Arsip Kategori: Ficlet

WALK YOU HOME

i’m gonna watch you go inside so hurry and go in

.

#48 : NCT Dream – Walk You Home [ft. ASTRO’s Eunwoo and Gugudan’s Sejeong]

.

Part of 365 Personal Playlist

Lanjutkan membaca WALK YOU HOME

Iklan

[SONG-FIC] Awake

lala-2

Awake

A story by Elisomnia

|| Cast: [BTS] Kim Seokjin, [OC] Kim Seokbin | Genre: AU, Brothership, Drama | Rating: G | Duration: Ficlet ||

.

.

“Aku sering mendapatinya terjaga hingga pagi buta.”

.

.

Cerita lainnya dengan tema serupa: Recordatio

.

.

.

Coba tebak, seberapa girangnya aku saat kakakku mengatakan lewat telepon bahwa ia akan pulang pada liburan natal kali ini. Bahkan aku sampai melompat-lompat di atas sofa ruang tamu ketika mengetahui dirinya akan membawa banyak oleh-oleh dan bahan makanan dari Seoul. Bayangkan saja apa yang akan terjadi jika ibu dan kakakku yang hobi memasak itu bertemu. Ah, natal tahun ini pasti akan sangat istimewa.

Aku tahu karirnya sebagai seorang penyanyi papan atas sedang meroket. Wajahnya menghiasi semua channel televisi dan majalah gosip. Gadis-gadis remaja selalu membicarakannya. Aku juga tahu jadwalnya kian hari kian padat, dan kemungkinan kami untuk bertemu kian menipis. Itulah mengapa aku sangat merindukannya dan menanti kepulangannya.

Sosoknya yang periang menghantarkan kehangatan kepada kami semua. Jiwa sosialnya yang tinggi menjadikannya kesayangan banyak orang. Kak Seokjin-ku benar-benar hebat. Dia bisa membuat semua orang mencintainya dengan caranya sendiri.

***

Hari ini adalah hari Sabtu, itu berarti sudah seminggu sejak kepulangan Kak Seokjin, dan entah mengapa aku merasa ada yang aneh dengan dirinya sekarang. Memang sih, dia akan tertawa lebar saat seluruh keluarga kami sedang berkumpul bersama pada jam makan siang. Namun saat malam menjelang, tak jarang kulihat sinar di wajahnya meredup, tingkahnya akan terbatasi, dan senyum simpul menjadi balasan bagi orang-orang yang mengajaknya bicara. Yang lebih aneh lagi, aku sering mendapatinya terjaga hingga pagi buta.

Kali pertama aku mengetahui hal ini adalah pada malam setelah perayaan hari ulang tahunnya. Aku yang terbangun karena haus melihat kakakku berdiri di samping jendela besar dekat perapian. Di antara balon warna-warni dan kertas hias yang belum sempat dirapikan, ia menatap melalui kacanya yang berembun sambil memakan kue cokelat sisa pestanya. Aku sempat berpikir, ada apa dengan dia? Apa yang sedang ia perhatikan?

Hujan salju turun dengan lebatnya di luar sana. Beberapa bahkan sampai menumpuk di pinggir jalan dan menutupi hampir separuh dari kaki bangku taman di depan rumah. Lihat, apa yang sedang dipikirkan Kak Seokjin sampai-sampai tidak menyadari aku yang sudah berdiri di sampingnya––memperhatikan gurat wajahnya. Air mukanya tampak serius. Senyum manis yang biasanya ia tunjukkan kepada semua orang seolah sirna. Dari mata sendunya aku tahu kakakku sedang banyak pikiran. Aku khawatir.

Baru ketika aku menepuk bahunya, Kak Seokjin tersentak kaget. Ia membalas tatapan cemasku dengan begitu lembut. Saat kutanya kenapa ia hanya tersenyum simpul. Lagi-lagi senyum itu.

Selepas malam itu, aku jadi sering menangkap basah dirinya yang selalu berlaku aneh. Tempo hari, musik hip hop dan dentuman-dentuman kecil samar-samar kudengar dari kamarnya yang berada tepat di sebelah kamarku, dia menari, pikirku. Berulang kali ia berusaha membuat musik melalui mulutnya yang hanya terdiri dari suara bum, tak, bess. Kadang, aku lihat tubuh gagahnya teronggok di sofa ruang keluarga, merenung di tengah keremangan lampu meja kecil sebelah gagang telepon. Atau, dia juga akan melatih kemampuan vokalnya seperti sekarang ini.

Nada-nada rendah yang bertempo pelan dan halus lambat laun berubah menjadi rintihan memilukan. Di atas ranjang empuk, ragaku berguling kesana-kemari mencari posisi yang nikmat. Namun semua usaha itu agaknya sia-sia saat aku kembali pada posisiku semula––terlentang. Mata lelah yang sialnya menolak untuk terpejam ini beralih menuyusuri langit-langit kamar yang berdebu. Menerawang jauh pada sesuatu yang tak pasti.

Dalam kesunyian malam, suara Kak Seokjin terdengar seirama dengan lantunan orkestra kawanan jangkrik juga katak. Oh astaga, Kak Seokjin sudah keterlaluan sekarang. Jam digital berbentuk bebek di atas nakas menunjukkan angka 03.17, dan teganya kakak kesayanganku itu membuatku tak bisa tidur semalaman ditemani nyanyian menyedihkan miliknya.

Setelah menepuk keras ruang kosong di sampingku, aku lantas beranjak dari kasur. Aku sudah tidak tahan lagi. Tak ada yang bisa menandingi amarahku saat ini. Kalaupun ada, itu pasti peristiwa beberapa tahun lalu dimana Kak Seokjin dengan tak berdosanya merusakkan keyboard komputerku hingga semua datanya hilang tak bersisa.

Brakk!

Kim Seokjin menatapku kaget dengan kedua mata kelerengnya. Seakan menimang-nimang alasan apa yang membuatku datang kemari. Kudatangi tempatnya berpijak lalu ikut duduk di tepian ranjang tepat di sampingnya. Tak ingin menggunakan kekerasan, aku pun berbisik,

“Tolong kecilkan suaramu, Kak!”

Entah apa yang ada di pikirannya sekarang yang malah membuatnya tersenyum aneh. Bukan sekali dua kali aku melihatnya tersenyum seperti itu, namun menurutku yang satu ini benar-benar membuatku takut. Apa aku salah bicara? Apa perkataanku barusan menyinggung perasaannya? Biar bagaimana pun, dia adalah kakak kandungku.

“Kak, kau tak apa?”

“Aku baik-baik saja.”

Oh syukurlah, ku pikir dia menjadi bisu setelah beberapa hari selalu mengumbar senyum manis. senang rasanya mendengarnya bersuara kembali––walaupun hanya sedikit.

“Aku hanya sedang berpikir, Seokbin-ah.”

Detik demi detik berlalu, suara ketukan jarum jam menggema ke seluruh penjuru kamar. Selagi menunggu Kak Seokjin melanjutkan kalimatnya, aku memilin-milin ujung kaos putih kedodoranku. Di bawah sana, jemari-jemari kakiku bergerak tak tenang. Aku baru saja mendengar nada serius dari setiap kata yang terlontar dari mulut Kak Seokjin, dan itu membuatku gugup.

“Berpikir tentang bagaimana caranya untuk terbang.”

Tunggu, Kak Seokjin bilang apa? Terbang? Hah, memangnya dia burung? Mana mungkin manusia bisa terbang.

“Aku ingin bisa menyentuh langit, tapi mereka mengatakan kepadaku untuk tidak usah melakukan hal yang mustahil aku lakukan.”

Di bawah sinar biru rembulan yang membias melalui jendela kaca, aku dapat melihat butiran bening menggenang di pelupuk mata Kak Seokjin. Beberapa sudah mengalir menuruni pipi tembamnya.

“Kau tahu Seokbin-ah? Aku selalu ingin bermimpi lebih, namun nampaknya mereka tak percaya padaku––lebih tepatnya tidak percaya pada kemampuanku. Meskipun begitu, aku akan tetap bejuang. Mengusahakan yang terbaik sebanyak yang aku bisa.”

Aku menggigit bibir bawahku saat mengetahui arah pembicaraan kami. Tak dapat kutahan lagi air mata yang melesak keluar. Orang-orang jahat mana yang tega mematahkan sayap kakakku, mematahkan semangat bermimpinya.

“Daripada menjadi yang nomor satu, aku hanya ingin sebuah pengakuan. Aku ingin mereka tahu bahwa aku bisa.”

“Itu kah sebabnya kau berlatih sepanjang malam?”

Kutatap dalam matanya yang mulai membengkak. Terlihat jelas bagaimana orang-orang itu meninggalkan luka untuk kakakku. Mengukir goresan demi goresan yang semakin lama semakin dalam. Tak dapat kubayangkan seperti apa sakitnya saat menyadari bahwa selama ini Kak Seokjin memendam semua itu sendirian.

“Kak Seokjin, tidak usah memikirkan mereka yang membencimu, mereka yang mencelamu setiap saat hanya untuk mencari kekuranganmu tanpa melirik kelebihanmu. Jika kau terlalu fokus dengan mereka semua, kapan kau akan melihat kami? Kami yang selalu ada di sisimu untuk mendukungmu. Jangan lupakan juga para penggemarmu yang selalu memberikan cinta. Banyak orang yang menyayangimu dan percaya padamu, Kak. Jadi, janganlah ragu dan tetaplah mencoba.”

Malam itu kami habiskan untuk berbicara tentang banyak hal dan menangis bersama. Nenek yang menemukan kami tidur satu ruang tersenyum sambil mengguncangkan tubuh kami bergantian, berusaha membangunkan adik dan kakak yang masih terlelap saat matahari mulai tinggi. Beliau berkata, ibu mengomel karena keterlambatan kami di meja makan. Seharusnya anak muda tidak bangun terlambat, katanya. Aku tidak menyesal bangun terlambat jika itu menyangkut kebersamaan dengan kakakku. Entah sejak kapan mengobrol dengan Kak Seokjin menjadi sangat menyenangkan seperti ini. Aku harus sering-sering melakukannya.

 

 

 

fin.

 

Halo, adakah yang rindu dengan Elis?
Hehe, maaf ya jarang nongol, sibuk sih /halah alasan/

Sebenarnya ff ini pengen ku post pas ultahnya Seokjin tapi karena banyak halangan jadinya nggak bisa deh. Intinya ff ini kupersembahkan untuk Kim Seokjin yang sering mendapat kritikan pedas bin kejam dari netizen (?) huhu T.T
Maaf sekali untuk segala kekurangannya karena aku bikin ff ini dengan segala keterburu-buruan. Tolong reviewnya ya J

Oh iya, selamat tahun baru semua! Harapannya semoga kita––aku, kamu,IFK–– selalu menjadi lebih baik kedepannya.

Love, Elis

[For Life] You Were Here

for-life-poster

scripwriter : chioneexo | main cast(s) : A Girl, Kai, Suho, Chanyeol | duration : ficlet | genre : slice of life, surrealism, sad | rating : PG-15 | background song : EXO – For Life

“you were here”

Lanjutkan membaca [For Life] You Were Here

Strawberry Conflict

15323-strawberry-milk

— STRAWBERRY CONFLICT —

©2016, BaekMinJi93

 .

Starring with

Momoland’s Nancy Jewel McDonie and OC’s Iona Young

 .

| AU! – Friendship – School Life | Ficlet | General |

.

Disclaimer

This story purely mine. DON’T BASHING AND DON’T PLAGIARISM!

Happy reading…


 “Friendship is a single soul dwelling in two bodies.”

—Aristotle


Lanjutkan membaca Strawberry Conflict

Opposite Poles

oppositepoles_elisomnia_by-bbon

Opposite Poles

By

Elisomnia

|| Cast: Jung Chanwoo [IKON], Moon Bin [ASTRO] | Genre: AU, Family, Sad | Rating: G | Duration: Ficlet ||

.

 “…kita berdua memang meninjau hal-hal itu dari segi-segi berbeda, sejauh kutub-kutub yang berlawanan!”

Agatha Christie – Cards on the Table

.

©2016

.

Thanks to Bbon for the awesome poster

.

.

.

Melalui ekor matanya, Chanwoo dapat melihat polah berlebihan sang kawan. Moon Bin berjalan riang, berlari kecil, dan terkadang melompat. Dengan menggebu-nggebu mengulas kembali apa yang mereka dapat di sekolah hari itu.

Tentang betapa gembiranya anak itu mendapat pelajaran membaca dari guru muda asal Mokpo yang baru memulai magangnya di sekolah mereka dua hari yang lalu. Lalu, merasa iri pada kejeniusan Jae––teman sekelasnya, yang dengan mudah memecahkan soal perkalian buah apel yang sangat populer di kalangan anak Sekolah Dasar. Hingga kekesalannya pada bocah besar di kelasnya yang tak pernah berhenti mengganggu anak-anak lain; meminjam barang lalu menghilangkannya dan bersikap seolah tak tahu apa-apa, merusak taman bunga kecil di belakang sekolah, dan mengambil jatah makan siang anak-anak lain secara paksa.

“Aku benar-benar tidak suka pada Jongjin.”

Sementara kawannya itu bergumam-gumam seperti lebah, kekehan pelan meluncur dari mulut Chanwoo yang berdiri satu jengkal di sebelah kiri Moon Bin.

Anak laki-laki keluarga Jung itu sedang merapatkan jaket bermotif  bebek-bebek mungil miliknya dan mengaitkan seluruh kancing pada lubang yang tersedia saat Moonbin kembali bergumam,

“Kenapa ada anak senakal Jongjin?”

Chanwoo mengeluarkan topi rajut hitam dari saku jaketnya lalu memakainya sesaat setelah sebelah tangannya terangkat membelai ujung poninya ke belakang. Jaket Chanwoo memang tebal dan bagus––oh jelas, diproduksi di Itali dengan mengandalkan bulu domba terbaik yang sengaja dipesankan ayahnya khusus untuk bocah itu. Namun agaknya, jaket itu tak cukup mampu melindungi Chanwoo dari angin dingin bulan September yang berhembus menggelitik sendi-sendi tulangnya. Sambil mendesis pelan, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Berharap kehangatan dapat tersalurkan ke seluruh tubuh kecil itu.

Langkah Chanwoo terhenti saat dengan tiba-tiba Moon Bin berlari beberapa langkah lalu menghalangi akses jalannya.

“Menurutmu, Jongjin orangnya bagaimana?”

Oh, jadi dia masih memikirkan tentang Jongjin? Chanwoo terdiam, bukan karena ia tidak ingin atau tidak bisa menjawab, melainkan, ia sedang berpikir kira-kira apa kata yang cocok untuk menggambarkan sosok Song Jongjin. Ia tidak munafik, ia sama dengan yang lainnya yang tidak menyukai Jongjin. Ia bisa saja memuntahkan semua keluhannya mengenai Jongjin jika ia mau, namun, kalimat yang sering terlontar dari bibir sang ayah menyapu lembut gendang telinganya,

“Kelak kau akan menjadi orang penting bila besar nanti, maka dari itu kau harus bisa menjaga semua perilaku dan ucapanmu bila tidak ingin ada pihak yang tersakiti.”

Sebenci apapun Chanwoo pada Jongjin, ia tidak akan menyakiti bocah besar itu dalam bentuk apapun.

“Menurutku, dia tidak jahat,” mengambil jeda sejenak, “dia hanya anak yang tidak memiliki etika dalam bertingkah laku.” Umurnya baru akan menginjak angka tujuh minggu depan nanti, namun ia berujar bak ahli filsafat dunia. Chanwoo memandang Moon Bin yang berdiri mematung sambil menatapnya lekat. Dahi bocah itu mengernyit sebelum mengulang apa yang sahabatnya katakan,

“E-ti-ka?”

Sudah Chanwoo duga, Moon Bin tidak akan mengerti. Anak laki-laki itu hanya meniru apa yang sering dikatakan Pak Jung saat memberikan materi ilmu sosial dan pola perilaku masyarakat padanya setiap Jumat sore.

Eum, aku tidak tahu pasti apa artinya. Tapi yang jelas, guru privatku sering mengucapkannya.”

Raut wajah Moon Bin berubah seratus delapan puluh derajat. Matanya berbinar dan senyumnya mengembang. Reaksi khas seorang bocah yang penuh rasa ingin tahu.

“Privat? Wow.”

Sementara Moon Bin kegirangan, Chanwoo hanya memperhatikan. Berpikir keras apakah ia salah bicara sehingga membuat kawannya menggila seperti ini.

“Pasti seru, kan?”

Alih-alih menjawab, Chanwoo mendorong sedikit tubuh Moon Bin untuk membuka kembali akses jalannya. Baginya, seru atau tidak bukanlah hal yang penting. Karena ayahnya tidak pernah memikirkan tingkat keseruan saat memilihkan semua les privat itu untuknya. Sepertinya Moon Bin tidak keberatan dengan aksi diam Chanwoo, karena sejurus kemudian ia berlari mensejajari langkah kecil temannya dan kembali berujar,

“Dari dulu aku ingin sekali mengikuti les atau apapun itu, tapi ayahku tidak mengizinkan karena tidak ada biaya.” Moon Bin mengucapkannya dengan ringan, tidak ada perasaan apapun yang tersirat dalam nada suaranya. Hanya murni seorang bocah kecil yang merasa sedikit kecewa.

“Sebenarnya, aku iri padamu, Chan.” Kata Moon Bin tiba-tiba, membuat Chanwoo menoleh lalu menatapnya keheranan, “Iri?”

“Ya, karena kau kaya. Pakaianmu bagus, makananmu enak, dan semua yang kau inginkan pasti kau dapatkan,”

Tidak. Itu tidak benar. Moon Bin salah.

“Lihat aku! Jaketku bolong, aku jarang makan daging, dan aku tidak pernah ikut les. Aku sangat ingin menjadi dirimu.”

Tolong jangan berkata seolah-olah kau makhluk paling rendah di muka bumi, Bin.

“Aku––”

“Diam!”

Chanwoo sudah tidak tahan lagi. Telinganya panas menghadapi mulut Moon Bin yang terlalu banyak bicara.

“Jangan seperti itu lagi! Pada dasarnya, kita semua sama.”

Chanwoo merasa sedikit bersalah telah membentak temannya itu setelah melihat wajah Moon Bin yang meredup. Bocah laki-laki yang dalam kesehariannya terlampau ceria itu kini menggigit bibir bawahnya.

“Kita tidak sama. Kau punya Optimus Prime, sedangkan aku tidak.”

“Kau bisa pinjam punyaku.”

“Aku tidak suka meminjam, aku ingin milikku sendiri.”

“Kalau begitu ambil saja punyaku.”

Tercenung. Keduanya bungkam. Gesekan daun pohon oak tua di ujung jalan mengiringi keheningan yang tercipta dari sepasang insan kecil yang masih setia beradu argumen lewat sebuah tatapan mata.

“Moon Bin?”

Suara itu berhasil mencuri perhatian Moon Bin. Seorang wanita berumur sekitar awal tiga puluhan dengan celemek kuning berdiri di depan pintu kaca dengan senyum hangat terpatri di wajah cantiknya. Tangannya yang berlumur tepung melambai berulang kali mengisyaratkan anak-anak itu untuk mendekat. Agak jauh di atas kepala wanita itu, Chanwoo bisa membaca huruf timbul berlampu neon cokelat yang bertuliskan Lunaries.

Tunggu… Astaga! Lunaries?

Lunaries adalah toko kue sederhana di daerah Garosu-gil yang terkenal dengan muffin-nya yang lezat. Dari jarak sedekat ini, Chanwoo bisa melihat muffin berbagai rasa yang disusun rapih di atas nampan bertumpuk dan dipajang pada salah satu sisi etalase. Sungguh menggoda, pikirnya.

“Ayo mampir dulu.”

Chanwoo mengikuti Moon Bin dari belakang, lonceng kecil di atas pintu kaca itu bergoyang saat salah satu dari mereka membukanya. Suasana hangat dari dinding-dinding bercat pastel di ruangan itu menyambut Chanwoo saat dirinya memasuki pintu utama Lunaries––yang entah kenapa membuat hatinya berdesir. Mulut Chanwoo menganga dan matanya melebar menyiratkan kekaguman. Sinar matanya semakin berbinar saat bertemu dengan jejeran kue-kue lezat yang memenuhi jarak pandangnya.

“Ah, ibu, jangan begitu, ada temanku disini.”

Atensinya beralih pada Moon Bin yang menggeliat-nggeliat kecil saat wanita paruh baya bercelemek kuning tadi berusaha meraup pipinya dan memberikan kecupan-kecupan kecil. Wanita tersebut terkekeh ringan lalu menatap Chanwoo ramah,

“Oh, kau teman sekelas Bin, ya?”

Chanwoo tersenyum sekaligus mengangguk dengan sopan. Selanjutnya, ia menyebutkan nama lengkapnya saat wanita yang dipanggil Bin dengan sebutan ibu itu bertanya.

“Kalian mungkin lapar, mau kue?”

Tanpa menunggu persetujuan dari kedua bocah laki-laki tersebut, Nyonya Moon beranjak menuju dapur seraya melepaskan ikatan tali celemeknya lalu menggantungkan celemek sewarna matahari itu pada gantungan dinding dibalik pintu dapur.

Moon Bin segera menarik tangan Chanwoo ke arah bar kecil di samping meja kasir, bergabung dengan gadis kecil yang terlihat sedang memakan donat. Merangkak naik pada kursi yang tersedia dengan begitu semangat sampai-sampai Chanwoo hampir jatuh mengingat tangan mereka masih bergenggaman.

“Inilah toko kue ibuku. Rumahku ada di sebelah.”

Suara nyaring khas seorang Moon Bin kembali menyapa. Sepertinya, dia sudah melupakan apa yang terjadi beberapa menit yang lalu. Chanwoo mengakui bahwa Moon Bin benar-benar polos, ia mencoba mengikuti alur pembicaraan saat lima sekon kemudian Nyonya Moon datang membawakan empat buah muffin cokelat bertabur choco chips yang baru dikeluarkannya dari oven. Masih panas dengan uap harum mengudara.

Tak perlu waktu lama bagi Chanwoo untuk mengakrabkan diri dengan keluarga temannya tersebut. Dengan duduk berjajar di bar kecil samping meja kasir dan memakan kue buatan rumah yang nikmat, mereka membicarakan banyak hal.

Ibu Moon Bin sangat hangat dan perhatian, wanita itu membuat Chanwoo selalu bisa tersenyum saat berhadapan dengannya. Ayah Moon Bin––yang agak terlambat bergabung, adalah pribadi yang menyenangkan. Terkadang Chanwoo sampai tersedak jus jeruknya sendiri karena tergelak mendengar lelucon konyol yang terlontar dari bibir manis Tuan Moon. Oh, dan jangan lupakan Moon Bin, sahabatnya. Bocah seumurannya yang sangat ceria namun juga berisik. Merebut kue-kue adik perempuannya hingga Sua––sang adik, menangis keras. Namun setelah itu Moon Bin pasti akan menggantinya dengan kue-kue miliknya. Merebut kue dan menggantinya lagi, terus seperti itu sampai Sua menyadari konsep permainan sang kakak lalu mengikutinya dengan tawanya yang senyaring milik Moon Bin.

Disamping Moon Bin, terlihat Chanwoo menyeka dua butir air mata yang mengalir melewati pipinya. Ia tak tahan lagi dengan guyonan Tuan Moon yang membuat perutnya sakit. Chanwoo patut bersyukur, sebab ia sendiri tak ingat kapan terakhir kali ia tertawa seperti ini.

Ding… Ding…

Dentingan jam antik di sudut ruangan menyadarkan Chanwoo. Jarum pendeknya yang mengarah pada angka enam memberitahunya bahwa dia sudah terlalu lama berada di Lunaries. Dengan segenap kesadaran diri, ia meminta izin pada keluarga kecil itu untuk pamit. Tuan Moon sempat mencegahnya dan tidak memperbolehkan Chanwoo pergi sebelum melewatkan makan malam bersama mereka, namun anak kecil itu dengan halus menolak. Jika ia pulang terlalu sore, bisa-bisa orang rumah khawatir. Parahnya, ayahnya pasti akan langsung turun tangan.

Setelah meyakinkan keluarga Moon Bin bahwa dia tidak apa-apa pulang sendiri karena rumahnya hanya berjarak beberapa blok dari kawasan Garosu-gil, Chanwoo pun bergerak pelan menuruni tangga-tangga kecil di depan Lunaries lalu berjalan ke Utara. Orang tua Moon Bin juga Bin dan Sua senantiasa mengawasi bocah manis itu sampai hilang di belokan.

.

.

Remang bohlam jingga menerangi sudut-sudut rumah putih bergaya Mediterania klasik milik keluarga Jung. Lampu-lampu taman dengan bentuk elegan berbaris di sepanjang ruas jalan utama. Gemericik air dari kolam ikan seolah menjadi hiburan tersendiri bagi putra tunggal Jung setiap kali melewatinya.

Desahan napas lega terdengar pelan saat Chanwoo membuka pintu depan rumahnya. Gelap, sepi, dan dingin––seperti biasa. Melihat dari kondisinya, ayahnya pasti belum pulang.

“Darimana saja?”

Oh tidak, ia mengenali suara ini. Hatinya berdebar seiring suara langkah kaki yang kian mendekat hingga memunculkan bayangan ayahnya. Kali ini situasinya berbeda. Kepulangan sang ayah yang selalu dinanti-nanti tak berlaku hari itu. Chanwoo takut. Takut ayahnya marah. Takut ayahnya kecewa padanya. Tapi tak ada yang bisa ia perbuat. Jung Chanwoo tidak pandai merangkai kebohongan. Lebih tepatnya, ia benci berbohong.

“Dari rumah teman.”

“Dan menolak tumpangan dari Paman Kim?”

Lidahnya kelu. Memang benar jika siang tadi ia menolak untuk diantar pulang oleh Paman Kim––Sopir pribadi Keluarga Jung–– dengan alasan ingin menemani teman sekaligus sahabatnya berjalan kaki dari sekolah sampai ke Garosu-gil.

Chanwoo tak berani bersuara. Nyalinya menciut saat bertemu pandang dengan manik tenang namun tegas milik sang ayah. Tapi, sebuah pertanyaan menganggu benaknya,

Kenapa ayahnya pulang secepat ini?

“Tadi Mr. Lucas menelpon, dia bilang bahwa kau tidak ada dirumah dan melewatkan jam privat bahasa Inggrisnya. Maka dari itu ayah pulang untuk memastikan.”

Tuan Jung beranjak dari sofa beludru merah dengan menghela napas pelan. Wajah lelah pria itu membuat Chanwoo tak tega. Perlahan, ia merajut langkahnya menuju anak semata wayang yang sangat ia sayangi.

“Chanwoo, sayang, dengarkan ayah. Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu. Semua pelajaran yang diberikan oleh guru les pilihan ayah itu sangat berguna bagimu dalam mengelola perusahaan bila kau besar nanti. Bukan karena apa ayah mendidikmu seperti ini, hanya saja, ayah ingin kau mempersiapkan diri sejak dini.”

Chanwoo mengerti. Sebagai pewaris tunggal perusahaan, Chanwoo sangat paham dengan apa yang ayahnya inginkan. Pria itu menginginkan yang terbaik. Namun, hatinya tercubit jika mengingat semua ini hanya keinginan ayahnya semata, bukan yang Chanwoo inginkan.

Sepasang tungkainya membawa lelaki kecil itu ke dapur untuk duduk termenung di meja makan ditemani beberapa pelayan yang mondar-mandir mengurus pekerjaan mereka. Setelah ayahnya berkata padanya bahwa masih ada urusan di kantor dan pergi begitu saja, suasana hatinya semakin berantakan. Hatinya merasa sepi.

Chanwoo mengeluarkan kotak berwarna putih dengan totol-totol ungu pastel dari dalam tasnya. Membuka kotak itu dan menemukan lima muffin berbentuk lucu menanti untuk disantap. Sebelum pulang tadi, ibu Moon Bin sempat membungkuskan kue andalannya itu untuk Chanwoo.

Chanwoo menggigit ujung muffin stroberi lalu mengunyahnya perlahan. Rasa manis yang menjalar di dalam mulutnya mengingatkannya pada kisah indah yang ia alami di Lunaries.

“Justru aku yang iri padamu, Bin”

 

 

 

end.

[Ficlet] First Love #RapMonster

hhh

Scriptwriter : Elisomnia

Cast : [BTS] Kim Nam Joon a.k.a Rap Monster, [OC] Hwang Chan Mi

Genre : Romance, fluff

Duration : Ficlet

Rating : G

#Jimin | #Jungkook

.

.

“Terimakasih, cinta.”

.

.

Pria itu masih disana. Duduk manis menghadap jendela dengan segala peralatan melukisnya. Iris pekatnya terfokus pada benda kayu dihadapannya. Tangannya dengan telaten menggoreskan kombinasi warna yang serasi pada badan benda itu. Benda itu, sebuah vas.

Sudah tiga hari terakhir Nam Joon––pria itu, berkutat dengan vas kayu berbentuk oval buatannya. Ya, dia yang membuatnya sendiri. Dan dia juga yang menghiasnya.

Dalam mengerjakan sesuatu, Nam Joon tak pernah seniat ini sebelumnya. Ia tipikal pemalas yang menganggap kasur lebih nyaman dari segalanya, dan game lebih asik dari segalanya. Namun gadis itu hadir dan merubah segalanya.

Nam Joon yang malas dan cuek lambat laun tergantikan dengan sosok baru yang amat peduli dengan sekitar dan suka membantu. Berpacaran dengan Hwang Chan Mi––gadis cantik, baik, dan pintar, memberikan dampak positif pada dirinya. Tak heran jika Ibu Nam Joon amat menyayangi Chan Mi.

Merasa puas dengan torehan catnya, Nam Joon beranjak menuju balkon kamarnya dan mengambil enam bunga mawar segar yang baru satu jam lalu ia beli. Memindahkannya dari vas kaca penuh air kedalam vas kayunya dengan penuh perasaan.

Dibukanya laci meja belajarnya dan mengeluarkan satu bunga mawar palsu yang amat mirip dengan aslinya. Diselipkannya bunga palsu itu diantara bunga-bunga yang lain. Tak lupa, ia menempelkan stiker lucu di vas itu. Manis.

Nam Joon tersenyum. Ia tak sabar melihat reaksi Chan Mi saat menerima hadiah darinya.

Dengan hati berbunga ia pergi kerumah Chan Mi. Selama perjalanan, ia tak hentinya tersenyum bahkan sampai tertawa terbahak. Pria itu benar-benar tak menyangka dapat bersikap semanis dan seromantis ini.

Butuh waktu lima belas menit hingga mobil merah Nam Joon tiba di pelataran rumah sang gadis. Dengan segera dia melangkahkan tungkainya menuju pintu dan memencet bel. Tak beberapa lama, pintu itu terbuka. Menampilkan sosok gadis pujaannya. Dengan senyum hangat terpatri di wajah cantiknya.

“Aku punya tujuh tangkai mawar yang melambangkan hari setiap tangkainya.”

Dengan wajah tersipu, gadis itu menerima vas dengan tujuh tangkai mawar yang diberikan Nam Joon. Chan Mi memperhatikan bunga mawar merah cantik itu dengan senyum yang seakan tak akan pernah luntur. Vas kayu sederhana dengan hiasan indah membuatnya terkesan. Tiba-tiba, ia terkikik saat matanya membaca tulisan dalam stiker yang terdapat pada salah satu sisi vas itu.

Aku akan tetap mencintaimu sampai mawar yang terakhir layu.

 

 

fin.

untuk versi member lainnya yang lebih lengkap bisa dibaca di sini ya 🙂

Sebuah Perkenalan

2680fac4fa6bf97b062db2a0b92ad02d

Sebuah Perkenalan

By

Elisomnia

.

Starring: Blackpink’s Lalisa Manoban a.k.a Lisa & Jennie Kim, and OC

AU!, Comedy, Friendship, School Life | General | Ficlet

.

Based on true story

.

“Bukan tanpa alasan aku berkenalan denganmu.”––Lisa

.

.

.

Pertengahan tahun, bertepatan dengan masuknya musim penghujan di Korea. Halaman SMP Sowon dihiasi rumput-rumput basah dan genangan air bekas hujan tadi pagi. Angin kencang layaknya burung yang sedang migrasi berbondong-bondong menggoyangkan dedaunan pohon sansuyu di dekat area parkir. Bunyi bergesek antar ranting menjadi alunan melodi lembut tiga hari terakhir ini. Lengkap dengan suhu sejuk yang melebihi rata-rata, membuat setiap murid harus merapatkan jaket tebal mereka.

Sekarang sudah pukul sepuluh lewat tujuh, dan bel tanda istirahat telah berbunyi dua menit yang lalu. Sepasang kaki berbalut sneakers hitam menyusuri koridor sekolah terbaik di Incheon itu dengan santai. Salah satu tangannya ia masukkan ke dalam saku rok kotak-kotak selututnya. Sedangkan yang satu lagi sibuk menjentik ringan sesuai dentuman musik hip-hop dari group band favoritnya yang terdengar melalui earphone yang menyumpal kedua telinganya. Postur tubuhnya yang terbilang kurus membuatnya tenggelam diantara kerumunan para siswa yang berlomba-lomba menjangkau kantin.

Gadis bersurai kuning itu bernama Lisa. Gadis tinggi berwajah manis yang tingkah lakunya jauh dari ekspektasi kata ‘perempuan’. Ia membenci segala sesuatu yang keperempuan-perempuanan. Dia membenci pink. Hot Wheels adalah cinta pertamanya. Dan sejujurnya, jika disuruh memilih, ia akan memilih celana daripada rok, bahkan ia tidak memiliki sebuah rok––selain rok seragam sekolahnya. Ya, dia tomboy.

“Hai Lis, kemarin kau keren sekali.” Seorang gadis tinggi berkucir kuda menyapanya kala mereka berpapasan di depan kelas 8-2.

“Ya, tidak ada satupun pukulanmu yang meleset dari sasaran.” Imbuh teman gadis tinggi tadi.

Lisa tersenyum miring, ia tahu mereka sedang menyinggung pertengkarannya dengan Taeyong hari Selasa lalu. Taeyong adalah mantan ketua kelas di kelasnya. Lelaki tinggi berumur empat belas tahun dengan rambut sewarna mahoni tua yang memiliki predikat sebagai murid paling nakal dan jahil di SMP Sowon. Tidak mengerjakan PR, datang terlambat, selalu tertidur dikelas, dan nilainya tidak pernah lebih dari rata-rata, hal-hal itulah yang menjadi rutinitas Taeyong––walau Lisa juga sering begitu sih, kecuali opsi terakhir. Jika saja Taeyong tidak menumpahi tugas seni rupa yang sudah susah payah Lisa kerjakan semalaman dengan cat biru mungkin pertengakaran itu tidak akan terjadi. Karena Lisa merupakan tipe orang yang mudah tersulut emosi jika sesuatu yang dianggapnya penting hancur begitu saja, apalagi ditangan orang lain.

Lisa masih terus berjalan hingga tungkainya berhenti di depan kelas 8-4. Tangannya terangkat untuk melepas earphone yang masih melekat di telinganya lalu memasukkannya ke dalam saku jas sekolahnya, bergabung dengan ponsel putihnya. Ia berjalan memasuki kelas itu saat didengarnya angin kembali berhembus kencang di luar sana. Tak dapat dipungkiri, sensasi dinginnya luar biasa.

Baru beberapa langkah berjalan ia dapat melihat Jennie––sahabatnya, duduk tenang di bangkunya dengan sebuah kertas sebagai fokusnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi Lisa untuk mengunjungi sahabatnya yang berbeda kelas dengannya itu, atau terkadang Jennielah yang mengunjungi Lisa di kelasnya lalu setelah itu mereka akan ke kantin bersama atau pergi ke tempat lain bersama-sama. Mendapatkan kelas yang sama saat kelas satu sekolah menengah pertama menjadi awal persahabatan mereka, dan kini sudah genap satu tahun empat bulan mereka saling mengenal satu sama lain.

“Sedang apa?” tanya Lisa sambil melangkah mendekati Jennie. Gadis dengan rambut sepunggung itu mendongak, “Oh? Sejak kapan kau disini?” Lisa mengedikkan bahunya pelan, “Barusan.”

“Apa kau sedang mengerjakan tugas?” ulang Lisa saat merasa pertanyaannya tidak digubris. Jennie menyingkirkan lengannya yang menutupi kertas keriput di mejanya sehingga Lisa dapat melihat goresan tinta tak beraturan yang membentuk sesosok pria bersayap. Gambar yang bagus, pikir Lisa.

“Sudah kuduga. Mana mungkin seorang Kim Jennie mengerjakan tugas?” Jennie terkekeh renyah, gadis itu sama sekali tidak merasa tersinggung.

“Kau tahu, aku baru saja ulangan matematika.” Lisa tidak langsung menanggapi, ia beringsut dan menjatuhkan pantatnya di tepi meja Jennie lalu menyandar ditembok, “Lalu?” Jennie menghela napas pelan sebelum melanjutkan, “Aku tertidur karena perkerjaanku sudah selesai, tapi Si Botak itu malah melemparku dengan penghapus. Beliau berkata bahwa tak seorangpun boleh tertidur di kelasnya, maka dari itu aku menggambar di bekas kertas coretanku.” Seketika, tawa Lisa pecah mendengar curahan hati Jennie. Mereka memang seperti ini, saling bercerita tentang apa yang sedang atau baru saja mereka alami. “Sudah kubilang kurangi kebiasaan begadangmu itu, karena kau sendiri yang akan rugi.” Lisa kembali terbahak bersamaan dengan Jennie yang mengumpat pelan.

Kisah demi kisah terus berlanjut, Lisa menceritakan bagaimana dia dan adik sepupunya terperangkap di gudang tua milik neneknya dan berhasil keluar berkat bantuan Paman Song––tetangga sebelah rumah neneknya. Jennie juga bercerita tentang ayahnya yang tak sengaja menemukan tumpukan kaset berisi lagu-lagu klasik di ruang bawah tanah rumah mereka, dan hal itu membuat ayah dan ibunya tak berhenti bernostalgia saat mendengarkannya.

“Hahaha,  aku juga pernah mengalaminya, saat itu…” ucapan Lisa berhenti saat dirasanya aroma harum menusuk indera penciumannya. “Kenapa berhenti?” pertanyaan Jennie bak angin lalu, sama sekali tak ia perdulikan. Kepalanya berputar, matanya menelisik seluruh penjuru kelas delapan-empat, mencari darimana asal aroma menggiurkan yang membuatnya lapar tiba-tiba seperti ini. Matanya terhenti pada seseorang yang sedang berdiri diambang pintu––tepat disampingnya. Anak laki-laki itu memasuki kelas 8-4 dan berjalan melewati Lisa menuju bangkunya yang terletak di dekat jendela.

Anak itu agak pendek, warna putih pucat yang tidak dimiliki oleh laki-laki Asia kebanyakan menyapu rata seluruh permukaan kulitnya, sinar matanya hangat, dan senyum manis selalu terpatri di wajah lebarnya. Tubuh tambunnya bergerak dengan susah untuk dapat menembus celah sempit antara meja dan kursinya sehingga menimbulkan bunyi berderit yang berisik.

“Kau ken––”

“Jennie, siapa dia?” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Lisa sudah memotongnya. Jelas, hal itu membuat Jennie sedikit kesal bercampur bingung.

“Dia? Dia yang mana?” Jennie mengikuti arah pandang Lisa dan menemukan teman satu kelasnya yang sedang memakan odeng di dekat jendela.

“Si gendut itu maksudmu?” Lisa mengangguk, sedangkan sahabatnya yang berada disampingnya berdecak pelan, “Oh ayolah, sudah empat bulan sejak masuknya tahun ajaran baru, dan kau belum mengenal siapa dia?” Lisa memutar bola matanya lalu menoleh ke arah Jennie berada, “Aku jarang melihatnya. Lagipula, siswa di SMP Sowon tidak sedikit, Jennie. Mana bisa aku menghapal wajah mereka semua dalam waktu singkat?” benar juga, untuk seseorang dengan otak berkapasitas kecil seperti Lisa akan sulit baginya untuk menghapal sesuatu dalam waktu sesingkat itu.

“Baiklah, namanya Darwin. Seperti yang kau lihat, dia adalah teman sekelasku. Apa itu cukup, Nona?”

Lisa mengangguk-angguk pelan tanda mengerti. Mata almondnya melirik arloji tosca yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.

“Cukup, terima kasih atas informasinya. Ngomong-ngomong, bel masuk akan berbunyi sebentar lagi, aku harus ke kelas.” Jennie menengadahkan kedua tangannya ke arah pintu dan menatap Lisa seolah berkata ‘Silahkan, pintunya sebelah sini.’

“Sebelum itu, lihatlah ini!” ucapan Lisa barusan membuat Jennie menaikkan sebelah alisnya. “Apalagi yang akan dilakukan anak itu?” gumam Jennie saat melihat Lisa berjalan kearah gerombolan anak laki-laki disudut kelasnya.

“Hai,”

Bocah laki-laki yang diketahui bernama Darwin itu menoleh, tangannya yang hendak memasukkan odeng kedalam mulut terhenti diudara. Iris bening itu menatap bingung gadis tinggi dihadapannya.

“Namaku Lisa, namamu siapa?” Darwin bungkam, masih merasa heran dengan gadis manis yang dengan tiba-tiba mengajaknya berkenalan seperti ini. Beberapa laki-laki di kelas itu juga ikut melirik kearah mereka berdua, seolah yang barusan itu merupakan adegan seru dari sebuah film drama. Dari jauh, terlihat Jennie yang menunjukkan ekspresi terkejutnya,dengan mata yang melotot dan mulutnya yang sedikit terbuka membuatnya terlihat lebih imut. Darwin kembali mengamati Lisa dari atas kebawah, hingga pandangannya jatuh pada uluran tangan Lisa yang sempat terabaikan akibat aksi diamnya yang cukup lama.

“Aku Darwin.” Dua dari anak laki-laki disekitar mereka bahkan menahan tawa saat melihat Darwin membalas uluran tangan Lisa.

“Hm, Darwin, bolehkah aku…” Lisa bimbang, antara harus mengatakannya atau tidak. Ia memilin ujung kemeja yang mencuat dari balik jas sekolahnya sambil berusaha mengumpulkan keberanian. Bocah laki-laki keturunan Eropa itu masih setia menunggu kelanjutan kalimat Lisa. Jennie yang tak mengalihkan pandangannya dari Lisa sedikit pun juga tengah menanti dengan hati berdebar.

“Bolehkah aku minta odengmu?” walau sedikit terkejut, namun jujur saja, benak Darwin tergelitik mendengar penuturan Lisa barusan. Jadi, dia berkenalan denganku hanya untuk meminta odeng? Batin Darwin berkata.

Lelaki itu mengulas senyum yang semakin lama semakin lebar hingga mengeluarkan tawa pelannya. Dia menyodorkan bungkusan odengnya kepada Lisa. Dengan wajah sumringah, gadis itu menerima dan mengambil satu tusuk odeng, sehingga menyisakan dua tusuk odeng di dalam kantong plastik. Persetan dengan rasa malunya yang menguar entah kemana. Perutnya benar-benar lapar saat ini, jarak kelas mereka dengan kantin pun terbilang cukup jauh, dan lagi, ia terlalu malas untuk berkeliaran dicuaca sedingin ini.

“kherimah khasih––terima kasih,” ucap Lisa tidak jelas karena mulutnya yang penuh akibat berhasil melahap satu odeng utuh yang telah dipisahkan dari tusuknya. Darwin mengangguk pelan sambil masih tetap tertawa. Seumur-umur, baru kali ini ia menjumpai gadis seperti Lisa.

Lisa berbalik dan berjalan ke arah pintu tepat saat bel tanda masuk menggema. Dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku rok, ia mengerlingkan sebelah matanya ke arah Jennie yang tak henti-hentinya memasang tampang lucu.

Masih tak percaya, Jennie terus memperhatikan punggung sahabatnya itu sampai hilang di belokan. Hingga ia sadar akan apa yang baru saja terjadi dan menggelengkan kepalanya pelan, gadis itu lalu tertawa geli sambil bergumam, “Kebiasaan.”

 

 

 

fin.

Halo!

Sebenarnya, fiksi ini merupakan tugas akhir semester mata pelajaran Bahasa Indonesia waktu aku masih kelas sepuluh. Aslinya nggak pake cast Korea, jadi ini udah aku rombak; ganti nama, latar, dan lain sebagainya.

Ya! cerita ini memang berdasarkan kisah nyata, dengan Lisa sebagai Aku. Cuma bedanya, waktu itu aku kenalan buat minta tahu bakso bukannya odeng XD dan aku sama cowok itu sekarang satu sekolah lagi SMA nya :’) /stop! malah curhat/

Btw, nama aku sama Lisa hampir mirip lho -> Lisa – Elisa. itulah sebabnya aku pilih dia sebagai cast, juga karena karakternya cocok kali ya dengan perempuan macem aku yang ngaku perempuan tapi nggak perempuan-perempuan banget.

Oke, maaf cerewet kebangetan ehehe, minta riviewnya ya!

With Love,
Elis

Imaginary Squad

 

imaginary-squad

Imaginary Squad

A story by Elisomnia

|| Cast: [Astro] Yoon Sanha, [IOI] Jeon Somi, [IKON] Jung Chanwoo, [Ulzzang Kid] Cristina Fernandez Lee, a Girl as Aku | Genre: AU, Friendship, Mistery, Suspense, little bit Horror | Rating: PG | Duration: Ficlet ||

.

.

You think I’m crazy… wait until you meet them!

.

.

©2016

.

.

.

“Dasar tomboy! Apa dia tidak punya aksesoris lagi?”

Jeon Somi memang begitu, ia sangat memperhatikan penampilannya. Kerap kali ia meminjam barang-barang milikku untuk mempercantik dirinya yang––kuakui––memang sudah cantik. Gadis itu memiliki bola mata hitam yang indah. Rambut sebahunya yang lurus dan sewarna madu menjadi kesukaanku. Walau tampangnya sedikit cuek dan sering mengomel, tapi saat gadis itu tersenyum percayalah wajahnya akan berkali-kali lipat lebih manis dari permen kapas. Oh, dan jangan lupakan kulitnya yang seputih susu itu, aku pernah tidak sengaja menyenggol tangannya, benar-benar lembut. Sanha yang memperkenalkanku padanya, ia bilang wajah kami mirip.

Gadis bergaun merah muda itu tak henti-hentinya menggerutu. Beberapa anak rambutnya terjuntai saat ia membungkuk ke kolong meja belajarku. Oh ayolah Somi, berhenti mencuri barangku. Ingatlah kalungku yang kau hilangkan tempo hari.

“Ah, aku menemukannya!”

Serunya dengan wajah berseri sambil menenteng dua buah gelang berbeda motif dengan gradasi warna di kedua sisinya. Oh tidak, itu gelang pemberian bibiku.

“Kak Chanwoo, menurutmu mana yang lebih bagus?”

“Semuanya bagus.”

Seseorang yang sedang membaca komik diatas kasurku itu menjawab sekenanya. Jung Chanwoo sangat pendiam dan tidak banyak bicara. Sikapnya yang kelewat tenang membuatku berpikir bahwa dia baik-baik saja, hingga aku mengetahui satu hal bahwa dia sedang patah hati. Itulah sebabnya aku jarang melihatnya akhir-akhir ini. Bahkan di atap sekolah yang merupakan tempat pertemuan pertama kami juga tak kutemukan eksistensinya. Cintanya yang tak terbalas pada salah seorang sahabatku membuatnya benar-benar rapuh. Namun syukurlah, berkat bujukan Cristina dia akhirnya mau bangkit dan berkumpul bersama di kamarku.

Cih! Kau bahkan tidak melihat kemari.”

Somi membuang muka kesal. Chanwoo diam, ia melinting lengan sweater hitam berleher kura-kura miliknya sebatas siku saat dirasanya hawa mulai memanas akibat emosi Somi.

Kriettt… Bam!

“Maaf membuat kalian menunggu lama,”

Itu aku. Dengan kedua tangan menenteng kantong plastik besar aku berjalan ketengah ruangan. Kakiku gemetar dan tak butuh waktu lama aku pun ambruk, duduk bersimpuh diatas karpet bulu kesayanganku.

“Aku membeli banyak camilan, makanlah.”

Sanha bangkit dari tidurnya dan langsung merangkak mendekatiku, lebih tepatnya mendekati kantong  makanan yang aku beli. Begitu juga dengan Somi, ia mengambil sebungkus biskuit cokelat dan kembali duduk di meja riasku, bersolek.

“Chanwoo, kubelikan donat keju kesukaanmu, ayo makan.”

“Nanti saja, komik ini seru.”

Aku menghela napas pelan. Dasar Chanwoo! Jika sudah fokus pada sesuatu akan mengabaikan sesuatu yang lainnya.

Kurebahkan badanku sekaligus memejamkan mata. Berjalan ke minimarket sejauh lima ratus meter dicuaca sedingin ini benar-benar membuatku mati beku. Jika saja mereka tidak datang tiba-tiba lalu melempari jendela kamarku menggunakan batu, atau masuk begitu saja dengan melompati jendela, mungkin sekarang aku sedang tidur nyenyak. Namun, walau bagaimana pun, aku senang kami semua berkumpul disini.

“Sanha, semalam kau menyelinap ke kamarku dan tidur disampingku kan?”

Aku bangkit lalu menyender di kaki ranjang. Menggelindingkan sebotol susu pisang dengan kakiku sebelum akhirnya botol mungil itu  berpindah ke tanganku.

“Ap-apa?! T-tidak, mana mungkin!”

Tangannya yang hendak memasukkan segenggam keripik singkong terhenti tepat di depan mulutnya. Gurat kegugupan itu jelas kentara. Lihatlah wajahnya sekarang. Mata bulatnya melebar karena kebingungan. Bibirnya yang dihiasi sisa keripik terbata menyusun kata demi kata. Tak lama, semburat kemerahan muncul di kedua pipi pucatnya. Dengan gerakan cepat, ia menyapu tangannya yang penuh bubuk bumbu penyedap pada kemeja putih yang ia pakai.

Ew, itu menjijikan, Sanha. Kemejamu sudah penuh dengan bercak-bercak merah, tak perlu lagi kau menambahinya dengan bubuk bumbu keripik.”

“Lalu, aku harus membersihkannya dengan apa?”

“Pakai tissue!”

Kulempar wadah tissue kearahnya. Ia mengaduh saat wadah berbentuk katak itu membentur kepala berharganya. Setelah bergelut ditengah badai salju, tingkah Sanha barusan benar-benar membuat mood-ku berada di titik terendah. Maksudku, kami berbagi usia yang sama, namun kenapa otaknya bocah sekali?

Selain kekanakan, dia juga mudah cemburu, dan itu sangat menggangguku––awalnya. Dulu teman satu sekolahku pernah dikerjainya habis-habisan hingga terluka hanya karena ia tidak suka caraku menatap temanku itu. Ayolah San, siapa yang tidak mengagumi seorang pelajar setengah musisi yang pandai bermain gitar? Karena kejadian hari itu, aku melancarkan aksi mogok bicara padanya selama beberapa hari.

Oh, satu lagi. Yoon Sanha suka pelukan––atau memeluk. Pelukan tiba-tiba yang kerap ia lakukan selalu membuatku takut. Bulu halus disekitar leherku tak pernah tak berdiri saat lelaki tinggi itu memelukku dari belakang––kebiasaannya. Dengan tinggi diatas rata-rata seperti itu aku selalu mengira bahwa dia adalah paman mesum berjas pink norak di ujung gang yang sering menculik gadis sekolah menengah untuk diajaknya kencan. Oleh karena itu, terkadang tubuh Sanha memar sesaat setelah ia melingkarkan kedua tangannya dipinggangku. Tidak ada salahnya waspada kan?

Akan tetapi, aku agak merasa kasihan padanya. Tak jarang pula kudapati ia tengah duduk menyendiri dan melamun. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu. Awal pertemuan kami adalah di sebuah tanah lapang yang terletak tak jauh dari rumah Sojin, temanku. Hari itu, kulihat dia sedang duduk termenung diatas tumpukan rongsokan bekas bahan bangunan dan langsung tersenyum senang saat melihat kehadiranku ditempat itu. Apa mungkin selama ini dia kesepian?

“Sudahlah San, mengaku saja.”

“Atau Crist yang akan menceritakan semuanya.”

Desakan Somi dan Cristina terdengar silih berganti.

“Ya Crist, ceritakan semuanya pada kakak––Oh Ya Tuhan, apa yang kau lakukan disitu?!”

Mataku terkunci pada sosok Cristina yang bergantungan ria pada barisan teralis besi di jendela kamarku. Tubuh mungilnya melompat dari jendela kanan menuju jendela kiri lalu berayun menggunakan gorden untuk kembali ke jendela kanan. Gaun putih kedodorannya bergoyang sesuai irama yang ia ciptakan.

Gadis polos penuh tingkah yang pernah kukenal. Senyumnya manis dan tawanya menyegarkan. Aku berjumpa dengannya yang sedang bermain ayunan di sebuah taman bermain. Saat itu dia dingin sekali, tatapannya tajam saat pertama menatapku, itu menakutkan. Namun aku tak menyangka ia akan bertransformasi menjadi gadis kecil yang ceria seperti sekarang.

Ya! Chanwoo, jangan terlalu intim bercumbu dengan komik itu! Kau tak lihat adik kecil kita berayun-ayun diatasmu? Cepat turunkan dia!”

“Kenapa harus aku?”

Hah? Apa? Kenapa harus dia? Dasar Jung Chanwoo tidak peka! Dia bahkan masih bisa membalik halaman komik dengan begitu santai.

“Karena kau yang paling dekat dengannya, Chan. Ayolah cepat, atau kumakan donat kejumu!”

“Jika kau lakukan itu maka persahabatan kita putus.”

Sial! Lagi-lagi ia menggunakan alasan klise seperti itu. Dia selalu tahu kelemahanku.

God, harus kukatakan berapa kali bahwa persahabatan adalah hal sakral bagiku. Ah, lupakan itu! Sekarang bantulah adikmu, dia bisa jatuh.”

Masih dengan ketenangan yang menyelimuti dan fokus yang tertuju pada buku bergambar ditangannya Chanwoo menjawab, “Tenanglah, dia tidak akan jatuh. Kalau pun jatuh, dia pasti baik-baik saja kok.”

Kalimat Chanwoo barusan menyentil urat kecil di otakku, aku seakan baru tersadar dari kehebohan yang baru saja terjadi. Benar juga, Cristina adalah gadis yang kuat. Gravitasi bukanlah tandingannya.

“Jangan khawatirkan Crist, Crist sudah biasa dengan ini. Kak Sanha mau ngomong, tuh.”

Aku tersentak dari lamunanku dan seketika menoleh ke arah Sanha.

“A-aku mengaku, aku memang selalu menyelinap kemari setiap malam.”

Seolah melupakan Cristina, perhatianku terpusat pada Sanha sepenuhnya. Seolah melupakan kepanikan yang baru saja melanda, rasa jengah menguasai tubuhku sepenuhnya. Uhh, ada apa denganku malam ini? Mudah sekali berubah mood.

“Itu semua aku lakukan semata-mata karena ingin selalu dekat denganmu.”

“Sanha please, kita selalu bertemu setiap hari, okey?”

Sanha menggeleng, “Tidak hanya setiap hari, aku ingin berada di dekatmu setiap saat.”

Oh Ya Tuhan.

Aku melirik sinis ke arah Chanwoo yang tiba-tiba melantunkan ‘ooo’ bervibra aneh dengan raut menyebalkan khas orang kasmaran. Wajah dinginnya yang berubah menggelikan jelas membuatku kesal. Tolonglah kalian semua jangan mengaduk-aduk perasaanku malam ini.

Dan untukmu San, berhentilah membuatku melayang!

“Kenapa? Tidak boleh ya?”

Wajahnya memelas. Entah itu disengaja atau tidak tapi wajahnya benar-benar terlihat suram sekali. Aku tak tega saat bibirnya semakin melengkung dan hendak menangis.

“B-boleh kok.”

Sial! Kenapa aku mengatakan itu? Untuk apa pula aku mengizinkan seorang lelaki tidur disampingku? Dasar gila!

Aku merasakan pipiku memanas sekarang. Oh, aku benci situasi seperti ini. Kusambar apapun yang ada di dekatku––kebetulan saat itu ada wafer cokelat. Tanpa perduli milik siapa langsung kulahap semuanya ke dalam mulutku. Ayolah, bersikap biasa saja, jangan terlihat seperti orang yang sedang––

“Salah tingkah, tuh!”

Jung Chanwoo sialan! Kusumpal mulutnya menggunakan kaus kaki Sojin baru tahu rasa.

“Eh, Kak? Itu kan waferku?”

Seru Crist sedetik setelah aku menelan gigitan kedua.

“Sungguh?”

Kudengar Chanwoo berdecak lalu mencibir. Sedangkan Sanha dan Somi berusaha sekuat tenaga menahan tawa mereka.

“Iya, itu waferku. Ah! Kakak ini bagaimana sih? Kembalikan waferku!”

“Iya iya, kakak minta maaf. Nanti kakak ganti saja, mau ya?”

“Tidak mau. Cepat kembalikan.”

“Eh, tunggu tunggu. Hati-hati Crist-ah.”

Bruk!

“CRISTINA!”

Kakinya terpelintir akibat celah yang ditimbulkan bingkai foto dan buku-buku pelajaranku sehingga tubuhnya limbung dan menghantam lantai kayu dengan cukup menyakitkan.

Brak!

Pintu kamarku dibuka dengan begitu keras oleh seseorang. Kulihat ibuku berdiri disana menunjukkan tatapan menyeramkan dengan lingkaran hitam menghiasi kantung matanya. Oh, tidak!

“Sudah malam. Tidurlah dan jangan bersisik!”

Ibu berbalik dan tak lupa menutup pintu kamarku dengan keras membuatku berjengit kaget. Meninggalkanku dalam kesendirian di ruangan persegi yang kusebut kamar.

Benar, ibuku tidak bisa melihat mereka, teman-teman arwahku.

Jadi, apa kalian punya teman imajinasi?

end.

halo, elisomnia here, bisa dipanggil elis 🙂
aku baru disini jadi mohon kerjasamanya ya
terimakasih dan salam kenal semua 😀

[5th Fanfiction Contest] Le Colisee – slythejin

le-colisee-c-slythejin

Le Colisee

A m o v i e by slythejin

 

Starring with

Seventeen Lee Seokmin; Seventeen Boo Seungkwan;

OC (find by yourself!).

| Slice of life – slight!Angst |

610w | General | PG-13 |

*****

“… and sticks that eight inch blade in your

back when you turn around.” –Nishan Panwar.

 

*****

Lanjutkan membaca [5th Fanfiction Contest] Le Colisee – slythejin