[Vignette] Démence

By3TSZICcAE6YTX

Démence

.

starring iKON’s Hanbin (B.I) & OC’s Ai

also iKON’s Jinhwan

.

Vignette // PG-13 // Life, sad, family, hurt/comfort and other things dat fit this pointless ficTT

.

.

summary

Sepucuk surat itu kini terlipat rapi di bawah telapak Hanbin yang sudah beristirahat dengan tenang di dalam peti hitam, dengan sebuah teleskop dan lollipop berbentuk hati.

***

Esensinya memang tidak kasat mata, Namun Ai selalu terlihat memasuki ruangan itu setiap sore. Tangan kirinya menggandeng gitar akustik Legacy seperti berpuluh yaum sebelumnya. Rautnya memancarkan seberkas harapan yang klise kala bibir mungilnya mengucap nama yang sama acap kali dilihatnya siluet pria itu memandang keluar jendela.

 .

“Kim Hanbin,” sebutnya.

Hanbin masih mengenakan setelan biru rumah sakit, duduk di atas seliri reyot yang nyaris hancur dimakan rayap. Kamar tiga kali empat meter itu hanya digunakan setengahnya. Sisanya, kosong. Jendela adalah satu-satunya mata ketiga Hanbin melihat dunia. Tanpa mampu memijak tanah dengan flip shoes usang miliknya.

Ai menutup pintu pelan-pelan, berusaha tidak membisikkan apapun ke indra pendengaran Hanbin yang nampak tak berminat menjawab sapaan darinya. Lalu, iris Ai kembali menemukan sorot pandang yang kosong itu. Hanbin bersama mulutnya yang terkatup dan matanya yang sayu. Harapan Ai mungkin sudah hilang, namun hatinya tersenyum kecil mendapati Hanbin masih berkedip. Mendapati Hanbin masih dapat menggunakan sepasang paru-parunya dengan baik.

 .

“Hanbin,” panggil Ai lagi. “Maukah kau mendengar nyanyian Ai?” Hanbin enggan mengerling ke arahnya, tetapi Ai tetap mengeluarkan gitarnya.

 Ai mulai bernyanyi. Jemarinya dengan lihai bermain bersama senar gitar yang sudah berkarat. Alih-alih menenangkan, lirik lagu itu malah mengundang air matanya untuk jatuh. Ai terus bernyanyi meski ekspresi Hanbin masih sekeras batu cadas.

 .

***

 .

“Hujan, Hanbin.”

Malam sudah larut disaat hujan mulai turun membasahi permukaan kota. Ai menjulurkan sedikit tangannya keluar, membiarkan ujung tangannya dibasahi air. Hanbin juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua sama-sama menyukai hujan. Langit penuh dengan awan kelam, bulan tidak terlihat, dan dingin mulai merayap masuk.

Ai sudah menarik tangannya kembali, namun tidak dengan Hanbin. Hanbin terus menilik genangan air di tangannya. Ujung lengan atasannya pun mulai basah.

 .

“Kau tidak kedinginan, Hanbin?” Hanbin tidak menjawab.

Ai menghela napas, pasrah dan putus asa. Ia memaksa kedua sudut bibirnya untuk terus terangkat meski tahu Hanbin tidak akan pernah melihatnya.

 .

“Oh ya, Hanbin, Ai lupa membelikanmu makanan.”

Satu lagi kebiasaan Ai, ia selalu membawakan Hanbin sekotak makanan ketika datang. Ai akan meletakkan kotak tersebut di atas kasur sebelum pergi, dan menemukan kotak itu kosong keesokan harinya. Untuk hari ini, Ai bukannya lupa membelikan Hanbin makanan—tapi Ai lupa membawa dompet.

 .

“Ai pulang dulu,” Ai berdiri sembari mengangkat tas gitarnya. “Nanti Ai kembali membawakanmu makanan, ya.”

 .

“NAI!” itu bukan suara Ai. “Kenapa Nai tidak mau menemani Hanbin bermain hujan?” Tiba-tiba, sulit sekali bagi Ai untuk pergi kala suara rinai hujan berkecamuk di benaknya.

Alih-alih kembali dan melihat Hanbin yang vokalnya membelah hujan, Ai membanting pintu dan terduduk. Bukan karena ia lelah atau apa. Tapi karena air matanya kini sudah beranak-pinak.

 .

***

 .

Hari itu hujan lagi. Ai membawa makanan Hanbin susah payah sembari berjalan di bawah kanopi yang sesekali berlubang. Kemudian, seseorang menghalangi jalannya tanpa sempat Ai menghentikan kaki.

 .

“Astaga!” dahi Ai bisa saja mencium lumpur jika sosok itu tidak menariknya untuk kembali tegak. Ai mendongak.

Hanbin, sudah melepas tangannya dari pergelangan tangan Ai. Dia menelusuri sisa jalan di belakang Ai tanpa mengindahkan perban kepalanya yang sudah nyaris turun karena terkena air. Hanbin dengan sebelah lengannya yang membentuk siku. Tangannya mengepal dengan ibu jari terangkat sedikit, menimbulkan beberapa pertanyaan di kepala Ai sepersekian detik berikutnya—apa yang Hanbin lakukan di sini? Bagaimana cara Hanbin bisa berada di sini? Mengapa tangan Hanbin terangkat seperti itu?

 .

“H-hanbin….” Bola mata Hanbin nyatanya masih mengagumi kubangan air di bawah mereka. “Ayo kita ke atas.”

 .

“Nai,” Ai yang sudah menarik piyama kusam Hanbin, mendadak memejamkan matanya. Membiarkan Hanbin bermonolog. “Hari sudah cerah, Nai. Kenapa tidak mau menemani Hanbin bermain?”

 .

“Kim Hanbin.. ayolah.” Rasanya, Ai ingin menggigiti bibirnya sampai berdarah.

“Ini untuk Nai.” Hanbin mengulurkan tangannya untuk udara hampa. “Maafkan Hanbin, ya?”

Paru-paru Ai terasa sesak sekali melihat seulas senyum tipis di wajah Hanbin. Ia mundur beberapa langkah, menggapai kepalan tangan Hanbin, kemudian menarik tangannya kembali—seolah mengambil apapun itu yang ada di tangan Hanbin.

 .

“Terima kasih, Hanbin. Bisa kita pulang sekarang?”

 .

“Oh, lihat! Nai! Bintangnya banyak!! Mana teleskopku, Nai?” Kembali, Hanbin berbicara seolah-olah ada orang lain selain Ai di sampingnya. Telunjuknya kini mengarah ke langit kelam, langit yang menemani air mata Ai pecah.

Ai ikut melihat arah tunjuk Hanbin. Otaknya mendadak sekeruh air kubangan yang dipijak Hanbin saat ini. Kemudian ia berkata, “Hanbin, Ai mau menemanimu melihat bintang.”

Tapi Hanbin sudah lebih dulu berlari menembus hujan.

 .

***

 .

Hanbin masuk rumah sakit setelah kepalanya terbentur tiang. Terdengar konyol, memang. Namun itu semua tidak sekonyol yang kalian bayangkan.

Ai sampai tidak bisa menangis lagi. Matanya dikelilingi warna hitam yang sekilas terlihat cukup mengerikan. Handphone-nya sudah berdering lebih dari tujuh kali, dan Ai sama sekali ingin mengabaikannya. Jadilah ia sendirian malam itu di lorong rumah sakit dengan ringtone yang sesekali berbunyi nyaring.

Lalu, sepasang Toms yang hadir memenuhi retinanya membuat Ai mengangkat kepala.

 .

“Jinhwan..”
.

What are you doing here?”

Ai sudah membuka mulutnya, akan tetapi cara Jinhwan menatapnya sungguh membuat nyali Ai menciut.

 .

“Hanbin? He’s here?” Ai hanya mengangguk.

 .

“Ada apa dengannya? Apa—“

 .

“Kepalanya terbentur tiang.”

 .

“Oh..” Jinhwan terbelalak. “Maksudku, bagaimana..?”

 .

“Sudahlah, Jinhwan.” Ai mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Jinhwan. “Tidak usah berpikir macam-macam. Kau? Apa yang kau lakukan di sini?”

 .

“Aku terkena HIV, ternyata.” Jinhwan mengatakannya dengan kedua punggung tangan tersimpan rapi di balik saku. Seolah yang diucapkannya barusan adalah kehilangan dua keping uang logam.

Ai sudah menduga. Saudaranya yang satu itu memang sudah seharusnya mendapat ganjaran akibat perilakunya selama ini yang begitu buruk—tidak jauh-jauh dari Hanbin. namun Ai tidak menyangka kalau Jinhwan terkena HIV.

 .

“Selamat.”

 .

“Masalahnya..”

 .

“Apa? Kau mau menghubung-hubungkannya dengan Hanbin lagi?” Ai menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kumohon, Jinhwan. Setidaknya Hanbin lebih baik darimu.”

 .

“HIV itu berasal dari jarum suntik yang Hanbin juga gunakan, Ai.”

Ai ingin berpura-pura tidak mengerti. Tapi Jinhwan memeluknya, dengan sengaja membuatnya menangis lagi. Ia melirik sebentar pintu ruangan Hanbin, kemudian membalas pelukan Jinhwan tak kalah erat. Sungguh, dunia begitu kejam pada keluarganya. Keluarga kecil tanpa sepasang orang tua. Ai yang normal, Jinhwan yang penggila drugs, dan, Hanbin.

 .

***

 .

Ai tidak tahu bagaimama cara menghadapi sifat Jinhwan yang begitu aneh.

Jinhwan yang susah dinasehati, tidak bisa diam, dan segala sifat buruk lainnya, menjadi satu dalam jiwanya. Menjadikan Jinhwan seorang anak yang ‘tidak bisa’ hidup dengan rangkulan orang lain. Karena itulah Jinhwan sudah memisahkan diri dari Ai sejak tiga tahun lalu. Dan, ini adalah kali pertama Ai melihat Jinhwan setelah tiga tahun yang entah mengapa terasa pendek baginya itu.

 .

“Aku.. masih tidak mengerti.” Jinhwan menoleh, menatap Ai penuh iba.

Rasa bersalahnya muncul tiba-tiba tatkala sudut mata Ai yang begitu kecil mulai mengeluarkan air.

 .

“Hanbin pernah memakai narkoba.”

 .

“Kau yang mengajaknya?”

 .

“Ya.” Ucap Jinhwan, nyaris seperti berbisik. “Sebelum demen—“

 .

“Sudahlah.” Ai memotong. Ia mengusap kedua matanya kasar, benci pada dirinya sendiri yang beberapa hari terakhir sangat mudah menangis. “Jarum suntik itu..?”

 .

“Milik temanku, sudah mati. Aku yang menggunakannya sebelum Hanbin.” Jinhwan mulai bercerita. “Aku.. aku hanya menyuntikannya sedikit. Kemudian aku memaksa Hanbin memakainya. Bedanya, Hanbin tidak merasa kecanduan setelah itu. Kalau aku, sih, memang sudah.. yah, kau tahu.”

 .

“Ingat, Jinhwan. Aku tidak akan mendatangi pemakamanmu ketika kau mati nanti.” Jinhwan mengedikkan bahu singkat.

 .

“Aku tidak memaksamu.” Lekas, Jinhwan dan Ai serempak menoleh ketika pintu di samping mereka berdua terbuka.

Seorang dokter dengan pakaian khasnya.

 .

“Keluarga Kim Hanbin?”

 .

“Ya?” Sang dokter mengaitkan kesepuluh jarinya sembari menghela napas pelan.

Tapi Ai tidak menangis lagi. Menyisakan Jinhwan yang menjambak rambutnya, merasa kematian itu jatuh di jiwa yang salah.

Seharusnya, dia yang mati.

 .

***

.

I call out to you like a fool

Some day, you’ll see me too

I wait for a long time while tears well up

Like this, another day passes

Just for today, I cry

.

.

.

.

To: Hanbin

From: Nai

Hanbin, maaf Nai tidak mau menemani Hanbin bermain hujan. Saat itu, Nai sedang tidak enak badan. Hanbin, ini lollipopmu. Nai belum memakannya. Bentuk dan warnanya cantik sekali. Nai tahu, Hanbin pasti suka. Dan, Hanbin, ini teleskopmu. Maaf Nai baru mengembalikannya sekarang. Tunggu Nai di atas sana, Hanbin. Nanti kita bermain air bersama, ya?

Sepucuk surat itu kini terlipat rapi di bawah telapak Hanbin yang sudah beristirahat dengan tenang di dalam peti hitam, dengan sebuah teleskop dan lollipop berbentuk hati. Jinhwan yang melihatnya dari kejauhan hanya bisa tersenyum tipis—entah harus bersikap bagaimana.

 .

“Ai.”

 .

“Panggil aku Nai, kumohon?”

 .

“Oh,” Jinhwan terkekeh, “panggilan kecil dari Hanbin, ‘kan?”

Untuk pertama kalinya setelah Hanbin terkena demensia—dan, katakanlah setelah mengetahui Hanbin terkena HIV—Ai mengulas sebuah senyum tulus.

 .

Fin.

.

.

A/N:

Demensia. Banyak banget pengertian di internet tentang penyakit yang satu inii hahah. Cuma aku menggambarkan demensia di sini, keadaan dimana seseorang cuma inget beberapa potong kejadian lama di hidupnya. Terus, gak bisa membedakan waktu, jadinya mengulang beberapa kejadian di waktu yang berbeda di waktu bersamaan.

Dan, yup. Kedatangan Jinhwan di atas juga menjelaskan kalau Hanbin itu sebenarnya HIV juga….:’) guys, this is just a fanfiction, LOL so, yeah. Scene itu terinspirasi dari salah satu novel kak Orizuka.

Yeah, I know. Ini sangat-sangat.. ah, gatau. Aku buntu banget sampe tengah-tengah, terus paksain kayak gini deh akhirnya. Jadi ini pasti banyak kekurangannya. 

Mind to review, then? 

xx, lais!

25 thoughts on “[Vignette] Démence”

  1. AIAIAIYAAA LAIS WHAT HAVE YOU DONE TO BINHWAN AI DID YOU JUST MAKE THEM SUFFERED I NEED SOME AIR HERE!

    aku suka banget baca ff yang menyinggung soal penyakit apa lagi soal otak awwawawaaw… dan ini asyik, banget akunya nggak tahu jinhwan mau ngapain disini tapi pas ending akhirnya tahu juga. Nggak nyangka jinan kalem mainannya jarum suntik lol

    Ini adalah kali pertama Ai melihat Jinhwan setelah tiga tahun yang entah mengapa terasa pendek baginya itu. PArt ini sempet bikin aku lol-ed so hard karena yaps, aku ngebacanya dan ngartiinnya sebagaib jinhwan yang pendek maap ya hahaha…

    Thumbs up!

    Ps: aku suka nama ai abis kalo bahasa jepang sama mandarin (kalo nggak salah) artinya cinta nyahahahahaha

    Suka

    1. HAI KAK KAAYYY!! Ayey aku juga heran kenapa menistakan Jinhwan (dan Hanbin, yha) yang notabene mukanya unyu gitu (meski umurnya 21) wkwkw dia emang pendek sih kakk /ini seriusxD

      makasih udah baca dan menempati first spot, kakakk!!!!<3

      Suka

  2. HALO ADUH INI KEREN BANGET SERIUS. Aku nggak apal unem anak-anak di sini😄 Ini Lais ya? Kenalin, Helmy 98L. Aku kagum banget sama tulisan kamu, serius. Diksinya enak nggak bikin pusing, ngalir dibaca dan secara pribadi aku lebih suka aja sama potongan2 scene kayak gini.

    Waktu scene2 awal itu aku masih nebak2 ini jangan-jangan Ai cuma arwah apa Hanbin yang agak error eh ternyataa… seriously cara kamu bikin kata-kata Hanbin mati itu halus tapi apa ya.. merasuk gitu deh pokoknya. Hahaha. Maaf aku ngerusuh di comment box aku bakal jadi penggemar kamu nih kayaknya Yeaaay..

    Ditunggu tulisan selanjutnya. Love this!❤

    xoxo,
    @helmynr

    Suka

    1. HALOOOOO, KAK HELMYY! Aamiin aamiin. Wahh, makasih buat pujian-pujiannya, kak😀 sesungguhnya ini bukanlah apa-apa kalau dibandingkan sama sunbae (LOH WKWK) di ifkx)) aah, aku malah bersyukur kakak ngerusuh di sini, banyak-banyak ngerusuh yaa loll

      anyway, makasyii udah baca dan sempetin komen, kak Helmy!! Iya ini lais, kripik kentang ifk;;

      Suka

  3. HALO LAIS.
    Pertama kali nih aku baca tulisan kamu. DAN INI BAGUS BANGET YA AMPUN SERIUS! Enggak begitu tahu, sih, soal Jinhwan. Tapi abis baca fic ini jadi agak penasaran sama dia HAHA!
    Diksimu keren banget, bikin lupa sama dunia sekitar *loh*. Dan Ai disini dia polos dewasa gitu ya ah aku sukalah.
    Overall, ini keren banget! Ditunggu fic kamu yang lain, ya.🙂

    Suka

    1. KAK MICHELLA! Could I call you ‘Ella’? Kak Ella lucu disebutnya, boleh ya ya ya?:]] Aamiin. Makasih, kak! Coba aja di stalk twitter yg atau googling!!!! /menghasut/ lell wihihi

      thankissseuu sudah baca dan tinggalin komen, kak Michella!!<3

      Suka

  4. Aoiauaaya hanbin mati bikin aku sedih😥 galau dah ini galauu uuuuuuuu
    aku gatau sih hanbin itu siapa hoho
    tapi ini nyelekit banget
    aku sukak sama ceritanya
    Akhir” ini aku sering nonton film sedih gini nih dan ditambah baca fic macam gini tambahhhh ulala galau dahsyaatttt

    Suka

    1. Aww sorry for make you sad:( tapi aku suka genre sad EHE EHE EHE. Hanbin itu, leader sebuah team trainee di YG, will debuting this month, I guess! Dan, aahh komentarmu membuatku bahagiaxD makasih yaa.

      anyway, kayaknya saya pernah ngeliat pen-name dikau sebelumnya, tapi lupa… maaf:( it’s nice to see you here, thank you sooo much<3<3

      Suka

  5. tbh aku nggak tau cast-nya, tapi aku bisa menikmati cerita ini dgn baik. Satu hal yg aku rasakan, sepertinya cerita ini lbh fokus ke isi cerita. tetapi aspek lainnya kurang di-add.. Jadi masih berasa hambar. hm, terutama pas bagian jinhwan.. kayak gmana ya, ga ada dia pun ini ga masalah. haha..
    segitu aja yaa dr aku. maaf kalo masukannya kayak sok tau gitu ><
    overall, nice story you've written! : )

    Suka

    1. OH MY GODD!! HAI KAK! /berbinar ngeliat komen kakak. Yash. seharusnya emang gaada Jinhwan di situ, tapi aku stuck pas abis ituu terus tiba-tiba.. ahh aku aja sempet ragu pas mau post ini, tapi ganjel kalo gak di post. aku aja ngerasa ganjil pas baca sendiri;v; sebenarnya part Jinhwan juga mau dipanjangin, tapi apalah dayaa aku sedang uts. kak, tbh ini made my day banget komennya dan noo ini gak sok tahuu;))

      makasih makasihh! Thanks udah sempetin baca dan komen ya, kak! lais 00line here, salam kenalll<3

      Suka

  6. kampret banget kak fic nya :’> (kampret dalam arti positif kok kak)
    duh aku speechless deh, gak kerasa karena bacanya menikmati banget tau tau END
    OWMAYGAT

    duh kak kamu kece banget ini bikinnyaaa, duh mana hanbinku agak ternistai lagi
    gatau deh kak, perasaanku padamu love and hate hehe

    aaaaaa kakaa ditunggu fic hanbin lainnya yaaaaaaaa

    Suka

    1. Yakin, nih, manggilnya kak? Aku 00liner loh…. AHAHAHAH anyway, MAKASIH YAAAA! ‘agak’ ternistai, WKWK aku ngakak beneran nihh. boleh boleh, nanti aku bikinin fluff Hanbin dehh weehehhehh.

      terimakasyii sudah memanggilku kakak (GAPERNAH MANGGIL ANAK IFK DEK, SOALNYA, WHOOPSS /joking) dan komen di sini, yaaa! much lafff<3

      Suka

      1. heh maaf balesnya 8 months after😄 aku gatau kalo komenku berbalas XDv
        heh? serius kamu 00liner? nyesel deh manggil kamu kak~ tapi gapapalah, toh kamu lebih expert tulis menulis daripada aku😄 hahaha
        kapan kapan aku baca-baca fictmu lagi deh, nanti kalo aku udah dapet universitas ya, kalo udah agak longgar waktunya.
        seneng banget kenalan sama kamu hihi,
        much love, finos

        Suka

    1. hei, kamu baru saja memenuhi harapanku! Hahah i hope someone will say that she’s spechless after reading this, and you made it!😀 loll. ada yang ngebingunginkaahh? maaf maafx) tanyain aja, ya!

      anyway, thanks for leaving ur comment here, dear!<3

      Suka

  7. Oh Ya ampun… Jinhwan?! Hahaha LOL aduh meski Jinhwan ini seksi tapi dia imut nan lucu nan aduhh tapi entah kenapa dia cocok sama karakter pecandu narkoba itu LOL. Agak gak terima juga sih Jinhwan jadi agak bengal, untouch person dan gak sayang sama hidupnya. Apakah yang udah mati itu Bobby? hahaha bakal lucu kalo gitu sih hihi.
    Well… Ai memang tegar strong dan galak. Masa gak mau dateng ke pemakaman Jinhwan sih -_- lol

    Mereka ini kakak adek kan? Dan hanbin sayangnya jadi korban kelakuan Jinhwan ckck bad bad hyung! haha >,< Hanbin nabrak tiang dan dia pergi untuk selamanya, aduh itu kocak tapi menyedihkan juga… kasian sama Hanbin dan Ai ;_; seandainya Hanbin lebih nurut dan bertahan sama Ai ya…

    Suka ih sama teaser kematian Hanbin diawal dan cara kamu nyeritain gimana saat saat sebelum Hanbin beneran the end. Keren keren…. 2000 line kah? waaaa semangat ya nulisnya!!! :)))

    Suka

    1. Hai! Iya, dia imut meski umurnya 21TT /masih ga terima beda umurnya jauh/ Yupp! Mereka kakak adik😀 ahh, terima kasihh, itu summary sebenarnya aku bingung mau pake apaa HAHA jadi diambil dari salah satu paragraf aja. makasih kakkx))

      salam kenal ya, kak! aku lais!! nice to see you here, yeay!<3

      Suka

    1. sayangnya.. aku… bukan…. fikha……. lol halo, shincan! maksudku, siapapun kakak yang ada di balik pen-name lucu ini, hehehe, salam kenal, aku lais 00liner^^

      tapi makasih udah baca dan sempetin komen, ya!!<3

      Suka

  8. LAIS
    AKU GAK PAHAM LAGI KENAPA DARI KEMAREN NUNDA BACA.

    Aku suka ini! Gimana cara kamu ngejelasin tiap scene dan hubungan antara Hanbin sama Ai. Aku suka banget sama konflikmu, dan yah, udah lama aku gak baca fic yang di dalamnya ada hubungan dengan penyakit semacam ini. Dek, {} makasiih udah buat ini, ya.

    Pengembangan kata kamu bagus. Tapi ada satu minus yang kecil di sini. Di awal ada tanda koma yang dilanjut sama kata namun . Tapi jadinya malah xxx, Namun xxxx. Harusnya setelah koma hurufnya tetep kecil, kan?🙂

    Scene favoritku di sini, pas Ai mensyuri apa yang Hanbin punya, sama “Hujan, Hanbin.” Dan scene favorit lainnya pas Ai sama Jinhwan pelukan. Uh. Gak bisa pudar banget sih feel saudaranyaaa. Aku suka iniiiiiiii. Terus go forward yaaaa, Layskuuuuu. I LURF IT! Semoga jadi MOTW! pantes bangeeeet🙂😉😀 Yahuuu
    seeyaaaaaaa

    Suka

    1. HULLAA, KAK DHILA! Aku juga ga paham dari kemarin ga niat banget buka notif wp, ugh-_- ada komen kakakk hihi senangnyooo makasih udah sempetin baca dan komen ya, kak!!

      IYAA HAHA itu sebenarnya ingin dipisah terus gajadi, malah lupa diganti huruf kecil. MAACII KAKAKKOOO!<3 seneng deh kalo nemu koreksian kayak ginix)) anyway, maapkeun balasannya telat dan ga bisa sepanjang cintaku padamu, kak. Huft. /apa. ahahah sayangnya motw sedang libur, ya. tapi makasih udah didoain, kaakk! dan semangat terus buat fikha yang sibukk!:(

      TELIMAKACII KAKAKKUU sekali lagii thankies<3<3<3

      Suka

  9. Halo, laiss!
    Kita udah kenalan belum, ya? duh maaf, aku engga hapal uname anak ifk-_- yah intinya kalau belum atau terlupakan maaf, salam kenal lagi aja lah.

    Aku suka, ya ampun, diksinya keren ngalir aja melewati lembah paragraf-paragraf yang ada /ceileh// ngomong opo toh lek/ dari awal sampe akhir menarik dan bikin penasaran buat dibaca. Aku tipe orang yang suka nilai dari paragraf pertama sih, kalau misal bikin pesaran berarti ficnya emang cetar hahaha. Demen liat potongan-potongan scene yang kamu suguhin juga, karakter Jinhwan cocok di sini. Jadi pemakai, kan muka dia gitu tuh, mati segan hidup tak mampu /diterjang fans ikon/ dan karakter Nai/Ai ngingetin aku sama salah satu karakter novel Clara Ng ‘Ramuan Drama Cinta’ si Strawberry. Soalnya dia suka manggil nama sendiri buat gantin kata ‘aku’ hihi. Terus apa lagi, ya. Haha, aku juga bingung mau komenin apa, yang jelas ini bagus dan keren!

    Terus berkarya, ya!

    Ps : hati-hati lho, kayaknya aku bakal masuk ke daftar fans kamu. Siap-siap digentayangin :p

    Salam,
    Zen (Formerly Phantomons)
    96l

    Suka

    1. haloo, kak Zen! Nice to see you heree hehee kita belum kenalan sihh tp kakak sudah tahu namakuxD iyaa salam kenal yaa, kakk!! Terima kasih buat pujian pujiannya, lais aamiin-in aja yaa aduh (ketahuan senengnya)

      anyway, thank youuuu udah baca dan komen panjang gini, kak Zen! aku ini 00l, by the waayy! thankies<3

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s