Bad Yuta!

 “Kami hanya menonton pertandingan voli. Itu saja.”   

[ft. Nakamoto Yuta and Ten Chittaphon] 

__

Musim panas tahun ini jelas yang terburuk dari dua puluh dua musim panas yang pernah dilewati Yuta sepanjang hidupnya. Yuki-san—tetangga sebelah yang menjadi ibu muda dan ditinggal selingkuh oleh suaminya setahun kemudian. Menyedihkan, tapi itu bukan urusan Yuta—menyuruhnya menjaga Si Bayi Sayaka. Kalau saja rumah mereka bukan di pinggir pantai penuh turis yang bisa menculik manusia kapan saja, Yuta mungkin hanya perlu mengikat Sayaka di dalam boks bayi dan keluar bersama Ten. Namun, alih-alih mengikat bayi tersebut di boks, Yuta lebih suka berbagi tugas dengan Ten.

 

“Kelihatannya nggak asik,” komentar sahabatnya sambil mencubit pelan perut Sayaka. “Apa kita perlu membelikannya robot Gundam supaya dia bisa tidur?”

 

“Dia perempuan, Chitta.”

 

“Panggil aku Ten, astaga.” Ten berkacak pinggang lantas mendesah keras. “Kita tidak bisa meninggalkannya di sini.”

 

“Tapi kita juga tidak bisa melewatkan pertandingan voli pantai! Hari ini kelompok Aiko melawan Terasaka,” lanjutnya.

 

“Kita bawa saja dia, seingatku Yuki-san sering membawanya dengan kereta dorong bayi. Mungkin disimpan di suatu tempat,” Yuta seketika sudah melesat melewati pagar rumahnya, masuk ke kediaman keluarga Yuki dengan mudah, dan melihat kereta dorong itu terongok menyedihkan di sudut ruangan.

 

“Nih.” Yuta menyerahkan kereta tadi pada Ten. “Kau bisa memindahkan bayi, bukan?”

 

“Kau ‘kan tahu adikku ada lima. Ini hal yang biasa.” Ten memindahkan Sayaka dengan cara paling profesional yang pernah dilihat Yuta. Pemuda Jepang itu tidak bisa menggendong bayi dengan benar, kebanyakan anak kecil pasti lari kalau melihat wajahnya. Sayaka kelihatannya menyukai Ten, mereka berdua bisa akrab dalam waktu kurang dari semenit.

 

“Kau tadi bilang dia nggak asik? Tapi kau kellihatan menyukainya?”

 

“Memangnya kau ingin Sayaka menangis? Wajahku tidak sepertimu yang memang dari sananya menakutkan.”

___

Keduanya berjalan di bawah terik matahari Hokkaido. Yuta tidak memakai atasan (dengan dalih kepanasan, padahal Ten tahu itu hanya satu dari seribu alasan supaya dia bisa memamerkan keatletisannya) dan memimpin jalan ke arah pertandingan voli dilangsungkan. Tim Aiko unggul, hal yang membuat Yuta mencak-mencak kegirangan.

 

“Aiko kau yang terbaik!”

 

“Bikinimu bagus sekali!”

 

“Permainanmu membuatku bergairah!”

 

“Woooo!”

 

Clap clap clap.

 

Ten menggelengkan kepala keras-keras.

 

“Apa? Mau protes?”

 

“Ada balita satu tahun di sini, Tuan Sok Seksi. Jaga bicaramu atau dia akan menirukan ucapanmu.”

 

“Dia tidak bisa menirukanku.”

 

Sebab Ten baru saja menggumamkan ‘seksi’, Yuta langsung menggunakan kata itu untuk meneriaki Aiko. Dia kelihatan seperti manusia kerasukan arwah penasaran dari sudut pandang Ten. “Kau lihat tetanggamu itu, Sayaka? Kalau sudah besar nanti kau tidak boleh menyukainya. Dia itu cabul dan selalu menganggap kulit cokelatnya adalah anugerah dari Tuhan.”

 

Sayaka memasukkan dua jari ke dalam mulut sebagai jawaban.

 

“Rasakan itu Terasaka! Kau memang pantas kalah! Dasar yakuza tak berotak! Tukang mab—“

 

Ten menutupi telinga Sayaka supaya dia tidak mimpi buruk nanti malam. Akan tetapi hal aneh sepertinya mulai menjangkiti si bayi kala Ten melihatnya ikut bertepuk tangan bersamaan dengan Yuta.

 

My sexy Aiko! Go on, Baby! You’re the best!

 

“Sayaka—Sayaka, kau tidak boleh ikut bertepuk tangan,” cegah Ten. “Hei, Manis, Kakak Yuta itu tidak baik.”

 

“Aku dengar itu, Chitta.”

 

Semakin Ten melarang Sayaka bertepuk tangan, semakin heboh bayi itu menirukan gestur Yuta. Dia bahkan berteriak-teriak ala bayi saking girangnya.

 

Woah, Sayaka! Kau suka itu? Kau juga suka Aiko-chan bukan? Sini biar kuperlihatkan dia padamu.” Yuta—yang seratus persen yakin tak akan mendapat penolakan dari Sayaka—langsung meletakkan bayi itu di pundaknya, pantat bulat si bayi duduk nyaman di leher Yuta.

 

“Yuta, dia belum boleh digendong seperti itu! Nanti bisa keseleo!”

 

“Bayi ‘kan fleksibel. Ayo, Aiko! Beri dia smash!”

 

Tadinya Ten juga sama bersemangatnya dengan pertandingan ini, namun dengan tanggungjawab seorang bayi yang kemungkinan besar akan dijatuhkan Yuta dari pundaknya, Ten justru senewen dan ingin cepat-cepat pergi dari situ.

 

Teriakan-teriakan untuk Aiko tidak berhenti sampai setengah jam kemudian. Atau, lebih tepatnya, sampai Sayaka menangis minta diberi makan.

 

___

 

Malam menjelang.

 

Sayaka sudah pulang terhitung dua jam silam. Ten masih ada di rumah Yuta untuk membantunya mengerjakan tugas astronomi (yang menurut Yuta ‘kayak tahi’) bersama-sama, membuat tenderloin steak, dan bermain game sampai larut. Tepat pukul sepuluh malam, bel pintu terdengar dipencet dua kali.

 

“Tunggu sebentar!” Yuta berlari kecil, diikuti Ten yang mengantisipasi datangnya pemabuk sinting yang kerap menyerang kediaman Nakamoto ini.

 

“Oh, Yuki-san! Ada apa? Sayaka baik-baik saja bukan?”

 

“Y-ya, dia baik, sudah tidur sekarang. Begini, Yuta, apa yang kalian lakukan seharian ini bersama Sayaka, kalau aku boleh tahu?”

 

“Kami hanya menonton pertandingan voli. Itu saja.”

 

Entah mengapa perut Ten mulas.

 

“Ada apa, Yuki-san?”

 

“Sayaka baru saja mengucapkan kata pertamanya.”

 

Sekarang Ten ingin muntah tepat di belakang Yuta.

 

“Bagus sekali! Apa kata pertamanya?”

 

Yuta bodoh, Yuta bodoh, Yuta bodoh! Batin Ten kesal.

 

Sexy.”

 

Senyuman Yuta sirna seketika, disusul suara memekik dari Ten yang kelihatannya sudah tidak sadarkan diri. Tahu apa yang terjadi kemudian? Yuta diberi tugas oleh Yuki supaya Sayaka bisa melupakan kata itu (Ten juga terlibat di sana). Namun bayi dengan daya ingat luar biasa tersebut tidak bisa berhenti mengucapkan kata sexy; entah itu pada neneknya (yang kebetulan berkunjung), pada tukang antar pizza, pada ibunya, maupun pada Yuta sendiri.


a/n :  di sini ada yang NCTZEN?

Iklan

3 tanggapan untuk “Bad Yuta!”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s