[Deep Slumber] I Got You Wrapped on My Finger

LDS, 2017

[97-line] PRISTIN Roa x her husband

Romance, Dark, Fantasy // Ficlet // Teen and Up

.

[Introduction] ‘Deep Slumber’ adalah seri fiksi fantasi gelap yang memasangkan tokoh utama dengan karakter lawan jenis yang dirahasiakan namanya. Setiap cerita disajikan dalam dua sudut pandang: pria dan wanita. Pasangan tokoh akan terungkap jika dua versi cerita sudah dipublikasikan. Judul diambil dari potongan lirik lagu-lagu K-Pop bertema fantasi gelap.


Dalam pekatnya kegelapan, malam pengantin Roa bersimbah darah dan memburaikan daging.

“Hapus senyum angkuh itu dari wajahmu, Tuan, atau aku akan menyiksamu puluhan kali lebih dahsyat.”

Usai melayangkan ultimatum yang tak digubris ini, Roa memotong tangan suaminya dalam satu gigitan, sementara empat pasang lengannya—sepasang yang asli, tiga tambahannya muncul dari punggung, legam berbulu kasar—mencengkeram erat raga sang pria di beberapa bagian berbeda.  Benang-benang sutra terjalin tak beraturan menyelimuti mereka, tampaknya saja rapuh, tetapi sesungguhnya ampuh menjerat lelaki-lelaki malang yang tak waspada akan identitas si karnivora betina setengah manusia. Pupus sudah harapan menikmati hari pertama sebagai kekasih sehidup semati; cuma satu orang yang akan dijemput ajal malam ini dan itu jelas bukan Roa.

Aristokrat muda rupawan yang jatuh dalam tipuan Roa, ganjilnya, tetap menyunggingkan senyum meski kehabisan darah dan diaduk pusaran kecewa, mengusik laba-laba siluman di atas tubuhnya. Ia menjerit, tentu, tetapi ketidaklaziman raut sekaratnya telah membalikkan keadaan. Apa yang memicu kurva tipis itu tetap mengembang, padahal yang tersisa dari Sang Bangsawan tinggal kepala, separuh badan, dan satu tangan? Terkenal licin dan penuh perhitungan, ia bisa saja memiliki rencana yang akan mengubah arah akhir pedih kisah ini ke sisi istrinya; satu hal yang Roa cemaskan, namun tak mengemuka.

“Aku tidak sedang menyombong …. Aku bahagia karena sekarang … antara kita … tak ada lagi rahasia.”

Bodoh benar. Telanjangnya kenyataan tidak sama dengan kemurnian cinta seperti yang Sang
Bangsawan impikan. Inilah akibatnya jika pemikiran seorang pria dewasa terbatas pada bagaimana cara mengeruk pundi-pundi orang lain tanpa memiliki cukup pengalaman asmara sebagai hiburan: pandangannya terhadap cinta jadi amat superfisial. Roa adalah titik mula kisah kasih yang selama ini tak diperoleh si lelaki membosankan dari orang tua, rekan kerja, maupun rival bisnisnya, maka segala tentang Roa baginya merupakan kesempurnaan. Ya, itu termasuk bagaimana tiga pasang lengan tambahan si perempuan mencabik daging, bagaimana gigi-gigi runcing itu mengoyak kulit, dan bagaimana kebuasannya masih dapat mewujud dengan demikian memesonanya.

“Kau iblis ….”

“Maka takutlah padaku.”

“Tapi aku … lebih merasa tertantang … untuk mencintaimu ketimbang … mengutukmu …. Wajarkah?”

Sialan. Bisa-bisanya Roa tidak memperoleh sedikit pun esens kengerian dari pria yang tampak jauh lebih imatur dari suami-suaminya terdahulu? Apa hidup bagi Sang Bangsawan begitu insignifikan hingga ia—alih-alih memikirkan cara menyelamatkan diri—malah mencari jalan menuju maut? Apakah ini karena ia kepalang terpikat? Namun, semabuk-mabuknya seorang lelaki, ia pasti akan meronta ingin kabur saat diseret laba-laba janda hitam pada kematian. Mimik putus asa itulah yang menambah selera si pemangsa, tetapi lihatlah, sempat sekali orang ini merayu monster di gerbang akhirat! Ini bukan urusan main-main!

“Kau benar-benar makanan yang alot. Menyesal aku menjeratmu dalam jaringku.”

Akhirnya, keretak tengkorak membungkam Sang Bangsawan selamanya dalam tidur panjang. Terpaksa si laba-laba melahap kepala lebih dahulu malam ini, menyalahi kebiasaan bersantapnya. Tak butuh banyak waktu hingga Roa menyisakan satu tubuh tanpa kepala, lengan, maupun kaki, lalu sang nyonya—yang dalam kurun kurang dari sehari kembali menjanda—duduk di pinggir ranjang dengan delapan lengan merah basah terangkat ke udara. Malam pertama yang mengenyangkan sekali lagi terlalui; lumayan melelahkan juga buat rahangnya yang tak berhenti mengunyah.

“Aku mencintaimu dalam keadaan senang dan sakit, hidup dan mati.”

Lucu. Rasanya Roa mendengar suara Sang Bangsawan dari dalam perutnya … atau dari mana? Sumpah yang ditukar di depan altar, setulus apa pun diikrarkan, harusnya dilupakan sesudah makan.

***

Konon, laba-laba janda hitam melahap pasangannya segera setelah kawin agar keturunannya kelak aman dari si jantan. Roa menolak mitos itu. Dia—pembunuh yang mengincar kekayaan pria-pria perlente—menganggap keberadaan seorang anak hanya akan menghalanginya berhura-hura, jadi semua bayi suci yang masih bau ketuban ini selalu ia telan sendiri sebelum berusia 24 jam. Tanpa adanya pewaris, harta para korban Roa tak akan terbagi, sehingga ia bisa melanjutkan kehidupannya yang mewah tiada tanding.

Namun, entah mengapa, Sang Bangsawan versi mungil yang Roa lahirkan terlihat terlalu berharga untuk mati cepat.

Selama ini, Roa mengira perasaannya pada Sang Bangsawan bagai sejumput merica yang ditabur ke atas daging panggang: sedap, tetapi cepat lenyap, sama dengan yang lain-lain. Rupanya, ada sedikit perbedaan pada diri lelaki dingin tersebut yang mau tidak mau mendorong Roa bersikap ‘melenceng’ pula. Bagaimana tidak? Demi belajar mengasihi, Sang Bangsawan rela menyisihkan urusan uang sampai-sampai mampu melembutkan auranya, merobohkan benteng antara ia dan hati kecilnya, bahkan menekuni langkah dansa dasar hingga berhasil membuai belahan jiwanya sesuai kekhidmatan tempo waltz. Misi menaklukkan laki-laki ini menjadi lebih riskan; bohong kalau dibilang si laba-laba jelita tidak pernah tergoda untuk tulus menyayangi calon mangsanya. Yang parah, beberapa hari pasca kematian menggegerkan suaminya yang ke-66 itu, terbetik penyesalan dalam batin Roa.

Mengapa aku membunuhnya?

Cermin rias memantulkan raut berduka seorang ibu yang tengah menyusui putra tunggalnya. Roa masih sulit percaya bahwa itu—alih-alih satu dari kebanyakan perempuan yang terkungkung superioritas pasangan—adalah dirinya, si wanita berbahaya. Satu suara dalam kepalanya mencemooh dan bersama terlintasnya ejekan ‘lemah’ ini, bekas luka yang malang-melintang di punggungnya berdenyut ngilu.

“Siapa yang tega menyakitimu?”

Tuan-tuan tanah berkeriput halus—dari mana Roa biasa mendulang emas—akan marah jika ia tidak tampil menawan, tetapi Sang Bangsawan naik pitam justru gara-gara parut panjang yang tak pernah mereka semua sadari. Keharuan menggeser satu sesi yang mestinya intim; setengah mabuk Roa bertutur soal cemeti dan nyaris seketika, teman tidurnya bersimpati. Pada malam purnama seminggu sebelum pernikahannya, ia tak keberatan selimut dinaikkan lebih awal demi bisa mencicipi hangatnya mencinta tanpa bercinta. O, andai saja kesempatan itu datang sekali lagi ….

Matahari telah tergelincir di ufuk barat usai bayi Roa tertidur pulas kekenyangan. Sedikit banyak, pangeran kecil di pembaringan mengingatkan ibunya pada sang ayah.

Mengapa dadaku sesak?

Roa menutup wajah, putus asa, menolak untuk merasa kehilangan. Seumpama mengupas kacang, apakah kita akan rindu kulitnya setelah isinya meluncur masuk kerongkongan? Sang Bangsawan tak ubahnya kudapan minum teh, paling bagus hanya jadi hidangan utama pada jamuan makan malam …

bukan kekasih.

Berdiri di ambang pintu, sejenak Roa mengarahkan lentera lilin ke peraduan anaknya, memastikan si bayi baik-baik, tetapi ia tersentak mendapati bayangan seseorang di jendela yang kelambunya tersibak.

“Dia—“

Lingkaran cahaya lentera bergoyang tak teratur tatkala Roa yang kalut berlari mendekati jendela, sayang pria berpakaian serba hitam dengan rambut diikat yang tadi dilihatnya terlanjur menghilang ke dalam malam. Darah Roa berdesir gelisah; ia mundur beberapa langkah sebelum menggendong sang putra dan pergi ke kamarnya sendiri diiringi berbagai tanya, salah satunya berdengung sangat keras.

Sang Bangsawan … bangkit kembali?

TAMAT


title taken from lyrics of PRISTIN – Black Widow

Iklan

3 tanggapan untuk “[Deep Slumber] I Got You Wrapped on My Finger”

  1. baru paragraf pertama aku sudah istighfar huhuhu roa ku kamu bengis sekali… ehh ga bengis sih namanya aja siluman ya, emang gitu nalurinya
    kalo ada ff roa, siapa pun pairnya, kayak ga afdol kalo gak dibayangin dia adalah minhyun, WOY ELAH AKU SHIPPER BERAT MEREKA
    kemudian… hmm apa lagi yang harus kukatakan? aku lama baaaaanget enggak baca cerita dengan bahasa yang berat, kelamaan main di wattpad sungguh menumpulkan otak. tapi ini baguuuuuuuuusss aku jadi terpicu buat baca yang berat2 lagi hihi
    love you deh kak pokoknya ❤

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s