THE SEVENTH SENSE

there’s a story that’s deeply hidden

.

#47 : NCT U – The Seventh Sense [ft. NCT’s Mark Lee and Red Velvet’s Yeri]

.

Part of 365 Personal Playlist

Lagi-lagi di Crosby Street. Gedung apartemen yang dibangun seadanya tanpa diacuhkan oleh pemerintah adalah tempat yang tepat untuk bunuh diri, bukan? Percayalah, tidak sekali aku melihat orang mati terjungkal dari sana, mulai dari yang kepalanya mendarat duluan sampai yang jatuh duduk dan meremukkan seluruh tulang belakangnya. Padahal jika dipikir-pikir, variasi bunuh diri itu banyak, mengapa repot-repot pilih yang menyakitkan?

 

Sebelumnya aku tak pernah ambil pusing soal siapa yang bakal mati di situ, tapi kali ini ada pemandangan berbeda. Aku hampir tidak memercayai penglihatanku saat tahu Yeri ada di lantai dua, berdiri merapat dekat pagar balkon yang teroksidasi, bersiap melompat namun tak memiliki cukup nyali. Lantai dua hanya akan mematahkan kakimu, bodoh.

 

Tentu saja aku tidak berniat mengatainya bodoh, Yeri itu siswi paling pintar di sekolah. Medali emas olimpiade matematika se-Asia? Man, aku sempat berpikir dia makan kamus atau apa. Belakangan ini Yeri memang kelihatan limbung, kupikir itu efek dapat nilai di bawah sembilan puluh, tak tahunya malah berujung di sini. Tanpa pikir panjang, aku menghampiri bangunan itu dan menepukkan kedua tanganku demi mendapat atensinya.

 

Are you okay?” Lolongku keras-keras. “Tidakkah teralu dini memutuskan mati jika hanya karena nilai matematikamu anjlok, huh?”

 

What a silly question, Mark.

 

Yeri tidak memberi respon, dia malah sesenggukan di tempatnya berdiri, hampir seperti tidak sadar aku ada di sana. Jadi aku naik ke tempat gadis itu, sama sekali tak peduli waktu wanita jalang berambut pirang mengusirku dari balkonnya (sungguh deh, masih ada ya yang mau tinggal di sini? Terlebih dia cuma pakai lingerie, seperti kurang tempat saja untuk melakukan seks). Sesampainya di sana, aku tidak tahu harus bilang apa.

 

Yeri masih menangis, entah bagaimana tangisannya kedengaran pilu sekali. Ibarat ada pisau lipat yang sengaja dimainkan orang di atas kulitmu, lirih namun luar biasa sakit. “Dengar, aku tidak tahu kau kenapa, but as your friend—“ itu bukan kata yang tepat “—as your classmate, maksudku, kuharap kau tidak terjun dari sini.”

 

“Hey,” katanya setelah jeda dua menit. “Kau pernah melihat orang mati dibunuh, nggak?”

 

No. Not yet.

 

Yeri masih berusaha mengatasi serangan tangisnya sebelum bisa melanjutkan kalimat. “Menurutmu, kalau ibumu ditemukan di ruang tamu dalam keadaan kepala terpisah dari badan, apa yang akan kau lakukan?”

 

Wow, bukan sembarang masalah ternyata.

 

“Siapa nama pertama yang muncul di pikiranmu?”

 

“Elora, pasti dia pelakunya. Aku heran mengapa dia muncul lagi di saat-saat seperti ini, dasar cecunguk.” Yeri nampak membersit hidung dengan lengan piyamanya, kemudian menelengkan kepala untuk menatapku. “Elora, tsk, sama sekali tidak membantu. Dia perusak segalanya.”

 

“Elora itu siapa?” Ketidaktahuanku akan Elora membuat percakapan kami menjadi agak abu-abu. “Apa dia musuhmu?”

 

“Kurang lebih begitu.” Yeri membalas cepat, sisa airmatanya mulai mengering. “Kau punya rokok?”

 

Hebat, Kim Yeri merokok. Kurasa aku akan dapat satu juta dollar dengan mengirim beritanya ke redaksi majalah sekolah. Dan, yeah, aku selalu mengantongi sigaret kemanapun aku pergi, jadi tidak ada salahnya menyulut dua lintingan terakhir bersama Yeri.

 

“Oh, Mevius. Seleramu bagus.”

 

“Nomor satu tetap Chesterfield, aku hanya sedang tidak punya uang. Lanjutkan,” ujarku.

 

Okay, jadi Si Elora ini sebenarnya kenal baik denganku, begitu pula aku dengannya. Kami hanya tidak pernah akur. Dia itu tukang bunuh yang tak ambil pusing soal siapa yang dibunuh, padahal aku sudah mewanti-wantinya supaya tidak menyentuh keluargaku.”

 

“Bolehkah aku mengambil kesimpulan kau sering melihat Elora menggorok leher korbannya?”

 

“Benar.” Yeri mengentakkan debu di ujung rokok. “Maka dari itu aku tadi tanya padamu. Sepertinya kau juga sering melihat bangkai manusia.”

 

“Kasus bunuh diri, lebih tepatnya,” koreksiku cepat. “Kau punya potret Elora?”

 

Yeri menelengkan kepala padaku, tatapannya seperti ingin memastikan sesuatu. “Tentu saja punya.”

 

Ia merogoh saku celana untuk mengambil ponsel, aku tidak bergurau saat kukatakan Yeri anak konglomerat sementara aku nampak seperti begundal manapun di New York yang kebetulan masuk sekolah elit karena ayahku bekerja di sana sebagai tukang kebun. Ia mengusap layarnya (layar iPhone, kalau boleh kutambahkan) tiga kali sebelum menunjukkan wajah Elora padaku.

 

“Ini…siapa?”

 

“Elora. Siapa lagi?”

 

“Hey, jangan mempermainkan aku. Aku tahu ini kau.”

 

Foto itu, dari segi mana saja, memang menampilkan wajah Yeri, namun yang ini lebih suram. Dengan pakaian serba pastel dan tanpa polesan make-up, aku seperti melihat boneka porselen menatap muram dari balik layar ponsel. “Katakan padaku ini tidak benar.”

 

“Kalau kau memerhatikan mata pelajaran psikologi dua minggu yang lalu soal DID, kau pasti paham.”

 

Dissociative Identity Disorder.

 

So…

 

“Belum jelas juga bagimu?”

 

Tentu saja sudah jelas, Kim Yeri. Aku hanya memutar otak tentang bagaimana caranya minggat dari sini sebelum tanganmu sempat meraihku. Kepribadian kadang suka jahil, melewati garis batas dengan bermain peran seperti yang kulihat sekarang. Karena, demi apapun, aku tahu Yeri tidak suka rokok sejak ia masuk ruang kesehatan gara-gara terkungkung terlalu lama bersama asap rokok guru kalkulus-nya.

 

Sekarang kau mau apa, Mark? Loncat atau lari? Loncat dan, seperti katamu, patah tulang. Atau lari sementara ia lengah?

 

Sialan, aku tidak suka ini.

 

Lari.

 

Looser,” ucap Elora sembari terkikik geli melihatku terbirit-birit menuruni tangga besi yang sudah karatan itu

Iklan

4 tanggapan untuk “THE SEVENTH SENSE”

  1. I didn’t expect the twist!
    Sialan, jadi Yeri = Elora kasian juga si Mark yang terjebak 😂
    Meskipun ada beberapa misstype tapi masih tetap bisa dinikmati dan ending-nya kerasa suspense-nya 😂 well done!

    Suka

  2. Wow. Wow. that’s why i adore you qq. Tapi ada satu penulisanmu yang hari ini membuat dd sedikit mengerutkan alis yaitu di bagian;

    “aku tidak bergurau saat kukatakan Yeri anak konglomerat”

    dan,

    “(layar iPhone, kalau boleh kutambahkan)”

    Ini kan si Mark kalau bercerita amat sangat jelas gitu. Tapi enak kalau dari dua kalimat itu dipilih satu aja qq. Pakai yang pertama, dengan harapan pembaca tahu bahwa Yeri disini adalah anak konglomerat secara gamblang. Atau yang kedua, dengan harapan pembaca dapat menangkap maksud dari ‘iPhone’ yang dikenakan Yeri sebagai gawai.

    (sebenernya nggak ada faedahnya juga gue koreksi. nggak ada kaitanya sama plot juga XD)

    But, overall. This is a greaattttt job. Kaya kamu yang biasanya ❤

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s