Arsip Tag: BTS

[Deep Slumber] Close My Eyes with Your Touch

LDS, 2018

[97-line] BTS Jungkook x his twin sister

Romance, Dark, Fantasy // Ficlet // Teen and Up

Jihyo ll Junhoe ll Roa ll Rosé ll Cha Eunwoo ll Wang Yibo

.

[Introduction] ‘Deep Slumber’ adalah seri fiksi fantasi gelap yang memasangkan tokoh utama dengan karakter lawan jenis yang dirahasiakan namanya. Setiap cerita disajikan dalam dua sudut pandang: pria dan wanita. Pasangan tokoh akan terungkap jika dua versi cerita sudah dipublikasikan. Judul diambil dari potongan lirik lagu-lagu K-Pop bertema fantasi gelap.

warning: incest!


Dalam pekatnya kegelapan, Jungkook menggantungkan asa pada satu-satunya lentera: kembarannya, seorang gadis berpipi gembil yang mata kanannya tertutup kain hitam. Lanjutkan membaca [Deep Slumber] Close My Eyes with Your Touch

[ONESHOT] 100% to 0%

cover-100to0

100% to 0%

Dilaribear’s present

Starring BTS’s Park Jimin and TWICE’s Kim Dahyun

Also find others

Genre romance; friendship; fluff; slightdrama • Rating PG-15 • Duration Oneshot

 

Hanya sebuah kejadian kecil mampu membuat seorang laki-laki jatuh cinta 100%,  sedangkan seorang gadis harus merasakan cinta lebih dalam lagi agar mencapai 100% jatuh cinta.

Lanjutkan membaca [ONESHOT] 100% to 0%

[SONG-FIC] Awake

lala-2

Awake

A story by Elisomnia

|| Cast: [BTS] Kim Seokjin, [OC] Kim Seokbin | Genre: AU, Brothership, Drama | Rating: G | Duration: Ficlet ||

.

.

“Aku sering mendapatinya terjaga hingga pagi buta.”

.

.

Cerita lainnya dengan tema serupa: Recordatio

.

.

.

Coba tebak, seberapa girangnya aku saat kakakku mengatakan lewat telepon bahwa ia akan pulang pada liburan natal kali ini. Bahkan aku sampai melompat-lompat di atas sofa ruang tamu ketika mengetahui dirinya akan membawa banyak oleh-oleh dan bahan makanan dari Seoul. Bayangkan saja apa yang akan terjadi jika ibu dan kakakku yang hobi memasak itu bertemu. Ah, natal tahun ini pasti akan sangat istimewa.

Aku tahu karirnya sebagai seorang penyanyi papan atas sedang meroket. Wajahnya menghiasi semua channel televisi dan majalah gosip. Gadis-gadis remaja selalu membicarakannya. Aku juga tahu jadwalnya kian hari kian padat, dan kemungkinan kami untuk bertemu kian menipis. Itulah mengapa aku sangat merindukannya dan menanti kepulangannya.

Sosoknya yang periang menghantarkan kehangatan kepada kami semua. Jiwa sosialnya yang tinggi menjadikannya kesayangan banyak orang. Kak Seokjin-ku benar-benar hebat. Dia bisa membuat semua orang mencintainya dengan caranya sendiri.

***

Hari ini adalah hari Sabtu, itu berarti sudah seminggu sejak kepulangan Kak Seokjin, dan entah mengapa aku merasa ada yang aneh dengan dirinya sekarang. Memang sih, dia akan tertawa lebar saat seluruh keluarga kami sedang berkumpul bersama pada jam makan siang. Namun saat malam menjelang, tak jarang kulihat sinar di wajahnya meredup, tingkahnya akan terbatasi, dan senyum simpul menjadi balasan bagi orang-orang yang mengajaknya bicara. Yang lebih aneh lagi, aku sering mendapatinya terjaga hingga pagi buta.

Kali pertama aku mengetahui hal ini adalah pada malam setelah perayaan hari ulang tahunnya. Aku yang terbangun karena haus melihat kakakku berdiri di samping jendela besar dekat perapian. Di antara balon warna-warni dan kertas hias yang belum sempat dirapikan, ia menatap melalui kacanya yang berembun sambil memakan kue cokelat sisa pestanya. Aku sempat berpikir, ada apa dengan dia? Apa yang sedang ia perhatikan?

Hujan salju turun dengan lebatnya di luar sana. Beberapa bahkan sampai menumpuk di pinggir jalan dan menutupi hampir separuh dari kaki bangku taman di depan rumah. Lihat, apa yang sedang dipikirkan Kak Seokjin sampai-sampai tidak menyadari aku yang sudah berdiri di sampingnya––memperhatikan gurat wajahnya. Air mukanya tampak serius. Senyum manis yang biasanya ia tunjukkan kepada semua orang seolah sirna. Dari mata sendunya aku tahu kakakku sedang banyak pikiran. Aku khawatir.

Baru ketika aku menepuk bahunya, Kak Seokjin tersentak kaget. Ia membalas tatapan cemasku dengan begitu lembut. Saat kutanya kenapa ia hanya tersenyum simpul. Lagi-lagi senyum itu.

Selepas malam itu, aku jadi sering menangkap basah dirinya yang selalu berlaku aneh. Tempo hari, musik hip hop dan dentuman-dentuman kecil samar-samar kudengar dari kamarnya yang berada tepat di sebelah kamarku, dia menari, pikirku. Berulang kali ia berusaha membuat musik melalui mulutnya yang hanya terdiri dari suara bum, tak, bess. Kadang, aku lihat tubuh gagahnya teronggok di sofa ruang keluarga, merenung di tengah keremangan lampu meja kecil sebelah gagang telepon. Atau, dia juga akan melatih kemampuan vokalnya seperti sekarang ini.

Nada-nada rendah yang bertempo pelan dan halus lambat laun berubah menjadi rintihan memilukan. Di atas ranjang empuk, ragaku berguling kesana-kemari mencari posisi yang nikmat. Namun semua usaha itu agaknya sia-sia saat aku kembali pada posisiku semula––terlentang. Mata lelah yang sialnya menolak untuk terpejam ini beralih menuyusuri langit-langit kamar yang berdebu. Menerawang jauh pada sesuatu yang tak pasti.

Dalam kesunyian malam, suara Kak Seokjin terdengar seirama dengan lantunan orkestra kawanan jangkrik juga katak. Oh astaga, Kak Seokjin sudah keterlaluan sekarang. Jam digital berbentuk bebek di atas nakas menunjukkan angka 03.17, dan teganya kakak kesayanganku itu membuatku tak bisa tidur semalaman ditemani nyanyian menyedihkan miliknya.

Setelah menepuk keras ruang kosong di sampingku, aku lantas beranjak dari kasur. Aku sudah tidak tahan lagi. Tak ada yang bisa menandingi amarahku saat ini. Kalaupun ada, itu pasti peristiwa beberapa tahun lalu dimana Kak Seokjin dengan tak berdosanya merusakkan keyboard komputerku hingga semua datanya hilang tak bersisa.

Brakk!

Kim Seokjin menatapku kaget dengan kedua mata kelerengnya. Seakan menimang-nimang alasan apa yang membuatku datang kemari. Kudatangi tempatnya berpijak lalu ikut duduk di tepian ranjang tepat di sampingnya. Tak ingin menggunakan kekerasan, aku pun berbisik,

“Tolong kecilkan suaramu, Kak!”

Entah apa yang ada di pikirannya sekarang yang malah membuatnya tersenyum aneh. Bukan sekali dua kali aku melihatnya tersenyum seperti itu, namun menurutku yang satu ini benar-benar membuatku takut. Apa aku salah bicara? Apa perkataanku barusan menyinggung perasaannya? Biar bagaimana pun, dia adalah kakak kandungku.

“Kak, kau tak apa?”

“Aku baik-baik saja.”

Oh syukurlah, ku pikir dia menjadi bisu setelah beberapa hari selalu mengumbar senyum manis. senang rasanya mendengarnya bersuara kembali––walaupun hanya sedikit.

“Aku hanya sedang berpikir, Seokbin-ah.”

Detik demi detik berlalu, suara ketukan jarum jam menggema ke seluruh penjuru kamar. Selagi menunggu Kak Seokjin melanjutkan kalimatnya, aku memilin-milin ujung kaos putih kedodoranku. Di bawah sana, jemari-jemari kakiku bergerak tak tenang. Aku baru saja mendengar nada serius dari setiap kata yang terlontar dari mulut Kak Seokjin, dan itu membuatku gugup.

“Berpikir tentang bagaimana caranya untuk terbang.”

Tunggu, Kak Seokjin bilang apa? Terbang? Hah, memangnya dia burung? Mana mungkin manusia bisa terbang.

“Aku ingin bisa menyentuh langit, tapi mereka mengatakan kepadaku untuk tidak usah melakukan hal yang mustahil aku lakukan.”

Di bawah sinar biru rembulan yang membias melalui jendela kaca, aku dapat melihat butiran bening menggenang di pelupuk mata Kak Seokjin. Beberapa sudah mengalir menuruni pipi tembamnya.

“Kau tahu Seokbin-ah? Aku selalu ingin bermimpi lebih, namun nampaknya mereka tak percaya padaku––lebih tepatnya tidak percaya pada kemampuanku. Meskipun begitu, aku akan tetap bejuang. Mengusahakan yang terbaik sebanyak yang aku bisa.”

Aku menggigit bibir bawahku saat mengetahui arah pembicaraan kami. Tak dapat kutahan lagi air mata yang melesak keluar. Orang-orang jahat mana yang tega mematahkan sayap kakakku, mematahkan semangat bermimpinya.

“Daripada menjadi yang nomor satu, aku hanya ingin sebuah pengakuan. Aku ingin mereka tahu bahwa aku bisa.”

“Itu kah sebabnya kau berlatih sepanjang malam?”

Kutatap dalam matanya yang mulai membengkak. Terlihat jelas bagaimana orang-orang itu meninggalkan luka untuk kakakku. Mengukir goresan demi goresan yang semakin lama semakin dalam. Tak dapat kubayangkan seperti apa sakitnya saat menyadari bahwa selama ini Kak Seokjin memendam semua itu sendirian.

“Kak Seokjin, tidak usah memikirkan mereka yang membencimu, mereka yang mencelamu setiap saat hanya untuk mencari kekuranganmu tanpa melirik kelebihanmu. Jika kau terlalu fokus dengan mereka semua, kapan kau akan melihat kami? Kami yang selalu ada di sisimu untuk mendukungmu. Jangan lupakan juga para penggemarmu yang selalu memberikan cinta. Banyak orang yang menyayangimu dan percaya padamu, Kak. Jadi, janganlah ragu dan tetaplah mencoba.”

Malam itu kami habiskan untuk berbicara tentang banyak hal dan menangis bersama. Nenek yang menemukan kami tidur satu ruang tersenyum sambil mengguncangkan tubuh kami bergantian, berusaha membangunkan adik dan kakak yang masih terlelap saat matahari mulai tinggi. Beliau berkata, ibu mengomel karena keterlambatan kami di meja makan. Seharusnya anak muda tidak bangun terlambat, katanya. Aku tidak menyesal bangun terlambat jika itu menyangkut kebersamaan dengan kakakku. Entah sejak kapan mengobrol dengan Kak Seokjin menjadi sangat menyenangkan seperti ini. Aku harus sering-sering melakukannya.

 

 

 

fin.

 

Halo, adakah yang rindu dengan Elis?
Hehe, maaf ya jarang nongol, sibuk sih /halah alasan/

Sebenarnya ff ini pengen ku post pas ultahnya Seokjin tapi karena banyak halangan jadinya nggak bisa deh. Intinya ff ini kupersembahkan untuk Kim Seokjin yang sering mendapat kritikan pedas bin kejam dari netizen (?) huhu T.T
Maaf sekali untuk segala kekurangannya karena aku bikin ff ini dengan segala keterburu-buruan. Tolong reviewnya ya J

Oh iya, selamat tahun baru semua! Harapannya semoga kita––aku, kamu,IFK–– selalu menjadi lebih baik kedepannya.

Love, Elis

[Playlist-Fic] Christmas Project Song: They Said

Christmas Project Song:

They Said

.

Short-fiction-collection by Phynz20 (@putriines)

.

Lanjutkan membaca [Playlist-Fic] Christmas Project Song: They Said

[1st Mission] On Board

on-board-snqlxoals818

ON BOARD

.

BTS’s Kim Seokjin as Killian Beckett (25 y.o)

OC’s Icy Lytton (25 y.o)

(actor) Yoo Yeon Seok as Jillian (32 y.o)

BTS’ Kim Namjoon as Razel Levesque (23 y.o)

.

slight!romance, action, kingdom!AU | chaptered | PG-15

.

inspired by (movie): Flightplan and Executive Decision

.

Kali pertama bepergian menggunakan pesawat terbang, Icy Lytton memilih perjalanan menuju Icemoor yang tak akan ia lupakan selamanya. Pembajakan pesawat yang terjadi karena kehadirannya, sampai ia bertemu dengan seorang anggota CIA, Killian Beckett, yang akan menyelamatkan nyawanya—nyawa seorang Putri Icemoor.

.

Lanjutkan membaca [1st Mission] On Board

[Oneshot] Coming Home

coming-home-2

a movie presented by thelittlerin

.

Choi Sungmin, OC Choi Rin

BAP Moon Jongup, BTS V (Kim Taehyung), Park Jimin

BTOB Yook Sungjae, VIXX Han Sanghyuk, Teen Top Changjo (Choi Jonghyun)

APINK Kim Namjoo, AOA Kim Seolhyun

OC Yook Nana, Park Minha

.

Family, Friendship

PG-15 | Oneshot (3500+ words)

.

finally, he’s back

Lanjutkan membaca [Oneshot] Coming Home

KNIGHT, WINGS & BLOOD PRINCE

tumblr_oemt0yuyhl1ui4a49o1_540

KNIGHT, WINGS & BLOOD PRINCE

  a fanfic by Juliahwang

starring

[BTS’s] Jungkook, Jimin, Namjoon, Seokjin, Taehyung, Yoongi & Hoseok

Genre: Drama, Sad, Brothership, Fantasy!AU Rating: PG-15 Lenght: Vignette

cr pict : google

.

.

.

Lanjutkan membaca KNIGHT, WINGS & BLOOD PRINCE

[Ficlet] First Love #RapMonster

hhh

Scriptwriter : Elisomnia

Cast : [BTS] Kim Nam Joon a.k.a Rap Monster, [OC] Hwang Chan Mi

Genre : Romance, fluff

Duration : Ficlet

Rating : G

#Jimin | #Jungkook

.

.

“Terimakasih, cinta.”

.

.

Pria itu masih disana. Duduk manis menghadap jendela dengan segala peralatan melukisnya. Iris pekatnya terfokus pada benda kayu dihadapannya. Tangannya dengan telaten menggoreskan kombinasi warna yang serasi pada badan benda itu. Benda itu, sebuah vas.

Sudah tiga hari terakhir Nam Joon––pria itu, berkutat dengan vas kayu berbentuk oval buatannya. Ya, dia yang membuatnya sendiri. Dan dia juga yang menghiasnya.

Dalam mengerjakan sesuatu, Nam Joon tak pernah seniat ini sebelumnya. Ia tipikal pemalas yang menganggap kasur lebih nyaman dari segalanya, dan game lebih asik dari segalanya. Namun gadis itu hadir dan merubah segalanya.

Nam Joon yang malas dan cuek lambat laun tergantikan dengan sosok baru yang amat peduli dengan sekitar dan suka membantu. Berpacaran dengan Hwang Chan Mi––gadis cantik, baik, dan pintar, memberikan dampak positif pada dirinya. Tak heran jika Ibu Nam Joon amat menyayangi Chan Mi.

Merasa puas dengan torehan catnya, Nam Joon beranjak menuju balkon kamarnya dan mengambil enam bunga mawar segar yang baru satu jam lalu ia beli. Memindahkannya dari vas kaca penuh air kedalam vas kayunya dengan penuh perasaan.

Dibukanya laci meja belajarnya dan mengeluarkan satu bunga mawar palsu yang amat mirip dengan aslinya. Diselipkannya bunga palsu itu diantara bunga-bunga yang lain. Tak lupa, ia menempelkan stiker lucu di vas itu. Manis.

Nam Joon tersenyum. Ia tak sabar melihat reaksi Chan Mi saat menerima hadiah darinya.

Dengan hati berbunga ia pergi kerumah Chan Mi. Selama perjalanan, ia tak hentinya tersenyum bahkan sampai tertawa terbahak. Pria itu benar-benar tak menyangka dapat bersikap semanis dan seromantis ini.

Butuh waktu lima belas menit hingga mobil merah Nam Joon tiba di pelataran rumah sang gadis. Dengan segera dia melangkahkan tungkainya menuju pintu dan memencet bel. Tak beberapa lama, pintu itu terbuka. Menampilkan sosok gadis pujaannya. Dengan senyum hangat terpatri di wajah cantiknya.

“Aku punya tujuh tangkai mawar yang melambangkan hari setiap tangkainya.”

Dengan wajah tersipu, gadis itu menerima vas dengan tujuh tangkai mawar yang diberikan Nam Joon. Chan Mi memperhatikan bunga mawar merah cantik itu dengan senyum yang seakan tak akan pernah luntur. Vas kayu sederhana dengan hiasan indah membuatnya terkesan. Tiba-tiba, ia terkikik saat matanya membaca tulisan dalam stiker yang terdapat pada salah satu sisi vas itu.

Aku akan tetap mencintaimu sampai mawar yang terakhir layu.

 

 

fin.

untuk versi member lainnya yang lebih lengkap bisa dibaca di sini ya 🙂

(Un)fortunate

#1 - Copy

(Un)fortunate

Kim Taehyung (V) of BTS & OC

PG-13

Vignette

Disclaimer: I own nothing but storyline.

Trailer: Kang Serin sial, atau kurang beruntung, karena melewatkan bus terakhirnya. Tapi, di saat ada laki-laki ganteng yang menawarkan tumpangan, apa ia masih sial? Toh, ia juga perempuan.

Lanjutkan membaca (Un)fortunate

Officially Kidnapped (I)

ja

Officially Kidnapped

movie by slmnabil

starring BTS’s Members esp. Kim Taehyung x OC’s Jenna

duration Chaptered genre Friendship, Romance, Family, Comedy rating Teen

x

Pokoknya pelarian mereka dimulai saat Taehyung menyatakan cinta dan malah dapat todongan senjata.

Lanjutkan membaca Officially Kidnapped (I)

My Lost Memory (Part 1)

my lost memory

Title: My Lost Memory

Scriptwriter: vwee

Main Cast: Kim Tae Hyung / V (BTS), Kim Ye Won / Umji (Girlfriend), Baekhyun (EXO), Jimin (BTS)

Genre: romance, friendzone, memories,

Duration: series

Rating: G

            Langit begitu cerah membuat segerombol anak kecil bermain-main di taman dengan asiknya, begitu juga Taehyung kecil, Yewon kecil, dan Jimin kecil, mereka bermain dengan riangnya lalu seseorang memanggil Taehyung kecil.

Lanjutkan membaca My Lost Memory (Part 1)

[Ficlet] Sambal Kacang

Sambal Kacang

SAMBAL KACANG

A ficlet by Nadyaputri

Starring Park Jimin (BTS), Khatarina Jung (OC), slight!Jung Hoseok (BTS)

Friendship × School life × failed!Comedy × slight! Romance

***

Ia baru saja mengalami ‘pelecehan’, tapi oknum yang mendeklarasikan diri sebagai sahabatnya malah tertawa heboh.

***

Lanjutkan membaca [Ficlet] Sambal Kacang