WATCH THIS FIRST!

WELCOME TO INDONESIA FANFICTION KPOP!

Blog fanfiction untuk K-POP all fandom dalam bahasa Indonesia. Konsep kami: Production House & Movie Theater. Kru IFK pun disebut seperti kru film (Director, Scriptwriter, Art Director, Set Decorator, Movie Editor, Production Accountant, Unit Manager, dan Marketing Crews). Bedanya, ‘film’ yang kami suguhkan di sini adalah Fan Fiction. Kami harap kalian akan mengenang Fan Fiction di sini seperti film-film kesayangan kalian 🙂

R U L E S

1.. No Bashing

2. Read & Review (Comment & Like!)

3. Don’t Be A Plagiator!

4. Don’t take out any post without permission/credit.

INDEX

  • INFO IFK untuk melihat daftar-daftar crews yang ada di IFK, terdiri dari art departmentediting department, dan production department.
  • Affiliate untuk ber-affiliate dengan IFK.
  • Dictionary untuk belajar mengenai istilah-istilah FAN FICTION secara lengkap.
  • How To Send Freelance Movie cek jika ingin mengirim movie kamu untuk di-publish di IFK.
  • How to Get Password untuk mendapatkan password dari movie kesayanganmu!
  • Movie List untuk melihat dan memilih movie apa saja yang sudah pernah di-publish di IFK. Kamu bisa memilih berdasarkan castgenre, ataupun scriptwriter. Ada dua jenis movie list yaitu Long Movies untuk movie ber-chapter dan Short Movies untuk movie drabble/ficlet/vignette/one-shoot.
  • Movie Review jika kalian freelancer/reader/visitor ingin ceritanya diberikan penilaian/saran, bisa cek page ini
  • Lounge tempat buat tanya-tanya, memberi saran, kritik, dan promote blog.
  • Now Playing untuk melihat fic-fic chaptered/series karya scriptwriter IFK yang tengah berjalan.
  • Coming Soon untuk melihat fic-fic chaptered/series karya scriptwriter IFK yang akan dirilis!
  • STORE (BARU!) untuk membeli buku-buku yang ditulis oleh scriptwriter IFK.

Terima kasih untuk kalian yang sudah mau membaca dan meninggalkan jejak di sini. Hope you love IFK! 🙂

popcorn

Freelance Movie Verification and Schedule [last update: 28/07/2016, 01:40 WIB]

IFK membuat ini untuk menunjukkan Movie/FF Freelance apa saja yang sudah kami terima beserta waktu publish-nya. Ingin tahu cara mengirim Movie/FF Freelance? klik di sini 🙂

Notes: Untuk Scriptwriter Freelance yang merasa sudah kirim FF kalian, silakan cek di sini ya untuk memastikan dan tanya-tanya 😀

JADWAL POSTINGAN UPDATE TANGGAL 23/06/2016 DIMAJUKAN TIGA HARI. JADI YANG TADINYA TANGGAL 1 JULI, MENJADI 4 JULI. TERIMA KASIH. 🙂

Lanjutkan membaca Freelance Movie Verification and Schedule [last update: 28/07/2016, 01:40 WIB]

Farewell

fw

Farewell

A story by Elisomnia

|| Cast: [Seventeen] Jeon Wonwoo and Kwon Soonyoung, other… | Genre: AU, Friendship, Horror, Mistery, Sad, Suspense | Rating: G | Duration: Oneshot ||

.

.

“I just wanna spent my time with you.”

.

.

©2018

.

.

.

Setelah mengganti seragamnya dengan kaos dan celana pendek, Soonyoung langsung membanting tubuhnya ke arah sofa besar di tengah ruang bersantai. Ditemani sebungkus pizza dan beberapa soda kaleng bekas pesta kelulusan kakaknya semalam, ia lalu memutar DVD Conjuring 2.

Soonyoung membuang napas. Terbesit rasa sesal saat maniknya melirik sampul DVD tadi. Penuh debu dan kusut di sana-sini. Mengingat seberapa lama benda itu teronggok di dalam kotak penyimpanan kaset-kasetnya membuat lelaki itu sebal sendiri. Oh ayolah, sudah terhitung empat belas hari sejak pertemuannya dengan Kak Jira––sahabat kakaknya yang seorang penjual kaset film––kala itu. Bahkan bisikan Kak Jira yang mewanti-wantinya untuk tidak menonton film itu sendirian karena hari itu adalah Jumat tanggal 13 masih terngiang jelas di telinganya. Tapi naas, kumpulan soal-soal bertitle limit dan fungsi turunan membombardir hari-hari Soonyoung hingga detik ini.

Ah! Perduli setan dengan tugas rumahnya, ia akan melanjutkannya nanti jika mood belajarnya sudah kembali. Lagipula, Si Botak itu tidak akan mengoreksi pekerjaan murid-muridnya secara detail. Dan lagi, siapa yang mau mengerjakan hal seperti itu di akhir pekan begini?

Daebak!

Baru saja video pembukaan, lelaki itu sudah berseru takjub. Ditahannya sepotong pizza menggunakan gigi gerahamnya sementara tangan yang tadinya tak bebas itu kini sanggup meraih remote.

15

16

17

Angka yang tertera di pengeras suara televisi semakin naik, seluruh lampu di langit-langit berangsur-angsur temaram, dan suasana pun terasa lebih sunyi. Sempurna! Inilah yang Soonyoung suka. Bagi anak lelaki satu-satunya keluarga Kwon tersebut, menonton film horror dalam kondisi seperti itu akan jauh lebih menyenangkan daripada harus memastikan setiap ruangan terang benderang.

Latar musik yang memiliki efek khusus akan membangkitkan adrenalinmu, nyalimu benar-benar diuji saat itu, dan pada akhirnya kau akan merasa lelah seolah ikut bermain di dalamnya. Tentu saja hal itu dapat terjadi selama tidak ada yang…

“Kak, kecilkan volumenya! Aku jadi tidak bisa tidur siang.”

…mengganggu kegiatanmu.

Masih dengan pizza yang menggantung di sudut mulutnya, Soonyoung menoleh cepat ke arah Sohee––adiknya. Dari atas sini, lelaki itu dapat melihat kepala Sohee yang menyembul dari balik tangga melingkar yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai dua. Surai pekatnya berantakan dan kemeja sekolah yang masih melekat di badannya nampak kucel di beberapa sisi. Di balik wajah bantal Sohee, Soonyoung tahu jika mata sipit itu sedang memicing kesal ke arahnya.

“Terserah kakak, dong. Tutup pintumu sana!”

Sohee mendesis keras pada wajah menyebalkan sang kakak sebelum membanting pintu kamarnya hingga menimbulkan getaran kecil ke seisi rumah. Soonyoung tidak perduli, toh adik perempuannya itu lebih sering merecoki kehidupannya. Heran, gara-gara sering bermain dengan Seungkwan dia jadi urakan begitu.

Soonyoung berbalik menatap televisi dan mulai terlarut dalam film. Lihatlah, matanya bahkan tak berkedip barang sedikit pun. Pizza si sudut bibirnya juga dibiarkan menggantung tanpa ada niatan untuk dikunyah. Benar-benar tipikal seorang Kwon Soonyoung jika sedang serius dengan sesuatu.

Hm, entah cuma perasaannya saja atau memang hawa di sekitar sini jadi lebih dingin?

AC-nya mati kok.” Gumam Soonyoung setelah medongak sedikit ke arah Barat––tempat pendingin ruangan berada.

“Ah, masa bodo.”

Namun, Soonyoung tetaplah Soonyoung. Sekuat apapun ia mencoba menguatkan diri, pasti ujung-ujungnya merinding juga. Apalagi saat mendengar suara berderit dari pintu utama rumah mereka yang terbuka pelan.

“Sohee? Kaukah itu?”

Tidak ada jawaban. Oh, Soonyoung baru ingat kalau adiknya itu tadi sempat marah dan mengunci dirinya di kamar karena gagal tidur siang. Mungkin saja itu ibu. Soonyoung melirik jam beker di atas nakas. Pukul 12.13. Oke, mungkin juga itu bukan ibu, karena ibu tidak pernah tidur siang lewat jam dua belas tengah hari. Ah, kalau begitu itu pasti Kak Soonah. Hei ngawur! Kak Soonah kan sedang pergi dan baru akan pulang lusa.

“Oh, sial.”

Suara langkah kaki yang semakin mendekat membuat Soonyoung menarik lipatan selimut di sampingnya. Menyembunyikan setengah badannya di dalam kain tipis bermotif garis-garis itu. Oh tidak, sekarang seseorang itu sedang menaiki tangga. Gila, gila, gila. Soonyoung bisa gila kalau begini. Apakah itu hanya halusinasinya saja atau bukan, bocah laki-laki itu bahkan sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Harusnya ia menuruti kata-kata Kak Jira untuk tidak menonton film ini sendirian, mau itu Jumat tanggal 13 atau bukan.

“Hei, Soon.”

“WAAAAAAAAAAA!!!”

Brak!

“KAKAK JANGAN BERISIK!”

Brak!

Gebrakan tak santai di lantai bawah dan teriakan melengking adiknya berhasil menyadarkan Soonyoung dari tingkah bodohnya. Ia kemudian melirik pada sebuah tangan kurus yang menepuk bahunya beberapa detik lalu. Eh?

“Jeon Wonwoo?”

Sang empunya nama hanya nyengir lebar memperlihatkan giginya.

“Astaga, kukira siapa. Bikin kaget saja, aish.”

Pemuda Kwon itu menggeram tertahan sambil mengacak rambutnya frustasi. Gemas. Hampir saja ia meraup wajah Wonwoo dan meremas-remasnya sampai tidak berbentuk kalau saja ia tidak ingat jika yang tengah duduk di sampingnya itu adalah sahabatnya.

“Kenapa kau tidak bilang kalau mau mampir ke sini? Dan lagi, kenapa masuk diam-diam seperti tadi?” tanya Soonyoung.

Wonwoo terkekeh pelan, “Aku sudah memanggil-manggil namamu daritadi, tapi tidak ada yang membukakan pintu,” Ia lalu melirik  televisi besar milik Soonyoung, “dan sepertinya kau sedang asyik dengan itu sehingga tak mendengarku, haha.”

“Haaah, terserahlah. Detak jantungku masih belum mau kembali normal.”

Wonwoo tertawa lebar melihat sahabatnya itu terkapar di atas sofa dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Berkali-kali Soonyoung mengelus dadanya dan menghidup oksigen banyak-banyak. Berharap ketenangan akan segera menghampiri dirinya.

“Salah sendiri. Sudah tahu penakut masih saja nonton film horror.”

“Hei, aku tidak takut sampai kau datang tiba-tiba bagaikan hantu seperti tadi.”

Wonwoo tersenyum tipis mendengar celotehan Soonyoung.

“Katakan, mau apa kau ke sini?”

Baru saja Wonwoo hendak membuka mulut,

“Awas kalau tidak penting.” Soonyoung sudah menambahi.

“Aku cuma mau main.” Soonyoung memutar bola matanya mendengar jawaban Wonwoo yang diiringi senyum tak berdosa itu, “Sudah kuduga.”

“Ayolah, Soon, kita main.”

“Mainkan saja PSP-ku sana. Biasanya juga begitu.”

“Tidak mau, aku ingin main ke luar.”

Ya, kenapa kau tiba-tiba jadi manja seperti ini? Menggelikan.”

“Aku bosan di rumah saja.”

Wonwoo masih terus merajuk seraya menarik-narik lengan Soonyoung. Ada apa sih dengan anak ini? batin Soonyoung.

“Hei, hei, tidak lihat aku sedang menonton––akh, sakit bodoh!”

Untung Soonyoung bisa menahan diri untuk tidak mengumpat lebih kasar lagi saat kaki panjang Wonwoo tak sengaja menendang tulang keringnya. Lagipula, suruh siapa dia merengek sampai melompat-lompat seperti anak kecil begitu.

“Aduh, baiklah, ayo kita main ke luar.”

“Hore!!!”

Demi gigi nenek yang tinggal dua, Soonyoung bersumpah orang yang sekarang memeluknya hingga terjungkal ini bukanlah Jeon Wonwoo. Apa kabar gadis-gadis di sekolah jika mengetahui sisi lain dari Jeon Wonwoo mereka yang dikenal berhati dingin.

-oOo-

“Kau serius?”

Alih-alih menjawab, Wonwoo malah melebarkan senyumnya. Mata berbinarnya tak dapat menipu bahwa memang inilah tempat yang ingin ia kunjungi.

“Taman bermain? Maksudku, kita sudah tujuh belas tahun, Wonwoo.”

“Lalu kenapa? Lihat, paman itu saja yang usianya jauh di atas kita justru gembria datang ke sini.”

Soonyoung mengikuti arah telunjuk Wonwoo. Seorang pria tambun berjenggot tipis memasuki kawasan taman bermain dengan seorang putra di punggungnya. Hei, itu berbeda.

“Hei, dia kan datang bersama anak––”

“Yang sampai paling akhir harus traktir! Wohoo.”

Sialan, Wonwoo sudah lari lebih dulu sebelum Soonyoung sempat menyelesaikan kalimatnya.

“Hhh, hhh, kau….”

“Naik itu, yuk.”

Mata Soonyoung membulat. Roller coaster?! Gila saja! Apa Wonwoo tidak ingat kalau dirinya takut ketinggian? Apalagi yang sampai berputar-putar seperti itu.

Ya! Aku baru saja selesai mengambil napas gara-gara mengejarmu. Mau mati, hah?”

Wonwoo tertawa lebar. Hm, sepertinya anak itu perlu diingatkan kejadian tiga tahun lalu, tentang karya wisata SMP yang sungguh berkesan. Eh tapi, tidak mungkin kan secepat itu ia lupa akan Soonyoung yang meronta sampai memeluk perut guru mereka saat dipaksa naik kereta panjang berputar-putar itu. Tidak mungkin juga ia lupa bagaimana pucatnya wajah Soonyoung ketika kereta itu mulai beraksi. Dan, yang paling tidak mungkin dilupakan adalah ketika Soonyoung mengeluarkan semua isi perutnya di bawah pohon. Bahkan Wonwoo yang memijat tengkuknya saat itu.

“Iya, iya, aku ingat, haha.”

Eh? Dia tahu apa yang sedang Soonyoung pikirkan?

“Kalau begitu naik yang lain saja.”

Soonyoung masih tidak habis pikir. Selama empat belas tahun hidup bersama, ia baru tahu kalau Wonwoo bisa membaca pikiran.

“Oke, biar aku yang pilih,”

Soonyoung mengedarkan padangannya ke seluruh penjuru taman bermain. Menimang-nimang wahana mana yang sebaiknya mereka coba lebih dulu. Tentunya ia akan memilih yang ringan dan tidak membuat pusing.

“Bagaimana kalau Pulau Boneka? Kita bisa naik perahu dan masuk ke gua penuh boneka.”

Wonwoo sempat mencibir sahabatnya itu yang ternyata tak jauh berbeda dengan anak kecil. Ingat siapa yang beberapa menit lalu meragukan taman bermain dan bilang jika dirinya sudah tujuh belas tahun?

“Baiklah, ayo!”

Wonwoo menarik tangan Soonyoung menuju wahana yang dimaksud. Wajah Soonyoung yang kembali cerah dan suara riangnya saat petugas wahana memakaikan sabuk pengaman membuat Wonwoo tertawa geli. Wah, ternyata benar kata Soonyoung, gua ini penuh dengan boneka. Ada boneka beruang, tokoh kartun, dan macam-macam. Wonwoo bahkan sempat menganga saat sepuluh menit di awal tadi. Maklum saja ya, dia tidak pernah masuk wahana yang lucu seperti ini. Andalannya kalau bukan roller coaster ya rumah hantu.

“Ah, lucu sekali, rasanya ingin kuambil saja boneka Doraemon tadi.”

Setelah lima menit perjalanan yang dipenuhi oleh ocehan Soonyoung tentang boneka Doraemon, akhirnya mereka sampai juga di depan wahana Super Swing. Sebuah besi melingkar raksasa dengan banyak ayunan menggantung di bawahnya yang akan berputar semakin lama semakin tinggi dan kencang. Tentu saja, ini pilihan Wonwoo.

“HIYAAAA JEON WONWOO!!!”

“WOHOO SERU KAN?!!”

“TIDAK AKAN KUMAAFKAN! HUAAAA!!!”

Teriakan-teriakan yang saling bersahutan di udara itu diakhiri dengan tawa keras milik Wonwoo. Dasar Kwon Soonyoung. Memaki guru matematika di sekolahnya saja berani, masa naik yang seperti ini menangis, haha.

“Tunggu, Won, aku mual.”

“Haha, payah!”

Baiklah, baiklah, Wonwoo tak sejahat itu. Setelah bermual-mual ria menaiki Super Swing, Wonwoo mengizinkan Soonyoung memilih wahananya sendiri. Memberikan Soonyoung waktu untuk menenangkan diri sekaligus meningkatkan kembali keceriaannya.

“Kalau kena papan kita bisa dapat boneka sapi itu, iya kan, Pak?”

Penjaga tenda permainan menembak itu tersenyum sebagai jawaban. Aish, Soonyoung sangat terobsesi dengan boneka sepertinya.

“Won, tembak yang benar, dong.”

“Iya, ini aku juga sedang berusaha.”

“Ah, payah, masa begitu saja tidak bisa.”

“Kau yang tembak sendiri kalau begitu.”

Dor

“Eh? Kena Won! Sumpah aku mengenai papannya. Yes! Dapat boneka sapi, wohoo!!!”

Wonwoo melongo. Yang tadi itu serius? Dia berhasil menembak tepat menganai papan dalam satu kali coba? Heol. Sementara Soonyoung masih berjoget-joget kegirangan, Wonwoo sudah melangkah menjauhi tenda permainan menembak.

Wonwoo tak menghiraukan suara cempreng Soonyoung yang terus memanggilnya di belakang. Lelaki itu sibuk menolehkan kepalanya kesana-kemari sambil masih terus berjalan. Matanya memicing mencari wahana paling seru di setiap taman bermain. Dan saat dirasa wahana yang dicarinya itu berdiri kokoh di sudut sana, bibirnya tersenyum miring.

“Soon, ayo ke sana!”

Wonwoo segera menarik tangan Soonyoung. Namun, tubuhnya agak oleng saat pemuda yang lebih pendek darinya itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Wonwoo menoleh. Oh astaga, seseorang harus mengabadikan ini. Wajah pucat Soonyoung.

“Rumah hantu?”

Wonwoo menjawabnya dengan deheman. Kenapa? jangan bilang Soonyoung takut.

“Tidak mau ah.”

Wonwoo menghela napas, “Kenapa? Takut? Nonton Conjuring 2 saja berani.”

Soonyoung terhenyak. Ia merasa tersindir.

“Siapa takut? Ayo!”

Soonyoung berjalan mendahului Wonwoo dengan langkah angkuh. Melihat tingkah sahabatnya barusan, tatapan geli kembali tersirat di mata Wonwoo.

Duar

“Wuaaaaaaa!!!”

Hi… hi… hi….

“Oh tidak, ada yang jongkok di situ––aduh!”

Soonyoung memegangi pundaknya yang baru saja dipukul Wonwoo.

“Katanya tidak takut?”

Eh, eh, malah menangis. Mampus kau, Jeon Wonwoo.

“Ayo keluar saja, Won. Aku takut, huaaa.”

Wonwoo memutar bola matanya malas. Biasa.

“Sudah tenang saja, ada aku. Ayo!”

Wonwoo dengan cepat mengapit lengan Soonyoung menggunakan lengannya sebelum lelaki itu sempat memberontak lagi.

“Huaaaa dia bangun! Dia mendekat! Woah, woah!”

Soonyoung ambruk di dekat kaki Wonwoo. Sambil menutup wajahnya menggunakan kedua tangan ia meringkuk mendekati sang karib. Tidak mau. Soonyoung tidak mau membayangkan sosok yang barusan itu. Walaupun cuma hantu jadi-jadian tapi cukup seram untuk membuat kaki Soonyoung lemas. Bayangkan saja, rambut acak-acakan, tubuh berlumuran darah, dan wajah gelap dengan satu mata menonjol sementara yang satunya lagi menggantung seperti mau copot. Uhh, rasanya Soonyoung mau muntah.

“Soon, bangunlah.”

Soonyoung menggeleng dan malah semakin menangis.

“Aku mau keluar saja.”

Wonwoo ikut berjongkok, “Kalau kau mau keluar, selesaikan permainan ini.”

“Tidak mau. Aku takut. Yang paling seram itu tadi mendekat, Won.”

Wonwoo tertawa terpingkal-pingkal. Ia mengelap dua bulir air mata di sudut matanya sebelum kembali berkata,

“Kau lupa sedang bersama siapa kau sekarang?”

Buk buk, Wonwoo menepuk dada kerempengnya dengan keras, membuat Soonyoung sedikit menutup matanya kala mendengar bunyinya. Takut kalau-kalau badan kurus itu akan remuk kapan saja.

“Aku, Jeon Wonwoo. Jagonya permainan rumah hantu.”

Sebenarnya Soonyoung bisa saja tertawa melihat tingkah sahabatnya yang satu itu––ayolah, siapa yang tidak akan tertawa melihat Jeon Wonwoo membanggakan dirinya sendiri, sesuatu yang terbilang jarang dilakukan lelaki itu––tapi agaknya suasana sekarang kurang mendukung untuk beradegan lucu.

“Cepatlah! Selama ada Jeon Wonwoo yang tampan dan berani ini, kau akan aman, hehe.”

Tahan, Soonyoung, tahan, tidak boleh mengatai. Pria yang sedang nyengir lebar dengan tingkat kepercayaan diri tinggi itu adalah sahabatmu. Hidup dan matimu berada di tangannya sekarang.

Akhirnya, Soonyoung memberanikan diri untuk bangkit. Sambil memegangi bahu Wonwoo, ia mulai berjalan pelan dengan Wonwoo yang berada di depan sebagai tamengnya.

“Loh? Bukankah dia yang tadi mendekat kemari? kenapa dia jongkok lagi?”

Wonwoo tersenyum bangga ke arah Soonyoung, “Karena ada Master Wonwoo di sini, makanya dia takut.”

“Cih.”

Berita besar! Untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupan Kwon Soonyoung, dirinya berhasil menyelesaikan permainan rumah hantu dengan mulus. Tanpa teriakan dan juga tanpa rengekan––yah, itu semua berkat Wonwoo. Rasa lega dan bangga terselip di lubuk hatinya ketika keluar dari rumah hantu. Oh, bahkan ia tak menyangka kalau ia masih bisa tersenyum setelah berjalan meninggalkan wahana menyebalkan itu.

“Oke, untuk merayakan keberanianmu, ayo kita naik itu.”

Senyum Soonyoung luntur sedetik setelah menoleh ke samping. Sebuah kapal bajak laut yang berukuran sangat besar terlihat berayun ke depan dan belakang dengan menggebu-gebu. Haaah, apa lagi itu, Ya Tuhan?

“Hei, ekspresi macam apa itu? Haha, tidak usah takut.” Ucap Wonwoo seraya merangkul pundak Soonyoung dan menggiringnya mendekati wahana itu.

“Won, tunggu, Won.”

-oOo-

Wonwoo menggigit permen kapasnya sedikit dan mengunyahnya perlahan. Kalau boleh berkata jujur, sebenarnya ia tidak terlalu menyukai makanan manis. Tetapi, berhubung Soonyoung yang membelikan ini, ia harus menghargainya. Dasar Kwon Soonyoung, dia yang kalah dan harus traktir, dia juga yang memilih mau membelikan apa.

Akhir bulan, dompetku menipis, katanya.

Cukup, giginya tak tahan lagi. Diletakannya sebungkus besar permen kapas itu di ruang kosong di sampingnya, menggantikan segelas kopi susu yang sedari tadi teronggok di sana. Dengan rasa hangat dari gelas kopi yang menjalar ke telapak tangannya, Wonwoo membuang pandangannya ke luar jendela. Menikmati pemandangan malam kota Seoul seraya menyeruput kopi susunya.

Aish, Jeon Wonwoo….”

Mendengar namanya disebut, pemuda itu menoleh ke depan. Kekehannya kembali terdengar saat mendapati sang kawan masih tertunduk lemas sambil meracau tidak jelas––walau sudah 7 menit berlalu.

“Ayolah, Soon. Apa masih mual?”

Soonyoung mengangguk. Mari berpikir, siapa yang patut disalahkan di sini? Wonwoo yang menyukai wahana ekstrem? Atau Soonyoung yang terlalu lemah?

“Hehe, maaf, ya.” Namun tetap saja, Wonwoo yang meminta maaf.

Yah, dipikir bagaimana pun semua ini gara-gara Wonwoo kan? Dirinya yang mengajak Soonyoung naik kapal bajak laut bergoyang itu. Mau berapa kali Soonyoung berontak, ia tetap menarik tangan Soonyoung untuk menaikinya. Bahkan, saat Soonyoung berteriak ketakutan di atas sana sambil mengangkat tangannya tanda menyerah, Wonwoo seolah tuli dan malah berteriak kegirangan di samping temannya yang malang itu.

“Bagaimana kabarmu?”

Soonyoung tidak langsung menjawab. Dari sudut bianglala ini, Wonwoo bisa melihat sahabatnya duduk termenung di seberangnya sambil menatap gemerlap lampu-lampu di luar.

“Masih mual.” Lirih Soonyoung.

“Bukan itu maksudku. Bagaimana kabarmu sebulan terakhir ini?”

Kini fokus Soonyoung terkunci sepenuhnya pada Wonwoo.

“Apa kau tidur dengan nyenyak? Apa kau makan teratur?”

Soonyoung tertawa sambil setengah mendengus, “Ada apa ini? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?”

Wonwoo mengedikkan bahunya seraya tersenyum menatap langit-langit besi, “Hanya sedikit merasa bersalah… dan rindu.”

Sadar akan tatapan bingung Soonyoung, lelaki itu melanjutkan, “Kau tahu kan, akhir-akhir ini tugas sekolah kita sungguh menyebalkan. Datang berkeroyok tanpa memberi celah untuk istirahat. Apalagi, klub menggambar yang kupimpin sedang disibukkan dengan persiapan pameran,”

Ya, Soonyoung tahu itu. Bahkan ia sudah tidak tidur beberapa hari gara-gara harus menyelesaikan semua tugas sekolahnya. Dan sekarang, ia tak tahan untuk merutuki dirinya sendiri yang sempat mengeluh atas itu semua. Karena seseorang yang pemalas dan cuma tahu main sepertinya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Wonwoo yang seorang ketua klub menggambar sekaligus anggota penting dalam beberapa organisasi sekolah. Itu berarti, Wonwoo jauh lebih menderita dari dirinya dalam menghadapi semua kesibukan itu. Tiba-tiba ia merasa tidak enak. Pantas saja Soonyoung jarang melihat Wonwoo berada di kelas belakangan ini.

“untuk mengurus diriku saja aku kewalahan, apalagi memberi kabar padamu. Jadi… maaf.”

Maaf karena jarang membalas pesanmu.

Maaf karena tidak pernah bermain denganmu lagi.

Maaf untuk semuanya.

Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Selagi menikmati waktu yang bergulir, Wonwoo memainkan jari-jemarinya di atas pangkuan. Kepalanya menunduk dalam memperhatikan sepatu putih yang ia kenakan. Baru setelah Soonyoung membuka suara, atensi Wonwoo teralihkan.

“Apa terjadi sesuatu?”

Wonwoo tersenyum simpul menanggapinya.

“Tidak ada.”

Soonyoung berdecak, “Hei, aku mengenalmu sejak taman kanak-kanak. Sekarang katakan, apa kau sedang ada masalah?”

“Kenapa kau berpikir begitu?”

“Karena aku mengenalmu lebih dari siapa pun.”

Tercenung. Wonwoo bungkam. Namun, tak lama kemudian, senyum manis menghiasi wajah tampannya.

“Haha, kau memang sahabatku.”

Soonyoung hanya diam. Ia masih menunggu jawaban atas pertanyaannya. Tatapan matanya yang menusuk membuat Wonwoo akhirnya menyerah.

“Baiklah, baiklah,” Pemuda itu menghela napas sejenak, “sebenarnya, aku akan pindah.”

“Kemana?”

“Ada deh.”

Soonyoung hampir melayangkan pukulannya namun urung.

“Sudah berani main rahasia-rahasiaan, huh?”

Wonwoo hanya tertawa pelan, “Aku akan pindah ke tempat yang jauh, Soonyoung. Sangat jauh.” Netra pekat pemuda itu menerawang ke arah langit yang terlihat cerah malam ini, “Aku khawatir tidak bisa kembali ke sini untuk menengokmu, makanya––”

“Makanya kau mengajakku ke taman bermain, untuk menghabiskan sisa waktumu sebelum kau pergi?”

Wonwoo tersenyum lembut. Ya, benar. Semua yang dikatakan Soonyoung itu benar adanya.

“Kau sendiri atau seluruh keluargamu juga ikut?”

“Tidak, hanya aku sendiri.”

Tepat pukul delapan malam, mereka turun dari bianglala. Keduanya melangkah keluar dari taman bermain itu dan menuju halte bus. Tak seperti Soonyoung yang biasanya selalu melontarkan lelucon dan Wonwoo yang akan tertawa terbahak walau lelucon Soonyoung kadang terdengar garing, kedua pemuda itu kini bungkam. Bahkan mereka mengambil tempat duduk paling ujung di dalam bus dan menciptakan jarak yang cukup lebar di antara keduanya.

Bus berhenti di halte ketiga saat Soonyoung dan Wonwoo memutuskan untuk turun dan mulai berjalan kaki menuju rumah.

“Hei, senang kan bisa bermain denganku?”

Wonwoo menyenggol lengan Soonyoung yang berdiri satu jengkal di samping kanannya. Jujur saja, ia tidak tahan dengan suasana sepi seperti tadi.

“Tidak.”

Wonwoo berjengit dan langsung menatap Soonyoung kaget, “Kenapa? Kita sudah satu bulan tidak menghabiskan waktu bersama. Apa kau tidak rindu padaku?”

Soonyoung menghentikan langkahnya kasar lalu berbalik menatap Wonwoo sambil mengerang frustasi, “Tentu saja aku rindu,” kepalanya kemudian tertunduk, “tapi, mana mungkin aku bisa senang setelah mengetahui alasanmu melakukan semua ini.”

Walaupun pelan, Wonwoo tetap masih bisa mendengarnya. Ia tersenyum lagi. Merangkul bahu sahabatnya dan menuntunnya untuk kembali berjalan di sampingnya.

“Maaf ya jika terlalu mendadak.”

“Kalau kau pindah nanti aku sama siapa?” Soonyoung semakin berani mengeluarkan keluh kesahnya.

“Kan masih ada Dokyeom, Mingyu, dan yang lainnya. Mereka juga teman kita, Soon.”

“Tapi teman dekatku hanya kau! Kita sudah bersama selama empat belas tahun, tahu.”

Ya, selama itu, dan Wonwoo baru menyadari jika Soonyoung cerewet sekali kalau sedang merajuk.

“Dengar ya, mulai sekarang kau harus bisa tanpa aku.”

Soonyoung masih cemberut.

“Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup, pokoknya jangan sampai sakit. Berbaikanlah dengan Paman Jung dan bayar hutang-hutangmu di warung ramyun miliknya. Dan terakhir, berhentilah membuat onar dengan Pak Guru Ahn, kasihan dia sudah tua.”

“Ya, ya, ya, kau tidak usah khawatir. Lagipula, kenapa sih kau harus pindah?”

“Kalau aku bilang ini adalah suratan takdir, bagaimana?” Wonwoo menunjukkan cengiran khasnya.

“Cih, sok puitis.” Jawab Soonyoung sambil memalingkan wajah.

Mereka berpisah di pertigaan setelah sebelumnya sempat memberikan sebuah pelukan selamat tinggal. Kini Soonyoung berusaha menggapai rumahnya dengan langkah gontai. Ia tak tahu akan seperti apa hidupnya tanpa Jeon Wonwoo. Secara, Wonwoo lah yang selalu mengurusnya selama ini. Mengingatkan Soonyoung makan, membantunya mengerjakan tugas sekolah, dan membimbing lelaki itu untuk senantiasa rapi dan disiplin. Bahkan, menurut Soonyoung, Wonwoo adalah ibu kedua baginya.

“Aku pulang.”

Baru saja Soonyoung membuka pintu, ibunya sudah mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.

“Kau ini dari mana saja? Kenapa baru pulang?”

“Aku habis main dengan Wonwoo, Bu.”

Wajah ibunya seketika menegang. Kenapa? Ada yang salah?

“Jangan bercanda!”

Hah? Aku serius kok, batin Soonyoung.

“Oh, ada apa dengan ponselmu? Ibu sudah menelponmu puluhan kali kenapa tidak diangkat?”

Menelpon? Soonyoung buru-buru mengambil ponselnya yang tersimpan di saku belakang celana jeansnya lalu memeriksa pemberitahuan. Tidak ada. Tidak ada panggilan masuk dari siapapun.

“Ibu tidak menelpon kok.” Ujarnya seraya memperlihatkan layar ponselnya ke depan wajah sang ibu.

“Ya! Kwon Soonyoung! Cepatlah bersiap!”

Soonyoung menoleh dan mendapati kakak perempuannya yang berbalut dress hitam selutut sedang berdiri sambil berkacak pinggang.

“Loh? Kak Soonah? Kukira kakak pulang lusa?”

Kakaknya menggeram tertahan, “Aku pulang lebih awal juga karena kau, bodoh.”

Eh? Kenapa dia marah?

Soonyoung menatap bingung kakaknya yang berjalan ke luar rumah bersama Sohee. Tak lama kemudian, terdengar suara mesin mobil yang dinyalakan dari pekarangan. Sepertinya ayahnya sedang memanaskan mesin. Hm, kalau dilihat-lihat, ibunya juga sudah berpakaian rapi. Apa mereka semua mau pergi? Kemana?

“Ibu, sebenarnya ada apa? Kita mau pergi kemana?”

Ibunya menghela napas. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, wanita paruh baya itu memberikan ponsel putih miliknya kepada Soonyoung kemudian berjalan melewatinya.

Kendati bingung, Soonyoung segera memeriksa ponsel ibunya. Sebuah ruang obrolan yang terbuka terpampang jelas di layar.

Mata Soonyoung membulat sempurna,

“Tidak mungkin….”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

From: Kim Mingyu
[12.43 pm]

Selamat siang, Bibi, ini Mingyu teman Soonyoung. Apakah Soonyoung sedang bersama bibi? Jika iya, tolong sampaikan padanya bahwa siang tadi, tepat pukul dua belas, Wonwoo meninggal dunia di Rumah Sakit Seoul. Sepertinya akibat jadwal yang padat akhir-ahir ini, penyakitnya jadi kambuh karena kelelahan. Aku sudah mencoba menelpon Soonyoung berkali-kali, tetapi ia tidak bisa dihubungi. Jadi, kuharap bibi bisa menyampaikan berita ini padanya. Terima kasih.

 

 

 

fin.

[CHAPTER 2] WHISPER OF THE WIND

Scripwriter : chioneexo | Duration : Chaptered [part 2] | Cast: Nakamoto Yuta, Dong Sicheng (Winwin), Takuya Terada [Cross Gene] | Rating : PG-17 | Genre : Historical/War

TEASER // CHAPTER 1 

Lanjutkan membaca [CHAPTER 2] WHISPER OF THE WIND

[Deep Slumber] Come Take My Hand

LDS, 2018

[97-line] ASTRO Cha Eunwoo x the bronze-haired guardian

Romance, Dark, Fantasy // Ficlet // Teen and Up

Jihyo ll Junhoe ll Roa ll Rosé

.

[Introduction] ‘Deep Slumber’ adalah seri fiksi fantasi gelap yang memasangkan tokoh utama dengan karakter lawan jenis yang dirahasiakan namanya. Setiap cerita disajikan dalam dua sudut pandang: pria dan wanita. Pasangan tokoh akan terungkap jika dua versi cerita sudah dipublikasikan. Judul diambil dari potongan lirik lagu-lagu K-Pop bertema fantasi gelap.


Dalam pekatnya kegelapan, nyawa Cha Eunwoo berayun di antara suara lirih yang memintanya bangun dan rasa nyeri yang menusuk perut. Lanjutkan membaca [Deep Slumber] Come Take My Hand

Saat Sore

Artwork and Story by Charon Ly

Starring by Jeon Wonwoo [Seventeen]

Sore kembali datang. Menjumpainya adalah kebahagianku. Sederhana saja. Ketika sore datang artinya waktuku di sekolah sudah selesai. Kecuali, sabtu dan minggu aku mencintai sore dengan segala penampakannya.

Lanjutkan membaca Saat Sore

[Deep Slumber] The Deepening Red Ocean

LDS, 2018

[97-line] iKON Junhoe x his lover

Romance, Dark, Fantasy // Ficlet // Teen and Up

.

[Introduction] ‘Deep Slumber’ adalah seri fiksi fantasi gelap yang memasangkan tokoh utama dengan karakter lawan jenis yang dirahasiakan namanya. Setiap cerita disajikan dalam dua sudut pandang: pria dan wanita. Pasangan tokoh akan terungkap jika dua versi cerita sudah dipublikasikan. Judul diambil dari potongan lirik lagu-lagu K-Pop bertema fantasi gelap.


Dalam pekatnya kegelapan, Junhoe mencium bau anyir yang menggelisahkan kelenjar liurnya. Lanjutkan membaca [Deep Slumber] The Deepening Red Ocean

[SONG-FIC] Sad Movies

20180518_202538_0001.png

Sad Movies

A story by Elisomnia

Adapted by Sue Thompson – Sad Movies

|| Cast: [JYP’s] Jeon Somi, [NCT’s] Lucas Wong | Genre: AU, Hurt, Life, Sad | Rating: G | Duration: Ficlet ||

.

.

“Sad movies make me cry….”

.

.

.

“Maaf, aku ada lembur malam ini.”

Pip

Lucas menyebalkan. Bisa-bisanya mengatakan hal itu di saat aku sudah siap dengan dress cokelat selututku. Berjam-jam memoles bedak dan gincu terasa sia-sia sekarang. Yah, aku tidak bisa menyalahkan pekerjaannya. Tapi, tidak bisakah dia mengatakannya jauh-jauh hari? Sehingga aku tidak harus duduk termenung dengan perasaan dongkol seperti ini. Bayangkan sudah berapa kali ia membatalkan kencan kami secara sepihak.

Kuatlah Jeon Somi, kau tak boleh terlarut dalam amarah dan kesedihan. Toh, dia bekerja keras begitu juga untukmu––katanya sih. Baiklah, selama aku yang memegang tiketnya aku akan menghabiskan waktu semalaman penuh untuk bersenang-senang.

“Finding Dory aku datang!”

He said he had to work so I went to the show alone

Wah, ini benar-benar hebat. Sekotak besar berondong jagung dan minuman soda berada dalam pelukanku. Membuatku sedikit kesulitan saat akan memasuki gedung bioskop. Biasanya, saat aku sedang kesulitan seperti ini Lucas dengan sigap akan mengambil alih semua yang ada di tanganku sambil berkata dengan lembut,

“Biar aku yang bawa. Tangan perempuanku tidak boleh merasa sakit.”

Sial! aku jadi rindu lelaki itu. Apa tidak apa-apa ya aku menonton filmnya sendirian? Bagaimana pun juga tiket ini kan dia yang beli. Ah sudahlah, tidak usah dipikirkan. Lagipula akan jadi mubazir sekali jika tidak digunakan.

“Ahaha… menggelikan.”

Aku sampai tersedak air liurku sendiri melihat iklan barusan. Sebuah trailer film yang menampakan sosok cebol-cebol kuning dengan berbagai bentuk dan berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Beberapa di antaranya kadang membuat tingkah bodoh yang membuatku semakin gemas dan ingin meninju kepala kuning itu.

Ruangan menjadi semakin gelap dari sebelumnya. Oh tidak, filmnya sudah mau mulai. Akhirnya aku akan menonton film yang sudah seminggu ini kunantikan. Aku benar-benar tidak dapat menyembunyikan senyumku di bali––

Eh?

And just as the news of the world started to begin, I saw my darling and my bestfriend walk in

Itu… Lucas kan? Apa yang dia lakukan di sini bersama… What?! Hyemi?!

Seseorang yang beberapa jam lalu bilang ada kerja lembur sekarang sedang duduk di depanku bersama sahabatku sendiri. Ada apa ini? Ada apa dengan mereka? Oh ayolah otak mungil, kenapa kau diam saja? Pikirkan kemungkinan mereka datang kemari bersama!

Hello I’m Dory…

Perduli setan dengan Dory dan kawan-kawannya yang mengoceh lewat layar lebar di depan sana. Fokusku kini terpusat sepenuhnya pada lelakiku dan… bagaimana aku harus menyebutnya? Simpanannya?

Hhh, mereka bahkan tidak sadar jika sedang kuperhatikan dari tadi.

Heh! Tunggu! Apa?!

Chu~

When he kiss her lips I almost die ♫

Tadi itu… apa?

Aku tidak salah lihat kan?

Lelakiku mencium sahabatku.

Hangat. Pipiku hangat. Sial! aku menangis.

And in the middle of color cartoon I started to cry

Aw, ada apa denganmu?”

“Minggirlah! Kau menutupi layarnya.”

Aw, tolong kembalilah ke tempat dudukmu.”

Maaf ya para penonton, tapi gadis Jeon di depan kalian ini sedang patah hati. Jadi, tolong beri aku jalan untuk keluar dari neraka kecil ini.

“Maaf, Nona, Anda tidak boleh meninggalkan teater sebelum filmnya selesai.”

“Tapi jika aku tidak pergi, hidupku yang akan selesai.”

Maaf juga kakak petugas bioskop, maaf karena telah mneyenggol bahumu sedikit keras saat mencoba keluar, itu karena aku sudah tidak tahan lagi.

And so I got up and slowly walk on home

Sudah pukul sembilan lewat ketika aku berjalan menyusuri jalan rumahku. Sedikit dingin dan sepi di sini. Ouh, biasanya saat aku menggigil seperti ini Lucas akan memberikan jaketnya padaku. Eh? Kenapa kau malah memikirkan si buaya itu, Jeon Somi?! Sadarlah!

Lelaki seperti itu tidak pantas mendapatkan cintamu, bahkan tidak pantas untuk dicintai. Jadi, berhentilah menangisi si brengsek itu, Somi cengeng.

Argh! Aku masih tidak habis pikir. Jadi kerja lemburnya selama ini adalah bermain di belakangku? Dengan Hyemi, sahabat yang bahkan sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Oh, bagus sekali. Lalu apa maksudnya aku bekerja keras untukmu? Dasar mulut sampah!

Oh Tuhan, tolonglah, air mataku tidak mau berhenti. Rasanya juga sulit untuk bernapas. Benar-benar Lucas Wong sialan!

“Sayang, ada apa denganmu?”

And mama saw the tears and said what’s wrong

Aduh, ibu?

Sepertinya aku terlalu asyik menangis hingga tidak sadar jika sudah sampai di pelataran rumah. Ibu yang sedang menyusun bunga anggreknya di taman melihatku pulang dengan mata sembab dan pipi basah. Bagaimana ini? Aku harus bilang apa?

“Kau kenapa?”

Ibu buru-buru menghampiriku dengan raut khawatir. Beberapa pot di dekat kakinya sampai oleng karena tertendang ibu. Untung saja potnya kosong.

what’s wrong, Somi-ya?”

And so to keep from telling her a lie

“Hm, a-aku….”

I just said,

…sad movies make me cry, mom.

 

 

 

fin.

hello, elis back!

setelah sekian lama menyelami kesibukan yang tiada berujung akhirnya elis comeback juga ya hehe. miss me? /gak

apa kabar semua? gimana puasanya, lancar? hamdalah. oh iya, ada yang tahu lagu Sad Movies ini? haha, mungkin jarang ya karena memang ini lagu barat lawas yang mana elis tau juga dari guru English Club elis dulu. beliau bilang ini lagu jaman ibunya beliau masih muda /nahloh selawas apakah lagu ini. walaupun lawas tapi beneran enak dan ngena banget liriknya, coba deh dengerin.

elis juga mau ngasih tau nih, kalo sekarang elis punya wattpad yuhuu~ boleh yuk mampir di wp elis, @elisomnia

[Deep Slumber] I’d Died, but I Opened My Eyes

LDS, 2018

[97-line] BLACKPINK Rosé x a crown prince

Romance, Dark, Fantasy // Ficlet // Teen and Up

.

[Introduction] ‘Deep Slumber’ adalah seri fiksi fantasi gelap yang memasangkan tokoh utama dengan karakter lawan jenis yang dirahasiakan namanya. Setiap cerita disajikan dalam dua sudut pandang: pria dan wanita. Pasangan tokoh akan terungkap jika dua versi cerita sudah dipublikasikan. Judul diambil dari potongan lirik lagu-lagu K-Pop bertema fantasi gelap.


Dalam pekatnya kegelapan, nyawa Rosé dibelenggu napas yang tinggal setengah. Lanjutkan membaca [Deep Slumber] I’d Died, but I Opened My Eyes

[Oneshot] Tattered Pieces

LDS, 2018

DIA Chaeyeon x SEVENTEEN Mingyu

Surrealism, Romance, Hurt/Comfort // Oneshot (3,6K+ words) // Teen and Up // a retouch from 2015 unpublished fic

.

Ada sejarah di balik ukuran jantung Chaeyeon yang sekarang. Mingyu jadi salah satu pihak yang terlibat banyak di sana.

***

Lanjutkan membaca [Oneshot] Tattered Pieces

[Twelveblossom] Dear Husband: The Day When I Meet You

DS3lwmGVMAAf7lx

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | Sehun, Nara, Liv, dan Chanyeol | Romance, Marriage Life & Friendship | Wattpad: twelveblossom | Line@ @NYC8880L

“Aku bertemu denganmu tanpa rasa curiga, jika nantinyasuatu hari nantikamu benar-benar akan melukai hatiku.” Jung Nara

Lanjutkan membaca [Twelveblossom] Dear Husband: The Day When I Meet You

[Deep Slumber] I Got You Wrapped on My Finger

LDS, 2017

[97-line] PRISTIN Roa x her husband

Romance, Dark, Fantasy // Ficlet // Teen and Up

.

[Introduction] ‘Deep Slumber’ adalah seri fiksi fantasi gelap yang memasangkan tokoh utama dengan karakter lawan jenis yang dirahasiakan namanya. Setiap cerita disajikan dalam dua sudut pandang: pria dan wanita. Pasangan tokoh akan terungkap jika dua versi cerita sudah dipublikasikan. Judul diambil dari potongan lirik lagu-lagu K-Pop bertema fantasi gelap.


Dalam pekatnya kegelapan, malam pengantin Roa bersimbah darah dan memburaikan daging.

Lanjutkan membaca [Deep Slumber] I Got You Wrapped on My Finger

[Deep Slumber] I See You Through The Moon

LDS, 2017

[97-line] TWICE Jihyo x an unnamed dancer

Romance, Dark, Fantasy // Ficlet // Teen and Up

.

[Introduction] ‘Deep Slumber’ adalah seri fiksi fantasi gelap yang memasangkan tokoh utama dengan karakter lawan jenis yang dirahasiakan namanya. Setiap cerita disajikan dalam dua sudut pandang: pria dan wanita. Pasangan tokoh akan terungkap jika dua versi cerita sudah dipublikasikan. Judul diambil dari potongan lirik lagu-lagu K-Pop bertema fantasi gelap.


Dalam pekatnya kegelapan, seuntai isak lirih mengguncang kuat jiwa Jihyo. Lanjutkan membaca [Deep Slumber] I See You Through The Moon

%d blogger menyukai ini: