[CHAPTER 1] WHISPER OF THE WIND

Scripwriter : chioneexo | Duration : Chaptered [part 1] | Cast : Nakamoto Yuta, Dong Sicheng (Winwin) | Rating : PG-17 | Genre : Historical/War

Dong Sicheng merasakan dadanya naik-turun. Ia tidak melihat banyak cahaya sejak beberapa jam silam, mimpi buruknya barusan juga sama sekali tidak membantu. Seperti kebanyakan waktu, Sicheng terbangun di sela-sela rumput kelabu dan bau tidak sedap bangkai manusia. Hujan turut ambil bagian mempercepat proses pembusukan bangkai-bangkai itu (ibunya bilang, manusia adalah bangkai saat mereka sudah mati). Botnya tersangkut di antara potongan kaki dan senapan angin tak bertuan, sambil berusaha menyeimbangkan tubuh, Dong Si Cheng berdiri dan melangkahi dua-tiga bangkai sekaligus.

 

Pemuda itu tidak ingat kapan terakhir kali Beijing terlihat merah. Ia suka warna merah, ia suka lampion dan petasan yang dijual di pasar oleh penarik pedati tua (yang selalu makan sop wortel buatan Bibi Zhang), juga suara teater yang dimainkan oleh beberapa kelompok seniman. Sekarang, Sicheng merasa bau mesiu adalah bau sarapan paginya, begitu pekat sampai-sampai ia lupa bagaimana aroma bebek panggang.

 

Di tengah-tengah usahanya mencari manusia hidup lain, Sicheng menemukan dirinya merasa lapar. Kendati demikian, ia hanya punya roti basi bercampur lumpur dan pil prajurit sisa kemarin lusa. Sicheng beruntung dirinya masih hidup hari ini, ia beruntung karena orang-orang penyembah matahari itu menginjaknya begitu saja sama seperti bangkai lain, karena dengan begitu, ia masih bisa berharap dirinya akan melihat Tiongkok merdeka suatu hari nanti.

 

Dong Si Cheng benci kelaparan, dan sungguh nasib buruk bertemu prajurit Jepang yang kini membeliak padanya dari sela-sela kerangka gubuk yang sudah hancur. Senapannya otomatis terangkat, ia mendekat perlahan dan menyingkirkan penghalang apa pun yang ada di hadapannya. Sicheng tahu siapa prajurit tersebut, dia yang kemarin menembak selangkangan Renjun sampai bocah itu mati kehabisan darah. Meski si prajurit Jepang mengindikasikan penolakan, ia tetap membiarkan Sicheng mendekat.

 

“Kau.” Katanya dalam bahasa Jepang.

 

“Tolong ambilkan aku air.”

 

“Lalu apa yang akan terjadi setelah aku mengambilkan air? Kau akan membunuhku, tentu saja.” Sicheng membalas menggunakan bahasa Mandarin.

 

“Aku mengerti itu, Prajurit. Aku tinggal di Beijing selama dua belas tahun hanya untuk berakhir menyedihkan meminta tolong padamu.” Ia masih meringis kesakitan, Sicheng menduga pasti salah satu tungkainya tertembak.

 

“Tolong?”

 

“Bukankah itu yang kukatakan sebelumnya? Aku sudah membuang harga diriku demi seember air. Sekarang cepat ambilkan.”

 

Sicheng menduga lagi, orang ini pasti sersan, atau pangkat apa saja yang lebih tinggi daripada prajurit biasa. Ia punya lencana bintang tersemat di seragamnya, juga senapan yang tidak pernah dilihat Sicheng dimana pun. Entah ia sudah gila atau Tuhan sedang menguji sisi kemanusiannya, yang jelas Dong Sicheng segera mencari sumber air terdekat untuk menimba air. Tidak ada yang bisa kau harapkan dari air di daerah pasca serangan, tentu saja penuh polusi, tapi tidak ada pilihan lain.

 

“Ini.” Sicheng menyerahkan ember itu kepada si sersan. “Kau terluka?”

 

“Tidak parah. Aku hanya—“ ia berhenti untuk menenggak air, “—sangat haus.” Ia menyisakan setengah airnya untuk Sicheng, yang ditolaknya halus. “Well, akan kuhabiskan kalau begitu.”

 

“Apa yang kau lakukan di sini, Jepang?”

 

“Namaku bukan Jepang.”

 

“Jangan harap aku tahu namamu di kali pertama kita bertemu.” Sicheng duduk di sebelah si sersan, sekonyong-konyong melupakan rasa laparnya. Sicheng tidak pernah memerhatikan tanggal, hari, dan waktu, tapi ia bersumpah saat ini adalah momen paling ajaib dimana ia tidak merasa harus membunuh orang Jepang. Sicheng menyukai attitude pria ini, dan jika ada yang mau repot-repot membuang harga diriya untuk seember air, maka dia patut mendapatkan satu baskom penuh.

 

“Yuta Nakamoto-desu. Sersan mayor , tapi aku lebih suka dipanggil prajurit. Berasal dari Osaka. Kau?”

 

“Dong Si Cheng. Prajurit biasa yang tidak pernah bermimpi akan menjadi sersan . Berasal dari barat Beijing.”

 

“Senang bertemu denganmu.”

 

“Sejujurnya, aku tidak tahu apakah aku merasa senang atau tidak. Berbicara dengan orang Jepang bukan kebiasaanku. Kau punya makanan, Yuta-san?”

 

“Buah persik dan sedikit daging babi bakar.” Yuta mengeluarkan makanan tersebut dari dalam rompi besinya. “Imbalan yang berlebihan untuk seember air.”

 

Sicheng mendesis, “tsk, kau akan mati tanpa diriku.”

 

Yuta tertawa, ia tertawa karena keadaan ini sangat tidak terduga. Ia tertawa karena Sicheng tidak membunuhnya. Takdir kadang-kadang suka bergurau.

 

“Berapa usiamu?” Yuta bertanya di sela-sela kegiatan mengunyah Sicheng.

 

“Kepala dua. Kau?” Sicheng melahap tiga daging sekaligus tanpa menghiraukan tatapan aneh dari Yuta.

 

“Dua puluh dua. Dan, Demi Matahari, cara makanmu tidak wajar.”

 

Diraihnya ujung alumunium foil pembungkus makanan-makanan tadi dan mencontohkan pada Sicheng cara makan yang baik. “Gunakan itu untuk melindungi makanan dari tangan kotormu, makanan adalah anugerah dari Dewa.”

 

“Ajaran ibumu, huh?” Sicheng menurut, tapi tetap mengunyah dengan decakan keras.

 

“Entahlah, dari kecil sudah begitu.” Yuta ikut melahap sepertiga persiknya untuk kemudian berdiri dan membenarkan letak bot tentaranya, ia seperti hendak hengkang untuk urusan lain. “Kau mau tetap di sini?”

 

“Namanya pengkhianat kalau ikut denganmu.”

 

“Tapi pasukan Beijing sudah pergi membantu pertempuran di barat daya, name tagmu juga tidak ada. Mereka pasti mengira kau sudah mati kemarin.” Yuta melepas rompinya sebentar, ia kelihatan sangat muskular, dan berkali-kali lipat lebih tampan meski wajahnya berdebu. Tidak seperti kebanyakan prajurit Jepang, rambut Yuta tidak dipotong rapi, dan dilihat dari segi manapun kelihatan sangat berantakan.

 

“Pemuda Dong, kau ikut denganku?”

 

Sicheng mengalihkan pandangan dari Yuta yang kini sibuk mengisi senapannya dengan peluru baru.

 

“Aku ingin ikut berperang.”

 

“Aku suka semangat bela-negaramu. Akan kuantar kau ke lokasi pertempuran, setelah itu kita bisa berpisah.”

 

Sicheng menandaskan kudapannya, berdiri, dan bersendawa panjang. Yuta tersenyum simpul melihat itu, entah mengapa ia merasa Sicheng seharusnya tidak di sini. “Kau kelihatan seperti anak ayam yang butuh perlindungan.”

 

“Oh ya? Kalau begitu kau anak yakuza. Dengar, Yuta-san, ini mungkin kedengaran konyol, tapi kau orang kesembilan yang berkata begitu.” Sicheng mengekor di belakang sementara Yuta memanggul ransel dan senapan di satu bahu.

 

“Masih lapar?”

 

“Ya.”

 

“Ingin berburu di hutan?”

 

“Tapi aku—“

 

“Bertempur tanpa tenaga adalah bunuh diri. Aku tidak akan meracunimu, Dong. Kau sudah menyelamatkan nyawaku.”

 

Sicheng terdiam, ia kewalahan mengikuti langkah lebar Yuta, pun ingin memaki pada bangkai-bangkai sialan yang kerap membuatnya tersandung. “Keberatan kalau kupanggil ‘Yuta’ saja?”

 

“Terserah padamu, di medan pertempuran namaku bisa bermacam-macam.”

 

“Oh ya? Sebutkan salah satunya.”

 

Sicheng mendadak lupa tujuannya untuk pergi ke barat daya, ia lebih suka mendengar curahan hati Nakamoto Yuta ketimbang memikirkan akan mati keesokan hari. Pemuda Beijing itu, entah bagaimana, merasa senang bisa memiliki satu kawan di tengah-tengah permusuhan yang kental. Walaupun tidak ada jaminan Yuta akan seperti ini terus, namun Sicheng lebih suka menaruh prasangka baik pada kawan barunya itu.

 

__

 

Tanah pertanian terlantar yang mereka temukan setengah jam berikutnya memiliki sumber makanan yang lumayan banyak. Di sana ada bebek, kuda, ayam, dan kelinci. Yuta dan Sicheng sepakat menyembelih dua ekor ayam untuk kemudian dipanggang dengan bubuhan garam serta merica.

 

“Kau punya keluarga, Yuta-san?” Sicheng bertanya sembari membalik ayamnya sebelum gosong.

 

Yuta tidak segera menjawab, tatapannya menerawang di antara lebat pohon ginko dan birunya langit. “Well, katakan saja aku punya, tapi mereka berpencar dan ada dimana-mana. Ayahku ada di markas, sudah jelas. Ibu dan adikku bisa jadi ada di Jepang, atau di Beijing, aku tidak tahu.”

 

“Ibuku baik-baik saja, dia ada di rumah.” Dong Sicheng mengangkat ayamnya sedikit, lalu menyiram api dengan air. Ayam itu sudah selesai dipanggang rupanya. “Aku selalu bilang pada ibuku bahwa, apa pun yang terjadi, jangan biarkan prajurit Jepang tahu rumah kami ada di sana. Jadi ibu selalu membuat kesan rumah kami sudah lama ditinggalkan.”

 

Kali ini Yuta menatap Sicheng.

 

“Hebat kalian tidak ketahuan sejauh ini.”

 

“Aku tidak bisa jamin, orang-orangmu membunuh siapa saja dan dimana saja. Bahkan anak anjing yang tidak bersalah.”

 

Yuta mengangguk membenarkan, “negaraku yang tiran ini memang tidak bisa dimaafkan, aku bahkan tidak bisa memaafkan diriku karena setuju untuk mengangkat senjata. Jepang telah menduduki beberapa wilayah di Asia Tenggara, termasuk Hindia Belanda yang katanya pulau surgawi. Aku tidak tahu bagaimana rupanya, tapi mereka menjarah banyak hal dari sana.”

 

“Apa menurutmu negara kita bisa berdamai?”

 

Si pemuda Jepang tertawa miring, “hanya dengan seizin Dewa. Nih.” Kali ini Yuta menuangkan secangkir air sumur yang entah bagaimana tidak terkontaminasi bubuk mesiu atau darah manusia.

 

“Yuta-san?” Sicheng mengunyah ayamnya keras-keras, kebiasaan makannya yang berisik memang tidak bisa dihilangkan.

 

“Ya?” Yuta menyahut tanpa menengadah, ia sibuk menyuwir ayam untuk dimakan Sicheng.

 

“Aku berubah pikiran.”

 

Yuta berpaling, “soal apa?”

 

“Soal pergi ke pusat peperangan. Kita bisa kabur selama dua hari satu malam dengan dalih kehilangan arah.”

 

“Ayahku mungkin tidak akan percaya kalau aku tersesat, aku pandai membaca kompas.” Yuta kelihatan menimbang-nimbang ajakan Sicheng, sudah jelas tindakan nekat. “Tapi kita bisa pergi berlawanan arah, Haidian tidak jauh dari sini.”

 

“Ide bagus! Tapi kita tidak punya kendaraan.”

 

Yuta berdiri sambil berkacak pinggang, ia menggembungkan mulut dan meniupkan udara dari sana, “keberatan naik kuda?”

 

Sicheng melahap habis kudapannya—protes beberapa saat karena tidak sengaja menelan tulang—kemudian bergegas membantu Yuta memilih kuda di kandang dekat lumbung padi kosong. Sicheng memilih seekor betina hitam dengan perawakan luar biasa besar, sementara Yuta memilih jantan putih yang membuatnya kelihatan seperti pangeran dari negeri dongeng.

 

Keduanya berkuda selama beberapa saat sampai matahari hampir tenggelam, meninggalkan semburat oranye terang dan bayang-bayang bulan perbani awal. “Kau tidak kedinginan, Dong?!”

 

“Kau bercanda? Kita ini prajurit!” Sicheng berteriak demi melawan kerasnya angin. “Aku pernah berkubang di lumpur selama sehari penuh!”

 

“Oh ya?! Apa bagian bawah sana tidak kedinginan juga?!”

 

Sicheng tertawa menanggapi lelucon jorok Yuta, rekan-rekan sesama prajurit memang biasanya begini. Mereka terus berkuda sampai ke batas terluar Haidian, baik Yuta maupun Sicheng enggan berurusan dengan penjaga gerbang, karena akan jadi masalah kalau mereka sampai tahu Yuta adalah anak dari Letnan Jenderal Nakamoto (yang kabur bersama seorang pemuda tak dikenal, yaitu Dong Si Cheng).

 

“Aku bisa bahasa Mandarin, Dong. Kau tenanglah.”

 

“Tidak diragukan. Tapi seragam militermu, siapa saja di negeri ini akan langsung tahu kau Nakamoto Yuta.” Sicheng memutar otak sejenak, “kau bisa pakai bajuku.”

 

“Dan kau?”

 

“Telanjang dada untuk sementara demi keselamatan bersama tidak masalah.”

 

Keduanya pun bersembunyi di balik semak-semak selama beberapa saat, Sicheng melepas baju serta rompi perangnya untuk kemudian dikenakan Yuta.

 

“Dengan begini, namamu Dong Si Cheng sekarang.”

 

Yeah, semoga saja tidak lepas bicara. Apa alasanku jika mereka bertanya dimana name tag-ku?”

 

“Bilang saja yang sejujurnya, bahwa name tag-mu telah diambil karena mereka mengira kau sudah mati,” ujar Sicheng. “Ayo, aku tidak mau lama-lama separuh bugil.”

 

Yuta selesai tidak lama kemudian, dengan badan terbungkus seragam Sicheng yang kekecilan. Ia berjalan dengan penuh percaya diri, melintasi setapak berbatu menuju pintu gerbang Haidian, kudanya dituntun dan diarahkan ke tempat yang sama. Mata Sicheng menjadi was-was karena, dari segi manapun, Yuta tidak kelihatan seperti orang Tiongkok.

 

Wanshang hao,” ucapnya yang langsung menguapkan rasa khawatir Sicheng. Ya Tuhan, kedengaran seperti logat Guangzhou.

 

Perbincangan berjalan dengan lancar, Sicheng merasa lega para penjaga itu tidak menyadari bahwa seragam militer Yuta telah dirangkap dengan milik Sicheng. Sementara mereka memasuki kota, terdengar suara dentuman di kejauhan yang menandakan perang masih berlanjut. Pikiran Sicheng langsung melayang ke pemandangan bangkai yang sepagian ini ditontonnya, berkaparan seperti ikan yang dikeringkan. Yuta memalingkan wajah, tahu bahwa rudal itu berasal dari pasukan Jepang.

 

Seperti yang sudah diduga Sicheng, tempat itu berisi sebagian besar wanita, suami dan anak lelaki mereka jelas diminta bertempur di garis depan, tidak lain Sicheng sendiri. Di beberapa tempat terlihat prajurit Jepang sedang melakukan patroli, tidak ada yang mengenali Yuta untungnya.

 

Well, kita mungkin yang paling tampan di sini,” ujarnya geli. “Kau suka perempuan, Dong?”

 

Sicheng menoleh, “maaf?”

 

“Jangan bilang kau tak tahu soal prajurit kami yang gemar memerkosa wanita.” Yuta memandang ke sekitar, bermaksud mencari penginapan dengan istal kuda termasuk dalam fasilitasnya. “Tapi aku bukan orang seperti itu,” tambahnya cepat.

 

“Bicara soal wanita, aku tidak bisa menahan air mataku setiap kali melihat mereka diseret, ditarik rambutnya, ditelanjangi secara paksa layaknya hewan. Dalam hatiku, aku berdoa semoga prajuritmu akan disodomi anjing-anjing neraka nantinya. Jangan tersinggung.”

 

Yuta mengangguk-angguk sembari tersenyum masam. Tidak ada yang baik dari perang, pikirnya singkat. Mereka berdua berhenti di sebuah penginapan kecil dengan pekarangan depan yang luas, Yuta bisa mengindra bau jerami dan gandum giling yang pasti dimiliki seseorang penunggang kuda. Ia membiarkan Sicheng bertanya kepada sang pemilik penginapan apakah masih tersedia kamar kosong, juga istal yang nyaman untuk Heifeng dan Baihua (dalam perjalanan singkat barusan, mereka menamai kuda-kuda itu).

 

___

 

“Aku bertanya-tanya, seharusnya ada lebih banyak prajuritmu di sini,” ujar Sicheng selepas membasuh badan dengan air dingin.

 

“Mereka ada di sisi lain kota, tidak banyak yang tersisa di sini, semuanya dikerahkan ke pertempuran utama. Aku juga kaget melihat penjaga gerbang justru orang-orangmu.”

 

“Apa kau kenal seorang petinggi Jepang di sini?” Sicheng bertanya sembari menyambar kaos oblong putih pemberian Nyonya Liu untuk para tamu.

 

“Dilihat dari mereka yang berpatroli tadi, kurasa daerah ini milik Paman Ikeda.”

 

Pamanmu? Oh, seharusnya aku tidak terkejut.”

 

Sicheng berbaring dalam kegelapan, matanya beradu pandang dengan langit-langit berwarna cokelat tua yang dihinggapi laron. Penginapan tersebut masih menyimpan sisa kejayaannya berupa kayu-kayu mahoni yang menjadi penopang atap, lainnya Sicheng yakin sudah dijarah. Ia tahu, setiap daerah yang dijajah Jepang pasti dipaksa tetap beroperasi, tidak peduli itu penginapan, ladang, toko kain; semuanya. Jepang membayar sangat sedikit untuk kenikmatan yang mahal, bahkan tidak membayar sama sekali.

 

“Yuta?”

 

“Ya?” Mereka berbicara dalam bisik-bisik yang lirih.

 

“Pernahkah kau bertanya-tanya bagaimana jika kau mati keesokan hari?”

 

Yuta tidak langsung menjawab, ia membenarkan letak tataminya dan menjadikan kedua tangan sebagai alas kepala. “Aku tidak berniat mati sekarang, lagipula firasatku berkata perang ini akan berakhir dalam waktu dekat.”

 

“Kau terlihat yakin.”

 

“Jujur saja, aku tidak tahu mengapa negaraku tidak takut kepada Amerika. Mereka itu monster.”

 

“Kau bicara seperti Jepang bukan monster.” Sicheng mendesis sebal, pikirannya melayang lagi ke hari dimana ia melihat temannya, Huang Renjun, ditembak di bagian selangkangan dan mati sambil berteriak-teriak, Sicheng ingin menolong tapi ia keburu dihadiahi tempeleng oleh seorang Jepang. Bayangan akan kubangan darah, peluru-peluru yang mental terkena palang besi, juga truk makanan milik Jepang yang menguarkan bau sedap nan memabukkan, membuatnya tidak bisa tidur.

 

“Apa kau pernah membunuh?” Sicheng berkata di sela bunyi deru napas mereka. Ditolehnya si pemuda Nakamoto sedang berbaring menatap langit-langit yang sama. Dari samping, ia bisa melihat tajam bilah rahang Yuta, juga cambang yang sudah waktunya untuk dipangkas. “Membunuh yang meninggalkan sesal dalam hatimu?”

 

“Kau tahu? Sejak beberapa jam yang lalu, pertanyaan-pertanyaanmu membuatku pusing.”

 

“Maaf.”

 

“Akan kujawab lain kali. Sekarang kita harus tidur, besok kita akan berkeliling kota.”

 

Sicheng mengiyakan dengan diam, netranya masih terpaku menatap sisi kiri Yuta yang kelihatan begitu berwibawa, tangguh, mempesona, dan rapuh dalam satu waktu. Sicheng berpikir, jika dirinya dilahirkan sebagai wanita, ia akan jatuh cinta pada Yuta lebih cepat daripada ia berkedip.

 

Oyasuminasai, Yuta-san.”

 


a/n: so this is the first chapter, what do you think? kalau ada yang pernah baca ff-ku yang berjudul The Light, pasti mikir “ini Tina bikinnya perang China x Jepang mulu” , haha iya memang aku suka banget sama konflik dua negara tersebut, dan merasa senasib juga karena negara kita pernah dijajah Jepang, right? Jadi feel-nya lebih masuk. Untuk spoiler, aku akan menambahkan beberapa cast Jepang seperti Sana-Twice, Takuya-Cross Gene, dan beberapa cast China (kalau yang ini dari NCT sendiri) seperti Lucas, Kun, dan Chenle.  Terima kasih sudah membaca! ❤

 

xoxo

Tina

 

4 tanggapan untuk “[CHAPTER 1] WHISPER OF THE WIND”

  1. kenapa gak ada yg ngomen ini sih? like ini bagus bgt gila sbenernya speechless dan mau nyider aja tapi ga sopan. ya udhlah ngomen asal saja.
    tapi
    gatau mau ngomong apa, ga pusing ya nulis genre historical yg temanya perang? byk detil geografis dan kronologi yg mesti dipahami, terus juga suasana medan perangnya harus digambarkan rinci biar pembaca ngefeel. DAN AKU NGEFEEL hm ataukah krn diriku lagi kesengsem pairing ini entahlah.
    bingung juga sih ngebayanginnya mereka komunikasi pake bahasa jepang-mandarin gitu hyaaa tapi gpp.
    aku mau tanya, tatami itu bukannya lantainya ya? klo kasurnya bukannya futon? dan mereka kan ada di penginapan cina walaupun udah diaku/? jepang, apa istilahnya masih tetep pake bhs jepang?
    keep writing anyways!

    Suka

    1. ASTAGA KAK LIANA OMO.
      kirain ff ini kaga ada yg minat wkwkw
      gara-gara nulis ff ini aku jadi suka Second Sino Japanese War kak, aku juga baca-baca tentang sejarah tahun 1945, aliansi Jepang itu siapa aja, terus perang saudara nasionalis/komunis nya China, dsb.
      Yuta bisa bahasa mandarin kok kak, kan dia tinggal di Beijing 12 tahun :3
      ah iya, terimakasih koreksinya, aku selalu menganggap tatami adalah kasurnya LOL. noted!
      nah untuk yang terakhir, aku sempat baca2 di internet kalau usaha apapun yang dijalankan orang China, biasanya diambil paksa oleh Jepang, tapi mereka pun juga suplai barang demi kenyamanan mereka (jepang) sendiri, jadi aku pakai istilah Jepang disitu kak 😀
      terimakasih sudah komen di sini ya kak ❤

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s