FLOWER’S GRAVE

flowers-grave2

poster credit by VIncyterix@Art World

scripwriter : chioneexo | main cast(s) : Jaejoong [JYJ], Taeyong [NCT] | supporting cast(s) :  Kris, Wendy [RV] and some of Original Characters | duration : 9147w (i’ve warn you! this is super-duper long oneshoot)  |  genre : detective story, crime, action | rating  : PG-17

__

 

[supaya tidak bingung dengan karakter Kris, aku sarankan membaca Temperatur Es terlebih dahulu]

__

 

24th  March, 2017.

East Houston Street.

 

“…diduga meninggal karena diracun oleh salah seorang koki di Residence Inn. Wanita dengan garis keturunan Cina-Amerika tersebut ditemukan terkapar di kamarnya …polisi sedang melacak pelaku…beralih ke berita politik…Hillary Clinton…srrkkkk…pemilu raya tahun lalu….srrrrkkkk…”

                                          

            “MATIKAN RADIO PENYAKITAN ITU, TAEYONG!” Jaejoong baru akan melanjutkan tidurnya kalau saja berita pukul lima pagi tak membuatnya senewen. Damn it, memangnya apa yang dilakukan Taeyong subuh hari begini? Bukankah dia yang biasanya tidur dengan mulut terbuka selebar kuda nil sampai jam sembilan?

 

“Hoi, berita mengenai Lili sudah tersebar ke seantero New York dan kau masih memilih tidur? Markas Pusat telah  menyerahkan kasus ini pada kita, setidaknya lakukan sesuatu.” Taeyong melempar selimut ke sembarang arah lalu mengeret Jaejoong. “Cepat mandi sana, kita harus bekerja.”

 

Meski tidak ingin beranjak, Jaejoong tahu investigasi ini tidak bisa ditunda. Lili Cheung meninggal di kamarnya di Residence Inn tiga hari yang lalu. Polisi masih bersikukuh wanita itu keracunan karena alergi, sementara menurut riwayat kesehatan dari rumah sakit setempat, Lili tidak pernah mengidap alergi susu, bahkan beberapa sumber menyebutkan Lili penggila produk susu. Kalaupun memang susunya yang basi, tentu dapat tercium jarak lima senti sebelum masuk ke mulut, bukan? Pendapat lain yang lebih masuk akal justru datang dari tim koroner, berkata bahwa susu itu kemungkinan besar terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit tertentu. Meski belum ada keputusan final dari laboratorium, Jaejoong menolak untuk sepaham dengan para polisi.

 

Jaejoong keder membayangkan mayat Cheung tergeletak kaku di atas tempat tidur, masih berpakaian ala pegawai supermarket, dan mengepal sesuatu berupa secarik kertas yang di atasnya tertulis angka-angka. Tugas yang paling membuat Jaejoong uring-uringan dari kemarin—dan lagi-lagi para polisi menganggap nomor tersebut adalah nomor rekening, yang dibantah habis-habisan oleh beberapa pihak terkait—adalah menemukan maksud dibalik deretan angka tadi. Jaejoong bukannya tidak mau angkat bicara, dia hanya butuh berpikir mengapa sebelas angka tersebut masih ditambahi angka 1, 9, 5, dan 6 di bawahnya? Apakah ini kode berlapis?

 

Mungkin.

 

Mungkin tidak.

 

“Sudah lihat Weather Channel?”

 

“Berangin, tidak ada potensi hujan, cerah sedikit,” sahut Taeyong. “Bagian forensik melapor bahwa tidak ada hal yang mencurigakan di kamar wanita itu. Motif-motif bunuh diri sepertinya mustahil. Lili Cheung tidak mengonsumsi anti-depresan dan, well, kelihatan baik-baik saja lahir dan batin.”

 

Jaejoong menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sebutkan ulang angka-angkanya.”

 

Taeyong mengeja. “Kosong-tujuh-lima-empat-lima-tujuh-satu-dua-lima-kosong-kosong.”

 

“Sebenarnya bukan tidak mungkin itu nomor rekening, biasanya memang sebelas digit. Aku punya ide yang lebih baik untuk mencocokkan apakah itu benar nomor rekening atau bukan. Kita pergi ke Central Bank setelah mengunjungi Residence Inn sekali lagi, kau panaskan mobilnya.” Jaejoong melempar kunci mobil yang semalam digeletakkannya sembarangan di atas nakas.

 

Seriously? Apakah aku boleh menyesal telah memutuskan jadi partner-mu?” Taeyong mengomel-ria sambil memandangi Jaejoong yang mulai melepas bajunya.

 

“Kau bisa menyesalinya nanti, aku tidak butuh keluhanmu sekarang.” Si pria berwajah cantik itu pun masuk ke kamar mandi dan menunggu beberapa saat sampai air panasnya bekerja. Taeyong melengos pergi sebelum matanya ternodai pemandangan bugil ala Kim Jaejoong.

 

__

 

TKP dengan garis kuning polisi melintang pendek melewati daun pintu kamar nomor 207A, mayat Lili telah dipindahkan beberapa hari yang lalu dalam keadaan kaku luar biasa. Kematiannya sudah berlangsung lama sebelum beberapa orang menyadari bau busuk menguar melalui ruangan ini. Saksi mata terakhir mengatakan, Lili baru pulang dari shift malamnya di sebuah supermarket, ia memesan makan malam dari restoran di lantai satu dan menunggu setidaknya tiga puluh menit sampai semua kudapannya selesai. Tidak hanya Lili yang memesan susu malam itu, dua yang lain (seperti yang telah Jaejoong selidiki dari bon-bon transaksi sebelum tanggal kematian Lili) yaitu Sandra Quinn Jones dan Amelia Roberts. Ajaibnya, kedua wanita tadi masih hidup. Berarti bukan susunya yang basi (atau terkontaminasi benda dari luar), melainkan ada orang yang menaruh racun sebelum makanan itu diambil oleh Lili dari dapur di lantai satu.

 

“Pembunuhan dengan racun sangat mudah terdeteksi. Lab baru saja memberitahuku ada kandungan strychnine di dalamnya.” Taeyong berdecak kesal. “Polisi terbukti salah berkata ia keracunan karena alergi.”

 

“Berapa persen kandungan strychnine dalam susu itu?” Jaejoong masih berkutat di sekitar tempat tidur Lili, mengumpulkan bukti mikroskopis menggunakan lakban (seperti ketika kau menghilangkan bulu hewan dari baju).

 

“Hanya tiga persen, tapi itu lebih dari cukup untuk membunuh manusia.” Taeyong, di sisi lain, meneliti bukti-bukti sekunder berupa buku catatan, surat tagihan yang disimpan almarhum di dalam laci, dan beberapa jenis pakaian yang kelewat formal dan membosankan. “Wanita ini hidupnya teratur sekali.”

 

Jaejoong membenarkan dengan bergumam, lalu kembali sibuk dengan lakban dan lantai. “Bayangkan jika kau penjahatnya, Tae. Apa yang ada di kepalamu saat hendak menuangkan racun ke dalam susu?”

 

“Siapapun aku, pastilah salah satu penghuni dapur, atau pekerja tetap di Residence Inn. Bisa jadi bukan aku pelakunya, tapi orang yang sudah kubayar untuk melakukan kejahatan ini. Jika wanita se-membosankan Lili Cheung saja bisa mengancam hidupku, maka itu artinya dia harus mati. Aku adalah pembunuh perfeksionis, aku tidak suka orang lain mengetahui apa yang telah kulakukan. Kejahatanku sebelum ini tidak pernah ketahuan, dan aku jelas-jelas sudah ahli dalam membunuh, itulah sebabnya Lili Cheung harus musnah.”

 

“Sederhana. Tapi aku juga berpikir begitu. Si pembunuh ini lihai dalam bersembunyi, namun pemikirannya kelewat dangkal dengan hanya menuang racun. Dia pemikir yang simple. Asal Lili mati, semuanya beres.”

 

At least, dia tidak melakukan kejahatan seks, aku benci menangani kasus seperti itu.” Taeyong bergidik, lantas mengamati lagi secarik kertas yang sudah disalinnya dari pesan terakhir Lili Cheung. Pesan berupa angka-angka nyatanya tidak semudah itu dipecahkan. Kendati demikian, pesan ini juga menunjukkan bahwa Lili adalah wanita yang pintar. Dia meminimalisir informasi supaya hanya segelintir dari tim penyelidik yang tahu, bisa memecahkan, dan mencari siapa dalang dari semua ini. Kalau semua orang tahu, pelakunya pasti kabur entah kemana karena diburu banyak pihak.

 

“Polisi akan kemari nanti siang, apa tidak sebaiknya kau serahkan beberapa bukti untuk mereka teliti? Sampel lakban itu, misalnya?” Taeyong menyarankan, ia masih berputar-putar mengitari bagian depan kusen jendela yang menghadap ke apartemen lain.

 

“Biarlah polisi mengurusi penjahatnya, kita fokus saja memecahkan pesan kematian Lili. Lagipula, apa yang bisa dilakukan polisi dengan lakban-lakban ini? Mereka terlatih memegang Glock, bukan mikroskop,” sahut Jaejoong. “Ayo pergi, aku sudah selesai.”

 

Taeyong mengekor di belakang Jaejoong, keduanya melepas setelan Tyvek satu menit setelah mereka keluar dari kamar 207A. Penghuni sebelah, Brandon Finnigan, pindah sehari yang lalu karena ketakutan. Pria itu percaya bahwa sehari setelah kematian Lili, ia mendengar suara-suara aneh menembus tembok kamarnya.

 

“Kalau nomor ini bukan nomor rekening bagaimana?” Taeyong berbicara selepas melirik salah satu penjaga bertubuh kekar-tinggi dengan baju super ketat. “Kita juga belum mengunjungi supermarket tempatnya bekerja. Banyak hal yang belum kita lakukan.”

 

Jaejoong berhenti mendadak, lalu berbalik. “Kekhawatiran dan sifat tergesa-gesamu membuatku gerah. Simpan saja pertanyaan itu dan ikuti aku. Got it?”

 

Taeyong terdiam. Bertanya lebih lanjut hanya akan membuat partner-nya mengeluarkan sungut setan, dan Taeyong tidak ingin hal itu terjadi pagi-pagi begini.

 

__

 

Pagi hari di bank selalu padat manusia. Orang-orang gendut berwajah masam sibuk menabungkan uang mereka dalam jumlah besar, beberapa wanita pebisnis marah-marah karena potongan bulanan bank terlalu banyak, dan sebagian kecil petugas pengepel lantai yang mondar-mandir dengan ember dan karbol. Semua itu, ditambah pegawai pabrik rendahan yang mengantre pinjaman untuk modal usaha. Kim Jaejoong mengambil antrean paling kiri, sebab di sana hanya ada dua orang tersisa sebelum dirinya menghadap teller cantik berambut cokelat terang. Di belakangnya, Taeyong menenteng tas briefcase sembari mengedarkan pandangan ke seisi ruangan.

 

“Kau nyalakan recoder di ponselmu, pura-pura main game atau apa sana. Pokoknya apa yang diucapkan teller harus terekam dengan jelas,” bisik Jaejoong.

 

Aye aye, Sir.”

 

Taeyong bergeser ke sebelah Jaejoong, membuat antrean di belakangnya maju satu langkah. Ketika tiba saatnya Jaejoong menghadap teller, Taeyong memperhatikan dengan ketelitian tingkat tinggi selagi menghidupkan recorder.

 

“Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” Tuturnya ramah.

 

Jaejoong menunjukkan lencana detektifnya. “Aku detektif, Miss ehm—“ dibacanya nametag di dada wanita itu, “—ah, Miss Mandy. Kuulangi, aku detektif yang menangai kasus Lili Cheung. Kau tahu, bukan?”

 

“Tentu saja, berita tersebut hampir ada di setiap lembar koran dua hari belakangan.”

 

“Lili meninggalkan pesan ini dalam genggaman tangannya, aku ingin tahu apakah nomor ini nomor rekening. Bisakah kau mengeceknya?” Jaejoong mengulurkan salinan pesan terakhir Cheung.

 

Mandy menerima carikan kertas tersebut dan mulai mengetik, bola matanya mondar-mandir mengikuti arah kursor. Sementara menunggu, Taeyong menghentikan rekamannya dan menamai rekaman tersebut menjadi ‘Mandy 01’. Ia melirik Jaejoong sebentar, wajahnya datar-datar saja.

 

“Kita belum menginterogasi koki di Residence Inn. Kudengar, para penghuni kamar akan mengambil sendiri nampan makanannya dari dapur karena liftnya rusak. Hal ini sudah kukonfirmasi dan beberapa orang yang tinggal di sana.” Taeyong menatap Jaejoong lagi, tetapi pria itu tidak menunjukkan reaksi apapun selain terpaku pada si cantik Mandy. Meski begitu, Taeyong tahu Jaejoong mendengarkannya.

 

“Bagaimana?” Tanya Jaejoong. Taeyong mulai merekam lagi.

 

“Tidak ada nomor rekening yang seperti itu. Maaf.”

 

“Kau bisa carikan rekening bank atas nama Lili Cheung?”

 

Mengangguk. “Kalau yang itu ada.”

 

“Sebutkan informasi personalnya.”

 

“Nama, Lili Cheung. Usia, 24. Tempat dan tanggal lahir, Chengjiao, Provinsi Jilin, 16 Mei 1992. Alamat di New York, Residence Inn bagian Midtown East/Manhattan. Tertera nomor kamar, 207A. Pekerjaan, pegawai. Sisa saldo ada sekitar tiga ratus dollar.”

 

“Kapan terakhir kali dia melakukan penarikan tunai?”

 

“Seminggu lalu, dari ATM dekat Smith and Wollensky. Kau tahu daerah itu, kan? Daerah yang penuh restoran Asia, termasuk Bukhara Grill dan Gyu-Kaku Japanese Barbeque. Aku pernah ke sana, makanannya enak sekali.” Informasi tambahan yang tidak penting. Anggapan Jaejoong, Mandy pasti gugup karena ia memandanginya terlampau intens.

 

Trims atas informasinya. Dan, jangan bocorkan pada siapapun soal nomor-nomor tadi. Kau mengerti, Miss Mandy?”

 

“Sepenuhnya mengerti.”

 

Good. Semoga harimu menyenangkan, kalau begitu.” Jaejoong berbalik, langkahnya lebar-lebar. Pria itu keluar dari bank dengan alis menyatu, Taeyong jadi bertanya-tanya apa yang ada di pikiran rekannya.

 

“Ada yang kau khawatirkan, huh?”

 

“Ehm, tidak ada. Hanya merasa aneh. Residence Inn bukan hunian yang murah, tapi tidak semahal Hotel Hilton. Berapa rata-rata gaji pegawai supermarket?”

 

“Entahlah, kupikir tidak sebanyak sisa saldo Lili tadi. Dia pasti anak orang kaya hingga bisa tinggal di sana.”

 

“Tapi mengapa bekerja di supermarket?” Jaejoong mulai berjalan ke arah mobil, pikirannya masih berusaha menyatukan fakta-fakta yang terpisah menjadi satu kesatuan. “Kita perlu mengorek informasi dari teman kerja Lili. Siapa namanya?”

 

“Ashlyn White.”

 

Shiftnya?”

 

“Siang dan malam. Tapi dia bukan kasir, tidak seperti Lili.”

 

Jaejoong terus menebak-nebak motif pembunuhan Lili Cheung. Data-data yang didapatnya masih random, terlalu rumit untuk menguak misteri di balik kematian sang wanita. Tentang siapa yang menuangkan racunnya di dapur (karena, persetan, dapur Residence Inn tidak memiliki kamera pengaman!) dan apa arti sebelas angka itu, ditambah angka-angka di bawahnya. Semuanya seperti dua kutub magnet yang bertolak belakang.

 

Tapi justru inilah tantangannya.

 

Korban yang meninggalkan pesan bermaksud memberitahukan sesuatu. Jika bukan untuk dikuak, maka apalagi maksudnya?

 

__

            Perjalanan ke Central Market sama sekali tidak mulus. Maksudku, ayolah, ini Senin pagi menjelang siang dan kau terjebak macet di perempatan Madison Avenue sambil memandangi Starbucks di kiri jalan yang kelihatan menggiurkan. Halte Madison Ave/Eeast 42 Street sudah terlihat, lurus ke depan melewati Ann Taylor dan toko ponsel Verizon, kemudian berbelok ke arah East 44th Street yang di bagian kiri jalan terdapat toko peralatan tenis (Grand Central Racquet lebih ramai dari biasanya, apa karena ini musim semi?), dan pada akhirnya berbelok ke arah Vanderbilt Avenue. Jaejoong memarkir mobilnya secara paralel di depan ATM Bank of America, menyeberang jalan tanpa kesulitan yang berarti.

 

Central Market masih sama seperti yang terakhir dilihat Jaejoong. Ada gerbang berwarna merah marun, dilengkapi teralis sederhana namun elegan. Kusen pintunya berwarna vegas gold, lampu kristal kuningan bergelantungan mewah di atasnya.

 

“Lili bekerja di tempat seperti ini? Kukira supermarket ecek-ecek seperti Dual Speciality atau Morton Williams! Sepertinya dia benar-benar orang kaya, gaji di tempat ini tentunya tidak murah,” kata Taeyong. “Well, aku tidak pernah kemari jadi, yah, agak terkejut.”

 

“Aku bisa mengerti keterkejutanmu, tapi gaji di sini pun sepertinya hanya akan cukup membayar tagihan satu bulan, belum uang makan dan kebutuhan lain. Ditambah lagi, kau bilang Lili pegawai baru? Gajinya masih di bawah standar kalau begitu.”

 

Menunjuk ke satu titik di balik konter kue, Taeyong berkata, “itu Ashlyn.”

 

“Dia? Darimana kau tahu? Kau kan tidak pernah kemari?”

 

“Dapat fotonya dari polisi.”

 

Jaejoong menghampiri si wanita berambut hitam, semakin ia mendekat, semakin jelas pula mata biru jernih yang dimiliki wanita tersebut. Ashlyn sedikit lebih tua daripada Lili, namun penampilan emo-nya membuat Jaejoong tak yakin bisa mewawancarainya tanpa mendengar ucapan kasar.

 

Morning.” Jaejoong menyapa duluan. “Aku detektif yang meny—“

 

“Kasus Lili. Ya, aku tahu. Rasanya sudah puluhan kali aku ditanyai macam-macam soal itu. Kemarin polisi, kemarinnya lagi tim forensik, dan sekarang kau.” Ashlyn tertawa tipis. “Aku mengerti pekerjaan kalian berat, jadi, mari kita bicara di luar saja.”

 

Ashlyn melepas apron putih yang diatasnya dijahit lambang Central Market. Baju seragamnya sama persis dengan milik Lili Cheung. Setelah sampai di luar—tepatnya di bagian selatan supermarket yang agak sepi—Ashlyn White menyalakan rokok dan menghirupnya dalam-dalam, ia menawari masing-masing satu untuk Jaejoong dan Taeyong namun keduanya menolak.

 

“Sayang sekali kalian bukan perokok. Nggak asik. Tapi, ya sudahlah, bukan masalah besar. Kau bisa mulai wawancaranya.”

 

“Tunggu, mengapa kau bersedia melakukan ini?” Jaejoong mengernyit.

 

“Maksudmu?”

 

“Maksudku, kau kelihatan tidak meyakinkan.” Kim Jaejoong memandang wanita itu dengan jeli. Masih sama tidak yakinnya seperti beberapa menit silam.

 

“Bung, aku ini temannya sejak awal dia melamar kemari. Kau tak percaya padaku?”

 

“Kau punya bukti?”

 

Si wanita mengeluarkan ponselnya. “Lihat saja di galeriku, penuh foto-foto kami. Kau bisa cek tanggalnya, juga percakapan kami di chatroom. Apapun.”

 

Jaejoong membenarkan bahwa ada ratusan, ralat, ribuan selfie di galeri ponsel Ashlyn. Sebagian besar memang bersama Lili, dan sebagian kecil lain potret dirinya sendiri dan aktor Nicholas Hoult yang diunduh dari internet.

 

“Kau percaya sekarang?”

 

“Mungkin,” balas si detektif muda. “Kurasa aku bisa percaya padamu setelah mendengar beberapa penjelasan.”

 

Kepada Taeyong, Jaejoong berkata, “belikan kami minuman dan kue, atau snack apa saja.”

 

“Soda untukku, please. Aku memang bekerja di sana tapi tidak selalu bisa membeli barang-barang yang dijual.”

 

Taeyong mengangguk sambil lalu, diserahkanya ponsel yang sedang merekam kepada Jaejoong.

 

“Pertama-tama, aku ingin dengar soal kepribadian Lili Cheung.” Jaejoong berkata sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling, bermaksud mencari tempat duduk. Mereka berdua menemukan satu bangku panjang di sisi seberang supermarket, agak jauh tapi lumayan daripada berdiri.

 

“Dia orang Cina, seperti yang kau tahu. Tidak seperti kebanyakan manusia bermata sipit yang kutemui, Lili agak pendiam. Dia masuk sebelum pukul tujuh dan pulang jam delapan lebih lima belas. Pegawai yang rajin. Sempat menjadi bahan penindasan karyawan yang lebih senior, dan aku membelanya. Sejak saat itu dia jadi temanku.” Ashlyn berhenti untuk menerima kaleng soda dari Taeyong. Rokoknya dimatikan sejenak.

 

“Keluarganya?”

 

“Sedikit yang kutahu, ayahnya pengusaha menengah ke atas di daerah Bronx. Lili tidak ingin jadi seperti ayahnya yang bergerak di bidang bisnis, dia ingin jadi manusia biasa katanya. Aku juga heran, cara berpikir Lili sungguh aneh.”

 

“Bagaimana dengan ibunya?”

 

“Tinggal di Cina bersama satu kakak lelaki dan satu adik perempuan. Keluarga Cheung punya bisnis restoran di Beijing. Lili anak orang kaya, asal kalian tahu.”

 

“Seperti kataku,” sahut Taeyong bangga.

 

“Bisa kau jelaskan secara rinci mengapa Lili tidak bekerja di perusahaan ayahnya? I mean, itu aneh sekali.”

 

“Cara berpikir orang tua dan anak kadang bertolak belakang. Lili yang kukenal itu, dia wanita yang sederhana. Tidak merokok, bukan peminum. Hidupnya sehat, dan dia pintar. Kalian pasti bertanya-tanya mengapa Lili bisa tinggal di Residence Inn? Ayahnya yang membayar tagihan bulanan atas tempat itu. Awalnya Lili bahkan ngotot ingin tinggal di rumah susun biasa.” Ashlyn White menghidupkan kembali rokoknya. “Kesimpulan yang dapat kuambil, Lili ingin memulai dari nol. Kau tahu kan? Dia ingin membuktikan tidak saja kepada ayahnya, namun pada diri sendiri, pada dunia, bahwa dia bisa mandiri dan menjalani hidup seperti yang dia inginkan.”

 

“Tapi ayahnya bersikeras membantu. Terutama soal Residence Inn,” ucap Jaejoong. Ia mulai paham sekarang. Mungkin itu alasan di balik komentar Taeyong soal Lili yang hidupnya membosankan. Wanita itu kaku, keras kepala, dan kurang pandai bergaul. Namun di balik itu semua, dia jelas-jelas orang baik.

 

“Apa kau pernah berkunjung ke Residence Inn?”

 

“Kamar 207A? Hanya sekali. Itupun sudah empat bulan lalu. Kami mengadakan pesta menginap kecil-kecilan. Lili membeli whiski mahal tapi berakhir dengan tidak ikut meminumnya. Dan, oh, satu lagi, Lili pecinta produk susu. Hampir setiap pulang kerja, dia membeli yoghurt, minuman probiotik susu, keju lembaran, dan es krim. Tidak heran Lili begitu sehat.”

 

Mengerutkan dahi, Jaejoong berkata, “kau tahu Lili meninggal karena keracunan susu, bukan?”

 

“Aku tahu.” Si wanita mengisap rokoknya dalam-dalam, kemudian menyemprotkan asap bulat-bulat ke udara. “Dia sudah berpesan pada koki di sana sejak pertama kali menginjakkan kaki di Residence Inn, bahwa ia hanya ingin susu sebagai minuman pada setiap makanan. Tidak peduli itu sarapan, makan siang, makan malam. Jadi, secara teknis, temanku itu setidaknya minum tiga gelas susu tiap harinya, atau lebih.”

 

Sekarang giliran Taeyong bertanya. “Bagaimana dengan perilakunya terhadap pelanggan? Apakah dia pasif?”

 

“Tidak juga sih. Dia tahu diri kapan harus jadi Lili Si Pendiam dan Lili Yang Sedang Bekerja. Lili yang kedua adalah sosok murah senyum, kadang malah membuat percakapan kecil dengan pelanggan. Jika ada yang membeli produk susu, dia selalu bilang bahwa dia juga menyukai susu itu, atau yoghurt ini.” Ashlyn White menerawang jauh ke kerumunan orang yang berdesakan keluar dari Central Market, matanya menunjukkan bahwa ia merasa sangat kehilangan. “Well, aku menyayanginya. Si Lili itu. Logat Cina-nya kadang terselip di antara percakapan, membuatku tertawa.”

 

Ashlyn White sedikit terisak.

 

Menepis suasana sedih, Taeyong kembali melontarkan pertanyaan. “Ada berapa kasa di dalam?”

 

“Sepuluh. Tidak semuanya buka. Kalau sepi, biasanya kami hanya membuka tiga kasa. Terakhir kali aku melihat Lili bertugas di kasa enam. Hari itu adalah hari terakhir aku berjumpa dengannya.”

 

Jaejoong memberikan isyarat pada Taeyong supaya mematikan recorder. Pemuda itu berdiri dan berkata, “cukup sekian kurasa. Kami akan berusaha untuk menemukan pelakunya. Kau keberatan jika kami meminta nomor ponselmu, Nona?”

 

“Tentu saja tidak.”

 

Lalu Taeyong mencatatnya di ponsel sambil mengucapkan terima kasih. Jaejoong memberikan beberapa lembar dollar pada Ashlyn. Untuk membeli soda dan rokok, katanya.

 

“Kalau begini, aku mau terus-terusan diwawancara olehmu,” wanita itu berkata sambil lalu. “Dah!”

 

Punggung Ashlyn White menghilang di balik pintu kaca Central Market. Jaejoong mendesah panjang, menandakan pikirannya sedang carut marut. Kedua pemuda itu masuk ke mobil tanpa berkata apa-apa lagi. Sudah terlalu banyak perkataan yang mengucur keluar, lainnya lebih baik disimpan untuk penyelidikan berikut.

 

Kali ini giliran Taeyong yang melajukan mobil. Membiarkan detektif dengan banyak pikiran  menyetir bukanlah ide bagus. Kalian setuju?

__

 

Masih di East Houston Street, di hunian Jaejoong yang nyaman dan hangat. Kedua penghuninya sibuk dengan dunia masing-masing, meski masih menyelidiki satu kasus yang sama: pembunuhan Lili Cheung. Kim Jaejoong tidak mengalihkan pandangan dari lakban dan mikroskop, yang sesaat kemudian sudah beralih fokus ke bukti lain berupa foto-foto TKP saat Lili masih ada di kamarnya. Duduk manis di atas tempat tidur adalah Taeyong, laptop keluaran Apple sewarna perak metalik terbuka lebar, menampilkan rekaman CCTV dari kamera pengintai di restoran di Residence Inn.

 

“Aku masih kesal dengan kenyataan Residence Inn tidak punya kamera di dapur. Harusnya ada. Penginapan sebesar itu harusnya memperhatikan keamanan.” Taeyong memecah keheningan.

 

“Harusnya.”

 

“Tapi mereka hanya memasang kamera di restoran dan di bagian depan pintu utama.”

 

“Apa kau sudah menemukan tanda-tanda ada orang mencurigakan datang pada tanggal Lili meninggal? Pembunuh itu pasti ada di sana. Pasti.” Jaejoong membalikkan kursi putarnya hingga menghadap Taeyong. “Disc berapa yang kau periksa?”

 

Disc tiga, rekaman sehari sebelum kematian Lili. Aku mencatat semua ciri-ciri orang yang mencurigakan, termasuk yang berpakaian hitam dan bertopi. Bukankah mereka yang berpakaian begitu biasanya mencurigakan?”

 

“Tidak semuanya, yang paling penting adalah—“

 

Ponsel Taeyong berbunyi nyaring. Pemuda itu mengangkatnya kilat.

 

“Halo? Kau sudah dalam perjalanan?”

 

“Ah, baiklah. Aku segera meluncur.”

 

Bip.

 

Kesal karena dialognya terpotong, Jaejoong memelototi Taeyong dengan pandangan apa-kau-ingin-keluar-kencan-padahal-masih-banyak-pekerjaan sambil melipat tangan. “Siapa itu tadi? Pacarmu?”

 

“Son Wendy. Pakar kinesik yang kusewa untuk mewawancarai kru dapur Residence Inn. Kau sudah mengenal dia, bukan?” Taeyong bergegas memakai setelan kemejanya yang paling formal, kemudian mengenakan sepatu mengkilat yang tempo hari disemirnya sebanyak dua lapisan.

 

“Kau menyewa dia tanpa memberitahuku?”

 

“Kau keberatan?”

 

“Tidak. Tapi lain kali, pastikan kau melapor dahulu padaku. Kau tidak pada posisi yang dibenarkan melakukan hal itu. You’re a rookie, got it?”

 

“Oke. Maaf.” Taeyong buru-buru mengaplikasikan perfume aroma laut kesukaannya—yang sekonyong-konyong membuat kamar itu serasa kamar pengantin baru—dan mencomot topi fedora dari gantungan. Tas berisi catatan dan perekam suara tersampir rapi di lengan kanannya. “Jae? Bisakah kau mengecek rekaman CCTV-nya untukku? Aku takut pulang terlalu malam dan keburu mengantuk sepulang dari Residence Inn.”

 

“Baiklah. Tapi pastikan kau dapat informasi yang bagus.”

 

__

 

Raven Greenwood menenggak minumannya sendiri malam itu. Ia menikmati keberhasilan rencananya atas pembunuhan Lili Cheung. Well, kalau boleh dibilang, sebenarnya wanita itu tidak salah apa-apa. Yang salah adalah takdir. Takdir yang membuat wanita tersebut berbelok ke gang sepi tempat Raven melangsungkan aksinya.

 

Barangkali Lili hanya melihat seorang pelanggan Central Market sedang memberikan susu gratis kepada anak-anak terlantar. Namun benarkah demikian? Tentu saja tidak. Raven Greenwood bukan seorang dermawan. Anak-anak itu dibunuh (diracun, lebih tepatnya) untuk dijual kembali dalam potongan-potongan yang lebih kecil, kalau kau mengerti maksudku. Pria paruh baya dengan rambut berminyak tersebut bisa saja menciptakan seribu alasan pada Lili. Namun kembali pada prinsipnya, tidak boleh ada saksi.

 

Jadi siapapun itu yang melihatnya ‘bekerja’, harus mati cepat atau lambat.

 

Dia sendiri tidak akan menyangka akan menggunakan susu sebagai media pembunuhan pada orang dewasa. Kalau anak-anak, masih masuk akal. Raven menyebut hal ini sebagai keberuntungan. Ia hanya beruntung saksinya adalah penggila produk susu, ia beruntung Lili Cheung tidak menaruh curiga yang berarti padanya. Namun, di atas semua keberuntungan itu, Raven masih harus mengkhawatirkan anak-anak yang menjadi targetnya. Bagaimana ia akan mengoplos susu dengan racun, memilah korban (harus berusia sepuluh sampai lima belas, kata bosnya), dan berakting menjadi Paman Andrew yang baik hati. Pembunuh tidak pernah memakai nama asli, mungkin hanya Raven dan segelintir anggota Black Cruise yang tahu bahwa dia bukan Andrew.

 

Sekali lagi Raven melihat detektif muda nan tampan itu memasuki Residence Inn. Oh, buang-buang waktu. Kau tidak akan menemukanku. Tuduh saja semua koki di sana, aku akan senang kalau kau salah tangkap. Batinnya senang. Greenwood bukan orang bodoh yang membahayakan diri sendiri dengan berseliweran di sekitar TKP. Fakta bahwa nama Kim Jaejoong ada di balik penyelidikan ini membuatnya gelisah. Yang satu lagi, Taeyong, barangkali tidak lebih senior dari detektif-detektif lain di Kesatuan.

 

Jadi, Raven hengkang dari sana dan melanjutkan perjalanan. Ia menyukai kronologi yang dibuatnya untuk membunuh Lili Cheung. Wanita itu memergokinya memberikan susu pada anak-anak tanggal sembilan belas, waktu itu sore hari. Entah apa yang dilakukannya dengan berjalan-jalan di gang kumuh di pinggiran Lower Manhattan. Lili Cheung mengenali wajah Raven, atau Andrew, dan tersenyum tipis padanya. Sekali lagi, ini hanya masalah takdir. Sudah takdir Raven jadi ceroboh hari itu, takdir pula yang memberinya rencana kilat namun gemilang untuk membunuh Lili. Malam harinya, Raven datang ke restoran di Residence Inn dan tahu bahwa Lili menyukai susu (siapa yang tidak tahu kalau koki-koki di sana berteriak sekeras terompet sepak bola?).

 

Greenwood sering bertandang ke Central Market untuk membeli berkotak-kotak susu, minuman jeli, permen, bahkan bubuk es krim untuk di mixernya sendiri di rumah. Kemarin (tanggal dua puluh), ia baru saja diajak bercakap-cakap oleh Cheung ketika melakukan pembayaran di kasa. Wanita itu berkata ia sangat menyukai merek susu tertentu (yang kebetulan dibeli Raven hari itu, untuk membuat es krim). Jadi, pada hari berikutnya (tanggal dua puluh satu, hari dimana Lili meninggal), Raven membeli susu yang sama dari supermarket lain, mencampurnya dengan strychnine, dan menyegelnya seolah-olah itu produk baru (Raven juga melakukan hal yang sama pada anak-anak). Ia membawa ‘ramuan’ tersebut ke Central Market dan membayarkannya seolah-olah susu oplosan tadi berasal dari salah satu rak. Terkahir, ia memberikan kotak susu yang diracun pada Lili dengan dalih pertemanan. Barangkali kita bisa berteman, Nona Cheung? Aku juga menyukai susu. Kau mau menerima tanda pertemanan dariku?

 

            Oh, tentu saja, Tuan Andrew. Aku melihatmu di gang kemarin, memberi susu kepada anak-anak. Apakah itu alasan Anda sering membeli susu kemasan kecil?

 

            Ya, aku menyukai anak-anak dan jika ada yang bisa kulakukan untuk membahagiakan mereka, maka susu menjadi jawabannya. Kadang-kadang kuberi minuman jeli, atau es krim, bahkan nougat.

 

Dan, seperti prediksi awal, Lili akan meminum baik susu yang dipesannya dari restoran di lantai satu maupun susu pemberian Raven. Tidak akan ada yang curiga pada Raven Greenwood. Kotak susu tersebut pasti sudah berada di Dumpster entah dimana, bercampur dengan sampah-sampah lain (Raven sudah memeriksa kapan petugas kebersihan datang menagih sampah, mereka datang sesudah Lili pulang kerja).

 

Tetapi satu hal yang tidak diketahuinya: bahwa Lili Cheung meninggalkan kode pada Jaejoong dan Taeyong.

 

Dan sementara Raven masih mengira dirinya aman, Jaejoong tengah berusaha memecahkan pesan kematian Lili Cheung.

 

__

 

Kalau kemarin Taeyong yang bangun pagi, maka hari ini giliran Jaejoong yang berbuat begitu. Well, sebenarnya Jaejoong tidak tidur sama sekali. Berkas-berkas berserakan layaknya sayap laron yang lepas saat musim hujan; sangat banyak hingga menutupi sosok detektif itu. Rekaman CCTV tidak membuahkan banyak hasil, meski satu-dua pelanggan kelihatan mencurigakan, Jaejoong tidak tahu pasti yang mana pembunuhnya. Ada ratusan pelanggan dalam kurun waktu tiga hari sebelum dan sesudah kematian Lili.

 

Semalam, Taeyong pulang dengan hasil yang sama nihilnya dengan pengamatan Jaejoong akan rekaman CCTV. Son Wendy—yang tidak pernah keliru dalam menilai ekspresi dan gerak-gerik tersangka bersalah—tak menemukan apapun. Wanita itu bilang, semua kru dapur Residence Inn berkata jujur. Jaejoong mengetuk-ketukkan ujung pensil ke meja, lampu duduk yang diletakkan di samping komputer belum padam sejak empat jam yang lalu.

 

Kim Jaejoong menemukan kebuntuan sampai ia memikirkan ucapan Ashlyn White kemarin pagi. Diberkatilah keheningan subuh hingga Jaejoong bisa berpikir jernih.

 

Terakhir kali aku melihat Lili bertugas di kasa enam.

 

1, 9, 5, dan 6.

 

Jaejoong tertawa sendiri. “Oh, ya ampun. Jadi ini maksudnya?”

 

Lili Cheung terakhir bekerja di kasa enam. Dalam hitungan mundur, ia menempati kasa lima, sembilan, dan satu. Mungkin dalam empat hari itu dia bertemu si pembunuh, dan karena tahu dapur Residence Inn tidak berkamera, maka dia mengarahkan Jaejoong kepada tempat yang memiliki kamera pengaman.

 

Setiap kasa di supermarket manapun di dunia akan memiliki satu kamera.

 

Detektif tersebut melirik jam, sudah pukul lima pagi ternyata. Kebisingan New York juga mulai terdengar di luar sana. Ia mengirim pesan pada Ashlyn apakah Central Market buka pukul tujuh, dan wanita itu membenarkan sambil mengutuk Jaejoong karena mengiriminya pesan sepagi ini.

 

Jaejoong beranjak ke kamar mandi, menghidupkan air hangat, mandi, berganti pakaian, kemudian mulai memasak sarapan pagi yang sehat dengan susu sebagai minumannya.

 

Baiklah, Lili. Aku akan menangkap siapapun yang membunuhmu. Tapi sebelum itu, kalau arwahmu ada di sini, barangkali, marilah kita bersulang untuk satu keberhasilan kecil.

 

Kemudian ia berjalan ke tempat tidur dan berteriak, “TAEYONG, BANGUN!”

__

 

Suasana hati Jaejoong sedang baik. Taeyong sepenuhnya paham. Tapi menyeret orang pagi-pagi begini naik subway? Itu baru namanya kejam. Setidaknya bukan aku yang menyetir. Batin Taeyong lega. Ia bersandar pada tempat duduk dan mulai memejamkan mata lagi. Jaejoong tidak mengganggunya, malahan melonggarkan spasi antara mereka supaya Taeyong bisa lebih leluasa. Dan, well, seperti yang sering dilakukannya pada Taeyong di masa lalu, Jaejoong menyampirkan jasnya ke tubuh Taeyong yang menggigil. Pagi musim semi lumayan dingin, kalau kau belum tahu.

 

“Kau membuat kita jadi seperti pasangan gay.” Taeyong berkata tanpa membuka mata.

 

You’re freezing.”

 

Taeyong tidak memprotes, fakta bahwa dirinya kedinginan mengurungkan niatnya untuk mengembalikan jas itu pada Jaejoong. Ia terus memejamkan mata sampai di pemberhentian berikutnya, berharap hari ini mereka bisa maju satu langkah.

__

 

“Sialan.”

 

Ashlyn White mengerjap. “Ada apa? Kau menemukan sesuatu?”

 

Jaejoong pernah mendengar kalimat ini: kecuali kau pandai dalam menebak, jangan jadi detektif. Dan dia memang pandai menebak, meski tebakannya datang terlambat. Ashlyn menjelaskan, setiap pegawai yang ditempatkan di kasa akan melakukan semacam log-in menggunakan kartu gesek khusus, dan Jaejoong meminta tolong ke beberapa karyawan di sana untuk mengecek kasa 1, 9, dan 5. Sementara ia sendiri sedang menatap layar komputer kasa enam.

 

“Jae, apanya yang ‘sialan’?” Taeyong beringsut mendekat sambil mengunyah permen Smarties, mulutnya berdecak-decak berisik. “Oh, maafkan dia. Yang jelas bukan kau yang dia bilang ‘sialan’.” Jelas Taeyong kepada Ashyln, takut wanita itu salah paham.

 

Sir, Lili bertugas di kasa satu pada tanggal delapan belas,” ucap salah seorang karyawan senior dengan rambut jabrik kaku dan tindik di telinga. Dua yang lain juga mengonfirmasi bahwa Lili bekerja di kasa sembilan dan lima pada hari yang berbeda. Jaejoong membayangkan apa yang sebenarnya terjadi pada tanggal dua puluh satu.

 

“Kau bilang Lili suka bercakap-cakap dengan pelanggan?” Pertanyaan itu mengarah ke Ashlyn.

 

“Benar. Seringnya jika orang itu membeli produk susu, seperti yang kujelaskan tempo hari.”

 

“Kau punya rekaman CCTV tanggal delapan belas sampai dua puluh satu?”

 

Karyawan lain menyahut. “Hanya dua puluh dan dua puluh satu, lainnya sudah terhapus secara otomatis. Beruntung kau memintanya lebih cepat, Sir.”

 

Ya, betapa beruntungnya aku. Kalau saja aku terlambat satu hari, mungkin buktinya sudah tiada.

 

Setelah meminta izin pada kepala supermarket, Jaejoong cepat-cepat pergi ke ruangan khusus dimana lima komputer dijajarkan menempel pada tembok, satu petugas ditempatkan di sana. Ia pernah ingat seorang rekan berkata bahwa meneliti CCTV adalah hal yang krusial, butuh konsentrasi dan rasa ingin tahu yang cukup dalam mengamatinya.

 

“Kris pernah bilang padaku: Sebaiknya kau mengetahui disc mana yang harus kau teliti agar tidak terlalu lama menatap layar komputer. Well, kurasa hal itu bisa dibenarkan.” Kini Jaejoong melihat Lili Cheung bekerja dengan cekatan, menggeser barcode demi barcode lalu menerima uang pelanggan dan menyerahkan kembaliannya. Di sampingnya, Taeyong ikut memeriksa rekaman tanggal dua puluh satu.

 

Dua puluh menit berlalu seperti satu hari. Ashlyn hengkang dari ruangan itu sepuluh menit silam sebab pelanggan pertama sudah muncul melalui pintu depan Central Market. Namun petugas ruangan CCTV masih di sana—namanya Hank Lachowski, mengaku berasal dari East Elmhurst—dan membantu Taeyong mencatat hal-hal penting dalam rekaman tanggal dua puluh satu.

 

Klik!

 

“Rasanya aku pernah melihat pria ini di rekaman Residence Inn.” Taeyong memajukan kepalanya sampai-sampai hidungnya hampir mengenai monitor. “Dia pergi ke restoran tanggal sembilan belas. Aku yakin. Pria ini masuk dalam daftar orang-orang mencurigakan versiku.”

 

Jaejoong beranjak, ikut melihat apa yang ditemukan Taeyong. “Oh Tuhan.”

 

Why?”

 

“Aku juga melihatnya. Dia ada di rekaman tanggal dua puluh.”

 

Hank angkat bicara kemudian. “Maaf menyela, tapi kurasa kalian berhadapan dengan orang yang lumayan…gila.”

 

“Apa maksudmu? Kau kenal dia?” Jaejoong mengalihkan pandangannya ke arah Hank. Ada jeda menggelisahkan yang membuat ruangan berdiameter lima kali lima meter tersebut diliputi ketegangan.

 

“Pertama-tama, aku ingin bilang bahwa pria ini datang bukan pada shift-ku. Jadi, well, aku tidak bisa melaporkannya pada kalian lebih awal. Namanya Andrew, dia anggota dari perkumpulan serikat dagang ilegal bernama Black Cruise. Mereka menjual narkoba, minuman keras, pekerja seks komersial, buruh pabrik, dan yang paling parah, organ tubuh manusia. Aku tidak tahu markas mereka ada dimana, namun seseorang yang menangani kasus Black Cruise pernah menyinggung Rikers Island.” Hank menutup dialog dengan satu desahan panjang, seolah benar-benar menyesal tidak melaporkan Andrew lebih awal.

 

Ketiganya memutuskan untuk melihat rekaman lebih lama lagi. Taeyong terkejut sewaktu mendapati Andrew memberikan sekarton susu pada Lili. “Itu pasti susu yang mengandung strychnine.”

 

“Dia memalsukan motifnya, bukan begitu?” Jaejoong menyahuti dengan kesal. Masih terlalu pagi untuknya memaki-maki diri sendiri, namun fakta bahwa pembunuh berhasil mengecoh penyelidikan tersangka membuatnya jengkel. “Andrew membuat kita mengira pembunuhnya adalah salah satu koki di Residence Inn. Pantas saja penyelidikan Wendy tak membuahkan hasil.”

 

“Apa kalian akan menghubungi polisi?” Hank berkata di tengah-tengah kesibukan Jaejoong berpikir.

 

“Ya kami ak—“

 

Jaejoong mencengkeram lengan Taeyong sembari menimpali. “Daripada selusin polisi, kami lebih suka menyewa teman sesama detektif. Kau bilang tadi markas mereka di Rikers Island? Bisakah kukonfirmasi hal itu, Hank Lachowski?”

 

“Kurasa bisa. Aku mantan petugas SPBU di daerah itu dan sering mendengar berita orang hilang. Bahkan tetanggaku, Ariana—dia gadis berusia delapan belas tahun, tanpa kerabat dan tinggal di rumah susun kumuh—hilang. Kurasa dia diiming-imingi gaji besar, padahal hanya dipekerjakan sebagai wanita penghibur entah dimana.” Manik mata Hank berkeliaran bingung menatap lantai saat usai mengucapkannya.

 

Pria ini tahu lebih banyak.

 

“Di SPBU mana kau bekerja? American? ARCO?”

 

“American. Tepatnya di depan Taman Carlos R. Lillo. Kau bisa cari di Google Maps.”

 

Mengabaikan rekaman CCTV sepenuhnya, Jaejoong justru menatap Hank lekat-lekat. “You’ll help us, don’t you?”

 

“E-eh?”

 

“Kita bertemu di Antonio’s Kitchen kalau begitu. Tempat itu dekat sekali dengan Taman Carlos R. Lillo.”

 

“Tapi—“

 

“Kau sudah membantu kami sejauh ini. Tidak ada salahnya membantu sedikit lagi, bukan? Antonio’s Kitchen, dua hari lagi, jam dua siang.”

 

Hank mengiyakan dengan cara berdiam diri dan kemudian keluar dari ruangan, ingin menagih jatah keripik kentang katanya. Sementara Jaejoong menatap punggung Lachowski dengan tatapan dingin, Taeyong masih berkutat dengan monitor.

 

Sembari terus mengamati layar, Taeyong bersuara. “Apa yang kau lakukan? Kau memercayai orang itu padahal kita baru pertama kali bertemu dengannya? Itu tidak terlihat seperti dirimu.”

 

“Kita butuh Kris di sini.” Jaejoong tak mengindahkan pertanyaan Taeyong barusan.

 

Excuse me? Bukankah dia di London?”

 

“Kasusnya sudah berakhir Januari lalu, dia ada di New York sekarang. Dan, soal Hank, aku pikir dia menyembunyikan sesuatu. Kita akan tahu setibanya di Rikers Island.”

 

“Hei, Jae.”

 

“Apa?”

 

“Kau punya kontak salah satu koki di Residence Inn?”

 

“Ada. Koki kepala. Whats the matter?”

 

“Coba tanyakan padanya kapan saja petugas sampah datang. Aku ingin informasi detil. Hari, jam, dan apakah mereka menerima sampah dari kamar 207A.”

 

Kim Jaejoong tersenyum penuh arti. Kadang-kadang mengamati kerja para pemula bisa menjadi sangat mengasyikkan. Kurioritas mereka yang menggebu, dipadu dengan seberapa cerdas otak mereka bisa menemukan keganjilan, dan apakah tebakan mereka yang satu ini bisa membuka satu pintu lagi menuju tempat persembunyian Andrew.

__

 

Lantaran Taeyong berkata bahwa ia harus pergi ke Residence Inn sekali lagi, maka Jaejoong membiarkannya. Jika dilihat-lihat, Taeyong-lah yang lebih rajin menyelidiki TKP daripada Jaejoong. Mereka berdua tipe detektif yang berbeda. Taeyong menganggap TKP adalah sumber dari segala sumber. Di satu sisi, Kim Jaejoong justru menomorduakan TKP. Mengapa? Well, di TKP biasanya pelaku berusaha menghapus jejak dan memalsukan motif, seperti yang Andrew lakukan, dan untuk menguak motifnya kita harus menggali dari bagian luar.

 

Berdasarkan pengalamannya mengurusi perkumpulan gelap (serikat dagang ilegal, gangster, kelompok-kelompok kasino, sosialita bedebah, dan lain-lain), Jaejoong membutuhkan setidaknya dua regu ESU (Emergency Service Unit) dan satu rekan yang pandai memegang Glock. Itulah sebabnya si detektif muda meminta untuk bertemu dengan Kris di Cipriani Dolci yang berjarak beberapa meter dari Central Market.

 

“Kau kelihatan semakin kurus, Kris.”

 

Yeah, mungkin efek samping sering melihat hantu,” balas pria jangkung berkebangsaan Kanada tersebut. “Jadi, kau butuh aku untuk menyelidiki Rikers Island sekarang juga.”

 

Exactly.”

 

“Kita akan bermobil ke sana setelah aku menghabiskan Filet Mignon kalau begitu.”

 

Kris, seperti yang selalu dikenal Jaejoong, sangat modis dan rapi. Setiap inci tubuhnya ditempeli baju dan aksesori ber-merk. Kali ini perpaduan antara Versace dan Tom Ford. Jaejoong sendiri tidak akan membeli baju baru kecuali ia begitu menginginkannya, tidak seperti Kris yang setiap kali melirik keluaran terbaru di awal musim terpajang di etalase, langsung membelinya tanpa pikir panjang.

 

“Apa kita bisa percaya pada Hank?” Tanya Jaejoong.

 

“Dengar dari ceritamu saja aku sudah bisa memastikan kita sedang dijebak. Dan kalau tidak ingin berakhir seperti Lili Cheung, kita harus balik menjebak mereka.”

 

“Caranya?”

 

“Kita butuh umpan.”

 

Untuk sepersekian detik Jaejoong memutar otak. Umpan? Tapi siapa?

 

Tertawa pelan, Kris menyatakan. “Kau akan mengizinkan Taeyong pergi kali ini.”

 

Tidak. Kau gila ya? Dia akan berakhir dua kali lebih buruk daripada Lili!”

 

Or twice better.” Kris mengusap bibirnya dan beranjak dari kursi. “Kita ingin membuat mereka berpikir lawan mereka hanyalah detektif pemula yang lemah, tanpa perlindungan. Kau dan aku akan memimpin satu regu ESU. Taeyong will be okay, i know he’s just as brave as you.

 

Percakapan berikutnya mereka habiskan di mobil sembari menuju Rikers Island. Selang beberapa menit perjalanan, Jembatan Queensboro yang melintang melewati Sungai East dan Roosevelt Island mulai terlihat. Teralis-teralis raksasa dengan pemandangan kapal layar di baliknya membuat Jaejoong sedikit melupakan siapa itu Andrew. Di bagian tengah Sungai East (di Roosevelt Island, tentu saja) kedua detektif itu bisa melihat gedung apartemen Riverwalk Crossing, kolam renang Sportspark, dan ujung-ujung terjauh pulau berupa Smallpox Memorial Hospital (rumah sakit dengan bangunan mirip kastil yang dibangun pada tahun 1856, memiliki seratus tempat tidur dan dipakai untuk menampung korban wabah cacar). Setelah turun dari jembatan, mereka memasuki daerah Long Island City, melaju melewati bundaran yang menuju 21st Street, berkendara di sana dengan kecepatan penuh karena jalan itu merupakan jalan bebas hambatan. Satu jam selang, belokan ke arah 20th Avenue membawa mereka jauh ke lingkungan berangin ala Astoria. Terakhir, halte di Hazen Street yang sudah setengah bobrok (mungkin aus karena kadar garam di lingkungan tersebut cukup tinggi) menandakan Rikers Island Bridge sudah dekat.

 

Well, ini dia Rikers Island kita. Penuh dengan penjara.” Jaejoong melirik kilas pada gedung penjara pertama, Perry Control Center, lalu ada Robert N. Davoren Complex (yang dipenuhi grafiti pada dinding luarnya), dan terus berkendara menuju barat laut Rikers Island. “Aku punya perasaan yang bagus.”

 

“Soal apa?”

 

“Soal tempat persembunyian Black Cruise. Mereka pasti ada di sekitar Hillside Avenue. Karena apa?”

 

Kris terkekeh menyetujui. “Karena pedagang gelap akan mempunyai akses yang bagus menuju South dan North Brother Island, daerah Hunts Point, dan, kalau mereka kuat berlayar, bisa sampai Clason Point dan dengan mudah menyusuri Sungai Bronx.”

 

Seperti yang diharapkan Jaejoong, Kris selalu sejalan dengan apa yang dipikirkannya.

 

__

 

Lantaran Jaejoong tidak ada di sini, Taeyong bingung harus melakukan apa. Meski, sebenarnya, tidak ada yang harus dilakukan kecuali menunggu si detektif senior pulang dari pertemuannya dengan Kris, namun kegelisahan Taeyong nyatanya tak bisa disembunyikan. Dia barusan dari Residence Inn dan mendapat kabar dari kepala koki bahwa pada tanggal dua puluh satu, petugas sampah memang datang ke sana pada pukul sembilan, menagih sampah dari setiap kamar yang sudah berpenghuni. Lili pulang jam delapan lebih lima belas. Andrew sudah memperhitungkan kapan dia harus menyerahkan kotak susu itu.

 

Pintu apartemen berbunyi tit pelan, tanda ada seseorang yang masuk. Tanpa diduga-duga, Kris mengekor pelan di belakang Jaejoong. Wajah keduanya sekusut kulit kurma.  Taeyong, yang sama-sama masih dibuat kaget oleh satu kenyataan, mendekati Jaejoong dan bertanya dengan nada panik. “Kalian ke Rikers Island, ya?”

 

“Tidakkah kau berniat menyapaku dahulu, Adik Kecil Manis?” Kris menyentil dahi Taeyong tiba-tiba.

 

Mendesah. “Oh, well, well, well. Panggilan itu lagi. Baiklah, apa kabarmu, Kakak Tiang Listrik?”

 

“Baik-baik saja.” Kris memeluk Taeyong. “Dan, ya, kami baru pulang dari Rikers Island. Tempat yang buruk untuk dikunjungi di musim semi. Jae, bolehkah aku menjelaskan rencana kita pada Taeyong?”

 

“Silahkan.”

 

“Tunggu, aku juga punya informasi,” sela Taeyong sebelum Kris sempat memulai. “Ini soal sebelas digit yang ditulis Lili.”

 

“Kau sudah menemukan artinya?” Jaejoong berbalik dan berjalan mendekati Taeyong.

 

“Awalnya aku hanya menebak-nebak. Pemikiran ini muncul setelah melihat Lili di rekaman CCTV tadi. Jika angka di baris bawah adalah nomor kasa, maka nomor di atasnya pasti berhubungan dengan supermarket, bukan? Ternyata benar, sebelas digit tadi adalah barcode susu yang diberikan Andrew pada Lili. Untuk memastikan, aku mengirim pesan pada Ashlyn. Gadis itu membenarkan bahwa ada barcode yang sesuai dengan pesan Lili, merk susunya adalah Wegmans bentuk karton, jenis low-fat. Aku heran bagaimana dia bisa mengingat barcode.”

 

Kris menanggapi. “Wegmans adalah pabrik susu tertua di New York, lokasinya di Gates.”

 

“Jadi, sejak awal Lili mengarahkan kita ke Central Market. Dia tahu kita bisa menemukan Andrew di sana.” Jaejoong mengusap keningnya. “Kerja bagus, Taeyong-ah.”

 

“Lalu bagaimana dengan rencana kalian?” Taeyong ganti bertanya.

 

Jaejoong dan Kris saling berpandangan sebentar, seolah meminta persetujuan satu sama lain, dan rencana itu dimulai dengan dehaman Kris yang membuat perasaan Taeyong berubah was-was.

 

__

 

Hank Lachowski masuk ke salah satu gudang bekas di pinggiran pantai Hillside Avenue. Ia melipir mendekati beberapa anggota Black Cruise yang sibuk menenggak gin, meminta beberapa tetes dari mereka.  Matanya menangkap pemandangan yang normal—setidaknya, normal bagi anggota perkumpulan gelap tersebut—dan beringsut ke arah Andrew tak lama kemudian.

 

“Apakah mereka terpancing?” Andrew, atau Raven, bertanya selagi mengosongkan kandang ayam yang ia modifikasi sendiri untuk dijadikan tempat menggantung organ dalam manusia.

 

“Ya, mereka bilang tidak akan bawa polisi. Hanya si detektif pemula dan Kim Jaejoong. Mereka hanya ingin melihat-lihat kemari, tapi tidak ada salahnya langsung melenyapkan mereka, bukan? Bangsat-bangsat sok pintar itu.” Hank meludah kasar. “Keduanya ingin bertemu denganku jam dua siang ini di Antonio’s Kitchen.”

 

“Bagus. Kau akan membawa mereka kemari.”

 

“Bos ada dimana, Andrew?”

 

“Pergi ke Atlantic City. Ia keranjingan judi baru-baru ini. Oh, kau jangan khawatirkan dia. Pria itu berjudi juga untuk menggaji kita,” ucap Andrew, langkahnya kemudian mengarah ke sebuah penjara besi tempat mereka mengurung gadis-gadis belia (calon PSK yang wajib mereka kirimkan, atau aliansi mereka akan hilang satu per satu). “Hey, Sweety, kau ingin makan sandwich?”

 

Gadis yang dimaksud hanya menoleh, rantai di pergelangan tangannya bergemerincing setiap kali ia bergerak.

 

Menarik rambut gadis tersebut, Andrew berbisik. “Jangan berlagak kuat, aku tahu kau lapar. Jadi, kau mau sandwich atau tidak?”

 

Si gadis tetap diam, tatapannya menunjukkan bahwa dia telah muak berhadapan dengan Raven Greenwood. “Hank?”

 

Yes?”

 

“Kau bilang tetanggamu ini gadis penurut? Mengapa aku melihat yang sebaliknya?

 

“Mungkin jika kau memberinya pelajaran, kau bisa membuatnya buka mulut. Lagipula ada kamar kosong di belakang.”

 

Tersenyum seduktif, Andrew membenarkan. “Ide bagus. Melakukan itu pagi-pagi begini tidak ada salahnya. Apalagi bersama gadis secantik dirimu, Ariana.”

 

Ariana mendongak menatap Andrew yang lebih tinggi darinya, dalam hati ia hanya bisa berdoa, semoga pria di hadapannya kini mendapat tempat paling buruk di neraka kelak.

__

 

Butuh setidaknya dua jam untuk memastikan semuanya siap. Satu regu ESU yang dipimpin Kris akan memutar melewati jalur yang berbeda dengan Jaejoong. Anggota kepolisian dari polsek 113 dibagi menjadi dua tim sama banyak, mereka dilengkapi senjata bius dan pelumpuh saraf. Taeyong akan berkendara sendiri menggunakan SUV hitam (yang sudah dilengkapi lempeng anti peluru di badan mobil) dan menuju ke Antonio’s Kitchen berdasarkan petunjuk dari Kris dan Jaejoong.

 

“Berjanjilah padaku kau tidak akan terluka,” ucap Jaejoong.

 

“Hal yang seperti itu tidak bisa dijanjikan. Aku menghadapi Black Cruise, bukan sekumpulan perampok kelas teri.”

 

But you have to stay alive.”

 

I’m not gonna die too soon. Jangan khawatir, meskipun ini aksi perdanaku di lapangan, aku akan melakukan yang terbaik untuk menjebak mereka.”

 

“Oke, sudah cukup bicaranya. Ayo berangkat,” sela Kris.

 

Meski enggan menyetujui ajakan Kris untuk segera berangkat, Jaejoong membiarkan Taeyong mengendarai SUV hitam tersebut dan melihatnya melaju mulus di depan; seperti jenderal perang yang tidak pernah memiliki keraguan dalam hatinya untuk menyerang. Lampu LED merah berkedip-kedip di monitor di dashboard mobil Kris, mereka menunggu setidaknya lima menit sampai Taeyong berada cukup jauh dari mereka, dan kemudian membuntuti si detektif pemula dari kejauhan yang takkan menimbulkan curiga.

 

__

 

“This is TY. Target is right in front of me, he’s standing outside the restaurant. Over.”

 

            “Copy. Out.”

 

            “Where is your current position?” Suara transmisi berasal dari Kris.

 

Twenty meters from Antonio’s Kitchen.”

 

            “Affirmative, Rookie. Go on. Over.”

 

            “Ten-Three. See you on Rikers Island.”

 

Gelombang radio dari frekuensi acak milik ESU hanya meninggalkan bunyi bergemerisik di telinga Taeyong. Meski begitu, ia merasa aman sejauh ini (Kris menempelkan alat pelacak di balik baju dalam Taeyong) dan dengan begitu percaya diri melangkah mendekati Hank—yang mengenakan denim dengan tiga robekan di lutut, v-neck putih, dibalut dengan jaket kulit murahan.

 

“Wow, kau pasti datang lebih awal, huh? Maafkan keterlambatanku.” Jurus andalan Taeyong: basa-basi. Hank hanya tersenyum tipis sambil menyundut rokok , tubuh gempalnya semakin terlihat dibanding ketika ia memakai seragam Central Market tempo hari. Taeyong mempersilahkan si pria masuk ke dalam SUV—yang telah diutak-atik Jaejoong hingga nampak seperti mobil biasa, padahal di dalam situ ada setidaknya lima kamera tersembunyi dan tiga perekam suara—lalu membuka jendela, mengetuk ujung rokok setiap kali ia merasa abunya sudah banyak.

 

“Mengapa rekanmu tidak ikut?”

 

“Dia ada urusan lain. Sebenarnya aku agak berat hati melakukan ini sendiri. Kau tahu lah, pemula sepertiku tidak akan bisa melacak sebaik yang dilakukan Jaejoong.” Taeyong berbelok dan melajukan mobil lurus hingga mencapai tanjakan pertama menuju Rikers Island Bridge. “Di Rikers Island banyak penjara, omong-omong. Mengapa kau yakin sekali Black Cruise bermarkas di sana?”

 

“Polisi jarang beroperasi di pinggiran pulau. Mereka terlalu sibuk menjaga penjara, kurasa.” Hank mengulurkan telunjuknya, menyuruh Taeyong berbelok ke tikungan pertama setelah sampai di Rikers Island. Bangunan-bangunan penjara yang dimaksud Taeyong berdiri menakutkan bak benteng pertahanan era Rennaisance, polisi-polisi bertubuh kekar ditempatkan di pos jaga dan di sepanjang jalan di bagian depan penjara.

 

“Kau tahu pasti tempatnya, bukan?”

 

“Entah. Pokoknya di dekat Hillside Avenue. Aku tidak bisa antar sampai ke dalam karena tidak tahu pasti tempatnya dimana.”

 

Ingat kata Jaejoong: Markasnya adalah gudang bekas di dekat pantai. Ada graffiti singa di tembok luar sebelah kiri. Hank mungkin mengatur siasat seolah-olah kau masuk ke sana tanpa sengaja, lalu ketika kau sudah masuk, dia akan menyergapmu bersama teman-temannya. Andrew adalah tangan kanan pemimpin Black Cruise, kemungkinan besar dia akan ambil bagian. Jangan bawa senjata atau mereka akan mencurigaimu. Beri kami kode kalau waktunya sudah tepat. Aku mengandalkanmu, Taeyong-ah.

 

Taeyong merasakan dorongan emosi memenuhi dadanya. Fakta bahwa semua orang bergantung padanya membuat detektif pemula itu merasa bangga sekaligus takut. Aku pasti bisa melakukan ini. Ada banyak nyawa menunggu untuk diselamatkan, aku tidak ingin mereka berakhir sama atau bahkan lebih mengenaskan daripada Lili Cheung.

 

Tepi pantai Rikers Island memiliki pasir cokelat muda yang cantik, kendati demikian, tempat itu kelihatan mati. Banyak patahan pohon yang membusuk dan mencuat dari dalam pasir, karang-karang aus yang ditabrak ombak kecil ada di sana-sini, dan sebagian kecil sampah kota New York mengapung-apung tak sehat di sana.

 

“Kau pernah kemari, Taeyong?”

 

“Tidak pernah.”

 

“Kalau begitu, kau pasti terkejut barusan. Ya, tempat ini memang tidak seindah bagian kota New York yang lain. Tempat penuh bajingan, penjahat, dan orang-orang tak diinginkan. Siapa yang mau kemari? Oh, tentu saja tak ada.” Hank menyentil keluar rokoknya, wajah pria tersebut menampilkan kemenangan yang ditahan.

 

Permainan belum dimulai, Hank.

 

Hank Lachowski beberapakali sempat terpergok sedang menyunggingkan senyum. Taeyong tahu apa arti senyuman itu. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di gudang yang kemarin disebutkan Jaejoong, bangunan itu sama apak dan jeleknya dengan dengan Hank. Taeyong keluar dari SUV, menekan sebuah tombol di balik saku celananya untuk memberitahu dua regu lain bahwa dia sudah sampai di sarang Black Cruise.

 

“Apa kita sebaiknya menyisir bagian ini?” Taeyong berjalan agak ke kiri, menjauh dari gudang bekas.

 

“Oh, ya, silahkan saja. Aku akan mengecek ke bagian dalam gudang itu.”

 

Taeyong merasakan jantungnya seolah melompat keluar dari balik tulang rusuk. Ia bisa saja meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetapi jika sudah berada di lokasi, perasaan tak menyenangkan itu datang kembali. Detektif tersebut mengamati konstruksi bangunan-bangunan di sekitar gudang bekas, ada setidaknya tiga garasi dengan atap seng (satu diantaranya penuh dengan botol bekas minuman keras).

 

Baiklah, ini dia saatnya.

 

Taeyong berjalan menuju gudang bekas; ia tahu waktunya tidak banyak.

 

__

 

Hank dan Andrew tengah berada di tepi ruangan saat Taeyong masuk. Keduanya menyunggingkan senyum dingin khas psikopat. Anggota Black Cruise yang lain bersembunyi di balik kotak-kotak kayu dan jeruji besi, menunggu saat yang tepat untuk menggrebek Taeyong secara bersamaan.

 

“Hank?” Suara Taeyong memantul-mantul di udara, bahkan udara di ruangan ini pun terasa lebih dingin daripada di luar.

 

Terdengar suara langkah kaki, kali ini Andrew yang muncul. “Hai, little boy. Kau pasti Taeyong, bukan?”

 

Taeyong mendesis. “Dan kau pasti Andrew.”

 

“Atau Raven Greenwood. Kau beruntung, aku jarang menyebutkan nama asliku kepada korban. Well, kau mencari Hank? Akan kupanggilkan dia untukmu.” Raven menepukkan tangannya dua kali, lalu suara langkah kaki muncul dari balik kotak kayu yang mengeluarkan bau busuk.

 

“Kita beruntung, hari ini dia tidak bersama Kim Jaejoong,” kata Hank. Taeyong mengutuk pria itu dalam hatinya.

 

“Kita selalu beruntung, Hank.” Raven berjalan mendekati Taeyong. “Ada yang ingin kau sampaikan, atau tanyakan, sebelum nyawamu hilang, Detektif? Kau bisa pilih alat mana yang akan kugunakan untuk membunuhmu. Gergaji mesin? Pisau daging? Pistol?” Greenwood tertawa keras-keras.

 

Satu tepukan lagi dari Raven, dan lima belas anggota Black Cruise lainnya berlari mendekat. Satu orang mengikat tangan Taeyong, satunya lagi menarik rambut si detektif ke belakang. Di depan mereka, Raven siap melancarkan pukulan ganas pada Taeyong.

 

Sekali lagi, ingat kata Jaejoong: Kau harus membuat mereka yakin kau tidak dibuntuti polisi. Bertahanlah dengan satu-dua pukulan, kalau kau terlalu cepat memberi kode, aku takut mereka akan kabur. Buat mereka merasa mereka sudah menang. Dan, sekali lagi, jaga dirimu.

 

“Kau pikir kau siapa, Nak? Ingin meringkus kami? Ingin membuktikan pada dunia kau hebat? Mimpi saja!”

 

Taeyong tidak tahu darimana tongkat bisbol itu berasal, yang jelas, pukulan pertama sudah membuat darahnya naik sampai ke tenggorokan. Raven memberi jeda dengan tertawa, Hank dan sisanya juga ikut berlaku demikian. Mereka menikmati siksaan yang bagi Raven jelas tidak ada apa-apanya. Di pinggir ruangan, gadis-gadis yang dikurung di jeruji besi menatap sedih, mereka seperti bisa memahami sakit dan mual yang dirasakan Taeyong sekarang.

 

“Kalau kau mati hari ini, jangan salahkan aku. Salahkan Lili Cheung. Wanita itu pembawa sial! Kalau dia tidak melihatku waktu itu, dia tidak akan mati, dan kau juga tidak harus menyelidikiku.”

 

“Tetapi, kematiannya membawaku selangkah lebih dekat pada kalian. Aku tahu para polisi sudah bertahun-tahun berusaha mencari jejak Black Cruise. Rikers Island adalah tempat yang berani, huh? Kalian tidak takut dipenjara?”

 

“Memangnya siapa yang berniat dipenjara?!” Satu pukulan lagi dan Taeyong membiarkan darah merembes melalui ujung bibirnya. Pemuda tersebut mengecap rasa anyir, satu dari sekian banyak yang tidak ingin diindera oleh lidahnya.

 

Satu pukulan lagi, kali ini di punggung.

 

Satu lagi, di kaki.

 

Sekali lagi, di kepala.

 

Dua kali pukulan telak di paha.

 

Taeyong meringis kesakitan setiap kali pukulan itu mendarat di salah satu bagian tubuhnya. Ubun-ubunnya terasa nyeri, ia bertaruh beberapa tulangnya sudah patah dalam kurun waktu kurang dari satu menit. Ketika Raven bersiap-siap memukulnya (kali ini di tulang kering barangkali) Taeyong mengucapkan aba-aba pada Jaejoong dengan suara lantang.

 

Get in!”

 

“Apa?!” Seru Raven.

 

Dan pasukan penyelamat menyerbu masuk dalam sekejap.

 

“Tiarap!” Salah satu pemimpin regu ESU berteriak.

 

“Semuanya tiarap! Jatuhkan apapun yang ada di tangan kalian!”

 

Terlambat bagi Hank dan Raven untuk kabur sebab Jaejoong dan Kris sudah terlebih dahulu memborgol keduanya. Pasukan ESU sibuk menembakkan peluru dan mengejar sisa anggota Black Cruise, beberapa lainnya berusaha membebaskan gadis-gadis belia dari jeruji besi. Di satu sudut, Kepala Polsek113, Jeffery Dwayne, bergidik ngeri sesuai meledakkan tumpukan kotak kayu dengan bom berdaya-ledak rendah.

 

Man, kalian menjual organ tubuh manusia?” Pria itu menodongkan pistol, menakut-nakuti Hank dan Raven. “Kita lihat apakah organ tubuh kalian juga pantas diperjualbelikan. Jae, Kris, bawa mereka ke mobilku. Dan, Demi Tuhan, mengapa tidak ada yang menolong Taeyong!” Jeffery berteriak ke salah satu polisi dari polsek 113, yang dibantu oleh dua anggota ESU, untuk memanggul Taeyong dengan tandu.

 

“Ke SUV hitam di depan gudang saja, aku berkendara dengan itu tadi. Kalau tidak keberatan, salah satu dari kalian bisa menyetir untukku.”

 

Let me do this,” sahut si polisi.

 

“Terima kasih.”

 

Sir, apa kita perlu membawanya ke rumah sakit?” Ia bertanya pada Jeffery.

 

“Kemana lagi memangnya?! Kebun binatang, huh?! Tentu saja rumah sakit!”

 

“Daerah Manhattan atau Lenox Hill?”

 

“Lenox Hill.”

 

“Kamar VIP atau biasa?”

 

“VIP!”

 

“Bayar tun—“

 

“Sekali lagi kau bertanya, aku akan langsung memecatmu! Bawa saja Taeyong ke rumah sakit manapun, dia butuh penanganan gawat darurat!”

 

Meski dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk tertawa, nyatanya Taeyong bisa mengeluarkan kekehan kecil. Baru kali ini ia merasakan ‘benar-benar bertugas’ selama menjadi detektif. Sakit yang diterimanya akan sepadan dengan nyawa gadis dan anak-anak yang terselamatkan, juga kebahagiaan Lili Cheung di alam sana.

 

__

 

Rumah.

 

Seingatnya, polisi kikuk bawahan Jeffery tadi membawanya ke rumah sakit. Namun apa yang dilihatnya kini adalah hunian Jaejoong di East Houston Street. Jaejoong terdengar sedang berdebat kecil dengan Kris di dapur, mungkin memperdebatkan apakah mi ramen harus ditambah dengan garam atau tidak.

 

“Jae?”

 

Perdebatan itu berhenti. Kris dan Jaejoong berteriak lantang. “TAEYONG!”

 

“Oh Tuhan, Oh Tuhan, Oh Tuhan! Siapa yang menyuruhmu mematahkan enam tulang rawan dan pingsan selama dua hari?! Sudah kubilang jaga dirimu!”

 

Relax. At least i’m alive.”

 

“Ya, tapi kakakmu ini tidak tidur selama kau pingsan, tahu.”

 

Melotot sebal pada Kris, Jaejoong berkata, “tidak perlu bilang masalah itu.”

 

“Bagaimana dengan Black Cruise?”

 

“Masih dalam penyelidikan, mereka akan diproses di pengadilan minggu depan. Gadis-gadis yang dipenjara, termasuk Ariana, akan dimintai keterangan. Aku akan mengontak Ashlyn untuk ikut menjadi saksi atas Hank. Sekarang aku ingin tahu apa yang bajingan itu lakukan padamu. Ceritakan semuanya.”

 

“Mereka memukuliku dengan tongkat bisbol. That’s it.”

 

“Wow. Tenaga yang dikeluarkan Raven pasti tidak main-main,” timpal Kris. “Semoga vonisnya berat.”

 

“Orang tua Lili mengundang kita nanti malam, aku yang akan menghadap mereka. Kau di sini saja bersama Kris. Dengar-dengar, pemakaman Lili akan dilangsungkan di New York menggunakan adat Cina, keluarga Cheung sudah terbang kemari beberapa jam yang lalu.”

 

“Sayang sekali aku tidak bisa ikut ke sana.”

 

“Kau mau aku melakukan sesuatu?” Tanya Jaejoong.

 

“Gunakan uang dari tabunganku untuk membeli seribu bunga lili, minta floris untuk membuatkan karangan bunga paling cantik atas nama Lili Cheung. Kirimkan salamku pada keluarga Cheung, aku menyesal tidak bisa hadir.”

 

“Kau tahu? Aku selalu suka sifatmu yang seperti ini,” ucap Kris sembari menepuk kaki kanan Taeyong pelan.

 

“Dan, satu lagi, aku baru menemukan fakta bahwa Lili akan menikah pada bulan Juli mendatang. Ayahnya memberikanku foto ini.” Jaejoong menyerahkan kertas foto dengan potret Lili dibalut gaun pengantin sewarna putih tulang.

 

She’s beautiful.”

 

She is.

 

Taeyong terpaku sesaat memandangi foto itu sampai Kris berseru, “angkat ramennya, Jae!” Jaejoong buru-buru pergi ke dapur, ia mengoceh beberapakali karena dasar pancinya hangus.

 

Selepas kehebohan soal ramen, hening menjelang. Jendela kamar yang terbuka membawa aroma musim semi khas New York yang dirindukan banyak orang. Suara-suara klakson dipadu dengan angin yang bertiup melewati celah-celah pohon, kapal-kapal layar yang tidak berhenti beroperasi di Sungai East, dan pesawat yang terlihat setiap lima menit sekali membuat Taeyong merasa bahwa disinilah ia akan hidup dalam waktu lama. Dari satu sisi, Kris tiba-tiba tersenyum kecil, “kalau aku mengatakan ini, kau percaya tidak?”

 

“Mengatakan apa?”

 

“Lili baru saja mengucapkan terima kasih padamu.”

 

Menoleh heran. “Serius?”

 

“Jaejoong tidak pernah cerita padamu bahwa aku bisa melihat hantu?”

 

“Pernah sih, tapi—“

 

Well, dia jauh lebih cantik dalam wujud aslinya. Dia juga berpesan, andai saja dia masih hidup, dia akan mengundang kita bertiga ke pesta pernikahannya. Lili meminta kita untuk menjaga Ashlyn, sahabatnya. Lalu dia menghilang tak kurang dari setengah menit lalu. Dan, satu lagi, dia ingin ada susu di upacara pemakamannya.”

 

As expected,” tawa Taeyong.

 

“Aku juga ingin mengatakan ini: kakakmu sangat menyayangimu. Dia menangis semalam suntuk dan mengira kau tidak akan bangun.”

 

“Dia melakukannya?”

 

“Aku sampai harus ikut begadang untuk memastikan air matanya tidak kering. Mungkin inilah satu dari sekian banyak alasan dia sempat melarangmu bergabung ke unit detektif. Kau terlalu berharga bagi Jaejoong.”

 

“Bahkan jika kami bukan saudara kandung?” Pertanyaan itu terdengar konyol. Taeyong bahkan tidak pernah sadar bahwa Jaejoong menyayanginya  sebesar itu.

 

“Apa bedanya jika dia bermarga Kim dau kau Lee? Kalian sudah bersama lebih dari sepuluh tahun.”

 

Kris beranjak dan bergabung bersama Jaejoong di dapur, meninggalkan Taeyong dengan kesendiriannya. Semua yang terjadi belakangan membuat si detektif muda berpikir kembali: siapa yang selalu meminjamkan jaket jika ia sedang kedinginan? Siapa yang selalu mengingatkannya agar tidak terluka? Siapa pula yang tidak pernah memarahinya karena terlalu sering makan permen di usia dua puluh dua? (percayalah, bahkan teman dekat Taeyong saja membenci permen)

 

Sekarang Taeyong mengerti bagaimana perasaan Ashlyn saat itu. Perasaan kehilangan akan seorang sahabat, yang diketahuinya takkan kembali ke dunia ini. Taeyong sendiri ngeri membayangkan harus kehilangan Jaejoong dengan cara seperti itu. Ketika pada akhirnya si detektif senior muncul dari dapur dengan membawa panci ramen yang baru, Taeyong baru sadar bahwa, seperti kata Kris tadi, tidak peduli apakah dia bermarga Kim atau Lee, Jaejoong tetaplah saudaranya.

 

Pernahkah kau berpikir mengenai hari itu?

Ketika ia telah berpulang dan kekosongannya meracunimu.

Kau mencarinya seperti candu.

Walau dia tidak akan pernah kembali.

Sebesar apapun hatimu berusaha mengaisnya dari kelam-pekat kehidupan.

Dia sudah ditelan masa; aromanya berbaur dengan hara.

Saat pintu mausoleum terbuka, kau tahu jawabannya.

Dengan seribu tangkai lili dan satu doa terakhir.

Janjimu akan orang yang kau kasihi…

Tidak akan mengingkari batin yang terlanjur sendiri.

 

END

 

a/n : 9.147 words! Edan nulis apaan aku :O

Jadi ceritanya, setelah selesai dengan Temperatur Es, aku tergoda nulis crime lagi. Jadilah aku bikin serial (4 musim, 4 kota besar, 4 kasus berbeda) yang isinya cerita-cerita lepas. Satu cast dari fic sebelumnya akan jadi cameo di fic berikutnya. Next tinggal Summer sama Autumn (rencananya sih di Toronto+Sydney). Sekali lagi, aku melakukan riset dalam fic ini. Jalan-jalan, toko, supermarket, jembatan, pulau, rute, dll adalah nama asli di New York (aku selalu buka google maps selagi nulis fanfic). Terima kasih sudah baca dan bertahan sampai akhir. I love you readers!

 

I’ll give you one question: kalian berpikir kalau Kris, Jaejoong, Taeyong ini pada mirip nggak sih? Mereka cocok kan jadi keluarga? /slapped/

 

Mind to review?

Iklan

14 thoughts on “FLOWER’S GRAVE”

  1. This is art! Art! Kusuka ff model begini tp susah banget nemunya. Kangen huhu T^T
    Untung saja kamu upload ya.

    Dengan bangga saya bilang saya baca sejak temperatur es, yang Kris sama Sehun itu. Dan saya senang sekali karena mau dibuatkan 4musim, 4kota, dan 4 kasus yang berbeda. Mana pake survei lagi duh (awalnya tak kira kalo surveinya pake acara maen ke NY beneran lo :’v) kudu cepet up pokoknya huhu~

    Terus ini ya ampun! Taeyong-Jaejoong, melihat mereka itu seperti minum air dari oasis pas matahari lagi terik2nya. Jadi suka sekali karena cast-nya mereka :’3

    Terus juga aku suka banget yang kode2 begitu jadi ingat penulis2 kesukaan aku yang bukunya pada mahal itu. Tapi sayangnya kok dikasi tau si kalo pembunuhnya andrew(yang andrew ke center market ngeliat tiwai). Huhu, kecepetan kalo menurut aku :’3 tapi it’s ok lah, nais ffnya~

    Dengan hati, dza

    Suka

    1. Halo Dza! Salam kenal, aku Tina dari 97line ^_^
      Makasih sudah ngikutin fic crimeku dari Temperatur Es sampai Flower’s Grave! /big hug for you/
      Haha, enggak dong, aku mana ada duit terbang ke NYC /nebeng di ekor pesawat mungkin bisa/ /apasih/ , surveinya kebanyakan modal Google dan pengetahuanku dari buku-buku kriminal karya Jeffery Deaver (namanya aku ambil buat fic ini xD), Nora Roberts, dan Robert Galbraith. Aku juga merasa ini kecepetan, scene berantemnya kurang, gak segereget Temperatur Es (meskipun di situ ga ada berantem, cma presentasinya Kris aja yang aku pertajam). Aku terlalu asyik menjabarkan ‘proses’ sehingga klimaksnya kurang ‘BAAAM!’
      Alhamdulillah pair ini cocok, secara TY-JJ adalah sodara terpisah dari agensi yang sama :3
      Kalau soal Andrew, aku pinginnya cuma ngasih 2 sudut pandang untuk pembaca, biar ga melulu POV nya Kris-TY. Jadinya ga surprise ya? xD
      Well, mungkin itu Summer aku bakalan pakai anak YG, entah kpan nulisnya ini kuliah udah mau mulai /gelindingan bareng Yuta/
      Sekali lagi, makasih udah baca+komen+like!

      xoxo,
      Tina.

      Suka

  2. berasa seru baca ginian, oh yeah! kayak di depan tv nonton film sambil teriak2 gemes pas adegan berantemnya..kukuku…

    si abang kris stress sm kemampuan indigonya, makanya kurus. sepertinya kamu hrs biasain deh bang, Taeyong nyengir2 takut tuh dpt salam dr lili.😁

    Btw, di scene terakhir ga liat jaejoong ya? Dia ga ikut ke gudang, trs ke mana tuh?kok ilang gt aja?

    Suka

    1. Pertama, aku mau terima kasih karena udah baca dan komen 😀
      Scene terakhir Jaejoong sama Kris masing masing nangkap Hank-Raven, terus langsung disuruh Jeffery untuk membawa 2 penjahat itu ke mobilnya, andai saja Jaejoong lagi “nganggur” alias ga ikut nangkep “penjahat utamanya” , dia pasti udah nolongin TY. Makanya Jeffery teriak “kenapa ga ada yang nolongin TY?” , soalnya pas itu lagi ribet nangkepin anggota Black Cruise, dan untuk menangani “penjahat utama” harus detektif senior 😀
      kalau yg junior kikuk macem yang nolongin TY ntar Hank-Raven kabur lagi :3
      Hahaha, iya tuh si Kris kseringan liat kuntilanak xD
      Sekali lagi, makasih udah baca ya 😀

      xoxo,
      Tina.

      Suka

  3. Omaigat omaigat Astina comeback dan ini precious Tuhanku, castnya lintas generasi suka deh XD
    Risetnya ga main2 dan crime itu memang sangat membuat pusing, bacanya aja pusing apalagi bikinnya… Tapi knp ya aku merasa ada bbrp hal yg ganjil? Entah apa kr. Aku kurang memperhatikan detil atau gimana tapi kode yg ditinggal lili itu, sempatkah dia nulis begitu kalau sedang dlm keadaan keracunan? Terus dia tahu kalo Andrew yg ngeracun dia dan inget kalo waktu itu dia tugas di kasa enam? Waktu aku baca itu rasanya kyk … ‘baiklah…’
    Terlepas dari itu aku suka theme dan tentu saja persahabatan para castnya fufufufu i cant apalagi skrg juga agak keseret ke nct. Molla ga ngerti lagi ;-; this is gem
    Ada typo kecil 2 agak byk sih tapi. Ehe
    Keep writing astinaaa!

    Suka

    1. Ohhhh, kak Liana ❤
      mungkin akunya kurang jelasin kalau racun yang kupakai di atas berefek 2-3 jam setelah diminum, dan itu gak langsung mati kak (ga kayak sianida xD), jadi di kertas bagian atasnya ditulisin barcode, bawahnya ditulis urutan kasa (mulai hari pertama dia cakap2 sama Andrew sampai hari terakhir dia hidup). Nah, Lili ini kan sukaaa sama susu, selain karena dia digambarkan pintar, dia sebagai karyawan supermarket tiap hari berkutat sama barcode dll. Setiap produk, misal jenis full cream dengan merek A dan rasa cokelat dengan merek A juga, itu barcodenya beda kak. Tetapi kalau jenis full cream A dan full cream A, dimana aja dan sebanyak apapun eksemplar/? nya, barcodenya tetap sama. Ksimpulannya (duh ini belibet bahasaku :v) , kakak beli full cream A dimanapun juga, barcodenya pasti tetap satu itu. Masalah Lili tahu apa enggak, itu aku bikin fifty-fifty kak, dia kan minum 2 susu (satu gelas dari dapur Residence Inn, satu lagi yg dikasih Andrew), aku berpikir gini "kalo Lili matinya di sini, RI jelas diselidiki", nah maka dari itu petunjuknya aku bawa ke Central Market aja :3
      Hahaha, maafkan aku kalau ini bikin bingung kak, bikin kasus emang rada susah-gampang gitu. Next chapter maunya melibatkan museum sama penculikan, biar ga bunuh2an terus :v
      makasih udah baca ya kak 😀

      Suka

  4. Jinjjaro. INI KECE. PAKE BANGET. Aku suka fic yg kayak begini, aku udah baca sejak yg Temperatur Es.

    Dannn, aku suka dua-duanya karena aku bisa bayangin gambaran nyata situasi mereka kaya gimana, dan itu rasanya kaya lg nonton film karena sembari baca aku bisa bayangin gimana bentuk tempatnya,dan apa yg mereka lakukan.

    Yg buat aku kagum adalah detil-detilnya, riset kakak ga main-main. Bisa sampe yg graffitti-graffitti, trs hal detail lainnya yg memudahkan pembaca untuk membayangkan sikon+tempatnya.

    Terus untuk bagian Ravennya, awalnya agak gimana gitu bacanya soalnya ‘loh ini penjahatnya dikasih tau duluan?’ tp setelahnya aku menikmati lg karena kakak pinter bawa ceritanya, dan dg povnya si Raven itu aku makin ngerti sm ceritanya.

    Pokoknya ff ini kece! Dabest lah 👍 keep writing ya kak! \^-^/ dan maafkeun kalo kepanjangan hehe :’3,

    Salam,
    Yulbam 01L

    Suka

  5. nyari2 ff detective di google jdi kepincut sma ff ini karena emang aq ska sma genre yg bginian dan karena yg main Taeyong/asiek NCT stan|| jdi lah akhirnya bca ff penuh misteri ini….
    mnurutku waktunya agk cpat sih tpi gpp toh critanya ttap mnarik untuk di baca…..
    di tunggu proyek selanjutnya…..

    Zahra 97L

    Suka

  6. langsung kepincut sama fic ini pertama karena castnya adalah mas jae dan mas tiwai huhu :”3 kedua karena genrenya itu lho kapan lagi bisa liat perpaduan bapak dan anak ini //eh// dalam balutan genre crime action begini ugh fav banget pokoknyaaa

    Plotnya keren ditambah sama deskripsinya yg gilak detail banget huhu jempol deh pokoknyaa

    anw sorry banget yg tbtb nongol dari nowhere gini haha. salam kenal, lika dari garis 98 😀

    Suka

  7. baca interaksi bromance jae-tae bikin aq baper sama kakak adek sam & dean winchester di serial supernatural, yah walaupun di sini jae sama tae ga sodara kandung.

    aq sesuju sama komenan liana, yg mslh racun itu kurang detail. but overall ini keren.
    otw temperatur es setelah ini.
    oh iya, bisa kali authornya bikin slide story gmn jae bisa ketemu ama taeyong.

    Suka

  8. KAK TINA MASIH INGET AKU? Enggak ya? Yaudah gapapa. Kenalan dulu lagi aja ya hehe. Panggil aja fey, dari garis 98.

    AKU SUKA BANGET FF NYA KAK!! Meskipun ga ada plot twist kayak yang temperatur es (aku bookmark ff itu di browser btw wkwk i love it so muchhhh) tapi ini tetep aja bagus bangettttttt. GA SABAR NUNGGU SERIES SERIES BERIKUTNYA!! Kalo perlu jangan cuma 4 kak. 14 juga boleh wkwkwk /ga

    Yaudah gitu aja, keep writing kak!

    Suka

    1. Masih inget dong 😀
      Hahaha, iya makasih udah baca yang ini ya 😀 mau kubikin plot twist tapi otak lagi gak bersahabat/?
      Sip beres, ASAP kalau udah ada ide bakaan aku garap seri ketiganya 😀

      xoxo,
      TIna.

      Suka

  9. Awalnya kupikir ff ini akan membosankan dan mudah di tebak tapi krn rasa penasaranku akhirnya terbaca hingga akhir dan wow faktanya ga ngebosanin amet.. Hehehe dan lg lokasi yg diambil wihhh inti bget,pokoknya ni ff keren kalo di jadiin chapter tambh keren lg! ! Hehe itu aja~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s