Arsip Kategori: G

Farewell

fw

Farewell

A story by Elisomnia

|| Cast: [Seventeen] Jeon Wonwoo and Kwon Soonyoung, other… | Genre: AU, Friendship, Horror, Mistery, Sad, Suspense | Rating: G | Duration: Oneshot ||

.

.

“I just wanna spent my time with you.”

.

.

©2018

.

.

.

Setelah mengganti seragamnya dengan kaos dan celana pendek, Soonyoung langsung membanting tubuhnya ke arah sofa besar di tengah ruang bersantai. Ditemani sebungkus pizza dan beberapa soda kaleng bekas pesta kelulusan kakaknya semalam, ia lalu memutar DVD Conjuring 2.

Soonyoung membuang napas. Terbesit rasa sesal saat maniknya melirik sampul DVD tadi. Penuh debu dan kusut di sana-sini. Mengingat seberapa lama benda itu teronggok di dalam kotak penyimpanan kaset-kasetnya membuat lelaki itu sebal sendiri. Oh ayolah, sudah terhitung empat belas hari sejak pertemuannya dengan Kak Jira––sahabat kakaknya yang seorang penjual kaset film––kala itu. Bahkan bisikan Kak Jira yang mewanti-wantinya untuk tidak menonton film itu sendirian karena hari itu adalah Jumat tanggal 13 masih terngiang jelas di telinganya. Tapi naas, kumpulan soal-soal bertitle limit dan fungsi turunan membombardir hari-hari Soonyoung hingga detik ini.

Ah! Perduli setan dengan tugas rumahnya, ia akan melanjutkannya nanti jika mood belajarnya sudah kembali. Lagipula, Si Botak itu tidak akan mengoreksi pekerjaan murid-muridnya secara detail. Dan lagi, siapa yang mau mengerjakan hal seperti itu di akhir pekan begini?

Daebak!

Baru saja video pembukaan, lelaki itu sudah berseru takjub. Ditahannya sepotong pizza menggunakan gigi gerahamnya sementara tangan yang tadinya tak bebas itu kini sanggup meraih remote.

15

16

17

Angka yang tertera di pengeras suara televisi semakin naik, seluruh lampu di langit-langit berangsur-angsur temaram, dan suasana pun terasa lebih sunyi. Sempurna! Inilah yang Soonyoung suka. Bagi anak lelaki satu-satunya keluarga Kwon tersebut, menonton film horror dalam kondisi seperti itu akan jauh lebih menyenangkan daripada harus memastikan setiap ruangan terang benderang.

Latar musik yang memiliki efek khusus akan membangkitkan adrenalinmu, nyalimu benar-benar diuji saat itu, dan pada akhirnya kau akan merasa lelah seolah ikut bermain di dalamnya. Tentu saja hal itu dapat terjadi selama tidak ada yang…

“Kak, kecilkan volumenya! Aku jadi tidak bisa tidur siang.”

…mengganggu kegiatanmu.

Masih dengan pizza yang menggantung di sudut mulutnya, Soonyoung menoleh cepat ke arah Sohee––adiknya. Dari atas sini, lelaki itu dapat melihat kepala Sohee yang menyembul dari balik tangga melingkar yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai dua. Surai pekatnya berantakan dan kemeja sekolah yang masih melekat di badannya nampak kucel di beberapa sisi. Di balik wajah bantal Sohee, Soonyoung tahu jika mata sipit itu sedang memicing kesal ke arahnya.

“Terserah kakak, dong. Tutup pintumu sana!”

Sohee mendesis keras pada wajah menyebalkan sang kakak sebelum membanting pintu kamarnya hingga menimbulkan getaran kecil ke seisi rumah. Soonyoung tidak perduli, toh adik perempuannya itu lebih sering merecoki kehidupannya. Heran, gara-gara sering bermain dengan Seungkwan dia jadi urakan begitu.

Soonyoung berbalik menatap televisi dan mulai terlarut dalam film. Lihatlah, matanya bahkan tak berkedip barang sedikit pun. Pizza si sudut bibirnya juga dibiarkan menggantung tanpa ada niatan untuk dikunyah. Benar-benar tipikal seorang Kwon Soonyoung jika sedang serius dengan sesuatu.

Hm, entah cuma perasaannya saja atau memang hawa di sekitar sini jadi lebih dingin?

AC-nya mati kok.” Gumam Soonyoung setelah medongak sedikit ke arah Barat––tempat pendingin ruangan berada.

“Ah, masa bodo.”

Namun, Soonyoung tetaplah Soonyoung. Sekuat apapun ia mencoba menguatkan diri, pasti ujung-ujungnya merinding juga. Apalagi saat mendengar suara berderit dari pintu utama rumah mereka yang terbuka pelan.

“Sohee? Kaukah itu?”

Tidak ada jawaban. Oh, Soonyoung baru ingat kalau adiknya itu tadi sempat marah dan mengunci dirinya di kamar karena gagal tidur siang. Mungkin saja itu ibu. Soonyoung melirik jam beker di atas nakas. Pukul 12.13. Oke, mungkin juga itu bukan ibu, karena ibu tidak pernah tidur siang lewat jam dua belas tengah hari. Ah, kalau begitu itu pasti Kak Soonah. Hei ngawur! Kak Soonah kan sedang pergi dan baru akan pulang lusa.

“Oh, sial.”

Suara langkah kaki yang semakin mendekat membuat Soonyoung menarik lipatan selimut di sampingnya. Menyembunyikan setengah badannya di dalam kain tipis bermotif garis-garis itu. Oh tidak, sekarang seseorang itu sedang menaiki tangga. Gila, gila, gila. Soonyoung bisa gila kalau begini. Apakah itu hanya halusinasinya saja atau bukan, bocah laki-laki itu bahkan sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Harusnya ia menuruti kata-kata Kak Jira untuk tidak menonton film ini sendirian, mau itu Jumat tanggal 13 atau bukan.

“Hei, Soon.”

“WAAAAAAAAAAA!!!”

Brak!

“KAKAK JANGAN BERISIK!”

Brak!

Gebrakan tak santai di lantai bawah dan teriakan melengking adiknya berhasil menyadarkan Soonyoung dari tingkah bodohnya. Ia kemudian melirik pada sebuah tangan kurus yang menepuk bahunya beberapa detik lalu. Eh?

“Jeon Wonwoo?”

Sang empunya nama hanya nyengir lebar memperlihatkan giginya.

“Astaga, kukira siapa. Bikin kaget saja, aish.”

Pemuda Kwon itu menggeram tertahan sambil mengacak rambutnya frustasi. Gemas. Hampir saja ia meraup wajah Wonwoo dan meremas-remasnya sampai tidak berbentuk kalau saja ia tidak ingat jika yang tengah duduk di sampingnya itu adalah sahabatnya.

“Kenapa kau tidak bilang kalau mau mampir ke sini? Dan lagi, kenapa masuk diam-diam seperti tadi?” tanya Soonyoung.

Wonwoo terkekeh pelan, “Aku sudah memanggil-manggil namamu daritadi, tapi tidak ada yang membukakan pintu,” Ia lalu melirik  televisi besar milik Soonyoung, “dan sepertinya kau sedang asyik dengan itu sehingga tak mendengarku, haha.”

“Haaah, terserahlah. Detak jantungku masih belum mau kembali normal.”

Wonwoo tertawa lebar melihat sahabatnya itu terkapar di atas sofa dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Berkali-kali Soonyoung mengelus dadanya dan menghidup oksigen banyak-banyak. Berharap ketenangan akan segera menghampiri dirinya.

“Salah sendiri. Sudah tahu penakut masih saja nonton film horror.”

“Hei, aku tidak takut sampai kau datang tiba-tiba bagaikan hantu seperti tadi.”

Wonwoo tersenyum tipis mendengar celotehan Soonyoung.

“Katakan, mau apa kau ke sini?”

Baru saja Wonwoo hendak membuka mulut,

“Awas kalau tidak penting.” Soonyoung sudah menambahi.

“Aku cuma mau main.” Soonyoung memutar bola matanya mendengar jawaban Wonwoo yang diiringi senyum tak berdosa itu, “Sudah kuduga.”

“Ayolah, Soon, kita main.”

“Mainkan saja PSP-ku sana. Biasanya juga begitu.”

“Tidak mau, aku ingin main ke luar.”

Ya, kenapa kau tiba-tiba jadi manja seperti ini? Menggelikan.”

“Aku bosan di rumah saja.”

Wonwoo masih terus merajuk seraya menarik-narik lengan Soonyoung. Ada apa sih dengan anak ini? batin Soonyoung.

“Hei, hei, tidak lihat aku sedang menonton––akh, sakit bodoh!”

Untung Soonyoung bisa menahan diri untuk tidak mengumpat lebih kasar lagi saat kaki panjang Wonwoo tak sengaja menendang tulang keringnya. Lagipula, suruh siapa dia merengek sampai melompat-lompat seperti anak kecil begitu.

“Aduh, baiklah, ayo kita main ke luar.”

“Hore!!!”

Demi gigi nenek yang tinggal dua, Soonyoung bersumpah orang yang sekarang memeluknya hingga terjungkal ini bukanlah Jeon Wonwoo. Apa kabar gadis-gadis di sekolah jika mengetahui sisi lain dari Jeon Wonwoo mereka yang dikenal berhati dingin.

-oOo-

“Kau serius?”

Alih-alih menjawab, Wonwoo malah melebarkan senyumnya. Mata berbinarnya tak dapat menipu bahwa memang inilah tempat yang ingin ia kunjungi.

“Taman bermain? Maksudku, kita sudah tujuh belas tahun, Wonwoo.”

“Lalu kenapa? Lihat, paman itu saja yang usianya jauh di atas kita justru gembria datang ke sini.”

Soonyoung mengikuti arah telunjuk Wonwoo. Seorang pria tambun berjenggot tipis memasuki kawasan taman bermain dengan seorang putra di punggungnya. Hei, itu berbeda.

“Hei, dia kan datang bersama anak––”

“Yang sampai paling akhir harus traktir! Wohoo.”

Sialan, Wonwoo sudah lari lebih dulu sebelum Soonyoung sempat menyelesaikan kalimatnya.

“Hhh, hhh, kau….”

“Naik itu, yuk.”

Mata Soonyoung membulat. Roller coaster?! Gila saja! Apa Wonwoo tidak ingat kalau dirinya takut ketinggian? Apalagi yang sampai berputar-putar seperti itu.

Ya! Aku baru saja selesai mengambil napas gara-gara mengejarmu. Mau mati, hah?”

Wonwoo tertawa lebar. Hm, sepertinya anak itu perlu diingatkan kejadian tiga tahun lalu, tentang karya wisata SMP yang sungguh berkesan. Eh tapi, tidak mungkin kan secepat itu ia lupa akan Soonyoung yang meronta sampai memeluk perut guru mereka saat dipaksa naik kereta panjang berputar-putar itu. Tidak mungkin juga ia lupa bagaimana pucatnya wajah Soonyoung ketika kereta itu mulai beraksi. Dan, yang paling tidak mungkin dilupakan adalah ketika Soonyoung mengeluarkan semua isi perutnya di bawah pohon. Bahkan Wonwoo yang memijat tengkuknya saat itu.

“Iya, iya, aku ingat, haha.”

Eh? Dia tahu apa yang sedang Soonyoung pikirkan?

“Kalau begitu naik yang lain saja.”

Soonyoung masih tidak habis pikir. Selama empat belas tahun hidup bersama, ia baru tahu kalau Wonwoo bisa membaca pikiran.

“Oke, biar aku yang pilih,”

Soonyoung mengedarkan padangannya ke seluruh penjuru taman bermain. Menimang-nimang wahana mana yang sebaiknya mereka coba lebih dulu. Tentunya ia akan memilih yang ringan dan tidak membuat pusing.

“Bagaimana kalau Pulau Boneka? Kita bisa naik perahu dan masuk ke gua penuh boneka.”

Wonwoo sempat mencibir sahabatnya itu yang ternyata tak jauh berbeda dengan anak kecil. Ingat siapa yang beberapa menit lalu meragukan taman bermain dan bilang jika dirinya sudah tujuh belas tahun?

“Baiklah, ayo!”

Wonwoo menarik tangan Soonyoung menuju wahana yang dimaksud. Wajah Soonyoung yang kembali cerah dan suara riangnya saat petugas wahana memakaikan sabuk pengaman membuat Wonwoo tertawa geli. Wah, ternyata benar kata Soonyoung, gua ini penuh dengan boneka. Ada boneka beruang, tokoh kartun, dan macam-macam. Wonwoo bahkan sempat menganga saat sepuluh menit di awal tadi. Maklum saja ya, dia tidak pernah masuk wahana yang lucu seperti ini. Andalannya kalau bukan roller coaster ya rumah hantu.

“Ah, lucu sekali, rasanya ingin kuambil saja boneka Doraemon tadi.”

Setelah lima menit perjalanan yang dipenuhi oleh ocehan Soonyoung tentang boneka Doraemon, akhirnya mereka sampai juga di depan wahana Super Swing. Sebuah besi melingkar raksasa dengan banyak ayunan menggantung di bawahnya yang akan berputar semakin lama semakin tinggi dan kencang. Tentu saja, ini pilihan Wonwoo.

“HIYAAAA JEON WONWOO!!!”

“WOHOO SERU KAN?!!”

“TIDAK AKAN KUMAAFKAN! HUAAAA!!!”

Teriakan-teriakan yang saling bersahutan di udara itu diakhiri dengan tawa keras milik Wonwoo. Dasar Kwon Soonyoung. Memaki guru matematika di sekolahnya saja berani, masa naik yang seperti ini menangis, haha.

“Tunggu, Won, aku mual.”

“Haha, payah!”

Baiklah, baiklah, Wonwoo tak sejahat itu. Setelah bermual-mual ria menaiki Super Swing, Wonwoo mengizinkan Soonyoung memilih wahananya sendiri. Memberikan Soonyoung waktu untuk menenangkan diri sekaligus meningkatkan kembali keceriaannya.

“Kalau kena papan kita bisa dapat boneka sapi itu, iya kan, Pak?”

Penjaga tenda permainan menembak itu tersenyum sebagai jawaban. Aish, Soonyoung sangat terobsesi dengan boneka sepertinya.

“Won, tembak yang benar, dong.”

“Iya, ini aku juga sedang berusaha.”

“Ah, payah, masa begitu saja tidak bisa.”

“Kau yang tembak sendiri kalau begitu.”

Dor

“Eh? Kena Won! Sumpah aku mengenai papannya. Yes! Dapat boneka sapi, wohoo!!!”

Wonwoo melongo. Yang tadi itu serius? Dia berhasil menembak tepat menganai papan dalam satu kali coba? Heol. Sementara Soonyoung masih berjoget-joget kegirangan, Wonwoo sudah melangkah menjauhi tenda permainan menembak.

Wonwoo tak menghiraukan suara cempreng Soonyoung yang terus memanggilnya di belakang. Lelaki itu sibuk menolehkan kepalanya kesana-kemari sambil masih terus berjalan. Matanya memicing mencari wahana paling seru di setiap taman bermain. Dan saat dirasa wahana yang dicarinya itu berdiri kokoh di sudut sana, bibirnya tersenyum miring.

“Soon, ayo ke sana!”

Wonwoo segera menarik tangan Soonyoung. Namun, tubuhnya agak oleng saat pemuda yang lebih pendek darinya itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Wonwoo menoleh. Oh astaga, seseorang harus mengabadikan ini. Wajah pucat Soonyoung.

“Rumah hantu?”

Wonwoo menjawabnya dengan deheman. Kenapa? jangan bilang Soonyoung takut.

“Tidak mau ah.”

Wonwoo menghela napas, “Kenapa? Takut? Nonton Conjuring 2 saja berani.”

Soonyoung terhenyak. Ia merasa tersindir.

“Siapa takut? Ayo!”

Soonyoung berjalan mendahului Wonwoo dengan langkah angkuh. Melihat tingkah sahabatnya barusan, tatapan geli kembali tersirat di mata Wonwoo.

Duar

“Wuaaaaaaa!!!”

Hi… hi… hi….

“Oh tidak, ada yang jongkok di situ––aduh!”

Soonyoung memegangi pundaknya yang baru saja dipukul Wonwoo.

“Katanya tidak takut?”

Eh, eh, malah menangis. Mampus kau, Jeon Wonwoo.

“Ayo keluar saja, Won. Aku takut, huaaa.”

Wonwoo memutar bola matanya malas. Biasa.

“Sudah tenang saja, ada aku. Ayo!”

Wonwoo dengan cepat mengapit lengan Soonyoung menggunakan lengannya sebelum lelaki itu sempat memberontak lagi.

“Huaaaa dia bangun! Dia mendekat! Woah, woah!”

Soonyoung ambruk di dekat kaki Wonwoo. Sambil menutup wajahnya menggunakan kedua tangan ia meringkuk mendekati sang karib. Tidak mau. Soonyoung tidak mau membayangkan sosok yang barusan itu. Walaupun cuma hantu jadi-jadian tapi cukup seram untuk membuat kaki Soonyoung lemas. Bayangkan saja, rambut acak-acakan, tubuh berlumuran darah, dan wajah gelap dengan satu mata menonjol sementara yang satunya lagi menggantung seperti mau copot. Uhh, rasanya Soonyoung mau muntah.

“Soon, bangunlah.”

Soonyoung menggeleng dan malah semakin menangis.

“Aku mau keluar saja.”

Wonwoo ikut berjongkok, “Kalau kau mau keluar, selesaikan permainan ini.”

“Tidak mau. Aku takut. Yang paling seram itu tadi mendekat, Won.”

Wonwoo tertawa terpingkal-pingkal. Ia mengelap dua bulir air mata di sudut matanya sebelum kembali berkata,

“Kau lupa sedang bersama siapa kau sekarang?”

Buk buk, Wonwoo menepuk dada kerempengnya dengan keras, membuat Soonyoung sedikit menutup matanya kala mendengar bunyinya. Takut kalau-kalau badan kurus itu akan remuk kapan saja.

“Aku, Jeon Wonwoo. Jagonya permainan rumah hantu.”

Sebenarnya Soonyoung bisa saja tertawa melihat tingkah sahabatnya yang satu itu––ayolah, siapa yang tidak akan tertawa melihat Jeon Wonwoo membanggakan dirinya sendiri, sesuatu yang terbilang jarang dilakukan lelaki itu––tapi agaknya suasana sekarang kurang mendukung untuk beradegan lucu.

“Cepatlah! Selama ada Jeon Wonwoo yang tampan dan berani ini, kau akan aman, hehe.”

Tahan, Soonyoung, tahan, tidak boleh mengatai. Pria yang sedang nyengir lebar dengan tingkat kepercayaan diri tinggi itu adalah sahabatmu. Hidup dan matimu berada di tangannya sekarang.

Akhirnya, Soonyoung memberanikan diri untuk bangkit. Sambil memegangi bahu Wonwoo, ia mulai berjalan pelan dengan Wonwoo yang berada di depan sebagai tamengnya.

“Loh? Bukankah dia yang tadi mendekat kemari? kenapa dia jongkok lagi?”

Wonwoo tersenyum bangga ke arah Soonyoung, “Karena ada Master Wonwoo di sini, makanya dia takut.”

“Cih.”

Berita besar! Untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupan Kwon Soonyoung, dirinya berhasil menyelesaikan permainan rumah hantu dengan mulus. Tanpa teriakan dan juga tanpa rengekan––yah, itu semua berkat Wonwoo. Rasa lega dan bangga terselip di lubuk hatinya ketika keluar dari rumah hantu. Oh, bahkan ia tak menyangka kalau ia masih bisa tersenyum setelah berjalan meninggalkan wahana menyebalkan itu.

“Oke, untuk merayakan keberanianmu, ayo kita naik itu.”

Senyum Soonyoung luntur sedetik setelah menoleh ke samping. Sebuah kapal bajak laut yang berukuran sangat besar terlihat berayun ke depan dan belakang dengan menggebu-gebu. Haaah, apa lagi itu, Ya Tuhan?

“Hei, ekspresi macam apa itu? Haha, tidak usah takut.” Ucap Wonwoo seraya merangkul pundak Soonyoung dan menggiringnya mendekati wahana itu.

“Won, tunggu, Won.”

-oOo-

Wonwoo menggigit permen kapasnya sedikit dan mengunyahnya perlahan. Kalau boleh berkata jujur, sebenarnya ia tidak terlalu menyukai makanan manis. Tetapi, berhubung Soonyoung yang membelikan ini, ia harus menghargainya. Dasar Kwon Soonyoung, dia yang kalah dan harus traktir, dia juga yang memilih mau membelikan apa.

Akhir bulan, dompetku menipis, katanya.

Cukup, giginya tak tahan lagi. Diletakannya sebungkus besar permen kapas itu di ruang kosong di sampingnya, menggantikan segelas kopi susu yang sedari tadi teronggok di sana. Dengan rasa hangat dari gelas kopi yang menjalar ke telapak tangannya, Wonwoo membuang pandangannya ke luar jendela. Menikmati pemandangan malam kota Seoul seraya menyeruput kopi susunya.

Aish, Jeon Wonwoo….”

Mendengar namanya disebut, pemuda itu menoleh ke depan. Kekehannya kembali terdengar saat mendapati sang kawan masih tertunduk lemas sambil meracau tidak jelas––walau sudah 7 menit berlalu.

“Ayolah, Soon. Apa masih mual?”

Soonyoung mengangguk. Mari berpikir, siapa yang patut disalahkan di sini? Wonwoo yang menyukai wahana ekstrem? Atau Soonyoung yang terlalu lemah?

“Hehe, maaf, ya.” Namun tetap saja, Wonwoo yang meminta maaf.

Yah, dipikir bagaimana pun semua ini gara-gara Wonwoo kan? Dirinya yang mengajak Soonyoung naik kapal bajak laut bergoyang itu. Mau berapa kali Soonyoung berontak, ia tetap menarik tangan Soonyoung untuk menaikinya. Bahkan, saat Soonyoung berteriak ketakutan di atas sana sambil mengangkat tangannya tanda menyerah, Wonwoo seolah tuli dan malah berteriak kegirangan di samping temannya yang malang itu.

“Bagaimana kabarmu?”

Soonyoung tidak langsung menjawab. Dari sudut bianglala ini, Wonwoo bisa melihat sahabatnya duduk termenung di seberangnya sambil menatap gemerlap lampu-lampu di luar.

“Masih mual.” Lirih Soonyoung.

“Bukan itu maksudku. Bagaimana kabarmu sebulan terakhir ini?”

Kini fokus Soonyoung terkunci sepenuhnya pada Wonwoo.

“Apa kau tidur dengan nyenyak? Apa kau makan teratur?”

Soonyoung tertawa sambil setengah mendengus, “Ada apa ini? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?”

Wonwoo mengedikkan bahunya seraya tersenyum menatap langit-langit besi, “Hanya sedikit merasa bersalah… dan rindu.”

Sadar akan tatapan bingung Soonyoung, lelaki itu melanjutkan, “Kau tahu kan, akhir-akhir ini tugas sekolah kita sungguh menyebalkan. Datang berkeroyok tanpa memberi celah untuk istirahat. Apalagi, klub menggambar yang kupimpin sedang disibukkan dengan persiapan pameran,”

Ya, Soonyoung tahu itu. Bahkan ia sudah tidak tidur beberapa hari gara-gara harus menyelesaikan semua tugas sekolahnya. Dan sekarang, ia tak tahan untuk merutuki dirinya sendiri yang sempat mengeluh atas itu semua. Karena seseorang yang pemalas dan cuma tahu main sepertinya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Wonwoo yang seorang ketua klub menggambar sekaligus anggota penting dalam beberapa organisasi sekolah. Itu berarti, Wonwoo jauh lebih menderita dari dirinya dalam menghadapi semua kesibukan itu. Tiba-tiba ia merasa tidak enak. Pantas saja Soonyoung jarang melihat Wonwoo berada di kelas belakangan ini.

“untuk mengurus diriku saja aku kewalahan, apalagi memberi kabar padamu. Jadi… maaf.”

Maaf karena jarang membalas pesanmu.

Maaf karena tidak pernah bermain denganmu lagi.

Maaf untuk semuanya.

Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Selagi menikmati waktu yang bergulir, Wonwoo memainkan jari-jemarinya di atas pangkuan. Kepalanya menunduk dalam memperhatikan sepatu putih yang ia kenakan. Baru setelah Soonyoung membuka suara, atensi Wonwoo teralihkan.

“Apa terjadi sesuatu?”

Wonwoo tersenyum simpul menanggapinya.

“Tidak ada.”

Soonyoung berdecak, “Hei, aku mengenalmu sejak taman kanak-kanak. Sekarang katakan, apa kau sedang ada masalah?”

“Kenapa kau berpikir begitu?”

“Karena aku mengenalmu lebih dari siapa pun.”

Tercenung. Wonwoo bungkam. Namun, tak lama kemudian, senyum manis menghiasi wajah tampannya.

“Haha, kau memang sahabatku.”

Soonyoung hanya diam. Ia masih menunggu jawaban atas pertanyaannya. Tatapan matanya yang menusuk membuat Wonwoo akhirnya menyerah.

“Baiklah, baiklah,” Pemuda itu menghela napas sejenak, “sebenarnya, aku akan pindah.”

“Kemana?”

“Ada deh.”

Soonyoung hampir melayangkan pukulannya namun urung.

“Sudah berani main rahasia-rahasiaan, huh?”

Wonwoo hanya tertawa pelan, “Aku akan pindah ke tempat yang jauh, Soonyoung. Sangat jauh.” Netra pekat pemuda itu menerawang ke arah langit yang terlihat cerah malam ini, “Aku khawatir tidak bisa kembali ke sini untuk menengokmu, makanya––”

“Makanya kau mengajakku ke taman bermain, untuk menghabiskan sisa waktumu sebelum kau pergi?”

Wonwoo tersenyum lembut. Ya, benar. Semua yang dikatakan Soonyoung itu benar adanya.

“Kau sendiri atau seluruh keluargamu juga ikut?”

“Tidak, hanya aku sendiri.”

Tepat pukul delapan malam, mereka turun dari bianglala. Keduanya melangkah keluar dari taman bermain itu dan menuju halte bus. Tak seperti Soonyoung yang biasanya selalu melontarkan lelucon dan Wonwoo yang akan tertawa terbahak walau lelucon Soonyoung kadang terdengar garing, kedua pemuda itu kini bungkam. Bahkan mereka mengambil tempat duduk paling ujung di dalam bus dan menciptakan jarak yang cukup lebar di antara keduanya.

Bus berhenti di halte ketiga saat Soonyoung dan Wonwoo memutuskan untuk turun dan mulai berjalan kaki menuju rumah.

“Hei, senang kan bisa bermain denganku?”

Wonwoo menyenggol lengan Soonyoung yang berdiri satu jengkal di samping kanannya. Jujur saja, ia tidak tahan dengan suasana sepi seperti tadi.

“Tidak.”

Wonwoo berjengit dan langsung menatap Soonyoung kaget, “Kenapa? Kita sudah satu bulan tidak menghabiskan waktu bersama. Apa kau tidak rindu padaku?”

Soonyoung menghentikan langkahnya kasar lalu berbalik menatap Wonwoo sambil mengerang frustasi, “Tentu saja aku rindu,” kepalanya kemudian tertunduk, “tapi, mana mungkin aku bisa senang setelah mengetahui alasanmu melakukan semua ini.”

Walaupun pelan, Wonwoo tetap masih bisa mendengarnya. Ia tersenyum lagi. Merangkul bahu sahabatnya dan menuntunnya untuk kembali berjalan di sampingnya.

“Maaf ya jika terlalu mendadak.”

“Kalau kau pindah nanti aku sama siapa?” Soonyoung semakin berani mengeluarkan keluh kesahnya.

“Kan masih ada Dokyeom, Mingyu, dan yang lainnya. Mereka juga teman kita, Soon.”

“Tapi teman dekatku hanya kau! Kita sudah bersama selama empat belas tahun, tahu.”

Ya, selama itu, dan Wonwoo baru menyadari jika Soonyoung cerewet sekali kalau sedang merajuk.

“Dengar ya, mulai sekarang kau harus bisa tanpa aku.”

Soonyoung masih cemberut.

“Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup, pokoknya jangan sampai sakit. Berbaikanlah dengan Paman Jung dan bayar hutang-hutangmu di warung ramyun miliknya. Dan terakhir, berhentilah membuat onar dengan Pak Guru Ahn, kasihan dia sudah tua.”

“Ya, ya, ya, kau tidak usah khawatir. Lagipula, kenapa sih kau harus pindah?”

“Kalau aku bilang ini adalah suratan takdir, bagaimana?” Wonwoo menunjukkan cengiran khasnya.

“Cih, sok puitis.” Jawab Soonyoung sambil memalingkan wajah.

Mereka berpisah di pertigaan setelah sebelumnya sempat memberikan sebuah pelukan selamat tinggal. Kini Soonyoung berusaha menggapai rumahnya dengan langkah gontai. Ia tak tahu akan seperti apa hidupnya tanpa Jeon Wonwoo. Secara, Wonwoo lah yang selalu mengurusnya selama ini. Mengingatkan Soonyoung makan, membantunya mengerjakan tugas sekolah, dan membimbing lelaki itu untuk senantiasa rapi dan disiplin. Bahkan, menurut Soonyoung, Wonwoo adalah ibu kedua baginya.

“Aku pulang.”

Baru saja Soonyoung membuka pintu, ibunya sudah mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.

“Kau ini dari mana saja? Kenapa baru pulang?”

“Aku habis main dengan Wonwoo, Bu.”

Wajah ibunya seketika menegang. Kenapa? Ada yang salah?

“Jangan bercanda!”

Hah? Aku serius kok, batin Soonyoung.

“Oh, ada apa dengan ponselmu? Ibu sudah menelponmu puluhan kali kenapa tidak diangkat?”

Menelpon? Soonyoung buru-buru mengambil ponselnya yang tersimpan di saku belakang celana jeansnya lalu memeriksa pemberitahuan. Tidak ada. Tidak ada panggilan masuk dari siapapun.

“Ibu tidak menelpon kok.” Ujarnya seraya memperlihatkan layar ponselnya ke depan wajah sang ibu.

“Ya! Kwon Soonyoung! Cepatlah bersiap!”

Soonyoung menoleh dan mendapati kakak perempuannya yang berbalut dress hitam selutut sedang berdiri sambil berkacak pinggang.

“Loh? Kak Soonah? Kukira kakak pulang lusa?”

Kakaknya menggeram tertahan, “Aku pulang lebih awal juga karena kau, bodoh.”

Eh? Kenapa dia marah?

Soonyoung menatap bingung kakaknya yang berjalan ke luar rumah bersama Sohee. Tak lama kemudian, terdengar suara mesin mobil yang dinyalakan dari pekarangan. Sepertinya ayahnya sedang memanaskan mesin. Hm, kalau dilihat-lihat, ibunya juga sudah berpakaian rapi. Apa mereka semua mau pergi? Kemana?

“Ibu, sebenarnya ada apa? Kita mau pergi kemana?”

Ibunya menghela napas. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, wanita paruh baya itu memberikan ponsel putih miliknya kepada Soonyoung kemudian berjalan melewatinya.

Kendati bingung, Soonyoung segera memeriksa ponsel ibunya. Sebuah ruang obrolan yang terbuka terpampang jelas di layar.

Mata Soonyoung membulat sempurna,

“Tidak mungkin….”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

From: Kim Mingyu
[12.43 pm]

Selamat siang, Bibi, ini Mingyu teman Soonyoung. Apakah Soonyoung sedang bersama bibi? Jika iya, tolong sampaikan padanya bahwa siang tadi, tepat pukul dua belas, Wonwoo meninggal dunia di Rumah Sakit Seoul. Sepertinya akibat jadwal yang padat akhir-ahir ini, penyakitnya jadi kambuh karena kelelahan. Aku sudah mencoba menelpon Soonyoung berkali-kali, tetapi ia tidak bisa dihubungi. Jadi, kuharap bibi bisa menyampaikan berita ini padanya. Terima kasih.

 

 

 

fin.

Saat Sore

Artwork and Story by Charon Ly

Starring by Jeon Wonwoo [Seventeen]

Sore kembali datang. Menjumpainya adalah kebahagianku. Sederhana saja. Ketika sore datang artinya waktuku di sekolah sudah selesai. Kecuali, sabtu dan minggu aku mencintai sore dengan segala penampakannya.

Lanjutkan membaca Saat Sore

Two Sides of Missunderstanding

jun momo ff-01

Two Sides of Missunderstanding

SEVENTEEN’s Jun & Twice’s Momo | Romance | G | 2 in 1 Drabble

by rinchuwin

=====

Namanya Jun, ketua OSIS yang terkenal dengan sifat dingin dan pesonanya. Semua siswi menyukainya karena ia sangat keren walaupun tidak pernah tersenyum. Tetapi hari ini pesonanya luntur.

Namanya Momo, seorang gadis yang selalu ceria. Tiada hari tanpa tawa. Dan tentunya tiada hari tanpa fangirling Taecyeon 2PM. Tetapi hari ini ia lebih banyak diam.

Lantas, ada apa dengan mereka?

Lanjutkan membaca Two Sides of Missunderstanding

[Drabble-Mix] Happy New Year! (Vol.3)

elfxotic12152  present

20 short films with Monsta X & Seventeen X readers

Romance, slight!Fluff, slight!Comedy, slight!Sad, Friendship |  Drabbles (100 Ws) | General

.

Ini sudah  tahun 2017!

Lanjutkan membaca [Drabble-Mix] Happy New Year! (Vol.3)

[Playlist-Fic] Christmas Project Song: They Said

Christmas Project Song:

They Said

.

Short-fiction-collection by Phynz20 (@putriines)

.

Lanjutkan membaca [Playlist-Fic] Christmas Project Song: They Said

Happiness To Find

 

happiness-to-find

[EXO] Park Chanyeol, [Red Velvet] Joy

 Surreal, Family | General | Oneshot

Joy mengidap penurunan kadar kebahagiaan sehingga ia kehilangan arti kesenangan dan canda tawa. Organ tubuhnya rusak, nyawanya nyaris terbabat habis. Kakaknya, Chanyeol, mencoba memulihkan kondisi Joy dengan mencari tiap tetes kebahagiaan berdasarkan kenangan sang adik. Meski pun ia sendiri ragu dengan kemampuannya, namun tekadnya sudah bulat.

 

Lanjutkan membaca Happiness To Find

[Vignette] A Boy’s Another Side: Tough, Tough

ffpost-namja-e-dareun-moseub_1

elfxotic12152  present

a short film with Lee Jooheon of Monsta X  Hyeon Joon the OC

Romance, random!Fluff, AU |  Vignette (1.238 Ws) | General

.

Karena dia bukan hanya cowok yang bisa bertingkah lucu…

Lanjutkan membaca [Vignette] A Boy’s Another Side: Tough, Tough