Saat Sore

Artwork and Story by Charon Ly

Starring by Jeon Wonwoo [Seventeen]

Sore kembali datang. Menjumpainya adalah kebahagianku. Sederhana saja. Ketika sore datang artinya waktuku di sekolah sudah selesai. Kecuali, sabtu dan minggu aku mencintai sore dengan segala penampakannya.


Kusandarkan bahuku pada halte bus. Sepasang headset menggantung hikmat pada lubang telingaku, menyalurkan gelombang suara yang diartikan oleh sel-sel otakku sebagai lagu-lagu bertempo cepat dan keras. Tonight Alive menjadi band favoritku semenjak tak sengaja indera pendengaranku berpapasan dengannya di salah satu kedai langgananku.

Bus yang harus kutumpangi datang. Setelah badanku sepenuhnya berada dalam bus, indera penglihatanku tidak menemukan tempat duduk kosong.

Ada.

Seharusnya ada. Di sebelah seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah namun berbeda dengan seragamku. Ia dari sekolah perempuan di belokan sebelum sekolahku. Sayangnya, gadis itu menaruh sekotak besar sayur dan buah di kursi yang seharusnya bisa kududuki.

Sebenarnya tak apa bila aku berdiri. Akan tetapi, ia menyadari keberadaan netraku yang sejak tadi jatuh pada kursi di sebelahnya. Segera ia memindah kotak tersebut ke pangkuannya kemudian memandangku. Gadis itu menyuruhku–memberi kode–duduk dengan memasang wajah datar.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan aku menempatkan diri di kursi kosong tersebut. Belum lama setelah bus melaju, aku merasakan gerakan-gerakan kecil darinya sebagai bentuk ketidaknyamanan karena kotak itu cukup besar untuk ia pangku sendiri.

“Bisa kubantu?” tawarku padanya. Ia menoleh, kemudian menjawab, “iya.” Jawaban singkat tersebut diikuti dengan gerakan tangannya menggeser separuh box berwarna cokelatnya ke atas paha kiriku.

Separuh beban saja sudah lumayan berat. Bagaimana bisa ia bawa ini sampai rumahnya?  batinku sembari mencuri pandang.

Ia menyandarkan kepalanya pada jendela bus. Mulutnya komat-kamit seakan sedang melantunkan sesuatu tapi tanpa suara. Mungkin ia sedang mendengarkan lagu dari headset-nya. Akupun kemudian melakukan hal sama.

Berselang waktu, malam mulai menyebarkan kegelapan. Lampu-lampu jalan menyala bersamaan sehingga mengurangi sudut-sudut hitam di sepanjang jalan. Dua halte bus telah terlewati. Pada halte ketiga gadis yang sempat tertidur di sampingku memindahkan kotaknya dari pahaku dan mengangkatnya susah payah. Ia menyempatkan diri meminta maaf dan berterima kasih padaku meski dengan nada sekenanya. Mataku masih mengekorinya hingga bus berjalan meninggalkan halte.

Ternyata ia sangat kuat.

***

Usai pertemuan itu, aku jadi sering bertemu dengannya pada sore hari di dalam bus yang sama. Pun dengan sosok mungilnya yang membawa bermacam-macam barang yang kutaksir berukuran lebih besar dan lebih berat dari tubuhnya.

Seperangkat alat melukis, setumpuk buku-buku berukuran sedang hingga besar, sebuah gitar, setumpuk kabel, dan lain sebagainya. Aku dibuat kagum dengan bawaannya. Sampai-sampai aku berkesimpulan ia adalah gadis cerdas dengan bakat dan hobi yang beranekaragam.

Sore ini ia membawa sebuah boneka panda raksasa. Ia duduk di tempat yang sama dan saat ia melihatku naik, segera ia memindahkan pandanya padahal aku tidak berniat duduk di sebelahnya.

“Kau letakkan saja bonekamu di sana,” ujarku seraya duduk di kursi sebelahnya namun terpisah sekat jalan. Ia mengangguk kemudian mendudukkan kembali hewan artifisial raksasa itu di sebelahnya.

Setiap kali ada seseorang yang masuk, ia memindahkan boneka tersebut ke pangkuannya. Terhitung sudah 3 kali ia melakukannya. Batinku berkata ia pasti merasa sungkan dengan para penumpang, takut kalau kursi yang tersisa tinggal di sebelahnya. Ia tidak ingin membiarkan orang-orang yang sudah lelah menjalani rutinitas harian harus berdiri lama dan menambah tumpukan asam laktat di kaki mereka.

Apalagi ketika seorang nenek memasuki bus. Dengan sigap ia berdiri dan mempersilakan nenek itu duduk. Akan tetapi karena masih ada bangku kosong di belakangnya nenek itu menyuruh ia duduk kembali.

Tipe perempuan sopan, pikirku.

Semua tingkahnya membuatku gemas, jujur saja. Aku tidak tahan melihatnya kebingungan saat ada penumpang masuk. Entah mendapat inisiatif dari mana, aku memindahkan tubuhku kemudian mendudukkannya di sampingnya. Tanganku meraih boneka besar yang menenggelamkannya dari atensi netra yang tak sengaja memandang.

“Biar aku bawa sendiri! Itu tidak berat,” tukasnya sambil berusaha merebut kembali boneka itu.

“Siapa namamu?” tanyaku mengalihkan topik sebelum dimulai.
Ia menarik tangannya dari boneka itu. Ia sempat bungkam dengan pertanyaanku yang terlalu mendadak. Aku pun merutuki otakku yang tidak berpikir panjang dan langsung bertanya seperti itu. Sangat tidak sopan.

“Jung Ah.” Ia menoleh ke arahku. Mata kami bertemu. “Terima kasih dan maaf karena merepotkanmu lagi.”

“Baru dua kali,” kulontarkan senyum setulus mungkin, “kalau sudah kali ketiga kau harus mentraktirku roti isi.”

Tiba-tiba ia merogoh tasnya. Sebungkus roti berlumur selai cokelat muncul dari dalam. Ia menyodorkan makanan itu padaku.

“Kenapa menunggu angka tiga kalau sekarang aku sudah membawa rotinya.”

Ia tersenyum sampai terbentuk garis lurus matanya sebab tertekan oleh pipinya yang mengembang. Sangat menggemaskan. Aku menerima roti selainya–walau bukan roti isi ayam seperti yang kubayangkan–tapi kupotong menjadi dua. Ia menangkap maksudku.

“Hebat juga kau. Selain cerdas dan berbakat kau ternyata pandai meramal. Oh satu lagi, kau juga sangat kuat.” Pujianku membuat tawanya lepas.

“Pujian yang mengada-ada. Memang tau apa kau tentang aku? Nama saja baru tau 5 menit lalu.”

“Sejak kita bertemu kau selalu membawa berbagai macam barang dan kuyakin itu sangat berat. Apakah analisaku salah jika aku berasumsi kau suka melukis, membaca, bermain alat musik, dan memperbaiki barang-barang elektronik? Itu namanya kau multitalent.”

Tawanya meledak. Kali ini membuat semua mata mengarah pada kami. Jung Ah segera membungkuk pada semua penumpang sebagai ucapan maaf.

“Maaf-maaf aku sering tidak bisa mengontrol tawaku.”

Tak apa. Tawamu sangat lucu.

“Semua barang-barang itu bukan milikku. Aku membawakannya untuk teman-temanku. Kau mau mampir menemui mereka? Setelah bertemu mereka kau tidak akan pernah menyebutku berbakat lagi. Merekalah yang sebenarnya punya bakat.”

Hening sejenak. Ia masih bertahan dengan senyumannya dan aku mungkin sekarang memasang wajah heran bercampur kaget. Aku belum membalas. Tapi ia sudah menyerobot.

“Karena diam, kuanggap iya. Ayo turun.” Seolah waktu berjalan sangat cepat, bus yang kutumpangi sudah sampai di halte ketiga, tempat Jung Ah biasa turun.

Boneka besar miliknya masih setia bersarang dalam pelukanku. Karena kesulitan berjalan, aku tertinggal oleh langkah kecilnya. Ia menyadari ketidakberadaanku di sebelahnya lalu menghentikan kakinya untuk menungguku.

“Ayo laki-laki tangguh! Jalannya dipercepat!” teriaknya karena jarak yang memisah cukup jauh.

“Wonwoo. Namaku Jeon Wonwoo.”

Kami berbelok di sebuah gang dekat pasar. Tentu aktivitas pasar tidak berlangsung di malam hari sehingga suasana di sini sangat lengang. Aku tidak menyimpan keraguan ataupun kekhawatiran. Tak mungkin gadis setinggi bahuku bisa berbuat aneh-aneh terhadapku.

Lama kami menyusuri pasar, kemudian kami tiba di sebuah rumah berukuran sedang. Rumah ini berada di belakang pasar dengan akses jalan raya di depannya. Mengapa ia mengajakku memutari pasar kalau ia bisa lewat jalan raya?

“Kita sudah sampai.” Jung Ah membuka pintu dan mempersilakanku masuk.

“Aku pulang.” Suara manisnya menggema ke seluruh rumah. Tak lama kemudian berbondong-bondong sejumlah satu, dua, lima, oh lima belas anak-anak berusia sekitar 5-12 tahun datang mengerumuniku dan Jung Ah.

“Wah! Pandaku datang!!” Seorang anak perempuan memelukku tiba-tiba. “Kakak, turunkan pandanya!” ucapnya mendongak padaku dengan lucunya. Aku menuruti permintaannya. Panda itu berpindah ke dalam pelukan tangan-tangan kecil. Perempuan kecil itu terjungkal karena tak sengaja kakinya menginjak kaki si panda. Ia tidak menangis, malah tertawa sebab tubuhnya jatuh menimpa gumpalan raksasa itu.

“Selamat datang, Jung Ah.” Seseorang seusiaku datang dari dalam kamar menggendong seorang anak yang mungkin berusia 3 tahun. “Loh, Wonwoo. Bagaimana kau sampai di sini?”

Aku mengenalnya. Dia Hana, teman sekelasku. Aku pernah dengar ia menjadi sukarelawan di beberapa tempat dan aku tidak mengira akan bertemu dengannya di sini.

“Kak Hana mengenalnya? Oh, tentu saja. Kalian memakai seragam yang sama,” ujar Jung Ah sebelum ada yang menjawab.

Aku menghabiskan malamku di tempat ini. Bermain bersama anak-anak, Hana, Jung Ah dan relawan lain. Aku memasuki setiap ruangan yang ada di rumah ini. Semua barang-barang yang Jung Ah bawa ada dalam masing-masing ruangan itu.

Ketika aku berada pada ruangan paling belakang, dengan kaca besar yang mengarah ke taman, banyak kertas-kertas lukisan dan beberapa kanvas yang tidak lagi bersih. Jung Ah menunjukkan satu persatu karya anak-anak asuhnya padaku. Bahkan dengan detail ia menyebutkan siapa pelukisnya dan deskripsi lukisan itu.

Anak-anak ini tidak memiliki orang tua. Mereka hidup di jalanan sebelum bertemu dengan Jung Ah dan teman-temannya. Para relawan bekerja sama dengan dinas sosial untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pun mereka mendapat pendidikan formal dengan biaya gratis dari pemerintah. Semua itu berkat usaha para relawan yang ternyata terbentuk atas inisiasi Jung Ah.

***

“Terima kasih untuk malam ini,” ucapku.

Aku berjalan beriringan dengannya. Kali ini lewat jalan raya, bukan dalam pasar. Kali ini ia yang sedikit kesulitan menyamai langkah besarku sehingga beberapa kali ia tertinggal dan harus mempercepat langkah.

“Sama-sama. Sekarang kau tau bukan aku tidak memiliki bakat seperti yang kau sebutkan di bus? Aku hanya… Hmm… Sebut saja fasilitator bagi mereka.”

“Ya, aku mengakuinya. Tapi tidak menutup kemungkinan kau memiliki bakat atau hobi, bukan?”

Jung Ah mendongak. Langkahnya terhenti. Dengan otomatis kakiku pun ikut berhenti.

“Bakat dan hobiku, entahlah. Aku tidak pernah memikirkannya. Ngomong-ngomong pasti dari tadi kau bertanya-tanya kenapa aku mengajakmu lewat dalam pasar sedang saat ini kita lewat jalan raya?” Gadis itu mengalihkan topik pembicaraan. Ia tampak tidak mau membuka dirinya untuk hal-hal yang mungkin merupakan privasi baginya. Aku maklum, lagipula siapa aku? Baru juga kenal tadi. Aku dan dia, walau sudah berbincang lama, hingga ia mengantarku sampai halte bus, masihlah berstatus sebagai kenalan biasa.

Aku memberikan anggukan singkat padanya.

“Karena aku bisa mengeluarkan segala pemikiranku di sepanjang jalan yang berbelok-belok itu. Jika tadi kau tak ada aku pasti sudah berbicara dengan diriku sendiri seperti biasanya.”

Benar. Sepanjang perjalanan mengitari pasar, ia bercerita ke sana-sini. Mengungkapkan gagasan dan pendapatnya mengenai sekolah yang seharusnya selesai lebih awal, bus yang kadang datang telat, dan lain sebagainya.

Terkadang aku dibikin bingung oleh perlakuannya. Ia bisa menjadi seseorang yang sudah mengenalku sangat lama, seperti yang ia lakukan di pasar. Pun ia bisa menjadi sosok asing yang memang baru menyetor nama untuk kuingat, seperti beberapa menit lalu.

Ia memang sangat unik, tukasku dalam hati. Akhirnya, percakapan kami berujung ketika kaki menapak pada halte bus.

“Kau pulanglah! Tidak perlu menemaniku menunggu bus,” ucapku.

Tiba-tiba dia menyerangku dengan tawa renyahnya. Kenapa ia selalu bersikap menggemaskan secara mendadak?

“Siapa pula yang hendak menemanimu? Aku memang mau pamit duluan karena sudah ada 7 missed call dari ibu. Kau paham maksudku, bukan?”

“Dasar, anak perempuan!” ejekku.

“Jangan sungkan datang bila kau sedang tidak sibuk! Masih ingat jalannya, bukan? Kalau tidak ingat minta Kak Hana mengantarmu. Sampai jumpa, Wonwoo, eh Kak Wonwoo!” teriaknya sembari melambai sebab ia sudah berada di pertigaan gang agak jauh dari halte.

“Wonwoo saja tak apa. Sampai jumpa, Jung Ah!” ucapku seraya melambai pula padanya.

“Oke, Wonwoo. Hati-hati di jalan.” Ia melambai untuk terakhir kalinya dan lenyap ditelan tikungan.

Pertemuan ini diakhiri dengan tawa dari Jung Ah yang menemani dalam pikiranku selama duduk di bus. Mulai hari ini alasanku menyukai sore telah bertambah. Dan soreku tidak akan sama lagi seperti dulu.

 

 

 

 

 

 

Nothing to say 🙂 I hope u enjoy it. Oiyaaaaa!!! Jangan lupa svt kambek tanggal 16, yeahhh!!!

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s