[Vignette] Pride Comes Before The Fall

Pride Comes Before The Fall

LDS, 2017

NCT Jaehyun x Lovelyz Sujeong

Drama, Romance, slight!Fantasy, SevenDeadlySins!AU // Vignette// Teen and Up

.

Awan ia tentang, angkasa ia hina, nirwana ia caci tatkala wajahnya tengadah menyatakan kemenangan. Berdiri tepat di tengah tujuh pilar istana Dosa Besar, rasa bangga melumuri seluruh tubuh Jaehyun setelah mengakhiri sebuah pertarungan penentuan.

Tidak, kedua mata Jaehyun memicing bukan karena silau oleh cahaya sang surya yang masuk melalui lubang besar pada atap istana, melainkan karena dirinya telah dipikat sinar yang lain. Buat apa memanjakan iris kelabunya dengan jingga mentari jika ia dapat menikmati berbagai warna pada diri sesosok manusia bernama Ryu Sujeong? Ketika matahari hanya merajai siang, perempuan itu menguasai, memenuhi, mengendalikan setiap sekon yang Jaehyun miliki. Betapa jauh tingkatannya, telah jelas siapa yang lebih agung di antara keduanya, dan Jaehyun yang amat pemilih tak mengizinkan retinanya menerima sembarang kilau.

Butir-butir peluh Jaehyun bergiliran menuruni kulitnya yang halus, dari pelipis membentuk alur-alur berkelok ke telinga, rahang, dan lehernya. Menyusuri medan mulus memang tak selalu mudah, sebagaimana Jaehyun berusaha menggenggam hati Sujeong selama ini. Demi merasakan kelembutan surai bergelombang itu, dan kehangatan bibir itu, dan ketukan-ketukan dari degup itu, Jaehyun rela menanggalkan jubah keangkuhannya, tak lupa meletakkan telapak kaki Sujeong di atas ubun-ubunnya, merendah serendah-rendahnya selagi melantunkan puja.  Beruntung, Sujeong cuma manusia jelata, tidak biasa ditinggikan, justru seringnya jadi alas kaki para majikan.

Tolong berhenti, pintanya dengan pipi merona, Dengan mencintai saya, Anda sudah membawakan kemuliaan untuk saya dan itu jauh lebih dari cukup.

Lantas, aliran waktu terbendung. Dalam bendungan waktu itu, harga diri yang lekat ke raga Jaehyun sejak lahir larut dalam segila-gilanya cinta.

Dari kerah pakaian Jaehyun yang rendah, tonjolan tulang selangkanya tampak berkilat oleh keringat. Celah yang memisahkan kedua tulang tersebut dibingkai kalung perak berbandul replika kecil jantung. Suatu hari, sembari mengepang rambut, Sujeong pernah bercerita bahwa dalam bandul logam tadi, ada darah sang ibu yang tutup usia sehabis berjuang mengantarkannya ke dunia. Pandai besi pencipta untai berharga ini—tak lain ayah Sujeong sendiri—memaknainya sebagai simbol kasih abadi. Setelah dewasa, carilah darah lain untuk mengisi bandul itu, canda ayah Sujeong, sedikit mengerikan tapi menarik untuk dikerjakan.

Terinspirasi, Jaehyun memetik mawar, melukai telunjuknya dengan sengaja, dan meneteskan darahnya dalam wadah mungil yang senantiasa menggantung di depan dada Sujeong. Si kembang yang tak lagi berduri kemudian diselipkannya pada sela kepangan, menjadikan Sujeong jelmaan musim semi, makin merekah kala dikecup di ujung hidung.

Namun, pada hari lain, kalung itu Jaehyun temukan di atas genangan darah. Cairan pekat yang sama merah dengan yang kini menodai dada bidangnya. Lengannya yang berukir urat nadi. Pedang yang gagangnya masih terdekap jemari. Perut dan pahanya yang sebelum ini tersayat dalam.

 “Kau, Keangkuhan, bisa-bisanya bertekuk lutut di depan manusia ini dan melenyapkan jati dirimu?!”

Sekalipun sepasang manik Kemurkaan yang beda warna—satu hitam satu merah tua, khas milik iblis—menderas berbagai kutukan, Jaehyun tidak gentar. Justru ditantangnya Kemurkaan dengan kedua mata manusianya, membuktikan bahwa raga rentan yang ia tempati masih memuat satu sosok adidaya. Pendapat mereka semua mengenai dirinya dan Sujeong keliru besar. Jatuh cinta tidak semelemahkan yang tampak. Singgasana jiwa Jaehyun tetap diduduki oleh Jaehyun, beda dengan sebelumnya ialah keberadaan Sujeong di pangkuannya—atas kehendaknya.

Ya, segala tentang Sujeong merupakan wilayah Jaehyun yang tidak seharusnya diterobos orang asing, termasuk Kemurkaan, Kedengkian, Ketamakan, Kerakusan, Kemalasan, dan Berahi. Berdasarkan ketetapan ini, dapat dipahami bagaimana keadaan Sujeong yang kusut masai, terikat rantai, dan tersekap bersama sedu sedan dalam sangkar menyulut amarah Jaehyun. Tidak semata akibat pelanggaran hak pribadi, mungkin kali ini Jaehyun ikut merasakan nyeri dari luka-luka menganga di tubuh Sujeong. Merusak sebuah harta berarti tidak adanya penghormatan pada si pemilik, bukan begitu?

Sebagai Keangkuhan, Jaehyun memasang tali kekang pada api emosi yang terlanjur menelannya. Mengumbar amarah akan membuatnya sama rendah dengan Kemurkaan yang tampak siap menyerang membabi buta.

“Lepaskan Sujeong dan aku akan menganggap semua ini tidak terjadi.”

Sayangnya, Kemurkaan tidak punya niat bernegosiasi, apalagi Kedengkian memanasinya dari belakang. Perempuan ini merebut Jaehyun dari lingkaran kita. Apa kau akan membiarkannya menahan Jaehyun lagi? Tentu tidak, dan jika Jaehyun tidak ingin pulang, kita yang harus membawanya dengan paksa.

Enam pedang dihunus menanggapi kalimat-kalimat beracun Kedengkian; mau tak mau Jaehyun harus menarik senjata pula dari sisi pinggangnya. Pertarungan ini tidak benar-benar timpang dengan Jaehyun yang mengerahkan seluruh energinya dalam tiap serangan, sehingga kekuatan kedua pihak bisa dikatakan seimbang. Adu pedang biasa lama-lama melibatkan beragam kemampuan para Dosa Besar, perbenturannya mengakibatkan lubang raksasa terbentuk di atap. Retaknya lantai. Goyahnya pilar. Terdorong oleh tatapan memohon Sujeong di dalam sangkar, Jaehyun kembali menebas menggunakan senjata berlumur kecongkakan.

Satu-satunya yang berhak atas Sujeong—menyentuh, mencintai, memiliki—adalah Jaehyun. Titik. Menginvasi teritori setara dengan mengancam singgasana dan konsekuensinya … iblis-iblis ini mestinya tahu apa.

Jangan coba-coba melawan Keangkuhan. Dia jemawa karena memang rupawan, memang cerdik, memang perkasa … segala ‘memang’ yang manusia (dan iblis) bakal mengirikan. Bahkan pilihan untuk merendah di muka Sujeong termasuk bukti kekuatan Jaehyun, kendati para Dosa Besar menganggapnya sebuah kesalahan. Keangkuhan tak butuh pandangan lain atas lakunya sebab kebenarannyalah yang bernilai mutlak—di luar itu cuma rumput liar, pantas dibabat. Salah satu iris Jaehyun akhirnya berkilat merah, ayunan pedangnya makin ganas bak singa yang terluka. Sayatan-sayatan yang ditanamkan musuh tidak menghentikannya membuka jalan menuju Sujeong, sampai-sampai tujuannya semula untuk menyelamatkan si gadis berubah menjadi nafsu membunuh. Jaehyun memisahkan kepala-kepala dan mencabuti jantung-jantung dari tubuh enam Dosa Besar. Selanjutnya, ia menggunakan kemampuan penyembuhan untuk menyatukan celah-celah di kulitnya. Utuh seperti sebelum bertarung, Jaehyun berdiri tegak di tengah-tengah Kemurkaan, Kedengkian, Ketamakan, Kerakusan, Kemalasan, dan Berahi yang tercerai-berai, terendam kekalahan serta rasa malu.

Selama ini, manusia mengenal tujuh Dosa Besar sebagai entitas yang sederajat, tetapi Jaehyun telah melampaui batasnya dan menunjukkan siapa yang paling unggul.

Karena kekuatan yang mengungkungnya sudah habis sama sekali, Sujeong dapat meloloskan diri. Ia bangkit usai sangkarnya menghilang, tungkai jenjangnya dengan cepat memangkas jarak.

“Tuan Jaehyun ….”

Sujeong memeluk kekasihnya erat, sekalian meredam isak. Takut atau haru, tidak bisa Jaehyun memastikan, tetapi bahwa ia jatuh untuk kesekian kali pada kerapuhan manusia ini merupakan satu pernyataan tanpa peluang salah. Menyisihkan sejenak pribadinya yang berliput kedigdayaan, Jaehyun membelai surai bergelombang Sujeong, kemudian menyelisipkan jemarinya ke bawah untuk mengusap punggung sang dara.

“Sekarang sudah tidak apa-apa.”

“Tapi …” Wajah Sujeong memerah nan sembab, banyak pertanyaan tertahan pada bibirnya yang terbuka setengah. Menggunakan ibu jari, Jaehyun menghapus air mata Sujeong dan mengulas senyum. Menawan. Menenangkan. Meyakinkan.

“Aku,” –Kekuasaan, Kekokohan, Yang Maha Segalanya— “ada di sisimu, jadi kau tak perlu mencemaskan apa pun.”

***

Ya, Sujeong sudah menyaksikan semuanya, bukti bahwa Jaehyun tak terkalahkan. Ia tidak akan cemas jika dirinya betul-betul menjadi pihak yang Jaehyun lindungi …

… tetapi detik itu, ia menggenggam pisau salib di balik punggung sang iblis keangkuhan.

Tidak ingin mengecewakan Surga, Sujeong mengenyahkan kebimbangan, secara bersamaan membiarkan satu manik cokelat gelapnya berubah biru—khas milik malaikat.

Jaehyun terbelalak. Dalam sekejap, kebanggaannya telah berada di ujung lancip yang membelah angin, lurus menuju jantungnya.

TAMAT


aku berharap ifk masih beroperasi. sempat kaget website barunya dipindah lagi ke sini. kirain udah gak ada updatean bertahun2 eh nongol satu baru2 ini tapi blm baca hehe. RnR sangat diapresiasi ^^

Iklan

11 tanggapan untuk “[Vignette] Pride Comes Before The Fall”

  1. Aku kesini garagara Sujeong…… Maapin ya kak :”)))
    But, aku impressed sama plotnya huhuhu TT Nggak nyangka aja Jae nya dibikin begini…….
    Sukaaaaa :”D Aku udah lama sih nggak baca yang kayak gini jadi bikin seneng hehehe.
    Semangat buat FF yang lain ya kak~~~

    Suka

    1. Halo 🙂 aku tdk menyangka kamu terundang utk ngeklik dan muncul di kolom komen ini hahaha
      Aku baru akhir2 ini ngefans sujeong juga dan saya minta maaf bikin pairingnya sembarangan :p ub ku Jaehyun sih so yeah 😀 utg kamu suka deh ehe ehe maaf bikin mbak sujeong jadi malaikat kriminal/? Begini
      Makasih udh baca!

      Suka

  2. KAK LIANAAAAAAAAAA HUHUHUHU KANGEN SEKALIIIII

    terimakasih kak atas suguhuan ff epik ini duh legend sekali!!!

    well aku suka sama prinsip ketidaksepadanan cerita ini, khas kak liana banget!!! epik! tujuh dosa besar stuff dan plot twist. aku jadi nge ship jaehyun sama sujong jaidnya sumpah. hehehe

    Disukai oleh 1 orang

  3. Telat banget nggak sih, Liii, aku baru buka ini. Ah, aku lagi cari2 pake keyword nct jaehyun lalu muncul lds paling atas. Mana bisa lah lewatinnya, ada sejeongnya pula uhuuuy like a jackpot dua2nya kesayangan.

    Kenapasih kenapa kamu kalo nulis rapi banget aku suka part sejeong dan matahari, serta jaehyun si pemilih itu. Sampe tk baca duakali sambil senyum2 ㅋㅋ

    As always lh ini vibenya liana banget aku tau bakal ditroll di belakang aku udah siap2 dan bener aja. Heuuu sejeongie wae ㅠㅠ

    Suka

    1. Tdk ada kata terlambat utk sebuah komen hehehe *author miskin komen nih sampe ngemis2
      Anyways itu sujeong bukan sejeong, semoga tdk menghancurkan imajinasi anda. Sama2 cantik cerah ceria sih tapi :p
      Aku gak menggunakan bahasa yg susah dimengerti kan? Soalnya kmu bilang kamu baca dua kali, kalo emg Krn suka aku sgt bersyukur ^^
      Mksih sdh baca dan maap bls nya telat banget 🙂

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s