[CHAPTER 2] WHISPER OF THE WIND

Scripwriter : chioneexo | Duration : Chaptered [part 2] | Cast: Nakamoto Yuta, Dong Sicheng (Winwin), Takuya Terada [Cross Gene] | Rating : PG-17 | Genre : Historical/War

TEASER // CHAPTER 1 

Yang Sicheng indra keesokan paginya adalah aroma shiromiso. Terdengar suara Nyonya Liu berkelontangan di dapur, tertawa-tawa pelan menanggapi lelucon yang dilontarkan seseorang. Sicheng masih mengantuk untuk bisa memastikan suara siapa itu; suami Nyonya Liu atau Yuta. Setelah melipat rapi tatami, ia beranjak mengikuti aroma tersebut dan sampai di dapur. Di sana, ia melihat Nyonya Liu sedang bersantap pagi dengan wajah sumringah, kelihatan sekali sudah lama ia tidak makan enak. Berdiri di depan panci sup adalah Yuta, masih memakai kaos oblong putih namun kelihatan baru selesai mandi, rambut basahnya disisir ke belakang. Sicheng menjatuhkan rahang, tidak tahu harus berkata apa.

 

“Kau bangun kesiangan, Prajurit,” ujarnya sambil menepuk spasi kosong di sebelah Tuan Liu. Sicheng duduk di sana, memandangi makanan yang tadi sudah ia tebak dari aromanya. Shiromiso, jenis miso yang umum dimakan prajurit Jepang, lengkap dengan mi putih dan potongan tahu.

 

“Aku tidak tahu apa-apa, tahu-tahu dia keluar dan kembali membawa bahan masakan. Sungguh pelanggan yang membawa keberuntungan!” Nyonya Liu menyendok lagi, mulutnya belepotan kuah miso.

 

Hampir saja Sicheng mengucapkan ‘Yuta’ , tapi dia ingat Yuta adalah Sicheng sekarang. “Sicheng, apakah kau yang memasak miso ini?”

 

Yuta tertawa sembari menundukkan kepala, “benar, aku ditempatkan di dapur sewaktu masa pelatihan prajurit.”

 

Sicheng merasakan tenggorokannya kering, rasa lapar mendorongnya ikut menggeramus kudapan itu. Setelah sekian lama mengonsumsi makanan yang tidak jelas asal-usulnya—basi, apak, dan berjamur—akhirnya Sicheng bisa merasakan makanan manusia. Miso itu seenak aromanya, tahu putih yang direbus dengan kematangan yang pas membuat Sicheng ingin menyendok lagi dan lagi. Ia jatuh cinta pada rasanya, pada kesederhanaan dan perasaan tulus yang terkandung dalam miso tersebut. Diliriknya Yuta yang tidak makan sesendok pun.

 

“Kau tidak makan?”

 

“Aku tidak lapar, kalian makan saja. Di panci masih banyak, jangan khawatir.”

 

“Kau harus jadi koki setelah perang ini berakhir!” Tuan Liu untuk pertamakalinya angkat bicara, ia terlihat sama lapar seperti sang istri.

 

Usai sarapan, Yuta dan Sicheng berpamitan akan mengelilingi kota sampai sore. Mereka menyembunyikan seragam mereka di lemari tempat penyimpanan tatami, dan keluar dengan hanya mengenakan kaos; berusaha membaur. Keadaan Haidian sedikit lebih sepi dan ‘mati’ jika dibandingkan dengan pusat Beijing, meski tidak ada mayat-mayat bergelimpangan di jalan, namun suasana sunyi dan derap bot tentara terdengar menakutkan. Di tengah perjalanan, Sicheng mendapati seorang penjual sayur tengah tertidur di lapaknya, kualitas sayur yang dijualnya sungguh buruk. Di sisi lain setapak itu, bar-bar yang menyediakan anggur murah masih beroperasi, lengkap dengan adegan mendramatisir dari pekerja seks yang pagi ini baru selesai melayani laki-laki hidung belang.

 

“Tebakanku, orang-orang Jepang tidak akan mau membeli sayur-sayur tadi,” ujar Sicheng.

 

“Semua penjual dikenakan pajak, bahkan untuk sayuran sejelek itu. Tentu, kami tidak membeli apapun dari rakyat Tiongkok, kami mencurinya.” Yuta berkata enteng, seolah hal itu bukan masalah besar.

 

“Mudah untukmu berkata begitu.”

 

Sicheng meninggalkan Yuta tiga langkah di depan, mereka berjalan terpisah selama beberapa menit. Sicheng begitu dongkol sampai merasa ia harus meninju Yuta tepat di hidungnya. Perasaan menyesal dan ingin kembali ke pertempuran menggerayanginya seketika, ia menyesal sudah datang kesini bersama Yuta.

 

“Memang tidak ada yang lebih menakutkan dari prajurit melankolis. Aku bicara kenyataan, Dong. Begitu saja marah.” Yuta mengimbangi langkah Sicheng. “Nih.”

 

Tanghulu? Ia memberiku permen?

 

            “Aku beli dengan harga lebih, supaya ia bisa membayar pajak.”

 

Sicheng menerimanya dengan perasaan tidak enak, “xiexie.

 

“Aku tidak ingin merusak acara jalan-jalan kita, tapi selama kau melangkah, pikirkan baik-baik apakah kau ingin kembali ke pertempuran atau—“

 

“Atau apa?”

 

“Yakin ingin mendengar opsi kedua?”

 

“Jangan konyol, katakan.”

 

“Pergi ke markas besar bersamaku.”

 

Tentu saja itu merusak acara jalan-jalan mereka. Setidaknya, bagi Sicheng sendiri.

 

__

 

Siang hari berjalan cepat, mereka berkeliling kota hanya untuk melihat-lihat keadaan; membandingkan yang di sini dengan di pusat Beijing. Yuta kerap menundukkan kepala supaya prajurit-prajurit Jepang itu tidak memergokinya, ia menunjukkan pada Sicheng siapa itu Ikeda ketika hari hampir sore. Pria berusia empat puluhan tersebut sedang berdiri di samping kamp prajurit, memberikan perintah dengan nada tegas selayaknya petinggi-petinggi militer lain. Mereka berdua mengintip dari jarak yang aman, kemudian hengkang dari sana setelah dirasa cukup. Ada beberapa barang yang dibeli Yuta untuk perbekalan kembali, ia mengantongi kue-kue yang usianya dua minggu dan dijual dengan harga murah, beberapa ubi manis berukuran kecil, sejumput kecil garam dan merica dari sebuah restoran Jepang di sudut kota, dan apel kisut hasilnya memetik dari ladang tak bertuan.

 

Awalnya Sicheng berjalan di sebelah Yuta dengan damai, sampai tiba-tiba—dari gang kecil di depannya—ia mendapati tubuh dilempar dan menggelinding sampai ke pinggir jalan. Tubuh itu setengah telanjang, dengan lebam-lebam parah di bagian wajah dan bilur kemerahan di sekujur punggung, juga paha yang penuh darah. Butuh dua menit bagi Sicheng untuk menyadari bahwa tubuh itu adalah tubuh wanita; tanpa daya dan sekarat. Seorang prajurit Jepang datang tak lama kemudian, kemaluannya masih berdiri tegak. Ia memaki-maki dengan napas tersenggal, melecutkan tali tambang berukuran sedang dari tangan kirinya. Sicheng merasa panik, semua orang merasa panik. Kerumunan di jalan terbentuk dalam waktu singkat dan anak-anak mulai menangis.

 

“SIAPA YANG MENYURUHMU BERHENTI, HAH?!” Prajurit tersebut berkata lantang, ditariknya rambut wanita itu keras-keras.

 

“AKU TIDAK PEDULI BERAPA ORANG YANG SUDAH KAU LAYANI, ATAU APAKAH KAU SUDAH LELAH. AKU TIDAK MAU TAHU! DASAR PELACUR!”

 

Dong Sicheng tidak pernah suka yang seperti ini. Ia mengagungkan wanita sama seperti orang-orang Jepang tunduk pada matahari. Dan ketika prajurit itu membalik tubuh sang wanita—sekonyong-konyong memperlihatkan payudara yang putingnya sudah tidak ada—Sicheng merasa ia harus pergi ke sana, melihat wanita itu sekarat tidak lebih baik daripada mendengar vonis mati.

 

Sicheng maju selangkah, namun Yuta bergerak lebih cepat, “jangan, Dong.”

 

“Kau tidak punya nurani, Yuta-san?!” Bisik Sicheng, berusaha menahan tangis.

 

“Kubilang jangan. Ini tidak ada hubungannya denganmu.”

 

“Kalau begitu lakukan sesuatu!”

 

“Dan mempertaruhkan penyamaran kita? Aku Dong Si Cheng sekarang, bukan Nakamoto Yuta.”

 

Sicheng menangis setelah melihat wanita tersebut ditembak mati, tepat di bagian dadanya; tempat dimana bayi-bayi mendapatkan asupan gizi, tempat yang harusnya hanya bisa dijamah oleh suaminya. Mayatnya dipindahkan lima menit kemudian, prajurit-prajurit di sana seperti sudah biasa menangani hal seperti ini. Pria laknat tadi hengkang bersama bubarnya para warga, kelihatan tidak malu sama sekali.

 

Jalanan kini terasa begitu dingin, angin pukul empat sore membawa serta aroma darah dari tempat sang wanita ditembak. Sicheng terpaku di tempat, kakinya mendadak lemas. Ia pernah melihat yang lebih parah dari ini, tapi setiap kali ada kejadian serupa, hatinya terkoyak dan amarahnya membuncah sampai ke ubun-ubun. Dong Sicheng teringat akan wanita yang selama ini membesarkannya, membayangkan ibunya juga diperlakukan seperti itu membuat Sicheng murka.

 

“Sicheng aku—“

 

BUGH!

 

Sicheng melayangkan tinju ke arah Yuta, membuat yang dipukul terjungkal ke tanah berbatu di samping mereka. Sicheng memukul lagi, kali ini di ulu hati, hingga menimbulkan decak kesakitan dari Yuta. Kemudian sekali lagi, lagi, dan lagi. Sicheng memukul tanpa henti, buku-buku jarinya terasa ngilu ketika ia mendaratkan hantaman ke tubuh lawannya.

 

Nakamoto Yuta tidak banyak bicara, ia menerima kebencian itu dengan lapang dada. Sicheng seperti mewakili seluruh Tiongkok atas luka-luka yang telah Jepang berikan pada mereka, dan jika Yuta harus mendapatkan seribu pukulan, maka ia siap dipukul sampai mati.

 

__

 

“Sudah baikan, Dong?” Yuta memberanikan diri mendekati Sicheng yang masih muram.

 

“Sedikit,” ujarnya, kemudian memandang Yuta dari wajah sampai kaki. “Kau sendiri?”

 

“Merasa lebih baik. Terima kasih sudah memukulku.”

 

Sicheng tahu arti kalimat Yuta barusan; dengan ia memukuli Yuta, maka rasa bersalahnya akan berkurang. Mereka sama-sama tahu, tidak ada yang benar dari menganiaya seseorang, apa pun alasannya.

 

“Aku berdoa supaya jiwanya berada di tempat terbaik di samping Dewa,” Yuta mendongak menatap bintang-bintang, seolah bisa menangkap figur wanita tadi telah berbahagia di nirwana sana.

 

“Aku juga.”

 

Dua pemuda itu tidak menutup jendela, alih-alih tidur cepat, mereka lebih memilih untuk diam dan mendengarkan apa yang dikatakan Sang Malam; tentang doa-doa yang tulus, tentang harapan-harapan yang hampir sirna, juga tangisan yang tidak diperdengarkan. Di balik sekat tipis yang memisahkan antara kamar mereka dengan kamar pasangan Liu, Yuta bisa mendengar percakapan-percakapan singkat, juga sedikit canda-tawa yang dilontarkan secara rahasia.

 

__

 

Sicheng mimpi buruk lagi malam itu, ia terbangun dengan keringat sebesar biji jagung di pelipis dan dahinya, seolah-olah baru selesai latihan fisik. Hari masih subuh, fajar merekah sebentar lagi. Yuta tidur dengan posisi menyamping, selimut tipisnya tersingkap dan tubuh bagian atasnya terlihat. Mereka ketiduran tanpa ingat untuk menutup jendela, pemuda Nakamoto itu pastilah kedinginan.

 

“Kau memberiku pilihan yang sulit,” ujar Sicheng sambil menyelimuti Yuta. Hari ini mereka akan meninggalkan Haidian, Sicheng tahu ia tidak bisa berlama-lama lari dari pertempuran. Apa yang sudah dilakukan, tidak bisa dibatalkan; begitulah kata-kata ibunya ketika Sicheng tidak sengaja memecahkan vas porselen mahal hadiah dari Nona Jian. Tentara Tiongkok telah mengambil tanda pengenalnya, ia sudah dicoret dari daftar prajurit hidup dan masuk dalam daftar yang mati. Ia bebas menentukan pilihan sekarang; kembali ke pertempuran dan mengambil risiko mati betulan, atau ikut Yuta kemanapun ia pergi selama Sicheng bisa menghidupi dirinya.

 

Berulang kali ia berkata, dalam kepalanya yang pening, seperti ini: Aku tidak melihat Yuta sebagai musuhku, dia berbeda. Ada sesuatu dalam dirinya yang menarikku, dan aku tergiur akan kebebasan yang ia tawarkan padaku sejak pertama kami bertemu. Aku percaya padanya, dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Dan apakah kau sudah gila, Dong Si Cheng? Tidak, kau hanya ingin kebebasan; lebih besar daripada inginmu berjuang di baris depan dan merebut negara ini kembali dari tangan Jepang.

 

“Aku ikut denganmu,” Sicheng bermonolog.

 

“Ya. Aku akan ikut denganmu,” ujarnya sekali lagi, seolah yang pertama belum cukup meyakinkan.

 

Tanpa Sicheng sadari, Nakamoto Yuta tersenyum tipis di balik bayang-bayang selimutnya.

 

Akhirnya.

 

__

 

Dong Si Cheng mengutarakan keinginan untuk ikut dengan Yuta sejam setelah mereka berbenah; masih dengan Yuta yang memakai seragam militer Tiongkok di atas seragam Jepang-nya, dan satu tas kecil berisi perbekalan untuk sehari. Mereka mengeluarkan Heifeng dan Baihua sesegera mungkin, takut kuda-kuda itu akan makan lebih banyak dari jatah yang sudah diberikan Tuan Liu. Di masa pendudukan seperti ini, orang-orang Jepang bahkan mengawasi seberapa banyak rumput yang dimasukkan ke dalam kandang kuda, juga jenis gandum apa yang mereka makan (jelas bukan gandum kualitas baik, kuda milik Tuan Liu sangat kurus). Yuta meninggalkan beberapa koin perak untuk Nyonya Liu, wanita itu cukup bijak dengan tidak bertanya darimana asalnya.

 

“Dengan jumlah itu, kau bisa memasok bahan makanan untuk tamu-tamu penginapan.”

 

“Kau baik sekali, Nak.” Nyonya Liu memberikan kecupan di ubun-ubun Yuta, khas seorang nenek yang mengasihi cucunya.

 

“Kami harus berangkat sekarang, Nyonya,” kata Sicheng.

 

“Ah, baiklah. Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih, tapi kumohon terimalah ini,” ia menggenggamkan cincin kecil ke tangan Sicheng. “Semoga bermanfaat.”

 

Xiexie nin.”

 

Yuta dan Sicheng keluar lewat gerbang yang sama seperti kemarin, beruntunglah para penjaga tidak lupa pada mereka. Sicheng merasa was-was tatkala ada beberapa prajurit Jepang melintas di belakangnya, namun mereka tidak begitu peduli; hanya lewat dan berbelok menuju gang sempit di antara toko jam dan kantor pos yang sudah lama tidak dihuni.

 

Sicheng melirik tangannya lagi, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

 

Cincin giok putih, ada dua pasang, dengan ukuran yang hampir sama. Jika Sicheng tidak salah menebak, itu pasti cincin pernikahan pasangan Liu. Dan jika Sicheng boleh membayangkan—dari cerita-cerita penduduk soal ketenaran penginapan Liu—seberapa kayanya mereka dulu, cincin itu pasti berharga lebih dari dua balok emas.

 

“Kau ingin satu?”

 

“Apa?”

 

“Cincin ini, dia memberiku dua.”

 

“Boleh, tapi tidak akan kupakai di jari.” Yuta melepas kalungnya yang berbandul bunga sakura, kemudian memasukkan cincin itu kesana. “Akan jadi aneh kalau kita memakai perhiasan saat perang, bukan? Dan, omong-omong, kau sudah setuju untuk ikut ke markas, jadi—“

 

“Jadi?”

 

“Kau harus potong rambut, dan aku akan mencarikan seragam serta nama Jepang untukmu.”

 

__

 

Dua jam telah berlalu, keadaan jalan yang mereka lalui kemarin kelihatan mengerikan. Tempat tersebut penuh dengan bangkai yang menandakan pertempuran kecil baru saja terjadi, sekelompok manusia berpakaian compang-camping telah dibunuh dengan cara paling sadis. Aneh, pertempuran apa yang terjadi di dekat Haidian sementara semua orang dikerahkan ke pertempuran utama?

 

“Mereka tawanan perang yang berusaha kabur,” Yuta berkata sambil menggulingkan mayat yang bagian bawah tubuhnya tercabik-cabik pisau.

 

“Astaga,” Sicheng bergidik ngeri melihat lubang mata penuh belatung seorang tawanan.

 

“Mereka kabur dari kamp penjara, harusnya mereka tidak lakukan itu.”

 

“Bukankah sama saja? Di sana dan di sini juga mereka akan mati.” Sicheng berucap ketus, ia ingin cepat-cepat pergi sebab tak kuat menahan aroma busuk dari bangkai yang sudah tergeletak entah berapa lama. Yuta melirik sekilas pada Sicheng, menyadari perubahan suasana hatinya.

 

“Aku sudah memikirkan nama yang tepat untukmu.” Yuta menjalankan kudanya sambil berkata demikian untuk mengalihkan fokus si pemuda Tiongkok.

 

Sicheng diam, menunggu.

 

“Keita Nomura. Bagaimana kedengarannya?”

 

“Mudah diingat. Kau tidak mengambil nama orang lain, kan?”

 

“Mengapa kau berpikir begitu?”

 

“Karena kau kelihatannya tidak pintar berkhayal.”

 

Yuta tersenyum simpul, ia pasti ketahuan telah menggabungkan nama tentara kenalannya dengan nama keluarga Nomura; tetangganya di Osaka.

 

“Jadi, Nomura—“ ia berhenti sebentar untuk menahan tawa, “—apa yang membuatmu setuju pergi ke markas denganku? Tempat itu bisa jadi sangat menakutkan, bahkan untuk diriku sendiri yang adalah orang Jepang.”

 

Sicheng kelihatan bimbang, bukannya ia tidak memiliki jawaban, tapi akan kedengaran lucu sekali kalau ia berkata telah memercayai Yuta semudah ia percaya pada mitos hantu ketika masih kecil. Beberapa orang memang memiliki bakat persuasif yang tinggi, Sicheng baru sadar belakangan kalau Yuta sengaja memancingnya. Meski demikian, Sicheng tidak merasa takut, keputusan ini didasarkan pada nuraninya, pada pilihan-pilihan yang berputar bak pengaduk semen di malam mereka terjaga.

 

“Apa kau butuh alasan, Yuta-san?”

 

Yuta membersit hidung, “tidak juga, aku hanya khawatir kau menuduhku yang bukan-bukan. Ini keputusanmu, kau bebas menerima dan menolak tawaranku.”

 

“Aku heran mengapa kau memberiku tawaran, apa ada rencana tertentu?”

 

“Nah, sudah kubilang jangan menuduhku yang bukan-bukan.”

 

Yuta menatap Sicheng sekilas, entah mengapa dadanya terasa seperti dijejali berton-ton peluru. Ia tidak memaksa Sicheng mengutarakan alasannya, karena ia sendiri tidak akan bisa menjabarkan tuduhan yang diberikan pemuda itu seandainya ia dituntut untuk menjelaskan.

 

__

 

Awan gelap bergelantungan tebal di atas sana. Nakamoto Yuta bersikeras meminta Sicheng untuk turun dari kudanya demi menata rambut. Kalau saja Sicheng tahu pisau cukur Yuta kelihatan sama menakutkannya seperti simulasi militer—yang nyaris membuat Sicheng jantungan karena, astaga, dia baru tidur setengah jam saat tiba-tiba bom keparat itu meledak di dekatnya—dan meminta Sicheng diam. Tidak akan lama, katanya.

 

“Orang Jepang menyukai kerapian dan keteraturan.”

 

Sicheng mendengus.

 

“Dan kau satu-satunya yang semi-gondrong, begitu? Apa yang membuatmu begitu spesial, Nakamoto?”

 

Yuta meringis kecil, sebegitu bencinya ia pada pangkas rambut?

 

“Nah, sudah selesai. Sekarang pakailah seragammu.”

 

Ada begitu banyak pertanyaan menyeruduk masuk ke benak Sicheng setelahnya. Jadi, bagaimana tepatnya Yuta mendapatkan seragam militer Jepang dengan jahitan Keita Nomura tertera di bagian dada? Kapan Yuta berkesempatan melakukan hal itu?

 

“Di Haidian, seorang penjahit melakukannya untukku. Identitasmu harus disamarkan jika kau ingin ikut denganku. Demi keselamatan kita berdua, Dong. Sekarang cepat ganti baju dan buang raut wajah bertanya-tanya itu.”

 

“Oh, bagaimana kau—“

 

Pakai bajumu,” ujarnya dengan nada memerintah paling tegas yang pernah Sicheng dengar.

 

Dong Sicheng cepat-cepat berganti seragam sementara dilihatnya Yuta menyulut lintingan tembakau, asap bulat-bulat mengudara semenit kemudian. “Aku tidak tahu kau merokok.”

 

“Gadis-gadis jadi gila kalau melihatku merokok,” ujarnya penuh percaya diri.

 

“Sayangnya aku bukan seorang gadis. Tapi, well, kau keren.”

 

Yuta merapikan seragam Sicheng; menyematkan ini-itu serta menarik celananya supaya tidak miring sebelah. “Kita akan jalan kaki mulai dari sini, jangan menatap ke bawah, berlakulah seperti biasa atau kau akan dicurigai.”

 

“Dan apa tepatnya hubungan Keita Nomura dengan Nakamoto Yuta? Orang-orang akan bertanya cepat atau lambat.”

 

“Teman yang bertemu di jalan. Kau dari kelompok lain, bukan orang dari markas ini, bilang saja aku menemukanmu saat kau sedang sekarat di jalan.” Yuta melepas seragamnya, menyisakan atasan tak berlengan warna putih yang kemarin dilihat Sicheng sempat dipakainya sebelum tidur. “Ah, sampai lupa, kampung halamanmu Nagoya.”

 

Sicheng mengulang-ulang semua informasi baru tersebut dalam otaknya: Keita Nomura, asal Nagoya, bertemu dengan Yuta di jalan saat sedang sekarat. Jangan melihat ke bawah, jangan gugup, kurangi bicara.

 

Jalan menuju markas ramainya bukan main, penuh dengan teriakan memerintah dan suara mesin-mesin. Setapak utama digunakan untuk jalur masuk kendaraan-kendaraan perang ukuran sedang, di pinggir jalan ditumpuk berbarel-barel pelumas tank dan senjata laras panjang. Bangunan di sana digunakan untuk menyimpan bahan makanan, barang sitaan, serta pakaian dan obat-obatan.  Sicheng bisa melihat tenda-tenda berwarna hijau didirikan di beberapa titik, isinya prajurit-prajurit yang terluka. Tempat itu sangat berdebu, ada suara siksaan entah darimana, tahanan digiring dan dipaksa berjalan dengan kecepatan tak wajar. Dong Sicheng menahan diri untuk tidak marah saat melihat anjing shiba inu dipenggal tiba-tiba, badannya langsung dilempar ke jagal untuk dipotong menjadi bagian yang lebih kecil.

 

“Nomura?”

 

H-hai.”

 

“Bagus, kukira kau akan berkata shi.”

 

“YUTA!” Seseorang muncul dari sebuah belokan, benar-benar mengejutkan Sicheng.

 

“Takuya, sambutanmu berlebihan.”

 

“Bagaimana aku tidak heboh, huh?! Kau hilang dua hari, Teman! Dan siapa ini? Siapa kau?”

 

“Namaku Keita Nomura, salam kenal.” Sicheng berusaha mengumpulkan memorinya perihal bagaimana cara orang Jepang saling menyapa, entah sudah kelihatan natural atau belum, yang jelas si Takuya ini membalas salamnya dengan cara yang sama.

 

“Apa ayah mencariku?” Yuta berjalan dengan dagu terangkat dan lagak sok, membuat Sicheng mendesis sebal. Namun kesan yang ditimbulkannya sungguh tidak terduga, orang-orang di sana begitu menghormati Yuta, entah karena ia seorang sersan  atau karena ayahnya dari garis keturunan ningrat, Sicheng tidak tahu. Tapi satu yang pasti; Yuta benar soal wanita. Beberapa pelayan dapur menoleh padanya secara bersamaan; lengkap dengan tatapan ingin memiliki yang dipendam dalam-dalam.

 

Takuya hengkang lima menit setelah mendampingi Yuta berjalan di sepanjang lorong (yang sangat membuat Sicheng lega sebab pemuda itu tak bisa diam), ia berpamitan akan memeriksa gudang senjata.

 

“Itu tadi Takuya, temanku.”

 

Sicheng mendengarkan, tapi tetap memilih diam. Lorong panjang tersebut pengap, agak gelap meski pagi, bangunannya yang terbuat dari bata merah menampakkan lumut di sana-sini, kelihatan tidak terawat. Masuk lebih dalam, maka suara-suara mesin tidak kedengaran lagi, yang bisa Sicheng dengar hanya gema tok-tok-tok bot mereka berdua di tempat itu.

 

“Yuta-san?”

 

“Hm?”

 

“Aku melihat beberapa tawanan di luar, apa kamp penjara ada di dekat sini?”

 

“Ya, di sayap kiri. Mengapa kau tanyakan itu?”

 

“Tidak apa-apa,” dusta Sicheng.

 

Ia ingat betul desas-desus soal kamp penjara yang tersebar di desa, beberapa orang sempat ditangkap di hadapan Sicheng saat berusaha memberontak dari Jepang, mereka diikat dan dibawa menggunakan truk militer. Ada Xuxi dan Qiankun di kamp penjara. Tanpa bertanya lebih jauh, Sicheng memilih untuk mengikuti Yuta saja terlebih dahulu, ia belum mengenal tempat ini, tidak baik bepergian sendiri.

 

Mereka berbelok ke sebuah gang sempit yang penerangannya hanya dari sela-sela lubang di atas jendela berpanel kayu lapuk, ada tangga besi melingkar yang mengarah ke lantai dua, dengan suasana lebih sepi lagi. Yuta menghentikan langkah di depan sebuah ruangan berpintu geser, ada bandul bunga sakura bertengger di sana, juga sebuah plakat besi bersepuh perak bertuliskan nama Yuta dalam huruf kanji.

 

“Kau akan tidur di kamarku, aku punya tempat tidur susun.”

 

Sicheng agak terkejut saat tahu ruangan itu tidak luas-luas amat, hanya ada satu tempat tidur susun, sebuah meja kerja dengan lampu minyak, dan lemari kayu. Di dinding sebelah barat digantung lukisan seorang gadis jelita mengenakan kimono merah muda, gadis itu seperti hendak menyapa Sicheng sampai Yuta menjelaskan, “kau akan bertemu dengannya nanti.”

 

“Eh…apa?”

 

“Gadis itu. Cantik ya?”

 

“Kekasihmu?”

 

“Teman masa kecil yang mungkin sebentar lagi bakal jadi istriku. Tapi, ya, aku mencintainya.”

 

Kemudian topik berganti.

 

“Dengar, aku tidak berusaha menuduhmu, tapi entah mengapa aku merasa kau sengaja mengajakku kemari. Secara halus.” Sicheng berhenti sebentar. “Aku benar, kan?”

 

“Ya, aku kasihan pada anak ayam yang tersesat, makannya kuajak dia kemari.”

 

“Dan kau mengajak anak ayam itu ke kandang harimau.”

 

“Kau yang setuju untuk ikut denganku, Dong. Jangan buat aku marah.”

 

Dong Sicheng mendesah, “maafkan aku, aku hanya…sedikit takut.”

 

Yuta tidak menjawab, ia kelihatan agak jengkel karena ucapan Sicheng barusan. Ditinggalkannya pemuda itu dalam kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan sementara pintu digeser dengan keras, Sicheng bisa merasakan lantai yang dipijakinya bergetar, meriam-meriam di luar sana pasti sedang bekerja keras meluluh lantakkan Beijing. Dengan perasaan was-was, dipanjatnya ranjang itu dan mulai menutup mata.

 

Aku berada di markas Jepang.


a/n: cerita ini juga aku publish di Wattpad-ku @chioneexo , silahkan baca di sana juga 😀

3 tanggapan untuk “[CHAPTER 2] WHISPER OF THE WIND”

  1. WAH ADA DI WATTPAD?!
    baiklah enak kalo follow di sana kayaknya
    aku masih bingung knp ya yuta sama sicheng masih berkeliaran di kota waktu perang, maksudku kan mereka laki2 muda yg harusnya ikut perang gitu, mereka bahkan dikenal sbg prajurit tapi mereka ga perang? mgkin ada detail yg menjelaskan itu ya tapi aku ga merasa mengingatnya T.T
    trs ini knp chinaline kagak enak semua nasibnya selain sicheng hm…. gapapa aku masi setia menanti kelanjutannya! keep writing!

    Suka

    1. Jadi begini kak, tidak semua prajurit itu maju ke medan perang, ada yang bagian patroli, ada yang bagian dapur, medis, dan lain-lain. nah karena posisinya Jepang berkuasa atas China, mereka jalan-jalan kemanapun tidak masalah. dan biasanya kalau Japanese udah keliling kota, Chinese lebih memilih diam dan membiarkan, karena mereka pihak yang tertindas (takut di bunuh, karena Jepang pada saat itu keji sekali). lagipula yuta dan sicheng ketemuannya pasca perang, disitu aku gambarkan nggak ada orang, jadi mereka kabur gitu LOL. banyak sekali tentara jepang+china yang kabur dari tugas kak, meskipun embel2nya mengabdi pada negara, toh tidak semua laki2 punya ketertarikan di bidang militer, ada yang malas bawa senjata dan pingin pulang aja, ada yang bunuh diri, dll.

      ah, soal wattpad, aku memutuskan melanjutkan ff ini disana, sudah sampai chapter 4 kak 😀

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s