah bersama anak-anak udik? Menggulirkan bola mata jemu, “Ya, tolong,” jawab bocah itu pada akhirnya. V agak mengesalkan, namun itu tidak menggugurkan nafsu makan Jungkook yang lapar.

Dalam sekejap V menghilang di balik pintu tak berdaun, seluruh pintu dalam rumah ini tidak berdaun. Seketika kesenyapan menyelimuti sekeliling, Jungkook bahkan bisa mendengarkan embusan napasnya sendiri. Si Kucing tidak lagi mendengkur, tertidur lelap tidak peduli seberapa dingin deru angin yang berpenetrasi bebas dari jendela terbuka. Jendela-jendela pun tak berdaun. Tak lama kemudian V muncul bersama gelas besar di tangan, dia mengundang Jungkook ke ruang tengah—tempat sofa dan ambal botak.

Begitu mereka berdua mendamparkan pinggang pada sofa, V memberikan hasil karyanya pada tamu termanis, asap tipis meliuk-liuk di atas permukaan cokelat, menghipnotis Jungkook dengan wangi kokoa. Marshmallow kecil-kecil mengambang di permukaan, merayu Jungkook agar segera mengunyahnya dan meloloskan mereka ke pencernaan. Jungkook tidak memberi komentar tentang rasanya setelah menelan beberapa teguk walau ia tahu V mengharapkan pujian. Jungkook hanya mengangguk kikuk.

“Apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang? Hm…” V memandang ke sekitar, seakan-akan ada hal menarik yang bisa dilakukan selain—“Ayo kita membaca buku bersama!”

“Aku tidak suka membaca,” aku Jungkook. “Melihat berlembar-lembar kertas penuh tulisan membuat kepalaku pening.”

V bangkit, mengambil salah satu buku yang ada di ujung ambal. “Aku punya beberapa buku bergambar! Dan ini yang menurutku paling bagus.” Dia duduk kembali, membuka sampul keras dari buku yang diambilnya. “Kalau kau tidak suka membaca, biarkan aku yang membacakannya untukmu. Yang perlu kaulakukan hanya mendengarkan sambil mengamati ilustrasinya.”

Jungkook tidak sempat membaca judulnya, ia terlalu sibuk menghakimi betapa jelek buku yang saat ini dipangku oleh V. Kertas-kertasnya menguning, pinggir-pinggirannya rusak dimakan ngengat, baunya menyengat khas buku tua. Lain kali jika Jungkook pulang ke kota pada liburan akhir semester, dia akan membeli banyak buku baru dan dijadikan oleh-oleh oleh bocah malang ini. Kalau Jungkook mau kembali lagi.

Buku itu menceritakan asal-usul pohon ceri yang berubah merah muda pada musim semi. Karena berlatar di Jepang, tentu penulisnya menyebut bunga-bunga itu dengan “Sakura.” Tentang seorang Ibu bersama bayi yang baru lahir tanpa adanya Ayah di sisinya. Cerita itu diawali oleh ilustrasi Sang Ibu, di bawah langit kemerahan, menggendong bayinya menuju hutan. Hendak membuang bayinya di sana. Kurang lebih seperti yang dilakukan Ibu Jungkook pada putra bungsunya, kali? Jungkook tidak begitu terkesan.

V membalik halaman lain, Jungkook menyandarkan kepalanya pada bahu V. Sambil mendengarkan suara V, sesekali Jungkook menyesap dengan santai cokelat panas, mengabaikan Bunny di sisinya yang lain.

 

Hutan yang dituju rupanya begitu jauh. Langit gelap dengan segera menyapu sisa-sisa pelita senja, gerimis yang kemudian menjelma menjadi hujan deras menghentikan perjalanan Sang Ibu ke hutan. Dia berteduh di bahwa pohon besar dekat jalan setapak, menyusui bayinya selagi menatap bulan sabit dan menginsafi berkali-kali bahwa ia tidak bisa, sungguh tidak bisa, membawa kembali bayinya ke rumah. Bayi tertidur setelah kenyang, lalu Sang Ibu melangkah gontai meninggalkan bayinya di sana, mendekap badannya sendiri, berharap semoga seseorang yang kaya raya dan baik hati bersedia memungut, merawat bayinya hingga dewasa. Selamat tinggal, selamat tidur, sampai jumpa lagi, bisiknya lirih, bergetar oleh rebak air mata.

 

“Ah…” gumam Jungkook. “Dia tidak jahat.”

“Ya. Kau akan lebih yakin setelah tahu kelanjutannya.”

Cokelat panasnya tersisa seperempat gelas dan marshmallow telah tandas seluruhnya. Jungkook letakkan gelas itu di atas meja berkaki rendah, di sebelah cangkir bekas pakai. Lalu memeluk lengan V.

Dalam perjalanan kembali menuju rumah, Sang Ibu dikejutkan oleh gemuruh petir yang memekakkan telinga, kedengarannya begitu dekat, seperti tepat di belakang punggungnya, pada saat yang sama hujan lagi-lagi menerjang bumi. Sang Ibu menoleh ke belakang dan mendapati dahan pohon tempatnya tadi berteduh menyala oleh kobaran api, sontak ia berputar balik, berlari sekuat tenaga.

Bayinya tidak terluka. Kemungkinan besar begitu sebab yang terbakar hanyalah dahan yang paling atas. Namun Sang Ibu tidak dapat memastikan, bayinya tak lagi ada di sana. Seseorang pasti telah membawanya, seperti yang ia harapkan. Dan seharusnya ia senang lantas mengapa dadanya begitu sakit? Kaki-kakinya lemas hingga ia jatuh bertumpu lutut, menatap nanar sehelai kain serta kalung bayi yang tak ikut dibawa pergi. Dia telah kehilangan buah hatinya.

Semalaman ia tetap tinggal di bawah pohon, tak mau pulang, menunggu bayinya kembali. Pagi, siang, sore, malam. Musim semi, musim panas, musim gugur, musim dingin, ia tetap di sana. Membuat janji-janji hampa untuk dirinya sendiri bahwa suatu saat, mungkin ketika akhirnya putri manisnya sudah mampu berjalan dengan kakinya sendiri, dia akan datang membawa rangkaian bunga-bunga kecil untuk ibu kandungnya yang setia menunggu di sana. Ibu bodoh yang membuangnya.

 

Jungkook tidak suka cerita menyedihkan. Ini membuatnya jenuh. Tetapi dia menyukai suara V, suara dengan penghayatan yang bagus, barangkali V bisa diandalkan sebagai pemeran tokoh dalam drama. Bisa juga sebagai aktor sinema atau pengisi suara dalam serial animasi. Atau… hanya sebagai kakak Jungkook. Anggota keluarga yang akan senantiasa berada di sisinya, tidak menyentaknya, tidak mencacinya dengan kata-kata kotor, mendengar pendapatnya, berbagi cerita, tidak memaksakan kehendak… Jungkook tidak akan meminta apa-apa dari V. Dibacakan dongeng membosankan seperti ini sudah lebih dari cukup.

Dia terlelap di bahu V tanpa mengetahui bagaimana kisah itu berakhir.

***

Gangguan tidur yang dialaminya berhari-hari lantas menjadikan tidur Jungkook pagi itu begitu nyenyak sampai-sampai ia tidak ingat mimpi macam apa yang ia alami apalagi jam-jam yang telah ia lewatkan. Tahu-tahu sinar mentari telah menguning, itu yang pertama kali disadari Jungkook begitu membuka mata. Kemudian dinding hitam penuh lumut serta atap rumah yang bobrok. Ini jelas bukan dalam kamarnya di rumah. Juga bukan di asrama. Ah, benar, tadi pagi ia berada di rumah V, tembok depan DATANGLAH LIHAT KUCINGKU.

Tetapi ini tempat yang berbeda.

Tidak ada lagi buku-buku serta ambal botak. Tidak ada meja berkaki rendah beserta cangkir dan gelas. Sofa tempatnya berbaring digantikan oleh setumpuk jerami lembab berjamur yang menguarkan bau apak. Sarang laba-laba memenuhi setiap sudut ruang. Dalam segala keterasingan yang suram ini, satu-satunya benda yang familier bagi Jungkook hanyalah Bunny, boneka kelinci yang punggungnya tersangkuti sekam-sekam jerami. Jungkook mengedarkan pandangan, berharap menemukan sesuatu yang lain.

“V?” panggilnya. Ia raih Bunny, mendekapnya dan turun dari tumpukan jerami. Dia melafalkan kembali nama V, berkali-kali, namun hanya kesunyian yang menjawabnya. Cahaya yang demikian minim menciutkan nyali Jungkook bagaikan teror. Keberanian yang ia bawa ketika berangkat telah habis digerogoti kesenyapan yang keruh.

Jungkook menghampiri kamar V, dia baru menyadari dirinya gemetaran ketika menatap jemarinya yang berpegangan pada kusen pintu rapuh dimakan rayap. Dia ragu-ragu hendak menengok ke dalamnya, posisi seluruh ruang yang ada di dalam rumah ini masih sama seperti sebelum ia ditarik alam mimpi, namun anak itu yakin bahwa pemandangannya takkan sama, pasti hanya akan lebih suram seperti ruangan tempatnya terbangun. Jungkook perlu mempersiapkan hatinya baik-baik sebelum—

“MEWRR!”

Si Bocah terlonjak ke belakang ketika seekor kucing jatuh dari plafon yang bobrok. Itu bukan kucing V yang berbulu sewarna jahe, tetapi hitam, hitam pekat mengilat dengan mata hijau berpupil sempit. Seperti panter mini. Seperti binatang peliharaan iblis dari dimensi lain, terpeleset anjlok hingga terhisap oleh lubang hitam dan sampai di tempat ini. Dia keluar dari kamar, bertatap muka dengan Jungkook lalu mendesis penuh kebencian. Sambil menata detak jantungnya, Jungkook melengok singkat ke dalam kamar, hanya untuk memastikan ketiadaan V di sana. Hal yang sama ia lakukan pada ruang-ruang lain yang bahkan belum ia tengok tadi pagi. V tidak ada di mana-mana, tidak di dalam rumah ini.

V menghilang, V meninggalkannya.

Dengan gelisah Jungkook berjalan cepat ke luar, menyusuri kembali lorong gelap—yang malah lebih gelap lagi saat ini. Ini bukan paranoia, setelah melihat apa yang didapatinya begitu terbangun bukan tidak wajar jika Jungkook khawatir kalau-kalau bukan kucing hitam barusan yang terlempar dari dunia lain, melainkan dirinya sendiri, terlempar dari dunia asalnya ke dunia asing. Tempat para penyihir dan para villain dalam komik menetap bersama segala dosa serta kekejaman mereka. Jungkook berlari, tetap berusaha hati-hati agar tidak tergelincir oleh licinnya lantai basah.

Perkembangan yang bagus; pemandangan di luar baik-baik saja, masih seelok ladang gandum pucat di hari senja seperti biasanya. Jungkook masih di dunianya. Mengembuskan napas lega, bulir-bulir keringat mengalir di pelipis kala ia menjatukan diri tepat di depan dinding bertulisan DATANGLAH LIHAT KUCINGKU, menatap langit kemerahan yang mengingatkannya pada perjalanan Sang Ibu dalam dongeng ke hutan membawa bayi. Bunny tengkurap di atas perut, naik turun mengikuti napas Jungkook yang memburu.

Pening kepala Jungkook mencerna apa yang sesungguhnya, sesungguh-sungguhnya terjadi di sini. Presensi Victory terlalu membekas, terpatri begitu kuat dalam ingatan Jungkook untuk menyebut ini semua tidak nyata. Terlalu jelas, Jungkook yakin apa yang dilihatnya pagi tadi bukan sebatas delusi, Jungkook bukan tipikal bocah yang memercayai apa yang ingin dipercayainya. Paling tidak ia lebih realistis dari gadis-gadis cengeng di kelasnya yang mengimani keberadaan peri.

Jungkook belum berhasil menyatukan kepingan-kepingan pasel ini menjadi jawaban yang masuk akal, namun ia memutuskan untuk bangkit, bergegas kembali ke asrama.

Dia tidak lagi menyelipkan Bunny pada kerutan celana ketika menukik ke tanah yang lebih rendah seperti kala ia menanjakinya, Jungkook hanya mencari bagian dengan salju paling tebal lalu meluncur dengan bokong. Bocah itu menapakkan kaki di atas pematang ladang gandum dengan perasaan hampa di dalam kalbu, bocah bandel yang sedih sebab tak seorang pun mencari dirinya yang melarikan diri. Bukankah begitu? Jika mereka memang mencari Jungkook, mereka pasti telah menemukannya, Jin akan tahu bahwa ke sinilah Jungkook pergi. Tetapi kenyataannya ia sekarang bergerak pulang dengan kaki sendiri, tanpa dituntun oleh seseorang. Dia bertanya-tanya apa yang akan dia katakan ketika orang-orang di sana bertanya ke mana saja ia enyah sejak pagi.

Di sebelah kanan, bayangan Jungkook jatuh di atas batang-batang keemasan gandum bertabur salju. Jungkook memerhatikan telapak kaki bayangan dan telapak kakinya sendiri yang tak pernah bisa lepas tak peduli seberapa tinggi ia mengangkat kakinya. Dia mengamati tiada henti, hingga merasakan ada sesuatu yang ganjal dalam bayangan tersebut. Gradiennya berubah. Tidak terlalu signifikan, namun Jungkook cukup cermat untuk menyadari perbedaannya dengan bayangan yang tampak tepat setelah ia meluncur. Peristiwa mistis sialan yang lain, gerutunya yang dilanjutkan dengan sebuah dengusan muak, lalu Jungkook mengabaikannya dan terus berjalan. Perjalanan pulang selalu terasa lebih cepat, Jungkook kini telah menyusuri jalanan beraspal yang lurus hingga mencapai gedung asramanya nanti.

Dua puluh lima langkah. Jungkook berhenti. Dia sudah mencoba mengabaikan berubahnya kemiringan dari bayang-bayang tubuh di ladang gandum, namun tampaknya kejadian itu tak mau diperlakukan bagai angin lalu begitu saja. Terornya masih berlangsung. Pancaran sinar mentari tak lagi berwarna kemerahan dan berasal dari barat, kaki langit tidak lagi dihiasi gradasi warna-warna hangat. Terang, jernih seperti tengah hari. Jungkook pun nyaris tidak menemukan sebentuk tubuh manusia dalam bayangan yang kini hanya berupa lempengan koin gelap di bawah kaki tak bersepatu. Bocah itu mendongak, menatap nanar sumber penerangan mega yang mengintip di balik gumpalan awan, gagal menyembunyikan sebagian besar intimidasi.

Matahari berada tepat di atas kepala Jungkook.

Waktu berjalan mundur.

Boneka kelinci ia angkat tinggi-tinggi di dada, menekan jantung di sana agar tidak melompat dan menghancurkan jeruji tulang rusuk yang menawannya. Lantas ia berlari ditemani kengerian, berlari lebih kencang dari yang telah ia lakukan saat membebaskan diri dari rumah terkutuk itu. Setiap langkah yang ia buat membawa turun matahari, terus berarak ke arah timur menjemput kembali pagi yang sempat ditinggalkan. Jungkook melihat genangan air kembali beku menjadi setumpuk salju. Selanjutnya serpihah-serpihan kenari keluar dan menyatu kembali dari mulut tupai di pinggir jalan, bersamaan dengan itu, seluas mata memandang tampak milyaran butir salju terbang menuju langit seperti anai-anai mengejar cahaya.

Udara begitu dingin namun keringat bercucuran membasahi piyama putihnya. Tidak bisa disangkal lagi bahwa Jungkook menangis ketakutan. Bibirnya bergetar, lirih dan tersendat-sendat memanggil Ibu yang jauh di kota. Ini adalah saat di mana keinginannya untuk dijemput pulang lebih besar dari yang biasa ia rasakan. Dia rapuh dan memerlukan perlindungan. Siapa kalau bukan Ibunya yang bisa menyelamatkan Jungkook tepat ketika ia membutuhkan? V? Ya, V yang beberapa jam sebelumnya membagikan kehangatan hati dengan Jungkook mungkin bisa menolong, tetapi keparat itu menghilang entah ke mana.

Sang Waktu berhenti berjalan ke belakang begitu Jungkook sampai di lobi asrama. Ia mengusap kelemahan yang telah menitik tak tertahankan di pipi kanan dan kiri. Penjaga lobi tertidur pulas dalam posisi duduk, di meja terdapat buku catatan keluar yang tadi pagi—mungkin sekarang lebih tepat disebut baru saja—disodorkan kepada Jungkook. Morning glory. Jungkook teringat alasan keluarnya adalah untuk memetik morning glory. Dia si pembohong yang kena batunya.

Jungkook tidak ingin berlama-lama di sini, tergesa-gesa ia menaiki anak-anak tangga menuju lantai lima. Sungguh ia sesalkan ketiadaan elevator untuk gedung setinggi tujuh lantai. Mereka bilang anak-anak memiliki tenaga serta semangat yang tinggi. Yah, omong kosong. terkutuk mereka orang-orang dewasa yang iri kepada bocah. Omong kosong, omong kosong, omong kosong. Jungkook tak henti-henti berserapah hingga sampai pada selasar lantai lima.

Kamarnya berada di paling ujung. Tidak ada Jin di dalam, Jungkook terlampau lelah untuk mencarinya jadi ia hanya duduk bersandar salah satu kaki ranjang, menelaah kembali pengalaman gaibnya yang ganjil nan eksentrik. Waktu yang seharusnya terbuang untuk mengunjungi undangan melihat kucing telah dikembalikan, seolah-olah ini semua sebatas mimpi buruk yang walau tak bisa dilupakan saking seramnya, paling tidak mimpi adalah mimpi yang takkan mengusik kehidupan nyata Jungkook. Itu adalah persepsi yang menenangkan, seandainya Jungkook bisa memercayainya.

Pintu kamar terbuka, beruntungnya itu Jin dan bukan lucifer. Anak lelaki yang lebih tua itu masih dalam balutan piyama, mata bengkak, serta bed hair yang berantakan. Tetapi suaranya sudah tidak parau ketika menyapa Jungkook, tampaknya pita suara Jin telah terlatih selama beberapa menit sehingga dapat bekerja dengan baik. “Aku baru saja mengunjungi kamar tetangga untuk mengambil ini,” jelasnya tanpa dipinta—menunjukkan sebuah buku bersampul hitam mengilat.

“Apa lagi sekarang?”

Apa lagi?” ulang Jin, tidak memahami rasa muak dalam diri rekan sekamarnya. “Kemarin aku melarangmu untuk pergi ke bangunan apalah itu, Jungkook. Sebelum terlambat, aku merasa perlu sekali menjelaskan padamu secepatnya.”

Sebelum terlambat, dia bilang. Jungkook tertawa miris dalam hati.

“Itu adalah buku ini. Aku telah membacanya dua tahun yang lalu namun aku tahu kemarin teman sekelasku yang menyewanya dari perpustakaan. Semalam aku tak bisa meminjam ini darinya sebab kukira ia tengah asyik membaca. Karena itu aku baru mengambilnya sekarang.” Jin duduk di sebelah Jungkook. “Kautahu apa ini, Jungkook? Ini adalah cerita horor yang tidak seorang pun tahu siapa penulisnya. Judulnya adalah Lima, lihat.”

Jungkook mengamati sampul depan yang baru dipampang sejelas-jelasnya oleh Jin. Angka lima yang ditulis dengan angka romawi. Pandangan Jungkook kosong seketika. “Judulnya bukan Lima. Itu V, V untuk Victory,” katanya spontan.

“Masa, sih?” Jin menggaruk rahangnya. “Dalam data perpustakaan, nomor buku ini terdaftar dengan judul Lima. Atau pengolah basis datanya salah terka? Nah, itu tidak penting, aku akan menunjukkan padamu apa isinya sekarang. Aku tidak ingin menceritakannya terlalu detil, kau sebaiknya membaca sendiri nanti.” Jin membuka bab pertama. “Lihat ilustrasi di sini. Rumah ini, dari sudut ini, tidakkah posisinya sama persis seperti bangunan itu jika dilihat dari gedung ini? Juga ladang gandumnya.”

Jungkook merengkuh lutut, pasrah cerita macam apa yang akan disuguhkan padanya pada pagi yang melelahkan ini.

“Ini adalah rumah sepasang penyihir.”

“Apa mereka memiliki anak laki-laki bernama Victory?”

“Anak laki-laki! Ya, mereka punya, tetapi bukan anak mereka sendiri. Mereka menemukannya di seberang hutan pada batas desa dan anak itu tidak disebutkan namanya hingga kisah ini berakhir. Buku ini berisi tentang penyakit dan kutukan yang disebarkan oleh suami-istri penyihir, Jungkook. Mereka luarbiasa keji, tetapi menyayangi dan merawat anak angkatnya dengan baik. Sampai sembilan tahun kemudian, Si Anak meracuni orang tua angkatnya dengan guna-guna buatan mereka sendiri hingga tewas.”

“V melakukan itu?”

Jin agak terganggu dengan cara Jungkook yang seenak hati menamai tokoh dalam salah satu buku favoritnya. “Dia sedih melihat orang-orang di desanya menderita kutukan dari para penyihir.”

Mereka berdua saling berpandangan. Anak yang ditemukan di seberang hutan, mirip dengan dongeng bunga sakura, dalam sisi pandang yang berbeda. Jungkook kini penasaran apa yang terjadi pada Sang Ibu dalam dongeng yang dibacakan oleh V tersebut. “Lalu? Tamat begitu saja?”

Jin menggeleng cepat. “Hampir mencapai bab akhir. Pasangan penyihir mengutuk anak angkatnya yang berkhianat sebelum ajal benar-benar merenggut nyawa mereka, dan kutukan itu adalah agar Si Anak hidup separuh ada serta tidak akan pernah tumbuh. Separuh ada, Jeon Jungkook. Dia hanya akan kasat mata pada hari terang dan tak terlihat pada hari gelap.”

Jungkook mungkin paham ke mana perginya V, mungkin.

“Namun anak cerdik ini tidak akan berserah diri terhadap kutukannya. Dia membaca buku-buku sihir peninggalan orang tuanya demi menemukan sesuatu yang dapat menghentikan keadaan separuh ada-nya. Inilah mengapa aku tidak ingin kau pergi ke sana.”

Pandangan mereka saling bersirobok lagi. “Apa?” tanya Jungkook.

“Tidak ada yang tahu kapan hari ulang tahunnya. Tetapi menurut buku sihir itu, jika seorang anak laki-laki berusia tak jauh darinya datang pada hari ulang tahun Si Anak Penyihir, lalu meminum racikan khusus yang dibuat olehnya. Si Anak Penyihir bisa­—”

“Ramuan khusus, maksudmu?”

“Cokelat hangat dan marshmallow yang seb—.”

“Itu lezat,” potong Jungkook.

“Jangan bodoh. Sebaiknya kaudengarkan aku tanpa memotongnya, nak. Itu hanyalah trik, aku memberitahumu. Jika dia memberimu cokelat hangat dan marshmallow, jangan pernah menelannya barang seteguk karena itu adalah tipuan, Jeon Jungkook! Dia memanipulasi penglihatanmu! Kau tahu sebenarnya apa yang ia sajikan dalam gelas untukmu? Itu adalah darah binatang-binatang pengerat dari ladang gandum di dekat rumahnya bersama dengan bola-bola mata mereka mengambang di permukaan gelas!”

Jungkook refleks menutup mulutnya, dia mengeluarkan suara menjijikkan seperti orang yang hendak muntah. Mual parah. Beruntung tidak ada apa pun yang menyembur mengotori lantai kamar mereka, meski barangkali itu akan lebih baik, mengeluarkan sesuatu menjijikkan itu dari dalam perutnya.

“Demi langit! Itu reaksi yang hiperbolis tetapi aku menyukainya, artinya kau sudah mengerti dan kuharap kau tidak pergi ke sana.”

“Apa yang akan terjadi selanjutnya? Setelah ia menjejali seorang anak dengan ramuan khusus itu, apa yang akan terjadi? Katakan padaku, tolong,” pintanya dengan tatapan gamang.

Jin menutup buku bersampul hitam di tangan, buku itu lebih tipis dari yang Jungkook kira. “Si Anak Penyihir akan mengambil alih tubuh anak itu, dia dan korbannya akan berbagi tubuh fisik yang sama seumur hidup, hingga tubuh itu menua dan rapuh, sampai tidak lagi bisa digunakan,” tutur Jin, menatap simpati paras Jungkook yang sepucat ladang gandum di musim dingin, dia masih berpikir bocah ini sekadar menghayati.

Sebenarnya akan lain cerita jika Jungkook mendengarkan itu semua ketika sungguh belum mengalaminya sendiri.

“Tapi itu hanya akan terjadi jika korbannya datang pada hari ulang tahun Si Anak Penyihir, tapi bahkan dia sendiri tidak tahu kapan tepatnya ia dilahirkan, oleh karena itu dia selalu menjejali ramuan tersebut ke setiap anak yang datang tidak peduli tanggal berapa dan bulan apa anak itu mengunjunginya.” Intonasi suara Jin merendah. “Walau begitu, darah busuk tikus atau bajing akan tetap mengerikan, benar? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya mengunyah mata mereka mentah-mentah,” pungkasnya.

Jungkook mual lagi.

Dengan lemas Jungkook menelengkan wajahnya ke kanan, menatap betapa berantakan dirinya dalam pantulan cermin. Seandainya ia mendengar ini kemarin, Jungkook akan berkomentar bahwa cerita kisah itu adalah imajinasi yang dilebih-lebihkan. Namun setelah semua, mustahil Jungkook mampu menyanggahnya. Dia hanya berharap tiga puluh Desember bukanlah ulang tahun V. Sudah cukup ia menjadi Si Bungsu yang ditelantarkan pada hari Natal dan Tahun Baru kali ini. Dia tidak mau menambah masalah dengan—

Jungkook melihat sosok V tersenyum.

Dalam cermin.

Dalam dirinya.

Jujur saja, ia ingin V berada di dekatnya tidak peduli apa pun wujud anak lelaki itu, setengah ada pun.

Tetapi tidak sedekat ini.

 

FIN

Yup. Benar.

Seharusnya spesial ulang tahun paman Taehyung. Tapi berhubung saya males ngetik akhirnya telat //slap

Bangunan bertuliskan COME SEE MY CAT ini beneran ada loh, di daerah bernama Berwick, suatu wilayah di benua Australia. Ditemukan oleh pelancong yang lewat di sana saat naik kereta api, memotretnya lalu sempat viral di internet beberapa tahun yang lalu. Baca artikelnya di sini: klik.

Terus, itu dongeng bunga sakura, lihat di sini deh: klik.

IFK kok sepi ya ngomong-ngomong? Scriptwriter pada kemana, nih? Saya sendiri scriptwriter angkatan(?) 2014 tapi memang jarang ngepost di sini sih, eheh //slap slap

Terima kasih sudah membaca anyway x))

Iklan

2 thoughts on “[CREEPYPASTA] Come See My Cat”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s